Diterbitkan oleh Hubungan Masyarakat Universitas Brawijaya
Last updated 31/5/2009
Mei 2009

Menyongsong Pimnas XXII di UB
31 Mei 2009
Untuk kedua kalinya, Universitas Brawijaya akan menjadi tuan rumah ajang Pekan Ilmiah Nasional (Pimnas) XXII. Pada 1992 silam, UB sempat pula menjadi tuan rumah pada Pimnas V. Tahun ini, menurut rencana Pimnas akan diselenggarakan pada Selasa-Sabtu (21-25/7) mendatang. Penunjukan ini,  disampaikan Pembantu Rektor III Bidang Kemahasiswaan, Ir. HB. Ainurrasyid, MS dituangkan dalam Surat Keputusan Dirjen Dikti No. 02/DIKTI/Kep/2009 tentang Penunjukan Universitas Brawijaya Sebagai Tuan Rumah Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional XXII Tahun 2009. Maksud dan tujuan penyelenggaraan kegiatan ini diantaranya adalah menjadi media dan sarana komunikasi mahasiswa di seluruh Indonesia serta membuka peluang bagi pengembangan potensi mahasiswa dalam kegiatan ilmiah. Tema yang diambil untuk Pimnas XXII ini adalah "Mengukir Prestasi untuk Meningkatkan Daya Saing Bangsa Guna Membangun Negeri". Ribuan peserta yang terdiri atas mahasiswa, dosen dan penggembira diperkirakan akan turut serta dalam aneka kegiatan yang terangkum didalamnya. Berbagai kegiatan tersebut dibagi menjadi kegiatan utama dan kegiatan penunjang. Kegiatan utama meliputi stadium generale. Pameran buku penerbit nasional, sarasehan Pembantu rektor / Pembantu ketua / Direktur Bidang Kemahasiswaan, Presentasi Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) yang meliputi PKM-Penelitian (PKM-P), PKM-Pengabdian kepada Masyarakat (PKM-M), PKM Teknologi (PKM-T), PKM Kewirausahaan serta PKM Gagasan Tertulis (PKM-GT), pameran IPTEK, dan wisata. Sementara kegiatan penunjangnya meliputi English Debate and English for Fun (EDEF), Kompetisi Karya Tulis Al-Qur'an (KKTA), Kompetisi Rancangan software kreatif untuk pembelajaran siswa (KRSK-PS), Kompetisi Karya Kreatif Iklan Layanan Masyarakat (K3ILM), serta Kompetisi Kreasi Inovatif Makanan Berbahan Lokal (KKI-Mabelok). Informasi lebih lanjut mengenai Pimnas XXII dapat diperoleh di http://pimnas2009.brawijaya.ac.id. [nok]

Launching Cendikia Kids dan Junior Science Club
31 Mei 2009
Dr. Muhammad Sasmito Djati (Dosen FMIPA UB) dan Dr. Imam Hanafi (Dosen FH UB), mewakili program Pengembangan Mahasiswa Wirausaha Universitas Brawijaya (PMW UB), pada Ahad (31/5) me-launching Cendekia Kids and Junior Science Club. Cendekia Kids and Junior Science Club, yang memiliki kantor di Perumahan Sawojajar Malang, adalah waralaba untuk brand Cendekia dan Junior Science Clubs yang telah mempunyai banyak cabang di berbagai kota. Penggagas pembukaan cabang di Malang ini adalah mahasiswa peserta PMW. Direncanakan, pada tahap-tahap awal nantinya, Cendekia Kids dan Junior Science Club akan membantu manajemen dengan memberikan pendidikan dan pelatihan langsung kepada para mahasiswa. Pembelajaran manajemen ini nantinya menganut prinsip bahwa manajemen adalah ilmu dan seni, yang hanya bisa dikuasai dengan praktek langsung mengelola unit usaha. "Sebagaimana mengajarkan anak berenang, hanya mungkin apabila setelah diajarkan di kelas tentang teorinya dan kemudian diajak berenang", ujar Dr. Imam Hanafi dalam keterangannya kepada PRASETYA Online. Pendidikan dan pelatihan ini sepenuhnya diberikan gratis untuk mahasiswa PMW Universitas Brawijaya dan kemudian secara bertahap, manajemen sepenuhnya akan diserahkan kepada mahasiswa PMW.
sains
Dalam ceramahnya, Dr. Sasmito Djati menyampaikan pentingnya sains dalam kehidupan manusia dan bagaimana mengajarkan anak-anak untuk mencintai sains. Menurutnya, pemahaman anak-anak atas sains mampu menguatkan keyakinan kepada Allah SWT. "Anak-anak menyadari bahwa segala sesuatu melalui proses dan mereka adalah bagian dari proses itu. Sains mencegah anak-anak untuk berfikir instant yang melahirkan sikap mental suka menerabas. Sikap mental suka menerabas pada akhirnya akan menjadikan mereka manusia yang mementingkan tujuan daripada proses, mengabaikan proses dalam pencapaian tujuan bahkan menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan", kata dia. Ceramah ini memperoleh perhatian serius dari para orang tua yang mengantarkan anaknya untuk uji coba (free trial) program Cendekia Kids and Junior Science Club. Launching Cendekia Kids and Junior Science Club adalah bagian dari serangkaian launching small business yang dikelola mahasiswa peserta PMW.
Berbagai jenis usaha mahasiswa yang telah di launching meliputi Robotrec, tempat penitipan anak, cafe, dll. "Beberapa dari kegiatan memang dirancang untuk launching dengan cukup meriah sebagai bagian dari promosi, sementara sebagian yang lain tanpa grand launching. Masih ada mahasiswa di beberapa fakultas yang belum melaksanakan kegiatan dan ini memerlukan perhatian serius sebagai bagian dari tanggung jawab Pembantu Dekan III yang telah memberikan rekomendasi", ujar Imam Hanafi. [han]

Kunjungan Tamu dari University of Kentucky di FP UB
29 Mei 2009
Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya selama seminggu (22-29/5) menerima kunjungan akademik dua orang dosen tamu dari University of Kentucky (UK), Amerika Serikat. Mereka adalah Dr. Mark William dan Dr. Seth Debolt. Kunjungan kali ini merupakan realisasi dari kerjasama yang telah disetujui oleh kedua universitas beberapa tahun silam. Berbagai aktifitas terangkum dalam kunjungan tersebut, meliputi kunjungan lapang, kunjungan laboratorium, kunjungan instansi mitra FP, kuliah tamu serta seminar. Beberapa tempat yang menjadi tujuan adalah Kebun Cangar, kebun percobaan Ngijo, kerbun percobaan Jatikerto, Kecamatan Kasembon, Balitjestro, Pusat pendidikan dan lingkungan di Kaliandra, Kebun Teh Wonosari, Pertanian organik apel serta pertanian anggrek.
Kedua pakar tersebut sempat pula memberikan kuliah tamu yakni Strategy to set up the university organic farm as a living laboratory for hands on learning oleh Dr. William dan Teaching and academic support center (TASC) to facilitate the curriculumn committee work : Experience in UK oleh Dr. Debolt. Dihadapan mahasiswa pascasarjana, Dr. Debolt juga sempat mengadakan kuliah tamu dengan tema The potential impacts of increasing of temperature change on grape and bio-fuels grass production biotechnology meets sustainability. Selain itu, keduanya juga mengadakan seminar dengan tema "Sharing pengalaman di dalam mengimplementasikan dan memperbaiki kurikulum S1 tentang Pertanian Berkelanjutan" oleh Dr. William dan "Fasilitas laboratorium dan kebutuhan peralatan untuk implementasi kurikulum pertanian berkelanjutan" oleh Dr. Debolt.
Dalam kunjungannya ke Kasembon, kedua dosen tamu tersebut berdiskusi dengan petani durian sekaligus menyantap buah durian yang menurutnya baru pertama kali ini mereka rasakan. Dalam sebuah diskusi yang dihadiri oleh semua Ketua Jurusan, Pembantu Dekan dan para Kepala Laboratorium, kunjungan kali ini akan ditindaklanjuti dengan tiga buah program. Ketiga program tersebut meliputi double degree programme untuk mahasiswa program sarjana, pertukaran staf pengajar dari UK maupun dari FP UB serta peningkatan status jurnal AGRIVITA menjadi jurnal internasional. Disampaikan Dekan FP UB, Prof. Sumeru Ashari, saat ini sedang dipersiapkan beberapa mahasiswa yang akan memanfaatkan kerjasama dengan salah satu Univeritas Negeri di Paman Sam tersebut. [nok]

Kunjungan UMK ke PJM UB
29 Mei 2009
Pusat Jaminan Mutu Universitas Brawijaya (PJM-UB) pada hari Kamis (29/5) menerima kunjungan dari Universitas Muria Kudus (BPM-UMK). Rombongan yang berjumlah 4 orang tersebut terdiri dari Kepala BPM UMK, Ir Masruki Kabib MT; Suciningtyas, SH., MHum. (Kabid SPM BPM UMK); Ir Suharijanto (Anggota Monevin) dan Ir. Endang Dewi Murrinie, MP (Pengembangan PHKI). Turut serta dalam rombongan tersebut Pembantu Rektor III UMK, Drs. Hendy Hendro Hadi Sridjono, MSi. Kunjungan ini dalam rangka silaturahmi di samping untuk mendapatkan informasi dan studi banding tentang Sistem Penjaminan Mutu.
Kedatangan delegasi dari UMK disambut oleh ketua PJM UB Prof. Dr. Ir Soebarinoto, sekretaris PJM Dr. Endang Arisoesilaningsih dan didampingi oleh Anggota PJM Dr. Mohammad Bisri dan Dr. Imam Hanafi. Ketua PJM UB, memaparkan tentang sekilas UB, kelembagaan dan sistem dokumentasi untuk mengimplementasikan SPM, road map SPM UB meliputi bidang akademik dan non akademik, lingkup tugas PJM yang meliputi Pengembangan SPM berikut auditnya dengan mengintegrasikan ISO 9001:2000, Monevin PHK, peningkatan kualifikasi akreditasi program studi (PS) serta pengembangan reward system dalam bentuk UB Annual Quality Award (UBAQA).
Dr . Endang menjelaskan bahwa agar suatu sistem dapat berjalan dan berfungsi dengan baik diperlukan SDM yang kompeten. Hal inilah yang selanjutnya menjadi kekuatan PJM-UB dan sesuai kebijakan dari Rektor bahwa anggota PJM harus bergelar doktor. Dijelaskan pula bahwa anggota PJM juga merupakan perwakilan dari fakultas yang secara langsung dapat menjadi pendamping dan kontrol bagi pelaksanaan SPM di masing-masing fakultas. Eksistensi lembaga penjaminan mutu juga ditentukan oleh output dari kegiatan atau program-program yang dijalankan serta kepuasan rektor atau stakeholder. Kegiatan PJM harus benar-benar menjamin mutu dan memberikan kontribusi bagi unit-unit dalam meningkatkan mutu manajemen, meningkatkan kesiapan unit pada saat menghadapi visitasi asesor BAN PT dan reviewer DPT Dikti sehingga dapat dirasakan keberadaan dan manfaatnya. Harus diciptakan kesan bahwa menjalankan SPM itu mudah.
Selanjutnya Dr. Imam Hanafi menekankan pentingnya kesadaran bahwa tugas menjamin mutu adalah tugas pimpinan, mulai dari tingkat universitas sampai jurusan. Setiap unit penjaminan mutu membantu pimpinan  membangun sistem yang dimulai dengan membangun struktur organisasi dan implementasi sistem. Dalam membangun SPM, harus ada kepercayaan diri, bisa mengambil contoh SPM dari PT lain dan berani mencoba sistem. Selanjutnya dengan kompetensi tersebut, sistem dipraktekkan sehingga bila ada kekurangan akan segera dapat diketahui dan diperbaiki. Adanya training dan seleksi auditor juga merupakan bagian menjamin mutu auditor.
Sementara itu, Dr. M. Bisri mengingatkan kembali akan pentingnya siklus PDCA berjalan dalam implementasi SPM. Hal ini untuk menjamin continuous quality improvement dari lembaga tersebut. Untuk berjalan tidak perlu menunggu sampai  sistem sempurna, tetapi sambil berjalan dilakukan penyempurnaan. Selain itu menjadi komitmen bersama anggota PJM untuk mengadakan pertemuan seminggu sekali. Hal ini selain untuk kelancaran komunikasi, juga akan memudahkan perbaikan dan penyempurnaan SPM. Seperti yang dilakukan PJM sekarang yaitu UB menyempurnakan SPMA menjadi SPMI dengan mengintegrasikan SMM ISO 9001:2008. Adanya dua audit serta UBAQA akan memicu percepatan perbaikan bagi unit-unit teraudit. Audit ke-1 memiliki lingkup struktur organisasi dan dokumentasi, sedangkan audit kedua audit kepatuhan implementasi SPM.
Dalam pertemuan tersebut, BPM UMK menyampaikan beberapa pertanyaan terkait dengan kendala yang dihadapi dan membangun komitmen pimpinan, tahapan pengembangan SPM dan audit implementasinya. Ir Masruki Kabib MT juga berharap agar kunjungan ini dapat menjadi langkah awal bagi BPM UMK guna menjalin kerjasama denga PJM-UB terutama dalam hal konsep pengembangan SPM. Di akhir sesi Prof Soebarinoto juga menyampaikan bahwa pada prinsipnya, PJM UB menyambut baik kesempatan untuk berbagi dan belajar dari berbagai pihak (pjm).

Mengawal RUU Jaminan Produk Halal
29 Mei 2009
Keraguan konsumen terhadap kehalalan produk masih terjadi. Setelah kasus dendeng babi, kita dihadapkan vaksin meningitis (radang selaput otak) bagi jamaah haji dan umrah. Klaim produsen, Glaxo Smith Kline (GSK), bahwa vaksin meningitis bebas dari material bovine (sapi) dan pocine (babi) tidak terbukti. Pembuatannya masih menggunakan enzim babi. Inilah hasil presentasi GSK di Majelis Pertimbangan Kesehatan dan Syara (MPKS) Depag, Lembaga Pengkajian Pangan Obat-obatan dan Kosmetika Majelis Ulama Indonesia (LPPOM MUI), Komisi Fatwa MUI, serta Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) Rabu (20/05/09). Fakta ini menunjukkan bahwa tanpa payung hukum yang kuat, hanya membuat masyarakat terus disibukkan isue kehalalan produk yang mereka butuhkan. Di sinilah pentingnya memprioritaskan pembahasan RUU Jaminan Produk Halal (JPH) di DPR. Sebelumnya, Ketua Panja RUU JPH, Said Abdullah menyatakan, akan mengupayakan RUU ini selesai pada persidangan sebelum dilantiknya DPR baru. Hal ini perlu kita dicermati karena janji serupa telah berulang kali kita dengar. Kita berharap legislasi UU JPH akan menjadi dasar hukum yang kuat untuk mengarahkan produksi, distribusi, dan konsumsi produk halal di negeri ini.
Legislasi masa lalu
Legislasi produk halal di Indonesia bukan hal baru. Permenkes No 280/Menkes/Per/XI/1976, pasal 2 telah mengatur peredaran dan penandaan makanan yang mengandung bahan asal babi. Singkatnya, wadah atau bungkus makanan mengandung bahan asal babi harus dicantumkan peringatan gambar babi atau tulisan MENGANDUNG BABI berwarna merah. SKB Menag dan Menkes, No 427/Menkes/SKB/VII/1985 dan No 68/1985 pasal 1, 2, dan 4 juga mengaturnya. Pasal 2 menyatakan produsen yang mencantumkan tulisan halal pada label atau penandaan makanan produknya bertanggungjawab terhadap halalnya makanan tersebut bagi pemeluk agama Islam. Pasal 4, pengawasan preventif dilakukan Dirjen POM mengikutkan unsur Depag, sedang di lapang diawasi oleh aparat Depkes. Fakta menunjukkan pengawasan label halal atau tanda produk mengandung babi, jauh dari harapan. Munculnya heboh lemak babi pada 1988 menghentak kesadaran masyarakat, MUI, dan pemerintah untuk menanganinya lebih serius. Melalui perdebatan panjang masuklah kata halal dalam UU No 7 tahun 1996 tentang Pangan pasal 30, 34, dan 35. Pasal tersebut menyatakan, setiap orang yang memproduksi atau memasukkan ke dalam wilayah Indonesia pangan yang dikemas untuk diperdagangkan wajib mencantumkan label pada di dalam dan atau di kemasan pangan (pasal 30 ayat 1). Label tersebut sekurang-kurangnya memuat a. Nama produk, b. Daftar bahan yang digunakan, c. Berat bersih atau isi bersih, d. Nama dan alamat pihak yang memproduksi, e. Keterangan tentang halal, dan f. Tanggal, bulan, dan tahun kedaluarsa.
Sayang, ada kontradiksi di penjelasan pasal 30 ayat 2 mengenai keterangan halal produk pangan tersebut pencantumannya pada label pangan baru merupakan kewajiban bila produsen atau importir menyatakan bahwa pangan yang bersangkutan adalah halal bagi umat Islam. Semangat memproduksi dan memperdagangkan produk halal dalam satu ayat dimentahkan dalam penjelasannya. Pernyataan halal yang sukarela inilah yang diduga menyebabkan sertifikasi dan pencantuman logo halal dilakukan produsen jika merasa untung. Kita berharap pengalaman masa lalu tidak terulang lagi dalam pembahasan RUU JPH di DPR saat ini. Karena itu pembahasan RUU JPH perlu dilakukan lebih serius dan komprehenshif.
Menatap masa depan
Upaya pengajuan RUU JPH dari Depag yang masuk program legislasi nasional (prolegnas) perlu dihargai. Namun, pasal demi pasal dan penjelasan RUU tersebut perlu dicermati. Jangan sampai harapan mendapatkan jaminan halal yang komprehenshif terkorbankan. Salah satu masalah yang mengemuka saat dengar pendapat dengan pihak terkait adalah pemerintah melalui menteri agama melakukan pemeriksaan dengan menunjuk atau mengangkat lembaga yang berwenang untuk itu. Lalu meminta MUI untuk menetapkan fatwa halal-nya. Tanggapan berbagai pihak nampaknya masih menginginkan lembaga pemeriksa halal di LPPOM MUI dan fatwa dari Lembaga Fatwa MUI. Melihat kondisi di atas, dalam pembahasan RUU JPH perlu dicermati.
Pertama semangat untuk memberikan jaminan halal ini perlu didukung semua pihak. Jangan sampai dorongan keimanan dan pemenuhan hak konsumen, berbelok pada siapa yang berhak memberikan sertifikasi dan logo halal. Akan lebih penting jika bentuk dan ciri yang jelas label halal yang absah ditetapkan, sehingga masyarakat tidak kebingungan dengan banyaknya label halal seperti saat ini. Kedua sembilan belas tahun, kiprah LPPOM MUI merintis dan melakukan sertifikasi dengan Sistem Jaminan Halal (SJH) perlu didukung dan dikembangkan lebih lanjut. Jangan sampai bangsa ini lupa sejarah bahwa LPPOM MUI telah diakui pengusaha dan pasar domestik dan internasional. Kelembagaan pemeriksa dan fatwa halal perlu legimitasi yang kuat. Ketiga cukup krusial jika pemeriksaan (auditor) halal dilakukan Depag atau lembaga baru yang ditetapkan menag dan masih dipertanyakan kemampuan dan kredibilitasnya. Hindarkan peraturan yang memberi peluang pemeriksaan halal dapat dipengaruhi lobi yang menurunkan kepercayaan konsumen, Keempat audit halal halal berbeda dengan audit mutu. Auditor mutu umumnya cukup dituntut kemampuan sains dan aplikasinya di lapangan. Di sisi lain, auditor halal dituntut kemampuan sains, integritas dan rekam jejak yang baik, serta diakui ulama (lembaga fatwa). Ini wajar karena, audit halal telah masuk ranah keagamaan yang menuntut zero tolerant dan kredibilitas yang tinggi di masyarakat. Kelima lebih tepat jika pemerintah berperan sebagai law-enforcement dengan menetapkan UU JPH secara legal dan mengawasi secara ketat. Seringkali implementasi pengawasan dan tindakan tegas sulit dijumpai. Terjadinya kasus dendeng babi akhir-akhir ini membuktikan hal ini. Ketidakjelasan lembaga pengawas atau sporadisnya pengawasan akan menyeret kerugian pada pengusaha sejenis yang ikut tidak dipercaya konsumen. Tentu ini tidak kita harapkan. Keenam diperlukan perubahan mendasar menuju jaminan halal bersifat mandatory (kewajiban) dari perundangan sebelumnya bersifat voluntary (sukarela) bagi produsen dan pelaku pasar. Dari sini pemerintah memiliki payung hukum mengontrol produksi, peredaran, dan konsumsi produk halal. Perlu antisipasi kesulitan yang muncul dengan kebijakan teknis. Misalnya besarnya UKM yang belum melakukan sertifikasi halal karena kesulitan biaya, kehalalan produk non kemasan seperti produk kuliner, ayam, daging, restoran, dan lain-lain. Terlepas dari kompleksnya masalah penerapan jaminan halal, masyarakat tidak boleh melupakan semangat legislasi ini. Hal ini menyangkut hak sekaligus kewajiban konsumen muslim. Adanya perundangan JPH yang komprehenshif tidak hanya menentramkan mayoritas penduduk negeri ini, tetapi menjadi instrumen untuk mendapatkan akses pasar yang lebih luas di dalam negeri maupun luar negeri. Sekarang produk halal bukan hanya diminati muslim tetapi juga non-muslim di berbagai belahan dunia. Berbagai pihak perlu berperan dalam mengawal legislasi RUU JPH ini. Semoga UU JPH mewujudkan proses sertifikasi yang sederhana, efisien bagi produsen dan lembaga sertifikasi, serta menetramkan konsumen. [cip/Opini HU Pelita, 28 Mei 2009: http://www.hupelita.com/baca.php?id=71930]

Mahasiswa Universitas Brawijaya Didirikan Sekolah Pembikin Robot
Kamis, 28 Mei 2009
TEMPO Interaktif, Jakarta: Lima Mahasiswa Jurusan Elektro Fakultas Teknik Angkatan 2004 Universitas Brawijaya (UB) mendirikan Robotic Training and Education Company (Robo-Trec.), sebuah lembaga pelatihan dan pendidikan robotika untuk siswa SMP dan SMA. Tujuan didirikan lembaga ini adalah untuk mengembangkan minat dan bakat siswa di bidang robot. "Robo-Trec adalah sekolah robotika pertama di Malang," kata Manajer Pengajar dan Sumber Daya Manusia Robo-Trec, Sulthon Amin, Kamis (28/5).
Menurut Sulthon, animo belajar para pelajar Malang tentang robotica sangat besar. Tetapi, animo ini terpendam karena tak ada sekolah atau lembaga yang memfasilitasi untuk belajar teori dan praktik. Ini berbeda dengan yang ada di kota lain, seperti Bandung dan Jakarta yang mempunyai banyak sekolah robot.
Robo-Trec akan memulai kegiatan belajar mengajar pada Juni mendatang. Untuk sementara, jumlah siswa akan dibatasi hingga delapan orang yang akan dibagi menjadi dua kelompok. Pembatasan dilakukan untuk memaksimalkan proses belajar mengajar.
Proses belajar mengajar akan berlangsung selama tiga bulan dengan waktu belajar sebanyak tiga kali dalam seminggu. Dengan waktu yang singkat ini, Robo-Tech hanya menargetkan siswa bisa memahami mekanisme kerja robot. Namun, jika ada siswa yang ingin membuat robot, Robo-Tech akan mendampingi hingga siswa berhasil.
Dalam menjalankan sekolah ini, Robo-Tech bekerja sama dengan Bandung Mecatronik (Bamec), sebuah sekolah robotika milik mahasiswa ITB Bandung. Bamec menyediakan kurikulum pendidikan, sedangkan Robo-Tech bertugas menyediakan tenaga pengajar.
Robo-Trec adalah salah satu peserta Program Mahasiswa Wirausaha (PMW) UB. Untuk menjalankan lembaga ini, Robo-Trec mendapatkan dana dari PMW UB sebesar Rp 20 juta. Adapun PMW adalah program UB untuk menyiapkan mahasiswa sebagai wirausahawan. "Ini sesuai dengan predikat UB sebagai Entrepeneurship University," ujar Sulthon. [http://www.tempointeraktif.com/hg/pendidikan/2009/05/28/brk,20090528-178538,id.html/bibin]

Lawatan Kerja Pimpinan FH UB di Australia
28 Mei 2009
Dekan Fakultas Hukum Universitas Brawijaya, Herman Suryokumoro SH MS, didampingi oleh Ketua Program Studi Doktor (S3) Ilmu Hukum, Prof Dr I Nyoman Nurjaya SH MH melakukan lawatan kerja ke Australia, Selasa-Kamis (26-28/5). Lawatan itu dimaksudkan untuk mengikuti konferensi IALS yang terangkai dalam IALS General Assembly & Educational Program yang digelar di Australian Nasional University (ANU) Canberra, serta menjalin kerjasama dengan dua universitas yaitu Wollonggong University dan Sydney University.
Konferensi IALS
The International Association of Law Schools atau IALS merupakan wadah bagi Fakultas Hukum dari perguruan tinggi seluruh dunia yang dibentuk guna memajukan profesi hukum melalui pendidikan hukum. IALS saat ini beranggotakan 190 fakultas hokum, tiga diantaranya berasal dari Indonesia yaitu FH Universitas Brawijaya, FH Universitas 17 Agustus Jakarta dan FH Universitas Indonesia Esa Unggul. Tema yang diangkat dalam konferensi kali itu "The Role of Law Schools and Law School Leadership in a Changing World".
Dalam pertemuan IALS, setiap perguruan tinggi mengajukan makalah yang berhubungan dengan tema yang ditentukan diantaranya: "The Goals and Objectives of Law Schools in Their Primary Role of Educating Students", "The Goals and Objectives of Law Schools Beyond Educating Students: Research, Capacity Building, Community Service", "Strategies and Techniques to Realize Our Ambitions", "Leadership Issues Within Our Law Schools", "Leadership Issues in Connecting with Our External Communities", dan "The Elusive Quest for Universals in a World of Difference".
Kerjasama
Pada hari ketiga lawatan ke Autralia, dilakukan penandatanganan Piagam Kerjasama antara Dekan FHUB dengan Dekan FH Universitas Wollonggong Prof Luke McNamara. Perjanjian kerjasama tersebut ditekankan pada pendidikan, pengajaran serta penelitian, yang diwujudkan dalam beberapa bentuk seperti pertukaran informasi akademik, dokumen-dokumen hukum, jurnal dan dokumen lain, pertukaran dosen untuk penelitian dan pengajaran, kerjasama penyelenggaraan penelitian hukum, seminar serta workshop. Dalam kesempatan tersebut juga disepakati kerjasama penyelenggaraan seminar nasional pada awal Desember 2009 tentang Perbandingan Hukum Laut antara Indonesia dan Australia serta penjajagan pelaksanaan Dual Degree pada Program Pascasarjana. Setelah melakukan kunjungan dan penandatanganan naskah kerjasama di Sydney University, Herman bersama Nurjaya melakukan kunjungan dan penandatanganan naskah kerjasama dengan Fakultas Hukum Sydney University. Kerjasama yang disepakati kali ini diantaranya pertukaran dosen pengajar, pertukaran mahasiswa, pengembangan fakultas, kerjasama penelitian serta program Dual Degree. Setelah itu dilanjutkan dengan mengunjungi Macquarie University. Dalam kunjungan kali itu dekan dan KPS S3 disambut hangat oleh Prof Peter Raden serta Prof Brian Opeskin yang merupakan guru besar Law & Legal Governance. Dalam kesempatan tersebut dibicarakan tentang penjajagan kerjasama dalam hal penelitian dan legal governance.[chil/nun]

Dari ISWI: Implementasi HAM di Berbagai Negara
28 Mei 2009
Bisa bertemu dengan banyak orang dari berbagai belahan dunia dan mengeksplorasi implementasi Hak Asasi Manusia (HAM) secara langsung merupakan salah satu kesan yang diperoleh Pinastika Prajna Paramitha dari Jerman. Di salah satu negara maju tersebut, mahasiswa Fakultas Hukum 2005 ini masuk dalam 370 delegasi dari berbagai negara yang beruntung mengikuti kegiatan ISWI (International Student Week in Ilmenau) 2009. Kegiatan yang dipusatkan di kampus Ilmenau University of Technology, Ilmenau, Thuringia, Jerman ini mengambil tema "Human Rights" dengan motto "Right Now". Dari Indonesia, Pita berangkat bersama 20 delegasi lain yang berasal dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia diantaranya ITB, UI, UGM, Unpad, Universitas Ma Chung, UII. Di Ilmenau, para peserta tinggal di host (tuan rumah) termasuk diantaranya masyarakat setempat dan asrama mahasiswa TU Ilmenau. Pita sendiri pada kesempatan tersebut berkesempatan tinggal di salah satu mahasiswa asal Inggris yang kuliah di Jurusan Medical Engineering, TU Ilmenau. Hal yang paling berkesan selama tinggal bersama host ini, diceritakannya adalah kesempatan minum teh bersama di sore hari sambil memperbincangkan segala hal.
HAM dan Implementasinya
Berbagai acara yang terkemas dalam kegiatan ISWI ini diantaranya perkuliahan, workshop, konser a Maze in Human Rights, diskusi kelompok dan pagelaran budaya. Delegasi dari berbagai kawasan meliputi Asia, Afrika, Amerika, bekas Uni Sovyet dan Australia berpartisipasi dalam aneka kegiatan itu. Beberapa pemateri yang hadir dalam kesempatan tersebut diantaranya Dr. Hans Rudolf Herren (ahli pangan Jerman) dan Landolf Scherzer (jurnalis Jerman). Bersama seorang temannya, dalam sebuah workshop ia menyampaikan makalah bertajuk "an Outline of Global Political and Civil Rights: Indonesian Experience". Dalam makalahnya, Pita menceritakan tentang pemilu di Indonesia dari awal sampai saat ini. "Di situ saya memaparkan dinamika politik di Indonesia termasuk didalamnya jumlah partai yang sangat banyak di pemilu pertama, kemudian direduksi menjadi tiga dan saat sekarang yang mencapai puluhan. Disitu kami juga memaparkan tentang keberagaman yang ada di Indonesia serta HAM yang termuat dalam ideologi Pancasila", kata dia. Yang paling menarik, menurutnya adalah kehadiran delegasi dari negara-negara yang saat ini tengah konflik diantaranya Israel dan Palestina. Selain itu, hadir pula perwakilan negara-negara yang tengah mengalami krisis HAM diantaranya Kosovo, Georgia, dan Kazakstan. "Workshop ini berlangsung sangat panas.Tetapi yang mengharukan, acara diakhiri dengan saling bersalaman satu sama lain", ujar Pita. Dalam kesempatan tersebut, menurut Pita ditegaskan pentingnya sebuah resolusi konflik. Ditambahkannya, konflik yang melanda beberapa negara seperti India dan Pakistan ataupun Palestina dan Israel hanya melibatkan pemerintah masing-masing yang biasanya hanya memuat konflik kepentingan. Warga sipil masing-masing negara tersebut, menurutnya tetap berinteraksi seperti biasa dan memiliki sanak saudara yang tinggal di seberang. "Di Palestina terdapat warga Israel dan di Israel terdapat juga warga Palestina. Mereka bahkan masih saling mengunjungi satu sama lain. Demikian juga yang terjadi di India dan Pakistan", terangnya. Dalam interaksi tersebut, ia mengaku sangat senang bisa mendapat informasi langsung dari dari berbagai pihak yang bersangkutan. Dengan peserta asal Kosovo misalnya, ia dapat saling berkomunikasi dan secara khsus memberi masukan dalam pengerjaan skripsi. Dalam skripsinya, mahasiswa yang mengambil konsentrasi Hukum Internasional ini mengangkat judul "Penerapan Prinsip Self Determination of People and Off State dalam Kemerdekaan Kosovo". [nok]
-----
keterangan foto: pagelaran budaya (kiri); Pita bersama kelompoknya membahas "Human Rights and Politics"

Isu Transportasi di Amerika dan Jawa Timur
28 Mei 2009
Tingkat kecelakaan transportasi di Indonesia saat ini sudah berada pada titik yang mengkhawatirkan. Meskipun demikian, belum nampak adanya langkah-langkah konkrit dan terukur untuk mengatasi masalah tersebut. Hal itu diindikasikan dengan lemahnya koordinasi antar lembaga pemerintah terkait keselamatan transportasi dan belum adanya pembuatan program keselamatan yang komprehensif dan integratif.
Demikian yang terangkum dalam seminar bertajuk "Transportation Issues in United States & East Java" yang digelar oleh Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya (28/5) di gedung E pascasarjana. Acara dihadiri para undangan yang terdiri dari mahasiswa, dinas perhubungan kota dan kabupaten Malang, serta dari Kapolresta Malang dan Batu.Hadir sebagai pembicara adalah Dekan Fakultas Teknik Prof.Ir.Harnen S. Msc.Ph.D; Kepala Bidang Tata Kota Erik Setyo Santoso, ST. MT., Dosen Teknik Sipil UB Ir. Ludfi Jakfar MSCE.Ph.D, dan Prof. Nikiforos Stamatiadis, Ph.D.PE.
Kerugian Besar
Dari segi ekonomi, kerugian akibat kecelakaan transportasi ditaksir setara dengan 1% Gross National Product (GNP) pada negara berkembang, 1.5% pada negara-negara transisi dan 2% pada negara maju. Di 10 negara ASEAN, 75.000 orang telah meninggal dunia dan lebih dari 4,7 juta mengalami luka-luka akibat kecelakaan di jalan raya dalam tahun 2003. Estimasi kerugian terbesar terjadi di Indonesia yakni 6.03 milyar USD (2.91% dari GDP) atau sekitar 55 triliun rupiah.
Menurut Harnen, faktor-faktor penyebab kecelakaan transportasi selama ini menyangkut perilaku pengemudi, masih lemahnya sistem (regulasi, jaringan jalan, informasi dan pendidikan jalan, kualitas pelayanan dan pertolongan). Untuk itu diperlukan strategi komprehensif yang mencakup sistem kelembagaan yang terintegrasi, pendanaan yang kuat, dan program aksi berkelanjutan. Eric juga menyampaikan bahwa optimalisasi sistem transportasi tergantung pada ketersediaan infrastruktur yang memadai, sumber daya manusia, dan juga pendanaan untuk mengakomodasi aktivitas sehai-hari.
Sementara itu Stamatiadis membahas isu transportasi dari sisi teknik jalan yang ada di Amerika untuk dibandingkan dengan di Jawa Timur. Ia menyatakan bahwa lingkungan di sekitar jalan harus memenuhi aspek keamanan, kenyamanan, serta mampu meminimalisir kemungkinan terjadinya kecelakaan yang diakibatkan kesalahan pengguna jalan. Dengan padatnya jumlah pengguna sepeda motor dibandingkan di Amerika, potensi terjadinya kecelakaan transportasi menurutnya juga semakin besar. Disampaikan oleh Ludfi bahwa pemerintah harus menaikkan subsidi untuk menjamin adanya peningkatan pelayanan transportasi. [fjr]

Serumpun Kebudayaan di ASEAN
28 Mei 2009
Dari keikutsertaannya di ajang ASEAN University Student Conference (AUSC) 2009, Pinastika Prajna Paramita, mengaku lebih terbuka wawasannya. Diwawancarai PRASETYA Online di Kantor Humas UB, Rabu (27/5), mahasiswa Fakultas Hukum angkatan 2005 ini mengatakan dapat lebih bijaksana melihat persamaan dan perbedaan berbagai budaya dari 10 negara anggota ASEAN. Ke-10 negara tersebut dirincinya meliputi Indonesia, Malaysia, Singapura, Thailand, Philipina, Brunei Darussalam, Vietnam, Myanmar, Kamboja dan Laos. Selain delegasi dari ke-10 negara ASEAN ini, turut hadir pula perwakilan dari Papua Nugini dan Timor Timur yang menjadi pengamat. Dari 180 perwakilan, menurutnya Indonesia mengirimkan 100 orang dan sisanya dari berbagai negara tersebut. Dibuka oleh Menteri Negara Pemuda dan Olahraga RI, Dr. Adhyaksa Dault, M.Si, kegiatan yang merupakan rekomendasi dari ASEAN Senior Officials Meeting ini mengambil tema "Enriching and Preserving Our Cultural Heritage" (Memperkaya dan Melestarikan Warisan Budaya Kita). Berbagai agenda yang terangkum didalamnya meliputi presentasi masing-masing negara, seminar, kelompok diskusi dan penyusunan rekomendasi/deklarasi bersama.
Budaya ASEAN
Dalam kelompok diskusi, Pita, demikian ia biasa dipanggil, tergabung dalam kelompok ketiga yang membahas "The Function of ASEAN on Enriching and Preserving Our Cultural Heritage" (Peran ASEAN dalam memperkaya dan Melestarikan Warisan Budaya). Selain tema ini, menurutnya masih terdapat dua kelompok lain yang membahas "The Role of Youth on Enriching and Preserving Cultural Heritage" (Peran Pemuda dalam Memperkaya dan Melestarikan Warisan Budaya) dan "Optimizing Cultural Heritage for National and Regional Economic Development" (Mengoptimalkan Warisan Budaya Untuk Meningkatkan Pendapatan Ekonomi Negara dan Kawasan). Pita, yang dalam kesempatan tersebut ditunjuk sebagai delegasi resmi, mengetengahkan kebudayaan Indonesia yang hampir punah. Menurutnya, kebudayaan di Indonesia dapat dibagi menjadi dua yaitu tangible (nyata) dan intangible (tidak nyata). Untuk kebudayaan yang tangible, ia menyebutkan beberapa peninggalan sejarah seperti candi, prasasti, dan makanan daerah. Sementara untuk yang intangible, ia mencontohkan keberadaan bahasa daerah. Kedua jenis budaya tersebut menurutnya hampir punah. Khusus bahasa daerah misalnya, ia merasa prihatin dengan ancaman kepunahan yang diantaranya karena tidak diajarkan lagi oleh orang tua kepada anak-anaknya. Selain kebudayaan Indonesia, dalam ajang tersebut masing-masing peserta menurutnya lebih mampu membuka mata bahwa ternyata kebudayaan ASEAN adalah serumpun sehingga memiliki kemiripan satu sama lain. "Dalam atraksi budaya masing-masing negara saya menyaksikan sendiri kebudayaan Indonesia, Malaysia dan Brunei Darussalam memiliki kemiripan. Selain itu, kemiripan juga terdapat dalam kebudayaan Thailand, Vietnam, Laos dan Kamboja. Yang memiliki identitas tersendiri menurut saya Philipina", terangnya. Berkaitan dengan hal tersebut, ia menegaskan bahwa kebudayaan tidak bisa dikekang dan secara khusus kelompoknya memberikan himbauan untuk membuka borders (batasan) dalam termin kebudayaan. Indikasi hal ini, menurutnya terdapat dalam kemiripan kebudayaan masing-masing negara anggota ASEAN. Di akhir pertemuan AUSC, masing-masing kelompok, kata dia, diminta untuk mempresentasikan hasil diskusi dan membuat pernyataan bersama. Bersama kelompoknya, Pita membuat 13 butir pernyataan diantaranya rekomendasi untuk mendirikan ASEAN Youth Centre (Pusat Pemuda ASEAN) dan ASEAN tourism campaign (kampanye pariwisata ASEAN). Dalam kampanye pariwisata ASEAN, kelompoknya memiliki ide untuk menggagas sebuah paket wisata, mengingat kebudayaan yang serumpun dan budaya tematik yang dapat dihimpun dari berbagai kawasan. "Untuk mengeksplorasi budaya melayu misalnya, kita dapat merujuk Indonesia, Malaysia dan Brunei Darussalam", ujarnya memberikan contoh. [nok]

Pisah Sambut di LP3 UB
27 Mei 2009
Bertempat di ruang sidang Lembaga Pengkajian dan Pengembangan Pendidikan (LP3) Universitas Brawijaya, pada Senin (25/5) silam dilangsungkan acara serah terima atau pisah sambut pejabat lama ke pejabat baru. Hadir dalam acara tersebut antara lain para mantan Ketua LP3, Prof. Dr. dr. Djanggan Sargowo, SpPD, SpJP (K), Prof. Dr. Ir. Hendrawan Soetanto, M.Rur.Sc dan Prof. Dr. Ir. Marsoedi, MS. Dalam sambutannya, ketua LP3 yang baru, Prof. Dr. Agus Suman, DEA meminta semua pihak baik senior maupun para mantan ketua LP3 untuk selalu menyumbangkan pemikiran demi perbaikan LP3 dimasa mendatang. Sementara itu, Ketua LP3 periode 2001-2009, Prof. Dr. Ir. Hendrawan Soetanto, M.Rur.Sc dalam sambutannya menyatakan bahwa LP3 kedepan memiliki prospek yang sangat bagus, dimana banyak kegiatan yang akan dilakukan. Untuk itu, secara khusus pihaknya menghimbau agar kesiapan antisipasinya sudah dimulai dari sekarang. Pada kesempatan tersebut, diperkenalkan dua orang pejabat baru yaitu Dra. Diana Lyrawati, Apt., MS., PhD sebagai Kepala Pusat Peningkatan dan Pengembangan Aktivitas Instruksional (P3AI) dan Pusat Pengembangan Relevansi Pendidikan (P2RP) serta Dr. Ir. Lilik Eka Radiati, MS sebagai Kepala Pusat Pengembangan Pendidikan Akademik dan Profesional (P3AP) dan Pusat Pengembangan Manajemen Pendidikan (P2MP). Sementara itu, dijajaran pegawai, Drs. S. Kusnady, MSi menjabat sebagai Kepada Tata Usaha dan Drs. Eko Ilham, MAP menjabat sebagai Kasubbag Umum. [ei]

Tim FH Juara I Lomba Penyusunan Undang-Undang Nasional
27 Mei 2009
Tim dari Fakultas Hukum Universitas Brawijaya menjadi Juara I Lomba Penyusunan Undang-Undang (Legislative Drafting) Nasional. Lomba ini dilangsungkan di RSG Rektorat Baru Universitas Padjadjaran Bandung selama dua hari, Minggu-Senin (24-25/5). Diselenggarakan oleh BEM Fakultas Hukum Unpad, kegiatan yang dikemas dalam Padjadjaran Law Fair ini mengambil tema "Tribute to Prof. Dr. Sri Soemantri, SH., MH". Kegiatan ini berupa Lomba Debat Hukum Nasional dan Lomba Legislative Drafting (Pembuatan Undang-undang) yang diikuti oleh 17 perguruan tinggi di Indonesia. Fakultas Hukum Universitas Brawijaya berpartisipasi dengan mengirimkan 1 Tim debat yang terdiri dari. Agni Istighfar,  Nurul Mahmudah dan Faisal Firas Kalia serta 1 Tim Perancangan Undang-undang (Legislative Drafting) yang terdiri dari Rahmaniah, Aini Amnia Majda dan Ria Casmi Arsa. Dalam Perlombaan ini Fakultas Hukum Universitas Brawijaya menjuarai Lomba Penyusunan Undang-undang (Legislative Drafting). Tim LD Unibraw mengirimkan Naskah RUU tentang Pemilu Presiden dan Wakil Presiden. Naskah yang dikirim tersebut mendapat penghargaan sebagai Naskah Rancangan Undang-Undang Terbaik.Dosen pembimbing yang turut mendampingi kegiatan ini adalah  Aan Eko Widiarto SH,.M.Hum. dan Dr. M. Ali Safaat SH,.MH. [am]

Disertasi Anang Mashudi: Dampak Ekonomi Susu Sapi Perah Menghadapi Liberalisasi
27 Mei 2009
Kenaikan produksi susu peternak belum diikuti secara signifikan kenaikan pendapatan peternak anggota koperasi. Menurut penelitian, tidak signifikannya peningkatan pendapatan peternak mengikuti peningkatan prouksi susu secara nasional karena kebijakan impor induk sapi perah hanya dapat meningkatkan populasi induk dan total produksi susu dalam jangka pendek namun tidak signifikan dalam jangka panjang. Dalam perspektif peningkatan produktifitas dan peningkatan pendapatan peternak, kondisi tersebut disebabkan oleh strategi pemerataan tanpa memperhitungkan pengaruhnya terhadap aspek kelayakan usaha agribisnis peternak.
Demikian diungkapkan oleh Ir. Anang Mashudi MSc dalam ujian terbuka disertasinya yang berjudul "Estimasi Dampak Kebijakan Ekonomi Susu Sapi Perah Indonesia dalam Menghadapi Liberalisasi Perdagangan". Acara digelar di gedung pasca sarjana UB (27/5) dengan Prof. Dr. Ir. M. Iksan Semaoen, M.Sc; Dr. Ir. Nuhfil Hanani A.R., M.S.; dan Dr.Ir. Bambang Ali N.,M.S.,DAA. Sedangkan tim dosen penguji terdiri dari Prof.Dr.Ir.Zaenal Fanani,M.S.; Ir. Ratya Anindita,M.S.,PhD; dan Dr.Ir.Budi Setiawan,M.S.
Data yang dianalisis dalam penelitian Anang adalah data sekunder sejak tahun 1980 sampai tahun 2006. Ia menyebutkan bahwa kenaikan harga susu non-fat dunia mendorong peningkatan produksi susu domestik sebagai akibat peningkatan penyerapan susu domestik oleh IPS untuk mengganti penurunan bahan baku susu yang diimpornya disamping itu, kenaikan ini menyebabkan peningkatan harga susu olahan dunia. Dengan demikian hal ini akan meningkatkan peluang bagi produksi domestik berkembang untuk mensubstitusi impor yang direduksi IPS dan berdampak positif bagi industri pengolahan selain IPS karena adanya insentif kenaikan harga susu olahan. Selanjutnya dapat disimpulkan juga bahwa kecenderungan elastisitas harga produk bagi konsumen. Hal ini dibuktikan dengan perubahan harga dunia bahan baku susu non fat mendorong ekspor susu negara eksportir lebih besar dibandingkan dengan reduksi impor oleh negara pengimpor. Kenaikan susu non fat berdampak pada kenaikan harga susu olahan domestik yang mendorong meningkatnya harga susu segar domestik namun kenaikan tersebut tidak cukup kuat mendorong peningkatan produksi susu domestik. Kenaikan harga susu non-fat cenderung mendorong IPS mengurangi demand bahan baku susunya sehingga kenaikan produksi susu domestik sebagian melimpah di pasar non-IPS.
Anang menegaskan bahwa Indonesia belum siap menghadapi liberalisasi perdagangan susu. Penerapan liberalisasi perdagangan susu mengakibatkan penurunan kinerja peternakan rakyat Indonesia karena hilangnya proteksi pemerintah dan lemahnya posisi tawar para peternak. Kondisi ini diindikasikan dengan penurunan tingkat harga susu segar domestik, produksidan produktifitas, permintaan susu segar oleh IPS yang diikuti dengan peningkatan impor bahan baku susu non-fat sehingga dalam jangka panjang mendorong peternak keluar dari usaha pemeliharaan ternak perah.
Beberapa alternatif kebijakan yang bisa dilakukan adalah peningkatan konsumsi susu yang bisa membangkitkan demand yang relatif besar di pasar output. Share produksi susu domestik yang diserap IPS hanya 31,72 persen, sedangkan sisasnya masih impor.
Selain itu peningkatan kualitas susu dan peningkatan jumlah/peran koperasi maupun kombinasi dengan peningkatan konsumsi susu per kapita menunjukkan hasil yang relatif positif dalam memberdayakan peternakan sapi perah domestik dalam menghadapi liberalisasi perdagangan.
Anang Mashudi, pria kelahiran Malang 2 Juli 1957. Ia menempuh pendidikan S1 di Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor dan lulus tahun 1981. Selanjutnya ia mengenyam pendidikan S2 di The Ohio State University Columbus, Ohio USA dengan jurusan (major) Agricultural Economics dan Minor Rural Finance. Sejak tahun 1982 ia bekerja di Departemen Koperasi dan PKM RI. Sejak tahun 1999 ia bekerja di Pemerintah Propinsi Jawa Timur di Dinas Koperasi dan Usaha Mikro Kecil dan Menengah. Setelah menempuh pendidikan selama 3 tahun 9 bulan dan mampu mempertahankan disertasinya, ia berhak menyandang gelar doktor ilmu pertanian minat ekonomi pertanian dengan predikat cumlaude.[fjr]

Prof. Soekartawi: "Ingin jadi World Class University?"
27 Mei 2009
Ada yang menarik dari peringatan Hari Pendidikan Nasional tahun 2009 yang dilaksanakan di Bandung baru-baru ini (26/5) yaitu diberikannya penghargaan pemerintah kepada Perguruan Tinggi Indonesia yang masuk dalam 500 Perguruan Tinggi Terkemuka di dunia versi The Times Higher Education - QS World University Rankings. Penghargaan yang langsung diberikan oleh Presiden SBY tersebut jatuh pada UI (ranking 287), ITB (ranking 315) dan UGM (ranking 316). Dari tiga universitas tersebut, prestasi ranking UI tahun 2008 naik paling besar (108 poin) dibandingkan prestasinya di tahun 2007. Kalau di thn 2007 ranking UI di 395 dan di thn 2008 melejit ke ranking 287. Sementara itu ITB  naik dari 369 di thn 2007 naik ke ranking 315 di thn 2008 atau naik sebesar 54 poin. Kemudian UGM naik dari ranking 360 di thn 2007 ke 316 di thn 2008 atau naik 44 poin. Demikian keterangan Prof. Soekartawi yang mengirimkan berita ini via e-mail dari Bandung. Prof. Dr. Soekartawi, guru besar FPUB ini memang mengikuti terus perkembangan kemajuan perguruan tinggi di Indonesia dan bahkan ia ikut menyusun Renstra Depdiknas 2005-2009 dan Revitalisasi Pendidikan 2 tahun lalu, saat ia diperbantukan di Depdiknas.
Pakai Patokan THE-QS
Soekartawi menyarankan kalau UB mau mengukur kemajuan yang telah dicapai, sebaiknya mengikuti patokan atau standar THE-QS (The Times Higher Education - QS World University Rankings). Dan jangan mengikuti standar yang lain, karena Depdiknas menggunakan standar ini. Dengan demikian kemajuan UB dapat diperbandingkan dengan kemajuan perguruan tinggi lain di Indonesia menggunakan standar yang sama. Menurut Soekartawi, ada enam indikator sukses yang harus dikejar oleh UB kalau mau bertarung sebagai World University Rankings, yaitu (1). Academic Peer Review, bobotnya sebesar 40%; (2) Employer Review, bobotnya 10%; (3) Citations per Faculty, bobotnya 20%; (4) Student Faculty, bobotnya 20%; (5). International Faculty, bobotnya 5% dan (6).International Students, bobotnya 5%. Karena panjangnya dan rumitnya metodologi yang dipakai dan penentuan indikator yang digunakan, maka bagi yang berminat tentang hal ini dapat download di sini [skw]

Ramah Tamah dengan Tamu dari University of Kentucky
26 Mei 2009
Bertempat di ruang jamuan gedung rektorat, pada Senin (26/5) segenap pimpinan Universitas Brawijaya beramah tamah dengan tamu dari University of Kentucky. Ramah tamah kali ini dimaksudkan untuk memberikan sambutan terhadap beberapa orang tamu dari perguruan tinggi ternama di Amerika Serikat tersebut. Tampak hadir dalam kesempatan tersebut, Rektor UB: Prof. Dr. Ir. Yogi Sugito, Pembantu Rektor I: Prof. Dr. Ir. Bambang Suharto, MS, Ketua Kerjasama Luar Negeri (KSLN): Prof. Dr. Ir. Ifar Subagiyo, Ketua Kerjasama Wilayah Amerika Serikat: Ir. Agus Suharyanto, M.Eng, PhD serta Dekan dari seluruh fakultas dan Ketua Program studi. Sementara itu, empat orang tamu dari University of Kentucky dipimpin oleh Prof. Nikiforos Stamatiadis disertai 3 orang kolega dalam bidang Pertanian dan Bahasa Inggris. Diwawancari PRASETYA Online, Prof. Stamatiadis menyatakan bahwa kunjungannya kali ini merupakan salah satu realisasi kerjasama antara kedua Universitas, UB dan University of Kentucky. Sesuai dengan bidang yang ditekuninya, transportasi, maka kunjungan ini akan lebih difokuskan pada Jurusan Teknik Sipil Universitas Brawijaya. Lebih jauh, dalam skema kerjasama antara kedua universitas ini, pihaknya berencana pula untuk menjajagi kolaborasi penelitian. Hal lain yang juga terdapat dalam skema tersebut adalah pembelajaran bahasa Inggris untuk staf serta merintis double degree/twinning programme untuk program sarjana dan pascasarjana.
Isu Transportasi
Membahas masalah transportasi, secara khusus pihaknya menyoroti padatnya lalu lintas jalan raya di Indonesia. "Lalu lintas jalan raya di Indonesia sangat padat sehingga susah untuk mengemudi. Motor roda dua merupakan jenis alat transportasi yang mendominasi disini", kata dia. Berkaitan dengan hal tersebut, ia berencana untuk membahas lebih jauh sarana transportasi umum untuk masyarakat. Terkait isu pemanasan global, Prof. Stamatiadis memberikan gambaran pemanfaatan motor roda dua di Negeri China yang telah banyak menggunakan bahan bakar listrik. Hal ini menurutnya sangat menguntungkan untuk mengurangi efek pemanasan global dan efisiensi bahan bakar. Sarana transportasi kereta api menurutnya juga dapat menjadi salah satu alternatif yang handal. Selain Universitas Brawijaya, ia juga berencana untuk berkunjung dan memberikan kuliah tamu di Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh. Kepada PRASETYA Online, ia mengaku terkesan terhadap orang Indonesia yang ramah dan suka menolong. Kunjungan kali ini menurutnya merupakan sebuah pengalaman yang menarik. [nok]

UB Masuk 200 Besar Asia
26 Mei 2009
Universitas Brawijaya menduduki posisi ke-191 dari 200 besar perguruan tinggi terbaik di asia. Pemeringkatan ini dikeluarkan oleh THE-QS Topuniversities yang dapat diakses di sini. Beberapa perguruan tinggi lain yang masuk dalam pemeringkatan tersebut berturut-turut dari tertinggi ke terendah adalah UI (50), UGM (63), ITB (80), IPB (119), Universitas Airlangga (130) serta Undip dan UNS (171). Selain itu, terdapat juga 9 indikator lain dimana untuk sementara UB belum terdapat didalamnya. Sembilan indikator tersebut diantaranya review mahasiswa internasional, jumlah paper per fakultas, dan rasio mahasiswa per fakultas. [nok]

AIMA UB Tahun 2009
25 Mei 2009
Bertempat di gedung rektorat UB, pada Senin (25/5) Pusat Jaminan Mutu (PJM) Universitas Brawijaya menyelenggarakan kegiatan Penjelasan Pelaksanaan Audit Internal Mutu Akademik (AIMA) batch I 2009. Hadir sebagai pemateri dalam kegiatan yang diikuti oleh seluruh Dekan dan Ketua Jurusan ini adalah Prof. Dr. Ir. Soebarinoto, Prof. Dr. Ir. Bambang Suharto, MS dan Dr. Ir. Alexander Tunggul Sutan Haji, MT. Dalam paparannya, Pembantu Rektor I, Prof. Bambang Suharto menyatakan bahwa selama kurun waktu 2007-2011, program kerja Rektor UB melingkupi tiga pilar utama. Ketiga pilar tersebut meliputi pemerataan dan perluasan akses; peningkatan mutu, relevansi dan daya saing serta penguatan tata kelola, akuntabilitas dan pencitraan publik. Sejak 2006, kebijakan akademik UB yang telah disetujui senat diterangkannya meliputi peningkatan mutu berkelanjutan, internasionalisasi dan entrepreneurial university. Berkaitan dengan hal tersebut pihaknya kemudian memaparkan hasil pemetaan dan visitasi yang dilakukan oleh tim dari direktorat akademik Dikti. Dari hasil tersebut telah ditetapkan bahwa 60 perguruan tinggi telah mengimplementasikan Sistem Penjaminan Mutu Internal (SPMI) dengan baik dan UB terpilih menjadi tiga terbaik selain UGM dan Universitas Parahyangan. Sementara itu, Ketua Pusat Jaminan Mutu (PJM) UB, Prof. Dr. Ir. Soebarinoto dalam paparannya menyampaikan bahwa program AIMA UB batch I 2009 melingkupi audit kepatuhan terhadap permintaan tindakan koreksi (PTK) atas AIMA batch II 2008, laporan atas PTK, penetapan standar akademik baru siklus 2009 dan pelaksanaan audit pada minggu I bulan Juli 2009. Dalam AIMA tahun 2009 ini, menurutnya terdapat 10 butir mutu standar akademik yang meliputi kurikulum program studi; SDM (staf dan administrasi); mahasiswa dan kompetensi lulusan; proses pembelajaran; sarana dan prasarana akademik; suasana akademik; penelitian dan publikasi; pengabdian kepada masyarakat; manajemen akademik dan sistem informasi akademik. [nok]

Bob Sadino: "Tinggalkan Kampus Sekarang Juga"
25 Mei 2009
Seseorang yang ingin terjun ke dunia wirausaha harus menjalani sebuah prakondisi dengan bekal tiga hal yaitu menghilangkan rasa takut, menghilangkan harapan-harapan dan melepaskan semua belenggu pikiran. Untuk menjalani dunia ini, tidak dibutuhkan pendidikan sampai tingkat tertinggi. Pendidikan tingkat menengah pun cukup. Demikian disampaikan wirausahawan terkemuka di Indonesia, Bob Sadino, dihadapan wartawan dalam seminar nasional "Reach Your Dreams: Merealisasikan Mimpi Kurang dari 12 Bulan". Acara ini diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Administrasi Bisnis (Himabis) pada Senin (25/5) di gedung FIA UB. Dalam paparannya, Bob Sadino yang telah menekuni dunia wirausaha selama 40 tahun lebih ini mengetengahkan pengalaman empiris dunia wirausaha yang menurutnya dipenuhi hal-hal yang serba relatif. Secara provokatif, ia bahkan menyarankan agar para calon wirausahawan tidak segan-segan meninggalkan dunia kampus yang sementara ini hanya membelenggu hati dan pikiran. "Kampus dan dunia sesungguhnya sangat berbeda. Di kampus, mahasiswa hanya diajari teori yang semakin menjauhkan mereka dari realitas sebenarnya di masyarakat", ujar Om Bob demikian ia biasa disapa. Selama ini, menurutnya kampus hanya melahirkan manusia-manusia dengan arogansi tinggi yang tidak siap untuk dididik. "Orang-orang yang dilahirkan dari kampus memiliki arogansi akademik yang tinggi dan mereka biasanya susah untuk dibentuk dan dididik", tambahnya. Berkaitan dengan hal tersebut, secara khusus ia berpesan kepada para insan kampus untuk turut pula membangun masyarakat dengan terjun langsung dan tidak hanya belajar teori dari kampus. Hal yang juga sangat ia tekankan adalah perlunya keberanian untuk berpikir lebih jauh dari paradigma yang ada/to think out of the box. Dunia pendidikan yang ideal menurutnya harus menampung tiga pilar yaitu mengajari orang untuk tahu (learning to know), mengajari orang untuk melakukan sesuatu (learning to do) serta mengajari terjun bersama dengan masyarakat (learning to be together). "Dunia sesungguhnya dipenuhi heterogenitas yang tinggi sehingga akan menjadi tempaan sesungguhnya bagi setiap orang yang bertekad terjun ke dunia wirausaha", ujar Bob Sadino yang juga direktur utama PT. Boga Catur Rata dan pemilik Kem Chicks/Kem Farm. Hal ini menurutnya penting mengingat masih rendahnya jumlah wirausaha yang ada di Indonesia saat ini. "Standar minimal jumlah wirausaha di sebuah Negara adalah 2 %. Singapura itu sudah mencapai 7.4% sementara Indonesia baru sekitar 0.18% saja", rincinya.
Selain Bob Sadino, praktisi lain yang turut pula hadir dalam kesempatan tersebut adalah Ippha Santoso, seorang creative marketer, dengan latar belakang entrepreneur di bidang property, musik, makanan dan penulis buku bestseller "10 Jurus terlarang! (Kok Masih Mau Bisnis Cara Biasa?)".
Pendidikan Bisnis
Dalam kesempatan yang sama, Ketua Jurusan Administrasi Bisnis, Kusdi Raharjo, PhD, menyatakan bahwa kurikulum yang ada pada saat ini lebih banyak mengarahkan mahasiswa untuk menjadi pegawai. "Indikasi dari hal ini dapat kita lihat dari pelamar pekerja swasta dan PNS yang mencapai ribuan setiap tahunnya", kata dia. Berkaitan dengan hal tersebut, pihaknya merasa perlu untuk melakukan reformasi kurikulum yang menurutnya akan segera dilangsungkan pada bulan mendatang. Melalui reformasi ini, akan dilakukan upaya pematangan kurikulum yang mengarahkan mahasiswa untuk menjadi wirausahawan sejati. [nok]

Launching Lembaga Pendidikan Robotika
24 Mei 2009
Bertempat di gedung widyaloka Universitas Brawijaya, pada Minggu (24/5) dilangsungkan launching lembaga training dan pendidikan robotika pertama di Malang, Robo-Trec (Robotic Training and Education Company). Robo-Trec adalah salah satu peserta Program Mahasiswa Wirausaha (PMW) yang beranggotakan mahasiswa Teknik Elektro angkatan 2004 yaitu Badra Wahyudi Cahya, Azwar Fauzi, Sulthon Salim, Muhammad Deni Ari S, dan Neni Agustina. Guna menjalankan aktivitasnya, Robo-Trec mendapat bantuan dana senilai Rp. 20 juta dari PMW. Launching kali ini dilakukan dengan memperkenalkan dunia robotika kepada pelajar SMP dan SMA se-Malang Raya guna menumbuhkan minat dan ketertarikan. Hadir sebagai pemateri dalam kesempatan tersebut adalah Adharul Muttaqin, ST, MT (Dosen Teknik Elektro sekaligus pembimbing mahasiswa dalam KRCI) dan T. Prsetyo, ST (Pemenang I Kategori Best Image System Design pada 7th Korea Robot Aircraft Competition 2008 dan sekaligus anggota tim riset dan pengembangan Lab. Robotika ITB).
Berbagai materi yang disampaikan diantaranya pengenalan robotika dan kontrol mekatronika; sensor, aktuator dan kontroller; elektronika praktis; implementasi in hard mekatronika dan robot mobil-obstacle detector dan patch tracer AGV serta pemrograman dan aplikasi PC. Secara khusus tim dari ITB mendemonstrasikan robot hasil karyanya yaitu robot hasta dan robot tarantula yang dioperasikan menggunakan software bernama "bamec". Dalam demo ini, peserta turut pula diajak mengoperasikan software bamec yang meliputi bamec proservo, bamec prochart, dll yang merupakan upaya pemrograman  awal dalam mengoperasikan kedua robot tersebut. kepada peserta, tim bamec juga memperkenalkan disiplin ilmu yang menunjang dunia robotika yaitu mekanik (untuk membuat bentuk fisik robot), elektronika (dalam hal sensor, controller, actuator, dan sumberdaya) serta informatika (untuk pemrograman dalam kontroller). [nok].

Kuliah SOI: Trend dalam Jaringan Mobile
22 Mei 2009
School on Internet (SOI) Universitas Brawijaya akan mengadakan kuliah tamu dengan pembicara dari Universite' Pierre et Marie Curie-Paris 6, Perancis. Ia adalah Dr. Marcelo Dias de Amorim, permanent researcher di CNRS/University Pierre and Marie Curie (Paris 6). Target peserta dari kuliah tamu ini adalah mahasiswa tahun ke-3 dan ke-4 pada program studi Teknik Elektro dan Ilmu Komputer (Electrical Engineering and Computer Science/EECS). Tema yang akan diambil dalam kesempatan tersebut adalah "Trends in Mobile Networking", yang akan dibagi dalam dua sessi. Sessi pertama pada Selasa (26/5) pukul 15.00-16.00 (Japan Standard Time/JST) dengan tema "Mobile Networking - Tradisional Mechanisms" dan sessi kedua pada hari yang sama pukul 16.15-17.15 JST dengan tema "Mobile Networking - Recent Topics". Kuliah tamu ini akan difokuskan pada analisis berbagai aspek yang berbeda dalam mobilitas jaringan komputer. Topik ini telah menyita banyak perhatian dari komunitas internasional terutama karena kemampuan yang diberikan jaringan mobile dalam mewarnai kehidupan sehari-hari. Beberapa hal yang akan dibahas diantaranya definisi mobility, bagaimana mobility mempengaruhi jaringan, mekanisme tradisional dalam menghadapi mobility, mobility vs berbagai tipe yang berbeda dari jaringan, mobility as an advantage, serta pandangan tentang model-model mobility dan aplikasinya. [nok]

Kuliah Tamu Endokrinologi II PKH UB
22 Mei 2009
Program Kedokteran Hewan Universitas Brawijaya (PKH UB) pada Senin (11/5) dan Kamis (28.5) mendatang, menyelenggarakan kuliah tamu Endokrinologi. Hadir sebagai pematri dalam kesempatan tersebut adalah Prof.Dr. Ismudiono drh. MS dari Universitas Airlangga Surabaya. Tema yang diambil dalam kuliah tamu I bertajuk "Kelenjar Thyroid /para sebagai penghasil hormon, jenis-jenis hormon dan fungsinya". Dan pada kuliah tamu mendatang akan diambil tema "Kelenjar Ovarium dan Kelenjar mammae sebagai penghasil homon, jenis-jenis hormon dan Fungsi yang dihasilkan". Menurut rencana, kuliah tamu ini akan dilangsungkan di gedung Pascasarjana RB 8 pukul 09:15 – 10:55. Sebelumnya Prof.Dr. Ismudiono adalah mantan Dekan FKH – UNAIR [@ND]

Kunjungan Prof. Stamatiadis dari University of Kentucky
22 Mei 2009
Professor Nikiforos Stamatiadis, Ph.D.,P.E. dari Departement of Civil Engineering University of Kentucky, Lexington, KY dijadwalkan melakukan beberapa kegiatan dalam kunjunganya ke Universitas Brawijaya. Beberapa kegiatan yang dilakukan di Jurusan Teknik Sipil Universitas Brawijaya, antara lain kuliah tamu pada tanggal 18 Mei 2009 dengan tema "Transportation Issues in The United States", curriculum discuss pada tanggal 20 Mei 2009 yang membahas tentang kurikulum di jurusan Teknik Sipil Universitas Brawijaya dengan kurikulum di Department of Civil Engineering University of Kentucky. Tanggal 22 Mei 2009 kegiatan workshop di LP3 dengan tema Workshop Development For UB dan workshop tanggal 26 Mei 2009 dengan tema "Workshop on Current Transportation Research", yang semua kegiatan diikuti oleh mahasiswa S1,S2,S3, dan Double Degree Programme. Acara terakhir adalah seminar dengan tema "Transportation Issues in The U.S and East Java" pada tanggal 28 Mei 2009 dengan pembicara  Professor Nikiforos Stamatiadis, Ph.D.,P.E., Prof.Ir.Harnen Sulistio,M.Sc,Ph.D dari Teknik Sipil Universitas Brawijaya, Kepala Bidang Fisik dan Prasarana Bapekko Malang, Erik Setyo Susanto, ST, MT, dan Ir. Purnomo Subagyo dari Suramadu. [yes]

Memihak Pasar Tradisional ?
22 Mei 2009
Pasar tradisional di negeri ini tidak terlepas dari sejarah dan budaya nenek moyang kita. Namun, seiring perubahan gaya hidup konsumen, pasar tradisional semakin termarginalkan. Tumbuhlah pasar modern, berupa mal, supermarket, bahkan hypermarket, yang menjadi lahan subur pemilik modal asing berebut keuntungan. Ini bermula dari Keppres No 96/2000 tentang usaha tertutup dan terbuka bagi penanaman modal asing (PMA). Perdagangan eceran (ritel) terbuka bagi asing. Hypermarket berdiri di berbagai kota. Bahkan, 2009 peritel asing, Wallmart, Casino, Tesco, Central Thailand, tertarik masuk ke Indonesia. Peritel asing yang sudah lama mencengkeramkan kukunya dengan mengakuisisi ritel nasional. Akibatnya, hypermarket tumbuh dari 83 tahun 2005 menjadi 121 pada 2007, minimarket dari 6.465 tahun 2005 menjadi 8.889 tahun 2007. Menurut  pengamat ritel Hidayat (12/2), hal ini didukung diterapkannya bunga rendah dan perputaran yang tinggi, sehingga Carrefour merajai pasar. Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Retail Indonesia (Aprindo),  Benjamin Mailool menyatakan, Carrefour menjalankan strategi akusisi dan internal growth. Ini didukung besarnya penduduk Indonesia. Konsumen ibarat raja. Gaya hidupnya terus didorong berubah dan dikendalikan pengelola pasar modern. Sejumlah kelebihan ditawarkan pasar modern. Harga lebih murah, diskon, hadiah, jaminan kualitas, tampilan menarik, dan kemudahan akses informasi produk. Ditunjang fasilitas lain sebagai alternatif hiburan bagi pembeli, seperti tempat bermain, tempat jajan, maka akan menarik konsumen. Di sisi lain, ketidaknyamanan, seperti lorong penuh dagangan, bau pengap, tempat kotor, bahkan harga lebih tinggi, sering dijumpai di pasar tradisional. Inilah sebagian pemicu ditinggalkannya pasar tradisional. Lantas, apa yang harus dibenahi agar pasar tradisional dapat bersaing? Apa peran pemerintah?
50,4 Juta Penduduk Bergantung Pasar Tradisional
Bagaimanapun kondisinya, ada sejumlah alasan konsumen tetap memilih pasar tradisional. Di antaranya alasan  budaya, sejarah, mudah dijangkau, harga bisa ditawar atau diutang lebih dahulu, rasa kekeluargaan yang cukup tinggi, tidak seboros berbelanja di pasar modern, bahkan menawarkan peluang usaha dan pekerjaan. Inilah sisi positif yang tidak lepas dari potensi sosial, budaya, dan ekonomi yang telah mengakar. Meskipun pasar tradisional pada 2002-2008 turun 11,7%, sedang pasar modern tumbuh 31,4%, saat ini pasar tradisional masih menjadi pilihan rakyat di tengah lesunya perekonomian. Menurut Departemen Perdagangan, ada 13.450 pasar tradisional di Indonesia yang menghidupi sekitar 12,6 juta pedagang (Kontan, 17/03/09). Jika setiap pedagang menanggung tiga orang maka sekitar 50,4 juta penduduk bergantung pasar tradisional. Belum lagi konsumen di pasar ini. Hal ini menyangkut hajat hidup orang banyak. Hingga 2007 saja, Perusahaan Daerah (PD) Pasar Jaya masih mengelola 151 pasar di DKI Jakarta beraset lebih dari Rp 3 triliun. Nilai perdagangan di seluruh pasar yang dikelola PD Pasar Jaya lebih dari Rp 150 triliun per tahun dari tempat usaha mencapai 98.507 unit. Setiap hari dikunjungi lebih dari 2 juta atau 20% penduduk Jakarta. Apakah potensi ini dibiarkan tergilas arus perubahan? Pemilik kebijakan harus jeli merancang masa depan pasar tradisional. Besarnya PHK akibat krisis ekonomi saat ini, perlu dicarikan solusi alternatif. Pemberdayaan pasar tradisional bisa jadi membuka kesempatan kerja informal bagi sebagian korban PHK. Pasar tradisional juga menjadi tempat distribusi produk lokal hasil pertanian rakyat kecil. Ini akan menjadi penyelamat petani dan pedagang dari dominasi  pertanian dan pasar modern.
Cermati Peritel Multinasional
Walaupun menuai pro dan kontra, pemerintah telah mengeluarkan dua peraturan, yaitu Perpres 112/2007 dan Permendag 53/2008, untuk mengatasi polemik ini. Pada 2009, pemerintah juga menyiapkan sekitar Rp 490 miliar untuk revitalisasi pasar tradisional agar dapat bersaing dengan pasar modern. Revitalisasi bukan sekadar renovasi fisik. Seperti Pasar Berseri (bersih, sehat, ramah lingkungan, dan indah) yang diluncurkan di Jakarta 16-18 Juni 2008. Kemampuan manajemen  sumber daya manusia (SDM) pelaku pasar, layanan konsumen, dan rantai distribusi juga harus diperhatikan. Panjangnya rantai distribusi, terpusatnya komoditas tertentu pada sekelompok orang, dan pungutan yang tidak perlu, layak dipangkas untuk mengefisienkan pasar tradisional. Hal ini akan meningkatkan kepuasan konsumen. Program pemerintah mengalokasikan Rp 100 miliar untuk perbaikan dan pengembangan pasar tradisional dan lokasi pedagang kaki lima (PKL) dengan segala kriterianya dinilai tepat. Namun, dibanding porsi pembayaran cicilan pokok dan bunga utang yang mencapai Rp 162 triliun dalam APBN 2009, tentu jauh dari cukup. Pemerintah perlu lebih fleksibel dalam penyediaan dana mengingat pasar tradisional tempat bergantung rakyat.
Besarnya cengkeraman perusahaan ritel multinasional perlu dicermati. Dengan pilar: capital power, trend setter, consumer traffic maker, cheapest price pasar modern mempunyai market power yang cukup besar. Penjualan 10 peritel besar di dunia mencapai US$ 1.091 miliar tahun 2008. Lima di antara 10 ritel besar itu meliputi Carrefour, WallMart, Metro Group, Tesco, dan Seven & 1 (Kompas, 1/9/08). Mereka sering mempengaruhi kebijakan pemerintah, terutama pemda, untuk memuluskan nafsu keserakahannya. Ini tentu sangat tidak sebanding dengan power yang dimiliki pelaku pasar tradisional. Jika pemerintah tidak memberikan regulasi yang jelas dan tegas maka sangat mungkin potensi sosial, budaya, dan ekonomi pasar tradisional akan tergilas. [cip/http://www.sinarharapan.co.id/cetak/detail-cetak/article/memihak-pasar-tradisional/]

Rakerpim UB 2009
20 Mei 2009
Universitas Brawijaya menggelar Rapat Kerja Pimpinan (Rakerpim) UB 2009 di Hotel Kusuma Agrowisata Batu (19-20/5). Acara diikuti oleh seluruh jajaran pimpinan rektorat, fakultas, dan lembaga-lembaga di lingkungan UB. Tema yang diambil pada kali ini adalah "Akselerasi langkah Universitas Brawijaya menuju World Class Entrepreneurial University".
Acara rakerpim dibuka langsung oleh rector UB, Prof. Yogi Sugito. Dalam sambutannya, Yogi menyampaikan capaian-capaian yang telah didapat UB dalam masa kepemimpinannya. Di antara capaian-capaian prestasi tersebut adalah dicanangkannya UB sebagai Entrepreneurial University, diraihnya akreditasi A dalam AIPT, 500+ ranking Webometrics, dan juara PIMNAS XXI di Semarang. Peningkatan mutu layanan dan pemenuhan sarana dan prasarana juga mengalami peningkatan yang signifikan.
Beberapa rencana yang diambil untuk tahun 2009/2010 di antaranya melaksanakan BLU sebagai persipan menyongsong status BHPMN, finalisasi blue book Bappenas, pendirian cabang UB, pengembangan program studi dan jurusan,  sertifikasi ISO, dan peningkatan ranking World Class University.
Sidang Komisi
Selain rektor, seluruh pimpinan fakultas dan lembaga-lembaga di lingkungan UB juga mempresentasikan rencana program kerja ke depan. Acara juga dilanjutkan dengan sidang-sidang komisi di antaranya Komisi A tentang Pendidikan dengan materi Teaching Quality, Komisi B tentang Entrepreneurial University dengan materi Financial Resource Management in BLU, Komisi C tentang Kemahasiswaan dan Lulusan dengan materi Graduate Employability, Komisi D tentang Penelitian dengan materi Research Quality + International Journal, serta Komisi E tentang Program Fakultas dengan materi International Outlook (English Class + International Program). Rumusan-rumusan tiap bidang akan diplenokan kembali.[fjr]

Kunjungan DAAD ke UB
19 Mei 2009
Universitas Brawijaya pada Selasa (19/5) menerima kunjungan perwakilan Deutscher Akademischer Austausch Dienst (DAAD) untuk Indonesia. Mereka adalah Astrid Raabe, MA dan Dr. Helmut Buchholt. Di gedung rektorat lantai 7, keduanya diterima oleh Direktur Kerjasama Luar Negeri, Prof. Dr. Ir. Ifar Subagiyo dan Koordinator Kerjasama wilayah Eropa, Dr. Candra Fajri Ananda. Dalam perkenalannya, Dr. Helmut Buchholt menyampaikan bahwa sejak bulan Januari 2009 dirinya diamanati untuk menjadi Direktur DAAD Jakarta menggantikan Ilona Krueger-Rechmann, MA yang saat ini ditugaskan di kantor pusat DAAD di Bonn, Jerman. Momentum kunjungan ini dimanfaatkan oleh Prof. Ifar Untuk menggali informasi tentang prosedur untuk melanjutkan kuliah ke Jerman. Secara khusus ia menyampaikan maraknya keluhan dari koleganya tentang susahnya mendapatkan Letter of Acceptance dari Universitas di Jerman. Tentang hal ini, Dr. Buchholt menyatakan bahwa masing-masing perguruan tinggi di Jerman memiliki prosedur khusus untuk menerima mahasiswa. Untuk itu, ia menyarankan agar dalam upaya mencari letter of acceptance, kandidat menjalin komunikasi langsung dengan Universitas dan professor dari kelimuan yang dimaksud. Komunikasi ini, diterangkannya dapat dilakukan dengan memanfaatkan sarana internet dan mengunjungi website dari universitas yang dituju di Jerman.
Kontribusi DAAD
DAAD sendiri, diterangkan Dr. Buchholt, selama ini telah banyak membantu mahasiswa asal Indonesia untuk melanjutkan studinya ke Jerman baik untuk program magister maupun doktor. "Saat ini Jerman menduduki ranking pertama tertinggi menampung mahasiswa internasional dan ranking selanjutnya berturut-turut diduduki Australia dan Belanda", kata Dr. Buchholt yang juga adalah seorang sosiolog alumni Bielefeld University, Germany. Di Indonesia, diterangkannya tercatat sebanyak 2500 alumni tersebar di berbagai wilayah di Indonesia, salah satunya adalah Rektor Universitas Indonesia, Prof. Dr. der Soz. Drs. Gumilar Rusliwa Somantri. Lebih lanjut ia juga menuturkan bahwa krisis ekonomi global yang saat ini juga mendera Jerman berakibat pada kondisi finansial DAAD. Untuk itu, ia menegaskan bahwa pada tahun-tahun selanjutnya, program yang ditawarkan akan sangat bergantung dengan jumlah finansial yang tersedia di DAAD. Tidak kurang, Dr. Buchholt menyebutkan bahwa setiap tahun pihaknya menyediakan dana berkisar hingga 300 Milyar Euro untuk beasiswa dan berbagai program DAAD.
Dalam penjelasannya, Dr. Candra Fajri Ananda menyatakan bahwa selama ini Fakultas Ekonomi telah melaksanakan sandwich programme bekerjasama dengan University of Kassel. Sebanyak delapan mahasiswa program Doktor menurutnya telah ia kirimkan dibawah bimbingan Prof. Beatrice Knerr. Berkaitan dengan hal tersebut, pihaknya juga mengeluhkan susahnya prosedur dalam menjalin kerjasama dengan Universitas di Jerman. Untuk pengiriman tenaga akademis junior misalnya, ia selalu menyarankan mereka menghubungi para senior alumni Jerman dengan menunjuk professor pembimbing sebelumnya. Prosedur ini, menurut Dr. Candra Fajri perlu diperbaiki. Selain itu, dirinya juga menyoroti proses pengurusan administrasi dan pelaksanaan tes yang mengharuskan pergi ke Jakarta. Hal ini menurutnya sangat memberatkan bagi mereka yang berasal dari kawasan Timur Indonesia. "Biaya perjalanan pulang pergi berkali-kali dari Irian Jaya ke Jakarta sangat sulit dan memberatkan bahkan kadang lebih berat daripada perjalanan ke Jerman. Tetapi sebaliknya, orang-orang Jakarta sangat mudah mengakses daerah dengan kemudahan transportasi dan ekonomi yang terjangkau", ujarnya. Untuk itu, ia menyarankan agar prosedur administrasi dibuat lebih fleksibel dengan mempertimbangkan aspek pemerataan. Menjawab hal ini, Dr. Buchholt memiliki ide untuk menggilir pelaksanaan ujian di Jakarta, Surabaya, Makasar dan berbagai daerah lainnya yang memungkinkan menjangkau seluruh kandidat dari berbagai penjuru di Indonesia. [nok]

Dampak Krisis Finansial Global Terhadap Indonesia
19 Mei 2009
Indonesia adalah salah satu negara dengan pertumbuhan ekonomi positif disamping China, India, dan Vietnam. Beberapa negara maju termasuk Amerika dan Eropa mengalami kemerosotan tajam hingga mengalami pertumbuhan ekonomi negatif. Demikian disampaikan Kepala Badan Kebijakan Fiskal Departemen Keuangan RI, Anggito Abimanyu, PhD dihadapan peserta seminar nasional "Challenges of Economic Development in Indonesia: Democracy Party and Global Competition". Acara yang diselenggarakan di gedung widyaloka UB pada Selasa (19/5) ini diikuti oleh mahasiswa, dosen dan masyarakat umum. Dalam krisis ekonomi global ini, dipaparkannya, Amerika sebagai pusaran krisis mengalami penurunan pertumbuhan perdagangan dari 2.5% menjadi -11%. Selain itu, terjadi pula penurunan nilai asset lembaga keuangan yang mencapai USD 750 M dan capital outflow mencapai USD 700 M ke Amerika Serikat. Dalam upaya mitigasi krisis global yang dilakukan negara-negara anggota G20, diungkap Anggito, telah ditentukan bahwa biaya rekapitulasi perbankan yang dibutuhkan mencapai USD 1.1 T, disusul biaya restrukturisasi kredit macet USD 1.4 T dan alokasi penambahan modal lembaga multilateral mencapai USD 1.1 T. Lebih lanjut, diterangkan bahwa posisi cadangan devisa Indonesia per Mei 2009 telah kembali, mencapai USD 56.3 M.
Dampak Terhadap Indonesia
Dalam paparannya, Kepala Pusat Studi Ekonomi dan Kebijakan Publik UGM yang juga chief economist BNI, A. Tony Prasetiantoro, PhD memaparkan prediksinya di beberapa sektor mikro terkait krisis ekonomi global ini. Sektor properti, menurutnya masih bisa bertahan dan justru dapat menjadi alternatif penyimpan kekayaan. Sebagaimana pada krisis 1998, sektor konsumsi menurutnya akan menjadi sektor yang tahan terhadap krisis begitu juga UMKM dan sektor informal. Lebih jauh, ia menyatakan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia diharapkan mencapai 4.0% dengan beberapa modal yaitu turunnya inflasi yang menaikkan kepercayaan diri konsumsi dan turunnya suku bunga yang bisa membantu ekspansi kredit. [nok]

Akreditasi BAN-PT di Jurusan Fisika
19-20 Mei 2009
Selama dua hari, Selasa-Rabu (19-20/5), Jurusan Fisika FMIPA Universitas Brawijaya menerima dua orang asesor BAN-PT dari Ditjen Dikti Depdiknas. Mereka adalah Dr. Agung Bambang Setiyo Utomo (UGM) dan Dr. Ing Mitra Djamal (ITB). Visitasi kedua orang asesor tersebut dalam rangka proses akreditasi Jurusan Fisika. Diterangkan Ketua Jurusan, Dr. Adi Susilo, dalam akreditasi kali ini pihaknya berupaya semaksimal mungkin untuk mendapatkan nilai A setelah dua kali akreditasi sebelumnya selalu mendapatkan B, yaitu pada tahun 1998 dan 2004. Persiapan akreditasi ini, menurutnya telah ia lakukan sejak 2 tahun silam dengan melakukan perbaikan di segala hal. Berkaitan dengan hal tersebut, ia merasa sangat terbantu dengan adanya TPSDP project yang pernah diterima Jurusan Fisika selama empat tahun (2002-2006) senilai Rp. 12 M. Dana tersebut, diterangkan Adi Susilo, telah dimanfaatkan untuk melengkapi sarana dan prasarana laboratorium. Untuk itu, pihaknya merasa percaya diri akan terakreditasi A dengan berbagai keunggulan yang telah ia miliki. Beberapa keunggulan tersebut diantaranya sarana dan prasarana laboratorium yang lengkap, dana penelitian rata-rata diatas Rp. 1 M per tahun, prestasi akademik dosen dan mahasiswa yang bagus, publikasi internasional yang kuat, paten yang banyak serta staf pengajar yang telah menempuh jenjang doktor diatas 50%. Terdapat 14 komponen yang dinilai dalam akreditasi ini diantaranya kemahasiswaan, proses pembelajaran, kurikulum, publikasi, SDM (dosen dan karyawan) serta sarana dan prasarana. Mengutip pernyataan asesor, Adi Susilo mengurai beberapa kelemahan yang dimiliki Jurusan Fisika yaitu masa studi mahasiswa diatas lima tahun serta kegiatan promosi yang masih kurang. "Masa studi mahasiswa relatif lebih tinggi karena banyak dari mereka yang telah bekerja ketika masih kuliah", ujar Adi Susilo merespon kelemahan yang disoroti asesor. Berkaitan dengan kurangnya marketing, pihaknya mengakui hal tersebut yang indikasinya dapat diketahui dari mayoritas mahasiswa yang berasal dari Jawa Timur. "Setelah Jawa Timur, sebaran mahasiswa Jurusan Fisika berasal dari Nusa Tenggara Barat", kata dia. [nok]

Olimpiade Brawijaya 2009
18 Mei 2009
Guna menjaring potensi mahasiswa, Eksekutif Mahasiswa Universitas Brawijaya menyelenggarakan Olimpiade Brawijaya 2009. Acara yang digelar mulai Senin-Sabtu (18-30/5) ini mempertandingkan 11 cabang meliputi 10 cabang olahraga dan 1 cabang seni debat Bahasa Inggris. Kesepuluh cabang olahraga yang dipertandingkan tersebut meliputi sepak bola, futsal, bulu tangkis, tennis meja, tennis lapangan, bola volley, catur, atletik, panjat dinding dan pencal silat. Acara ini diikuti oleh seluruh fakultas dan program studi yang ada di UB dengan total 900 peserta. Disampaikan salah seorang panitia, Juliansyah Rizal (mahasiswa FH angkatan 2006), seluruh acara ini akan dilangsungkan di lingkungan UB kecuali futsal yang mempergunakan lapangan diluar. Dibuka Rektor UB, Prof. Dr. Ir. Yogi Sugito, acara ini akan memperebutkan medali emas, perak dan perunggu serta sertifikat. Juliansyah Rizal juga menyampaikan, melalui kegiatan ini pihaknya berupaya untuk menumbuhkembangkan cabang olahraga dan seni tersebut lebih jauh ke Pekan Olahraga Mahasiswa Daerah (POMDA) selain sebagai upaya untuk mempererat tali silaturrahmi antar sivitas akademika. [nok]

Pelatihan Pembekuan Sperma Sexing dan Inseminasi Buatan pada Kambing
18 Mei 2009
Pelatihan Pembekuan sperma sexing dan Inseminasi Buatan pada kambing dilakukan oleh  Prof.Dr.Ir.Trinil Susilawati, MS, Dr.Ir.Sri Wahyuningsih, MS, Ir. Priyo Sugeng winarto, MSc dan Ir. Kuswati, MS di Balai Inseminasi Buatan Daerah Lampung- Lampung Tengah mulai tanggal 11 -14 Mei 2009. Kegiatan ini merupakan salah satu dari kegiatan difusi Ristek dengan judul "Inovasi Produksi Semen Beku Sexing dan IB Dalam Upaya Peningkatan Produktifitas Kambing" yang merupakan aplikasi dari hasil penelitian yang dilakukan mulai tahun 1994. Pelatihan pembekuan sperma sexing diikuti oleh pegawai BIBD lampung, Dinas peternakan Propinsi Lampung dan Dosen-dosen dari Fakultas Peternakan Universitas Lampung. Sedangkan pelatihan Inseminasi Buatan pada kambing diikuti oleh inseminator perwakilan kabupaten di lingkungan Propinsi Lampung dan inseminator dari PT. Widodo Makmur Perkasa. Kelanjutan dari kegiatan ini adalah produksi semen sexing kambing Boer di BIBD lampung yang kemudian diuji-aplikasikan di Farm PT Widodo Makmur Perkasa divisi kambing di Kecamatan Palas Kabupaten Lampung Selatan dan Kabupaten Malang, Tujuan dari kegiatan ini adalah:1) Mempercepat penyerapan hasil penelitian berupa teknologi produksi semen beku sexing kambing Boer oleh BIBD lampung yang bergerak di bidang produksi semen beku, 2).Mempercepat penyerapan hasil penelitian berupa teknologi IB menggunakan semen sexing untuk perbibitan kambing berskala nasional, 3) Meningkatkan produktifitas kambing lokal dengan penyilangan menggunakan kambing boer dengan semen beku hasil sexing, 4). Meningkatkan jaringan kerjasama antara peneliti di perguruan tinggi dengan perusahaan swasta nasional dan peternakan rakyat kambing sebagai hubungan inti dan plasma. Kesinambungan Pemanfaatan Produk IPTEK yang didifusikan adalah kerjasama Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya dengan PT. Widodo Makmur Perkasa dalam hal pengembangan teknologi bidang peternakan pada divisi perbibitan dan trading kambing untuk kebutuhan dalam negeri dan ekspor. Selain itu, di kabupaten Malang juga telah terdapat desa-desa binaan untuk pemberdayaan peternak bagi dosen Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya. [tsw]

Dua Dosen FP Ikuti "Writeshop" Internasional di China
18 Mei 2009
Setelah melalui perjalanan yang cukup melelahkan dari Malang, akhirnya kami tiba di Shangrila-China. Perjalanan dua hari dua malam ini melewati Jakarta, Kualalumpur, Kunming (China), Dali dan tujuan akhirnya, Shangri-La (China). Shangri-La terletak di dataran pegunungan Himalaya dengan ketinggian sekitar 3460 m dpl. Kami, Prof. Dr. Kurniatun Hairiah dan Dr. Ir. Didik Suprayogo, MSc, Dosen Jurusan Tanah, Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya Bergabung dengan 28 peserta "Writeshop" dari China, India, Thailand, Philipina, Vietnam, Belgia, Brundi dan Kamerun serta Indonesia yang diselenggarakan oleh World Agroforestry Centre di Shangri-La selama seminggu, 12 -19 Mei 2009.  Kesan pertama kami sesampainya di Shangri-La adalah budaya Tibet sangat kental diwilayah ini, "wonderful landscape" dan makanan yang enak namun kami kedinginan dan sering kekurangan oksigen akibat pengaruh ketinggian tempat. Shangri-La dipilih penyelenggara "Writeshop" agar peserta dapat melakukan "meditasi pengetahuan". Hal ini dilakukan atas pertimbangan bahwa peserta dengan kesibukan kerjanya masing-masing sulit dimungkinkan berkonsentrasi melakukan penulisan karya ilmiah. Untuk itu, World Agroforestry Centre memfasilitasi kegiatan "Writeshop" ini agar peserta dapat konsentrasi untuk saling belajar dan berbagi pengalaman dalam menulis karya ilmiah yang akan dipublikasikan di jurnal internasional. Bidang yang menjadi perhatian adalah Water, carbon, biodiversity in mosaic landscapes under climate changes dengan didampingi 4 editor professional. Ada 20 tahapan proses penulisan jurnal internasional yang kami lewati bersama agar tulisan ilmiah dapat memenuhi kriteria yang ditetapkan meliputi salience, credibility & legitimacy. "Salience" merefleksikan relevansi karya ilmiah yang mampu merespon kebutuhan masyakarat. "Credibility" mencerminkan kemampuan penulis untuk memenuhi persyaratan teknis dan standar keilmuan sehingga dapat diterima oleh pengguna ilmu dengan jaminan informasi yang diberikan harus akurat, valid dan memiliki kualitas yang tinggi. "Legitimacy" menggambarkan karya ilmiah yang harus bebas dari bias, dengan dikembangkan secara transparan dan mengedepankan kepentingan masyarakat luas dalam pemikirannya. Proses "Writeshop" menggunakan  "online training tool" yang dikembangkan oleh pakar statistik Kanada yang sangat "powerful" dalam membantu interaksi dinamis antar peserta dan antara peserta dengan  "organizers/ editors". Media ini juga sangat bermanfaat dalam membangun "networking" peserta untuk saling membantu menjalankan proses menuju publikasi internasional. Perjalannan kami pulang juga masih melewati waktu yang panjang, pada 19 Mei 2009 mendatang kami akan terbang dari Shangri-La menuju Kunming dan menginap semalam. Sehari berikutnya, kami terbang dari Kunming menuju Kualalumpur dan di lanjutkan ke Jakarta. Karena hampir tengah malam sampai di Jakarta, maka kami berencana menginap semalam di sana dan besoknya baru terbang dari Jakarta ke Malang. Proses perjalanan kami mengalami karantina yang ketat agar tidak tertular "Flu Babi" dan kembali dengan sehat di Malang. (DSY; Foto: M. van Noordwijk).

Seminar Webpreneurship Ilmu Komputer
17 Mei 2009
Bertempat di gedung widyaloka Universitas Brawijaya, pada Minggu (19/5) dilangsungkan kegiatan seminar webpreneurship bertajuk "Making Business From Your Own Website". Acara yang diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Ilmu Komputer FMIPA ini dihadiri oleh pemateri yang berkompeten dibidangnya, Romi Satria Wahono (Pendiri Ilmu Komputer.com dari LIPI Jakarta) dan Jonie Hermanto (IT Consulting dari Golden Lion Surabaya). Dalam paparannya, Romi menyatakan bahwa website dapat digunakan sebagai sarana untuk membentuk image branding diantaranya dengan cara menjual core competence melalui tulisan atau penawaran produk lainnya. Hal ini menurutnya sebagai upaya untuk merespon kultur pencarian masyarakat yang saat ini sedang berubah dengan menggunakan internet, diantaranya melalui google. Untuk itu, ia menyarankan beberapa kiat khusus untuk membuat personal branding melalui website, diantaranya blog, yaitu dengan menulis sesuai tema yang sedang booming dan mengarah tepat pada target pembacanya. Melalui website, menurutnya bisnis dapat dilakukan melalui beberapa jalan diantaranya menjual produk, pemasangan iklan, dan menjual kompetensi. [nok]

Launching Film Societo
16 Mei 2009
Sebuah lembaga kreativitas sinematografi FISIP Universitas Brawijaya, Societo, pada Sabtu (16/5) melangsungkan kegiatan launching film. Agenda tahunan yang telah terselenggara untuk kelima kalinya ini, pada 2009 mengangkat tema "Mengejar". Disampaikan salah seorang panitia, Andi Hakim, dalam launching kali ini pihaknya mencoba untuk menunjukkan eksistensi lembaganya disamping memberikan apresiasi terhadap flim produksi para anggotanya. Sebanyak tujuh film diputar dalam kesempatan tersebut, diantaranya berjudul "Ternyata", "Don't" dan "Obsesi". Diterangkan mahasiswa Ilmu Komunikasi angkatan 2007 ini, dalam launching tersebut pihaknya tidak memberikan banyak persyaratan khusus karena memang dikhususkan bagi indie film. Hanya saja, ia melakukan pembatasan dalam durasi yang tidak boleh lebih dari 15 menit dan masih dalam lingkup tema "mengejar". Turut hadir dalam kegiatan ini, beberapa komunitas pecinta film Malang, sineas serta beberapa mahasiswa perwakilan Institut Kesenian Jakarta (IKJ). Disampaikan Andi, rata-rata pengerjaan film tersebut adalah 2 bulan dengan menggunakan peralatan sederhana seperti handycam, tripod dan pencahayaan. "Seusai menikmati pemutaran film, secara khusus penonton memberikan kritik dan saran, diantaranya ketrampilan teknis yang masih kurang serta ide cerita yang perlu dipertajam", ujar Andi.. [nok]

Mempertajam Peran Humas dalam Manajemen Krisis
16 Mei 2009
Bertempat di gedung widyaloka Universitas Brawijaya, pada Sabtu (18/5) Himpunan Mahasiswa Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Brawijaya menyelenggarakan seminar bertajuk "Sharpening Your Campaign and Crisis Management of Public Relations". Hadir dalam kesempatan tersebut, Wike Trisnandhini (Marketing Communication Manager Hotel J.W. Marriott Surabaya) dan BPC Perhumas Surabaya. Dalam paparannya, Wike Trisnandhini menguraikan langkah-langkah ketika organisasi mengalami krisis komunikasi. Ketika menghadapi sebuah isu besar, ia menyarankan untuk mempersiapkan beberapa langkah preventif diantaranya menentukan posisi terkait dengan isu, menunjuk seorang juru bicara, mempersiapkan statement dan menjalin hubungan dengan media berpengaruh. Dalam kondisi krisis, menurutnya humas berperan masih dalam perspektif komunikasi dengan prioritas memberikan informasi kepada media. Ia juga menekankan pentingnya tujuan untuk melindungi reputasi organisasi, properti, tim dan menjaga agar operasi dapat berjalan normal seperti biasa menjadi perhatian utama dalam manajemen komunikasi yang ditangani. Sementara itu, dalam paparannya, BPC Perhumas Surabaya menekankan pentingnya PR (public relations) sebagai alat manajemen dan bukan hanya pelaksana teknis. Sebagai alat manajemen, menurutnya PR harus berpikir sebagai strategist dan selanjutnya baru komunikator. Untuk itu, diperlukan beberapa karakteristik khusus diantaranya pengatahuan yang luas, kemauan untuk belajar segala hal, mau mencermati perkembangan di luar bisnis utama serta menjadi results-orientated. Khusus dalam hal menghadapi krisis, BPC Perhumas menggarisbawahi pentingnya PR dalam mendiagnosa sebuah permasalahan. [nok]

Pelantikan Dekan Baru di Lingkungan UB
15 Mei 2009
Rektor Prof Dr Ir Yogi Sugito melantik pejabat di lingkungan Universitas Brawijaya (UB). Mereka adalah Dekan Fakultas Ekonomi Gugus Irianto SE MSA PhD Ak menggantikan Prof Dr Bambang Subroto SE Ak MM, Dekan Fakultas Ilmu Administrasi Prof Dr Sumartono MS menggantikan Prof Dr Suhadak MEc, Dekan Fakultas Teknik Prof Ir Harnen Sulistio MSc PhD menggantikan Ir Imam Zaki MT, Dekan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Prof Dr Ir Edy Suprayitno MS menggantikan Ir Sukoso MSc PhD, Direktur Pascasarjana Prof Dr Ir Soemarno MS menggantikan Prof Dr dr Djanggan Sargowo SpDP SpJP(K) dan Ketua Lembaga Pengkajian dan Pengembangan Pendidikan (LP3) Prof Dr Agus Suman SE DEA menggantikan Prof Dr Ir Hendrawan Soetanto MRur Sc. Para pejabat baru tersebut untuk masa bakti 2009-2013. Proses pemilihan para dekan berlangsung sejak April 2009, yang diawali dengan penjaringan di tingkat fakultas. Sementara proses pemilihan Direktur Pascasarjana dan Ketua LP3 UB berlangsung pada 13 Mei 2009 melalui Rapat Senat Universitas Brawijaya.[nun]

Kuliah Tamu Flinders University di Jurusan Biologi
15 Mei 2009
Diikuti mahasiswa dan dosen, pada Jum'at (15/5) dilangsungkan kuliah tamu dari Flinders University. Hadir dalam kesempatan tersebut, dua orang pakar yaitu Yudy Myers untuk bidang Waste Water Management dan Prof. Andy Ball untuk bidang Environmental Biotechnology. Selain itu, hadir pula Manager of International Office, Yan Sebastian. Dalam paparannya, Prof. Andy Ball menyampaikan materi bertajuk "Identification of New Waste Oil Degrading Fungal Isolates". Secara khusus, ia menerangkan penelitian dan pengalamannya melakukan biodegradasi limbah minyak mentah melalui proses bioremediasi menggunakan koloni mikroba dalam tank pembersih. Secara konvensional, metode pemberihan tank ini dulu ia lakukan dengan menggunakan diesel. Namun, sejak ditemukan bioteknologi dengan teknik bioremediasi, ia merasakan waktu dan biaya pembersihan yang lebih efisien dengan hasil yang efektif. "Dengan metode bioremediasi kami membutuhkan waktu hanya sekitar 3 bulan dengan hasil yang efektif dan lebih aman dibanding teknologi konvensional menggunakan suhu tinggi yang memakan waktu 18 bulan", ujar Andy Ball yang menyelesaikan PhD di University of Liverpool, Inggris. Dalam kesempatan tersebut, ia menegaskan pentingnya bioteknologi dalam berbagai bidang meliputi pertanian, industri, kedokteran, dan lingkungan. Penelitiannya ini, melalui sebuah unit lembaga yang bernama Flinders Bio, untuk selanjutnya akan diarahkan menuju komersialisasi dalam bidang clean biotechnology. [nok].

Anwar Nasution: Antisipasi Krisis Global ke Indonesia
14 Mei 2009
Kesulitan perekonomian Amerika Serikat yang menjalar cepat ke seluruh penjuru dunia termasuk Indonesia. Kesulitan perekonomian berupa penurunan harga asset, laju pertumbuhan ekonomi, ketidakmampuan pembayaran kredit, kemudian mengarah pada peningkatan jumlah pengangguran. Menurut perkiraan, pemulihan kembali pertumbuhan ekonomi global memerlukan waktu antara 3 sampai 5 tahun ke depan.
Demikian yang disampaikan oleh Ketua Badan Pemeriksa Keuangan Anwar Nasution dalam "Kuliah Umum Krisis Keuangan Global dan Indonesia" di gedung PPI, Kamis (14/5). Anwar menyampaikan krisis perekonomian yang berawal dari krisis pemilikan rumah (subprime mortgages) di AS menimbulkan kolaps luar biasa di dunia perbankan global. Kondisi ini tidak bisa dipisahkan dengan munculnya fenomena Lembaga Keuangan Bukan Bank (LKBB) baru yang menyebabkan bank pemberi kredit dapat menggeser risiko kredit kepada pihak lain. Pihak lain ini adalah perusahaan asuransi yang menjamin kredit serta LKBB yang mengeluarkan dan mengedarkan Asset-Basked Commercial Paper (ABCP) dan Mortgage-Baked Security (MSB) yang disebut sebagai bank banyangan (shadow banks).
Menurut Anwar, krisis yang terjadi saat ini tidak begitu berdampak bagi Indonesia. "Secara umum , kondisi perekonomian dan industri perbankan Indonesia lebih baik daripada krisis tahun 1997. Demikian juga dengan kebijakan moneter, perbankan dan fiskalnya," tutur Anwar.Namun demikian, dampak krisis dirasakan melalui jalur neraca pembayaran luar negeri, baik berupa transaksi barang dan jasa, balas jasa faktor produksi, terutama modal kerja, maupun transaksi lalu lintas modal dengan luar negeri.
Penanganan Krisis Likuiditas
Krisis perbankan yang mengakibatkan krisis likuiditas mata uang nasional dan krisis likuiditas mata uang asing. "Untuk memulihkan kesulitan likuiditas nasional dengan mudah dapat diatasi oleh bank sentral tidap Negara yang memiliki hak monopoli pengaturan uang primer. Untuk likuiditas valas, bank sentral perlu memiliki cadangan devisa yang memadai dan memiliki fasilitas kredit dengan bank sentral asing maupun kreditur luar negeri", paparnya.
Beberapa saran yang bisa ditinndaklanjuti dalam penanggulangan krisis yaitu memperkuat sistem financial dalam negeri. Upaya lain adalah melarang penjualan aset dalam negeri serta menyediakan dana talangan guna mengantisipasi efek buruk krisis. "Selain itu perlu meningkatkan kinerja pasar domestic yang bisa menjadi alternatif jika nilai ekspor turun," tuturnya.[fjr]

Audensi FKPTPI dengan Menteri Pertanian
13 Mei 2009
Forum Komunikasi Perguruan Tinggi Pertanian Indonesia (FKPTPI) yang diwakili oleh beberapa dekan dari fakultas pertanian Universitas Sumatra Utara, Universitas Jambi, Institut Pertanian Bogor, Universitas Padjadjaran, Universitas Gadjah Mada, Universitas Negeri Surakarta, Universitas Brawijaya, Universitas Hasanuddin dan Universitas Nusa Cendana, pada hari Senin (11/5) mengadakan audiensi dengan Menteri Pertanian RI, Dr. Anton Apriyantono. Dalam diskusi dengan Menteri Pertanian yang berlangsung dirumahnya,  telah dibahas perkembangan sektor pertanian dewasa ini. Menurut dia, lamanya masa tunggu para lulusan Fakultas Pertanian disebabkan karena jumlah Fakultas Pertanian yang sangat banyak. "Fakultas pertanian hampir ada disetiap kota karena kemudahan dalam persyaratan pendiriannya", katanya. Penyebab kedua, disebutkannya adalah permintaan dari perusahaan yang mensyaratkan S1 dari semua jurusan membuat alumni tidak bekerja dibidang pertanian. "Kelesuan ekonomi global saat ini juga merupakan penyebab kurang diminatinya sektor pertanian sebagai pilihan dunia kerja lepas studi", tambahnya. Dalam kaitan dengan isue tersebut, maka keluar kebijakan Dikti yang hanya mengizinkan pendirian 2 program studi (PS) saja, yaitu Agribisnis dan Agroekologi. Sementara itu, Departemen Pertanian sebagai salah satu pengguna lulusan mengesankan bahwa para alumni belum siap pakai dan kurang siap mental. Karenanya, kurikulum yang memuat kerja praktek diperusahaan-perusahaan pertanian perlu ditambah. Dalam kaitan itulah Menteri Pertanian menawarkan beberapa program kerja departemennya yang mungkin bisa diselaraskan dengan  kurikulum perguruan tinggi. Program Departemen Pertanian tersebut, menurutnya berupaya untuk memberdayakan masyarakat pedesaan sehingga kesejahteraan para petani dapat diraih. Beberapa program Departemen Pertanian yang disampaikannya antara lain Pengembangan usaha agribisis pedesaan (PUAP), dan Sarjana Membangun Desa (SMD).  Sebagai pelaksanaan teknisnya, perguruan tinggi menurutnya bisa bersinergi dengan unit pelaksana teknis Departemen Pertanian di daerah seperti Departemen Pertanian Kota/Kabupaten dan Balai Penerapan dan Pengkajian Teknologi (BPTP). Dalam laporannya, Dekan-dekan dari FKPTPI menyampaikan bahwa semenjak diberlakukannya SK Dirjen Dikti No. 163/2007, jumlah mahasiswa baru yang memilih Fakultas Pertanian terus bertambah banyak. Dekan FP-UB, Prof. Sumeru Ashari, mengatakan bahwa Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya telah melaksanakan SK tersebut tahun 2008. Hasilnya, jumlah mahasiswa baru telah meningkat dari 334 orang (2007) menjadi 507 orang dan tahun 2009 diperkirakan sekitar 550 orang. Hal lain yang memicu semakin tertariknya para lulusan SMA ke Fakultas Pertanian adalah menggeliatnya sektor perkebunan (sawit, kakao, coklat) yang kini menjadi komoditas ekspor andalan nasional. [FP]

Dua Dosen SEP FPIK Sampaikan Makalah di WOC 2009
13  Mei 2009
Dua dosen Program Studi Sosial Ekonomi Perikanan/Agrobisnis Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Brawijaya akan mengikuti International Ocean Science, Technology, and Policy Symposium 2009, yang merupakan bagian dari  World Ocean Conference (WOC) 2009. WOC dilaksanakan di Manado, Provinsi Sulawesi Utara, antara 11-15 Mei 2009. Ada sejumlah 31 sessi yang akan dibahas dalam simposium tersebut. Dr. Ir. Harsuko Riniwati, MP akan menyampaikan makalah dalam sessi Ocean Ethic dengan judul: "Create Environmental Ethical  Code for Marine and Coastal Resources Sustainable Management". Disampaikan oleh Dr. Harsuko Riniwati, bahwa dalam tataran internasional FAO sudah meluncurkan Code of Conduct For Responsible Fisheries (CCRF). Kode etik ini telah memberikan arahan kepada Negara pengelola sumberdaya perikanan untuk mengambil langkah-langkah lagi bagi sistem pengelolaan sumberdaya secara berkelanjutan. Namun harus disadari bahwa kode etik itu tidak secara otomatis direspon oleh suatu Negara, apalagi oleh para penguasa sumberdaya. Karena itu diperlukan sebuah mekanisme yang mampu mendorong penciptaan dan pengembangan kode etik pengelolaan dan pemanfaatan sumberdaya perikanan dan kelautan di level masyarakat lokal. Pemerintah Indonesia sudah menerbitkan berbagai undang-undang yang mengatur tentang pengelolaan sumberdaya secara berkelanjutan, antara lain; UU 5/2005 (Konservasi Sumberdaya Alam Hayati dan Ekosistemnya), UU 23/1997 (Pengelolaan Lingkungan Hidup), UU 31/2004 (Perikanan), dan UU 27/2007 (Pengelolaan Pesisir). Jauh sebelum itu, dalam masyarakat juga telah dikenal melakukan pengelolaan berbasis adapt, yaitu adanya panglima laot, awig-awig dan sasi. Sejalan dengan berkembangnya waktu dan dengan desakan ekonomi untuk pemanfaatan sumberdaya pesisir dan kelautan, diperlukan berbagai langkah operasional pada level masyarakat untuk membangun kembali dan mengembangkan kode etik pengelolaan dan pemanfaatan sumberdaya pesisir. Pendekatan penguatan kelembagaan pengelola sumberdaya pesisir diyakini dapat digunakan sebagai pintu masuk bagi upaya ke arah itu. Makalah ini ditulis bersama dengan Ir. Edi Susilo, MS. Dr. Ir. Harsuko Riniwati, MP, selain sebagai Ketua Program Studi SEP juga sebagai Koordinator IMFISERN periode 2009-2010. Sementara itu Wahyu Handayani, SPi akan menyampaikan makalah dalam sessi Marine Entrepreneurship, dengan judul: "Developing Economic and Coastal Community Finance, Based on Principles of Social Entrepreneurship". Disampaikan oleh Wahyu Handayani, SPi, bahwa pemanfaatan sumberdaya pesisir dan kelautan saat ini masih jauh dari prinsip-prinsip pengelolaan sumberdaya alam berkelanjutan. Karena itu banyak terjadi degradasi sumberdaya yang berdampak secara resiprosikal dengan kemiskinan masyarakat pesisir. Pengembangan insentif ekonomi untuk keanekaragaman hayati dapat digunakan sebagai langkah awal untuk menghentikan efek resiprosikal kerusakan sumberdaya.
Berbagai program dan proyek pengelolaan sumberdaya perikanan dan kelautan, misalnya COREMAP atau COFISH, juga mendorong pada pengembangan kelembagaan ekonomi dan keuangan pesisir. Meskipun kegiatan itu telah memberikan dampak terhadap perkembangan ekonomi, namun belum diikuti oleh meningkatnya pemulihan habitat. Fakta di lapang menunjukkan adanya ketimpangan antara pengembangan ekonomi di satu sisi dengan pemulihan ekologi di sisi yang lain. Ketergantungan pengembangan agribisnis perikanan pesisir terhadap kondisi ekologi memerlukan strategi baru untuk mengembangkan konsep entrepreneur dalam pengelolaan sumberdaya. Pendekatan social entrepreneurship dalam pengembangan kelembagaan ekonomi dan keuangan masyarakat pesisir merupakan salah satu strategi yang diyakini lebih sesuai untuk digunakan dalam mengembangkan ekonomi yang berbasis pada keberlanjutan ekologi. Makalah ini ditulis bersama dengan Ir. Edi Susilo, MS. dan Dr. Harsuko Riniwati [es]

Pemilihan Direktur PPS dan Ketua LP3 oleh Senat
13 Mei 2009
Bertempat di gedung rektorat UB, pada rabu (13/5) dilangsungkan pemilihan Direktur Program Pasca Sarjana (PPS) dan Lembaga Pengkajian dan Pengembangan Pendidikan (LP3) periode 2009-2013 oleh Senat UB. Hadir dalam kesempatan tersebut, sebanyak 98 orang anggota senat dari jumlah total 148 anggota. Membuka acara ini, Rektor menyampaikan bahwa agenda kegiatan kali ini adalah memberikan pertimbangan terhadap calon Direktur PPS dan Ketua LP3. Calon Direktur PPS adalah Prof. Dr. Moh. Bakri dan Prof. Dr. Ir. Sumarno, sementara calon Ketua LP3 adalah Prof. Dr. Agus Suman, DEA dan Prof. Dr. Suhadak. "Dikarenakan tidak memungkinkannya pemilihan menggunakan musyawarah mufakat, maka pertimbangan kali ini dilakukan secara voting", ujar Rektor. Dari hasil penghitungan diketahui bahwa untuk direktur PPS, Prof. Dr. Ir. Sumarno meraih 87 suara dan Prof. Dr. Moh. Bakri meraih 11 suara. Sementara untuk Ketua LP3, Prof. Dr. Agus Suman, DEA meraih 79 suara dan Prof. Dr. Suhadak meraih 17 suara. Menurut rencana, pelantikan Direktur PPS dan ketua LP3 ini akan bersamaan dengan pelantikan Dekan. [nok]

Fermentasi Kedelai Berkelanjutan
12 Mei 2009
Dalam rangka melakukan penelitian yang berkolaborasi dengan Masyarakat Ekonomi Eropa (MEE), Prof. Dr. Ir. Sri Kumalaningsih, M.App.Sc melakukan kunjungan ke Thailand pada Senin (27/4)-Kamis (7/5). Diwawancarai PRASETYA Online, Guru Besar Fakultas Teknologi Pertanian ini menyatakan bahwa proposal yang akan diajukannya berjudul "Sustainability of Fermented Soybean to Alleviate Poor People". Dalam penelitian tersebut, pihaknya berupaya untuk menyusun aneka teknologi fermentasi yang murah dan tepat guna di berbagai kawasan di Asia dengan menggunakan kedelai varietas lokal. Beberapa negara yang menjadi acuan diantaranya adalah Thailand, Indonesia, China, dll. Di Thailand, pihaknya secara khusus melakukan observasi pengolahan kedelai untuk pembuatan kecap dan tauco dalam skala industri besar. Sementara di Indonesia, observasi serupa pun dilaksanakan dengan pengamatan khusus pada pembuatan tempe secara tradisional dalam skala industri kecil dan menengah. Hal yang menjadi perhatian khususnya ketika berkunjung ke Thailand adalah pengolahan kedelai untuk menjadi aneka produk tanpa menyisakan sedikitpun limbah dengan proses yang lebih cepat dan manajemen yang tertata. "Mereka bekerja dengan disiplin dan etos kerja tinggi yang disertai manajemen yang tertata sehingga lebih efisien dan produktif. Selain itu, mereka juga telah memperhatikan manajemen lingkungan sehingga proses produksi relatif lebih higienis", terangnya. Program kali ini merupakan salah satu perwujudan dari visinya yaitu teknologi tinggi untuk masyarakat tak berdaya (high technology for poor people). Terkait hal ini, ia secara khusus menyoroti program plasma di Thailand dimana industri skala besar berkolaborasi dengan Usaha Kecil Menengah (UKM) diantaranya dalam hal supply bahan baku dan penanganan sub product maupun by product. Melalui kunjungannya kali ini, ia bermaksud untuk melakukan studi banding dan tukar wawasan dalam berbagai proses pengolahan kedelai di Asia. Manajemen ini pula, yang menurut rencana akan ia gunakan dalam merealisasikan idenya untuk memasok susu kedelai ke berbagai rumah sakit di Indonesia. [nok]

Intellectual Dialogue of Economics X
12 Mei 2009
Himpunan Mahasiswa Jurusan Ekonomi Pembangunan Fakultas Ekonomi Universitas Brawijaya pada Senin-Selasa (18-19/5) mendatang, berencana mengadakan kegiatan bertajuk "Intellectual Dialogue of Econnomics X" (IDE X). Dengan mengambil tema "Challenges of Economic Development in Indonesia Democracy Party and Global Competition", kegiatan ini dibagi dalam beberapa agenda meliputi Lomba Karya Tulis Ilmiah (LKTI), diskusi panel, seminar nasional, Kongres V IMEPI (Ikatan Mahasiswa Ekonomi Pembangunan Indonesia) dan field trip. Untuk kegiatan diskusi panel mahasiswa, akan dibagi dalam tiga tema yaitu "The Indonesia's Economy Performance After the Financial Global Crisis" yang akan dimoderatori oleh Ferry Prasetya, SE., M.App.Ec.Int (akademisi FE UB) dengan penyaji Universitas Sriwijaya dan Universitas padjadjaran dan pembahasnya dari Universitas Lambung Mangkurat, UGM dan Universitas Haluoleo. Panel mahasiswa II mengambil tema "How Does General Election 2009 Improve Economic Development in Indonesia" yang dimoderatori Devanto Shasta Pratomo, Ph.D (akademisi FE UB) dengan penyaji Universitas Hasanuddin dan IPB dan pembahasnya Universitas Andalas, Universitas Indonesia dan Universitas Jambi. Sementara untuk panel mahasiswa III akan mengambil tema "The Relationship of the 2030 Indonesian Development Vision in Supporting Economic Development Strategy of ASEAN" yang dimoderatori oleh Setyo Tri Wahyudi, SE., MTM (akademisi FE UB) dengan penyaji Universitas Brawijaya dan Universitas Riau, dan pembahasnya Universitas Tanjungpura, Universitas Sam Ratulangi dan Universitas Tri Sakti. Dalam seminar nasional, yang akan dilaksanakan keesokan harinya di gedung widyaloka, akan dihadirkan Prof. Dr. Boediono (Gubernur BI) untuk menyampaikan keynote speech. Tema dan sub tema seminar ini sama dengan tema kegiatan dan panel mahasiswa. Beberapa pembicara ternama yang direncanakan hadir adalah Anggito Abimanyu (Kepala Badan Kebijakan Fiskal Departemen Keuangan), Tony Prasetyantono, Ph.D (Ekonom BNI), Ahmad Erani Yustika, SE., M.Sc., Ph.D (Direktur Eksekutif INDEF), Andrinov Chaniago (Ketua Lembaga Opini Publik Indonesia), Candra Fajri Ananda, Ph.D (akademisi FE UB), dan Deputi Ekonomi BAPPENAS. Tujuan diselenggarakannya kegiatan ini adalah untuk meningkatkan dan menunjukkan sensitivitas sosial mahasiswa dalam mengkritisi situasi perekonomian Indonesia khususnya upaya pembangunan dalam bidang ekonomi. [nok].

UNISTAFF 2009 di University of Kassel, Jerman
12 Mei 2009
Tahun 2009 ini, seorang staf Universitas Brawijaya, Dra. Fatchiyah, M.Kes., PhD  berhasil lolos sebagai peserta University Staff Development Programme (UNISTAFF) di University Kassel, Witzenhausen, Jerman. Ia adalah staf Jurusan Biologi MIPA UB dan direktur LSIH UB yang beruntung untuk berangkat mengikuti UNISTAFF programme selama 2 bulan pada bulan Mei-Juni 2009 ini. Fatchiyah terseleksi diantara 150 orang pelamar dari tiga benua Asia, Afrika dan Sentral Amerika. Dalam program tersebut ia bersama dengan 22 peserta lain dari 11 negara, yaitu Costa Rica (1 peserta). Ethiopia (1 peserta), Philipina (4 peserta), Guatemala (1 peserta), Honduras (1 peserta),  Indonesia (5 peserta), Iran (1 peserta), Kenya (2 peserta), Mexico (2 peserta), Mesir (2 peserta), dan Uganda (2 peserta). "Peserta dari Indonesia selalu ada dari sejak didirikan hingga tahun ini, di Indonesia sendiri para alumni telah membentuk INDOSTAFF oleh alumni UNISTAFF programme sebagai wujud salah satu international networking dengan UNISTAFF di University of Kassel, Jerman dan Dikti Indonesia", ujar Fatchiyah kepada PRASETYAOnline. Adapun tujuan dari program ini adalah sebagai pengembangan diri tiap individu yang mempunyai kualifikasi dan kompetensi berperan dalam perubahan yang berkelanjutan baik kualitas maupun relevansi pada tingkat Universitas. Selain itu, program ini juga bertujuan guna menjalin hubungan kerjasama nasional dan multinasional dalam multiaspek baik untuk teaching-learning, riset, maupun pengembangan organisasi di masa mendatang. Fasilitator yang juga pendiri UNISTAFF programme adalah Prof Michael Fremerey (Head of UNISTAFF programme, Lecturer of Organization Development), Prof. Mathias Wesseler (Lecturer of Teaching Learning), dan Prof. Siawuch Amini (Lecturer of Research Management). Unistaff programme ini didirikan tahun 1994 dan pada tahun ke-16 sekarang diselenggarakan di Institute for Socio-Cultural Studies University of Kassel, Witzenhausen, Jerman. Target program ini adalah middle level leadership, Ketua Departemen atau Fakultas, Ketua laboratorium Sentral atau lembaga penelitian, dan ketua task force di tingkat departemen/fakultas/universitas. Pada Rabu (6/5) lalu, semua peserta disambut oleh Vice Presiden (PR I) dari University of Kassel, Prof.Dr-Ing. Uwe Kohler dan Dr Bernt Armbruster, head of Public & International Affairs. Dalam sambutannya, ia menyatakan bahwa University of Kassel sangat terbuka untuk mengadakan kerjasama internasional dengan salah satu ciri spesifiknya adalah organic agriculture dan ekonomi pedesaan. "Witzenhausen merupakan kota kecil yang indah dengan pertanian yang tertata sangat baik. peran Universitas dengan masyarakat sekitarnya sangat terlihat dengan keberhasilan pertaniannya yang pada musim semi ini didominasi oleh tanaman ripe-seed oil yang bertebaran kuning dan indah sekali", terang Fatchiyah menggambarkan suasana disana. [fat]
-----
Foto: Fatchiyah sedang menerangkan UB dalam buku UB View sebagai media UB international Promotion Programme kepada Vice Presiden (PR I) dari University of Kassel, Prof.Dr-Ing.Uwe Kohler. [fat]

Seleksi Mahasiswa Berprestasi UB
12 Mei 2009
Universitas Brawijaya melakukan seleksi kepada sepuluh mahasiswa berprestasi yang akan terjun dalam seleksi mahasiswa berprestasi tingkat nasional. Mereka yang lolos seleksi akan mewakili UB dalam pemilihan Mahasiswa Berprestasi tingkat nasional di Jakarta akhir  Mei ini.
Menurut ketua dewan juri Prof. Soemarno, mereka yang diseleksi adalah mahasiswa minimal semester 6 dengan prestasi akademik tinggi di fakultasnya. Mereka juga memiliki track record prestasi baik di bidang ilmiah maupun keorganisasian. Di dalam tim dewan juri sendiri juga dibentuk tim penilai bidang ilmiah dan non ilmiah.
Soemarno mengatakan seleksi mahasiswa berprestasi kali ini akan ditekankan pada penilaian terhadap penulisan dan presentasi makalah. "Bobotnya tinggi, sekitar 40 persen", tuturnya. "Setelah seleksi, yang terpilih akan tetap kita godok untuk melakukan perbaikan-perbaikan pada poin itu", lanjutnya yang optimis pada tahun ini prestasi UB bias lebih baik daripada tahun-tahun sebelumnya.Rektor UB, Prof. Yogi Sugito juga berharap agar pada tahun ini delegasi mahasiswa berprestasi dari UB bisa mempreoleh peringkat lebih baik setelah selama ini susah sekali meraih peringkat 5 besar sekalipun.[fjr]

Indonesia Tanpa Energi
12 Mei 2009
Krisis energi bisa terjadi jika karena gangguan pasokan energi secara sementara dan dari berbagai faktor misalnya gangguan cuaca, kerusakan infrastruktur energi, dan kebutuhan permintaan yang melonjak drastis di luar perkiraan. Kondisi krisis dapat terus berkelanjutan apabila tidak dilakukan langkah-langkah antisipatif dan tepat,  baik di sisi pasokan (supply) maupun permintaan (demand). Indonesia, meskipun memiliki banyak potensi sumber daya yang bisa dikonversi menjadi energi masih memiliki kemungkinan untuk mengalami krisis energi.
Demikian yang terangkum dalam seminar bertajuk "Indonesia Tanpa Energi" yang digelar oleh Efrata Universitas Brawijaya, Minggu (10/5) di gedung Widyaloka. Seminar menghadirkan Solar Generation Coordinator Climate & Energy Campaign GPSEA – Indonesia Galih Aji Prasongko dan Kepala Pusat Data dan Informasi ESDM Farida Zed.
Farida mengatakan untuk mengatasi kemungkinan krisis energi, Indonesia perlu melakukan beberapa langkah. Pemerintah perlu melakukan diversifikasi energi dengan mengurangi ketergantungan terhadap minyak bumi dan meningkatkan pemakaian energi alternatif, khususnya energi terbarukan. Konservasi energi juga perlu dijalankan dengan meningkatkan penghematan energi di berbagai bidang. Langkah tersebut perlu ditindaklanjuti secara konkrit seperti membangun moda-moda transportasi masal (kereta api listrik, subway, monorel, busway dengan gas) maupun mengatur pembangunan industri padat energi mendekati pusat-pusat sumber daya energi.
Energi Alternatif
Sementara itu Galih mengkritisi rencana Indonesia pada 2050, 60% produksi listrik berasal dari energi alternatif. Energi alternatif seperti angin, biomass, geothermal and matahari diharapkan bias memberikan kontribusi 70% dari seluruh kapasitas.
Menurutnya, Indonesia harus memulai revolusi energi menerapkan solusi bersih terbarukan terutama melalui sistem desentralisasi energi; menghargai batas alamiah dari lingkungan, menghilangkan polusi dan sumber energi yang tidak berkelanjutan; menciptakan persamaan dalam penggunaan sumber energi (terutama untuk masyarakat daerah terpencil yang tidak mampu), dan memecah pertumbuhan dari konsumsi bahan bakar fosil.
Fakta bahwa sebagian besar penduduk Indonesia masih mengalami kesulitasn akses energi harus ditindaklanjuti dengan memasukkan sektor pemerintah sebagai pelayan publik dalam program konservasi energi. Perlu koordinasi dan kebijakan yang jelas, efektif dan efisien baik dalam satu instansi maupun antar departemen yang terkait satu sama lain dari pusat hingga ke daerah. Perencanaan transfer informasi dan contoh kepada masyarakat, sektor industri mapun pemerintah dengan basis pemetaan potensi, penelitian dan pengembangan energi di daerah dengan orientasi desentralisasi juga harus direalisasikan. [fjr]

Kuliah Tamu Endrokinologi  PKH
11 Mei  2009
Program Kedokteran Hewan UB menyelenggarakan kuliah tamu untuk mata kuliah Endokrinologi, Senin (11/5). Acara yang diselenggarakan di gedung Pasca Sarjana tersebut menghadirkan mantan Dekan Fakultas Kedokteran Hewan Universitas AirlanggaProf.Dr. Ismudiono drh. MS.
Pada kesempatan kali itu, Ismudiono menyampaikan materi tentang kelenjar thyroid /para sebagai penghasil hormon, jenis-jenis hormon dan fungsinya. Sedangkan materi kedua tentang kelenjar ovarium dan kelenjar mammae sebagai penghasil hormon, jenis-jenis hormon dan fungsinya yang dihasilkan akan dibahas pada pertemuan kedua pada tanggal 18 Mei 2009.
Sebagai program studi baru di lingkungan Universitas Brawijaya, PKH aktif melakukan aktivitas akademik. Selain program belajar mengajar sesuai kurikulumnya, PKH sering mengundang praktisi dan akademisi untuk memberikan kuliah tamu.[fjr]

Seleksi ONMIPA Dimulai
11 Mei 2009
Pelaksanaan Seleksi Olimpiade Nasional Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (ONMIPA) dimulai pada hari Senin (11/5). Tes dilaksanakan di gedung PPI UB yang diikuti oleh 115 mahasiswa dari PTN dan PTS se-Jawa Timur.
Menurut penanggung jawab seleksi Chomsin Sulistyo, acara seleksi digelar selama 2 hari  yaitu 11-12 Mei 2009. Sejumlah PTN yang mengirimkan delegasinya adalah Universitas Brawijaya (UB), Universitas Jember, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Universitas Negeri Malang (UM), Universitas Airlanga (Unair), Universitas Negeri Surabaya (Unesa), dan Universitas Islam Negeri Malang (UIN Maulana Malik Ibrahim). Sedangkan delegasi dari Kopertis datang dari Universitas Ma Chung, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Universitas Widya Mandala Surabaya (UWM), Universitas Kanjuruhan, STIE Cendekia Bojonegoro, dan Universitas Surabaya.
Seluruh peserta akan berkompetisi dengan bahan tes yang telah ditentukan oleh dewan juri. Untuk matematika, bidang tes pada hari pertama adalah Analisis Real dan Aljabar Linier serta Kombinatororika dan Riset Operasi. Sedangkan hari kedua adalah Analisis Kompleks dan Struktur Aljabar serta Analisis Numerik. Untuk kimia, bidang yang diujikan pada hari pertama adalah Kimia Fisika dan Kimia Organik. Sedangkan pada hari kedua adalah Kimia Organik dan Kimia Analitik. Sedangkan pada Fisika, bidang tesnya adalah Lintas Materi.
UB sesuai dengan Buku Pedoman Umum ONMIPA tingkat perguruan tinggi yang diterbitkan oleh Dirjen DIKTI Direktorat Akademik Tahun 2009 ditetapkan sebagai tuan rumah untuk mengkoordinasikan proses seleksi di wilayah/regional VII (Jawa Timur). Proses seleksi ini merupakan rangkaian seleksi ONMIPA tahap kedua yang dilakukan serentak di sepuluh wilayah/regional. Ajang ini sekaligus sebagai bagian dari persiapan pengiriman mahasiswa ke ajang International Mathematics Sompetition (IMC), International Scientific Olympiad in Mathematics, International Scientific Olympiad in Chemistry (ISOC) di Iran.[fjr]

Rekrutmen PT Perfetti Van Melle Indonesia
7 Mei 2009
Guna pengembangan organisasi dan memperluas jaringan distribusinya, PT Perfetti Van Melle (PT PVM) Indonesia, pada Kamis (7/5) menyelenggarakan rekrutmen di Universitas Brawijaya. Kegiatan yang dikoordinasi oleh Job Placement Centre (JPC) UB ini diikuti sekitar 46 peserta dan dilangsungkan di Gedung PPI UB. Dalam rekrutmen yang ketiga kalinya di UB, PT PVM membutuhkan sales supervisor yang bertugas memastikan dan mengawasi produk PT PVM terdistribusi dan terjual pada distributor dengan target yang telah disepakati bersama. Di gedung PPI peserta melakukan psikotest dan personality assessment yang merupakan dua tahapan awal. Tahapan ini kemudian akan dilanjutkan dengan interview HRD, interview sales manager, medical check-up serta offering dan agreement. Diungkapkan Prasti Wardani, Training and Organizational Development PT PVM, pihaknya membutuhkan tenaga yang bersedia ditempatkan di seluruh Indonesia dengan beberapa kualifikasi diantaranya kemauan belajar dan motivasi yang tinggi, down to earth, mampu bekerja dengan tim, memiliki inisiatif tinggi serta interpersonal skill yang bagus. Selain UB, seleksi serupa juga dilakukan di Universitas Airlangga, Universitas Diponegoro, dan Universitas Sumatera Utara. Dari beberapa rekrutmen yang telah dilakukan, Prasti secara khusus menyoroti rendahnya semangat juang para pelamar disamping banyak dari mereka yang enggan ditempatkan di luar Jawa. [nok]

Studi Banding Unit Penjaminan Mutu UMS ke PJM UB
7 Mei 2009
Lima orang Pengelola Unit Penjaminan Mutu (UPM) Universitas Muhammadiyah Surabaya (UMSurabaya) mengunjungi Pusat Jaminan Mutu (PJM) Universitas Brawijaya (UB), Kamis (07/5). Studi banding dimaksudkan dalam rangka policy study PHK berbasis Institusi tentang Sistem Penjaminan Mutu Pendidikan Tinggi (SPMPT) dan implementasinya di UB, sehingga staf UPM UMSurabaya dapat belajar dari pengalaman PJM mengembangkan kelembagaan dan SPMPT. Tim UPM UMSurabaya terdiri dari Dr. Fatimah, MM.,  Dr. Siti Maro’ah, M.Pd., Indah Camelia, SH., Wiwin Agus dan Syueb. Mereka menjadikan Pusat Jaminan Mutu UB sebagai sasaran studi banding setelah mengikuti presentasi PJM dalam pelatihan Monevin PHK tahun 2007 dan mengunjungi webhost PJM: http://pjm.brawijaya.ac.id. Memasuki tahun ke-3 UPM UMSurabaya setelah menjalankan Monevin PHK, UPM perlu membangun budaya mutu di tingkat institusi dan unit-unit kerja.
Dalam kesempatan studi banding tersebut, hadir sekretaris PJM UB Dr. Endang Arisoesilaningsih didampingi Prof. Dr. Surachman, Prof.Dr. Jody Moenandir, Prof.Dr. Sanggar Kanto dan Dr. M. Bisri. Sekretaris PJM UB, memaparkan tentang Sekilas UB, kelembagaan dan sistem dokumentasi untuk mengimplementasikan SPM, road map SPM UB meliputi bidang akademik dan non akademik road map sejak bernama Benefit Monitoring and Evaluation (BME) tahun 2002-2009, lingkup tugas PJM yang meliputi Pengembangan SPM berikut auditnya dengan mengintegrasikan ISO 9001:2000, Monevin PHK, peningkatan kualifikasi akreditasi program studi (PS) serta pengembangan reward system dalam bentuk UB Annual Quality Award (UBAQA). Pada tahun 2009, PJM UB memadukan standar akreditasi PS BAN PT, SMM ISO 9001:2008 dan world class university menurut kriteria THES QS dalam mengembangan SPM Internal UB. Hal ini mendukung program internasionalisasi UB. Menutup pemaparannya dijelaskan tentang kiat PJM UB membangun good practice dari audit internal dan budaya mutu di UB menuju peningkatan daya saing global.
Selanjutnya Prof. Dr. Surachman selaku anggota bidang Pengembangan SPM UB menyampaikan pentingnya komitmen pimpinan dan perbaikan kinerja secara berkelanjutan. Hal ini didasari atas kenyataan bahwa dalam sistem penjaminan mutu tidak hanya mengembangkan sistem namun juga mengelola SDM, sehingga diperlukan komitmen yang lebih. Selain itu sebagai lembaga penjaminan mutu PJM UB harus dapat membantu pimpinan (rektor, dekan dan kajur) mengembangkan sistem, implementasi dan monitoring SPM sebagai matarantai yang tidak terputus yang menjamin continuous quality improvement. Sementara itu Prof. Dr. Sanggar Kanto menyampaikan pengalaman fakultas baru mengembangkan SPM dan meyakinkan bahwa pengembangan SPM tidak dari nol namun mengumpulkan komponen-komponen SPM yang masih tersebar di berbagai dokumen dan belum tersusun secara sistematis. Prof. Dr. Jody Moenandir menambahkan pengalaman pentingnya SPM untuk peningkatan akreditasi PS.
Dalam pertemuan tersebut, UPM UMSurabaya menyampaikan beberapa pertanyaan terkait dengan tahapan pengembangan SPM dan menjajagi kemungkinan beberapa anggota UPM magang di PJM UB. Di samping itu, pimpinan rombongan juga menyampaikan keinginan agar PJM UB menjadi pembicara dalam in house training SPM di UMSurabaya. Pada prinsipnya, PJM UB menyambut baik kesempatan untuk berbagi dan belajar dari berbagai pihak (pjm).
Presentasi Flinders Partners
7 Mei 2009
Flinders Partners, sebuah unit bisnis milik Flinders University, Australia, pada Kamis (7/5) melakukan presentasi di Universitas Brawijaya. Pembicara dalam presentasi tersebut adalah Julie Gardner, Manager of International Affairs Flinders Partners. Hadir dalam presentasi ini adalah personil Inkubator Bisnis (Inbis) UB dan beberapa dosen. Presentasi kali ini dimaksudkan untuk menyampaikan informasi guna memberikan pengetahuan kepada Inbis UB berkaitan dengan manajemen dan pengalaman Flinders partners dalam mengelola unit bisnis di lingkungan kampus. Momentum presentasi kali ini benar-benar dimanfaatkan oleh peserta guna mengeksplorasi berbagai hal diantaranya manajemen keuangan, manajemen organisasi, manajemen sumber daya, dll. Dengan fleksibilitas yang dimilikinya sebagai unit otonom, disampaikan Gardner, selama ini pihaknya mampu memberikan income generating sekitar 10% dari total pendapatan Flinders University. Dalam pengelolaannya, Flinders Partners mempekerjakan 20 orang staf. Beberapa bidang yang menjadi layanan Flinders partners diantaranya adalah project management, pemasaran, akuntansi dan keuangan, saintifik, hukum, dan kewirausahaan. [nok]

Menyoal standar halal internasional
7 Mei 2009
World Halal Forum (WHF) menggelar pertemuan ke-4 pada 4-5 Mei di Kuala Lumpur Malaysia, bertema Achieving Global Halal Integrity. Acara tersebut diperkirakan diikuti sekitar 2000 peserta berasal dari delegasi industri, pemerintahan, organisasi penelitian, universitas, dan asosiasi konsumen. Hal itu perlu dicermati karena forum tersebut mempresentasikan standar halal internasional yang dirintis Islamic of Commerce and Industry (ICCI) dan Organisasi Konferensi Islam (OKI) Maret 2009 di Jeddah. Standar internasional itu diharapkan mengefisienkan dan meningkatkan akurasi proses sertifikasi halal. Tentu ini sangat dinantikan pelaku bisnis. Besarnya peluang bisnis produk halal dunia menyita perhatian pelaku bisnis. Halal Expo menjadi acara tahunan di berbagai negara. Thailand, Australia, dan Selandia Baru dikenal sebagai penghasil produk bersertifikat halal. Akhir 2007 transaksi produk halal sedikitnya US$1 triliun, tumbuh rata-rata 20%-30% per tahun. Pada 2009, transaksi diperkirakan mencapai US$2 triliun. Sayang, pesatnya bisnis produk halal belum didukung secara kuat pengembangan Sistem Jaminan Halal (Halal Assurance System) dan kelembagaan sertifikasi halal global dan diratifikasi banyak negara. Saat ini, lembaga yang ada banyak bersifat nasional, belum terstandardisasi, dan belum ada lembaga auditornya. Di Indonesia, sertifikasi halal ditangani Lembaga Pengkajian Pangan, Obat-obatan, dan Kosmetika Majelis Ulama Indonesia (LPPOM-MUI). Di luar negeri banyak lembaga sertifikasi halal dalam satu negara. Riaz dan Caudry (2004) mencatat dari 40 lembaga sertifikasi halal di AS tahun 2001, hanya 16 lembaga yang diakui Jabatan Kemajuan Islam Malaysia (Jakim), bahkan hanya lima yang diakui MUI. Ini bukan tanpa alasan. Lembaga sertifikasi halal luar negeri ada yang ditangani hanya 2-3 orang dan diragukan kredibilitasnya. Oleh karena itu, dinilai tepat langkah LPPOM MUI mengeluarkan 39 lembaga sertifikasi halal luar negeri yang direkomendasi di antaranya di Australia 11, Selandia Baru 3, AS 8, Belanda 3, Irlandia 4. Sementara itu, di Singapura, Malaysia, Thailand, Philipina, dan Jepang masing-masing 1 lembaga direkomendasi. Kondisi itu akan menggerus kepercayaan konsumen dan mempersulit produsen dan pebisnis produk halal antarnegara. Sertifikat halal dari lembaga sertifikasi halal suatu negara, sering ditolak majelis ulama dan atau lembaga sertifikasi halal negara lain. Lembaga sertifikasi halal yang dipercaya negara pengimpor harus melakukan sertifikasi ulang. Hal ini menyebabkan inefisiensi bagi semua pihak. Perbedaan hasil audit produk dari AS pernah terjadi. Menurut Jakim, produk dianggap halal tetapi LPPOM MUI menilai belum memenuhi standar halal. Jika terus berlangsung, hak konsumen memperoleh jaminan produk halal akan terabaikan.
Upaya penyatuan
Upaya penyatuan standar halal telah dilakukan. Pada 2003, MUI mengintroduksi standardisasi lembaga fatwa halal bagi ASEAN. Februari 2004 anggota World Halal Council (WHC), yang sekarang dipimpin ketua LPOM MUI, menyepakati persyaratan lembaga sertifikasi halal dan prosedur umum sertifikasi halal. Demikian juga prosedur standar untuk audit flavor, produk mikrobial, dan penyembelihan hewan. Pada konferensi WHC 2007 di Malaysia telah dicapai standardisasi sertifikasi halal bagi anggotanya. Selain itu juga, kerja sama Indonesia, Malaysia, Thailand Growth Triangle (IMT-GT). Pada 2008, WHF ke-3 memberi mandat International Halal Integrity Alliance (IHI Alliance) untuk mengembangkan standar halal internasional. Hasilnya di presentasikan pada WHF ke-4 Mei 2009. Menghasilkan standar halal internasional bukan perkara mudah, melainkan tidak mustahil. Beberapa problem di antaranya. Pertama, perbedaan mazhab dan ushul fikih ulama komisi fatwa yang memengaruhi halal tidaknya suatu produk. Misalnya, sebagian ulama menilai semua makanan laut halal, sedang ulama lain menilai udang laut dan belut tidak termasuk makanan halal. Kedua, untuk memastikan kehalalan, auditor harus memeriksa langsung ke semua tempat produksi atau cukup menerima info tertulis jika dianggap tidak terkait dengan bahan berpotensi haram. Ketiga, pendekatan standar audit yang digunakan. Dalam standar Internasional Organization For Standardization (ISO) ada toleransi seperti standar kualitas. Namun, kehalalan dalam Islam tidak ada toleransi (zero tolerant). Begitu satu bahan atau proses diragukan kehalalannya, harus diganti atau diperbaiki agar memperoleh sertifikat halal. Ke depan, harmonisasi dan standardisasi sertifikasi halal antarlembaga dan atau antarnegara perlu dilakukan bertahap. Kita berharap sertifikasi halal internasional akan diterima berbagai pihak. Hal ini menguntungkan.Pertama, memperjelas model audit lembaga sertifikasi halal. Kedua, efisiensi proses produksi bagi produsen dan pelaku bisnis karena tidak perlu sertifikasi ulang yang menambah biaya. Ketiga, lebih menjamin terpenuhinya hak konsumen. Selayaknya standar yang dipakai berdasarkan ajaran Islam, karena halal adalah Islamic term dan Islamic law. Dibutuhkan kerja sama lebih erat antarlembaga sertifikasi halal, produsen, ulama, peneliti, dan pemerintah, serta pihak-pihak terkait. Kita berharap berkembangnya standar halal internasional akan mendorong tumbuhnya bisnis produk halal. Dengan ditopang proses sertifikasi halal yang efisien dan akurat akan memudahkan pelaku bisnis dan menguntungkan semua pihak. [cip/Bisnis Indonesia]

Kerjasama UB Dengan Pemkab Sidoarjo
6 Mei 2009
Universitas Brawijaya melakukan penandatanganan kerjasama dengan Pemerintah Kabupaten Sidoarjo tentang pendidikan, penelitian dan pengabdian masyarakat untuk mendukung pembangunan daerah. Penandatanganan ini dilakukan di Kantor Kabupaten Sidoarjo pada Selasa (5/5). Dalam kesempatan tersebut, Pemerintah Sidoarjo diwakili oleh Bupatinya, Drs. H. Win Hendrarso, M.Si sementara UB diwakili oleh Rektor, Prof. Dr. Ir. Yogi Sugito. Selain UB, beberapa Perguruan Tinggi lain yang turut serta dalam penandatanganan ini adalah ITS, Universitas Airlangga, Universitas Negeri Surabaya, Universitas Wijaya Kusuma, dan Universitas Muhammadiyah Sidoarjo. Kerjasama yang berjangka waktu lima tahun ini dimaksudkan untuk mengembangkan pendidikan, penelitian dan pengabdian masyarakat guna mendukung pembangunan Kabupaten Sidoarjo disamping meningkatkan kesejahteraan masyarakatnya. Secara khusus, dalam kerjasama yang menggunakan sumber pembiayaan dari Pemda dan Perguruan Tinggi ini dibahas mengenai pelaksanaan Kuliah Kerja Nyata (KKN) di kawasan Sidoarjo. [nok].

Seleksi Mahasiswa PSB Non-Akademik
5 Mei 2009
Universitas Brawijaya menyelenggarakan seleksi mahasiswa yang terjaring dalam Penerimaan Siswa Berprestasi (PSB) non akademik. Seleksi melalui tes bakat dalam cabang olahraga dan kesenian ini dilangsungkan pada Selasa (5/5) di seputaran kampus UB. Terdapat enam cabang untuk olahraga yaitu Bola basket, bola volley, bulu tangkis, tenis meja, renang dan bela diri dan lima cabang kesenian meliputi baca puisi/debat bahasa Inggris/Arab, seni tari, paduan suara, musik gitar dan group band. Sebanyak 33 siswa dari berbagai SMA/MA di seluruh Indonesia mengikuti program ini, diantaranya dari Balikpapan, Bogor, Sumbawa dan Bali. . Dijelaskan Kepala Biro Administrasi Akademik dan Kemahasiswaan (BAAK), Dra. Welmin Soenyiariningsih, M.Lib, Siswa tersebut dapat memilih seluruh program studi yang ada di UB kecuali Fakultas Kedokteran. Hal ini menurutnya dikarenakan FK membutuhkan nilai akademik murni disamping konsentrasi penuh ketika mengikuti perkuliahan sehingga aktivitas ekstra kurikuler justru dikhawatirkan akan mengacaukan proses belajar. Disamping tes bakat yang dilangsungkan hari ini, pihak UB dijelaskan Welmin menetapkan standar tersendiri diantaranya bakat yang dimiliki harus teruji dan berprestasi minimal di tingkat regional propinsi. Untuk penilaian tes bakat kali ini, pihaknya juga menetapkan standar kompetensi khusus dengan melibatkan seorang juri dalam setiap cabangnya. Berikut adalah juri untuk setiap cabang: Bola Basket: Benny Widodo, SH (kantor pusat), Bola Volley: Dr. Agung Pramana W.M., M.Si (FMIPA), Bulu Tangkis: Ali Farid, SH, MM (kantor pusat), Tenis meja: Dr. Totok Himawan, M.Sc (FP), renang: Johan Setiawan (FK), bela diri: Dr. Puguh Surjowardodjo (FPt), Baca Puisi/Debat Bahasa Inggris/Arab dan Seni tari: Drs. Riyanto, M.Si (FIA), paduan suara, musik gitaris dan group band: Dr. Arief Prajitno, MS (FPi). Dari 33 peserta yang mengikuti seleksi hari ini, telah diterima calon mahasiswa sebanyaK 30 orang. [nok]

Mahasiswa FH UB Ikuti AUSC 2009
5 Mei 2009
Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Brawijaya, Pinastika Prajna Paramita, mengikuti Asean University Student Conference (AUSC) 2009 yang diselenggarakan oleh Kementerian Pemuda dan Olahraga RI. Kegiatan ini menurut rencana akan diselenggarakan di Bandung, pada Kamis-Minggu (21-24/5) mendatang. Beberapa agenda yang ada dalam acara ini adalah diskusi panel, diskusi kerja kelompok, festival mahasiswa, pertunjukan kebudayaan, serta kunjungan dan workshop budaya. Delegasi mahasiswa dari Negara anggota ASEAN juga direncanakan akan turut hadir diantaranya dari Brunei Darussalam, Kamboja, Laos dan Malaysia. Beberapa persyaratan untuk ikut serta dalam kegiatan ini diantaranya tertarik masalah warisan peninggalan budaya, memiliki kemampuan berbahasa Inggris yang baik serta memiliki ketertarikan kepada ASEAN dan kemampuan melakukan pertunjukan kebudayaan dari masing-masing negara. [nok]

Mahasiswa FH Ikuti ISWI di Jerman
5 Mei 2009
Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Brawijaya, Pinastika Prajna Paramita, akan mengikuti konferensi mahasiswa internasional, International Student Week in Ilmenau (ISWI) 2009, yang diadakan di Ilmenau, Thuringia, Jerman. Kegiatan yang diselenggarakan selama sepuluh hari (8-17/5) ini merupakan kerjasama antara sebuah Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) bernama ISWI (Initiative Solidarische Welt Ilmenau) dengan Ilmenau University of Technology. Tujuan utama kegiatan ini adalah meningkatkan toleransi antar warga dunia serta menjembatani keterbukaan pikiran antara pendatang/tamu dengan penduduk lokal. Tahun ini, kegiatan yang diselenggarakan rutin setiap 2 tahun ini mengambil isu masalah Hak Asasi Manusia. Sebanyak 370 delegasi dari berbagai Negara yang diseleksi dari 2500 pelamar direncanakan akan hadir, dimana Indonesia akan mengirimkan 21 delegasi diantaranya dari UI, UGM, Universitas Padjadjaran, UB dan Universitas Ma Chung. Di Jerman, para peserta ini akan ditampung di rumah para penduduk lokal (home stay). Dipaparkan Pinastika, tahun ini ISWI akan mengundang aktivis HAM dunia peraih Millenium Peace Price 2001 asal India, Hina Jilani. Pemateri ternama lainnya yang direncanakan turut hadir adalah Dr. Wolfgang Heinz dan Dr. Hans Herren. Kegiatan utama ISWI 2009 diantaranya kuliah umum, diskusi kelompok, kerja kelompok, debat publik, serta even budaya. Terdapat 25 isu yang diangkat dalam grup diskusi, dimana Pinastika akan tergabung dalam isu "Human Rights and Politics" dan "Geopolitical Aspects of Human Rights: Culture-Borders-globalization". Dalam kesempatan tersebut, Pinastika menyatakan ingin memperkenalkan secara khusus aktivis HAM Indonesia yang juga alumni FH UB, Munir (alm). Selain itu, pihaknya juga bermaksud untuk memberikan gambaran tentang HAM di Indonesia. Diwawancarai PRASETYA Online, Pinastika mengaku mendapatkan informasi ini dari sebuah mailing list dengan pendaftaran secara online. [nok]

Kerjasama UB dengan Pemprov Jatim
5 Mei 2009
Universitas Brawijaya menjalin kerjasama dengan Pemerintah Provinsi Jawa Timur. Penandatanganan kerjasama ini dilakukan oleh perwakilan kedua pihak pada Senin (4/5). Pada kesempatan tersebut, UB diwakili oleh Rektor, Prof.
Dr. Ir. Yogi Sugito sementara Pemerintah Provinsi Jawa Timur diwakili oleh Kabag dan Kasubbag Kerjasama. Kerjasama tentang pembangunan daerah ini memiliki beberapa tujuan. Diantaranya, meningkatkan kebersamaan dalam menyelesaikan permasalahan daerah, meningkatkan pelayanan dan kesejahteraan masyarakat di daerah, mempererat akselerasi ilmu dan teknologi serta pemberdayaan sumber daya dan potensi daerah dalam berbagai bidang. Secara khusus, kerjasama ini mengangkat masalah pembangunan rumah sakit pendidikan dimana Pemprov Jatim akan menunjuk dinas/badan/kantor dan rumah sakit (lembaga teknis di lingkungan Provinsi Jawa Timur untuk melakukan kerjasama ini sesuai tugas dan fungsinya. Kerjasama ini berlaku selama lima tahun ke depan. [nok]

Telewicara INHERENT
5 Mei 2009
Kata kunci dalam pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan adalah produktivitas. Dibanding negara tetangga di ASEAN, produktivitas per pekerja Indonesia paling rendah. Untuk meningkatkan produktivitas tersebut dunia pendidikan memegang peran sangat penting. Dalam upaya mengembangkan produktivitas nasional, Departemen Tenaga Kerja RI bekerjasama dengan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi DEPDIKNAS akan menyelenggarakan diskusi melalui serangkaian acara widya tele wicara. Berikut adalah jadwal kegiatan tersebut,Sesi 1: "Peranan Dunia Pendidikan dalam Peningkatan Produktivitas Nasional" pada Selasa (5/5) pukul 10.00-12.00 WIB, sesi 2: "Pengembangan Produktivitas di Lingkungan Pendidikan" pada Selasa (19/5) [ukul 10.00-12.00 WIB, dan sesi 3: "Kaitan Pendidikan Kewirausahaan dengan Produktivitas" pada Selasa (2/6) pukul 10.00-12.00 WIB. Narasumber kegiatan ini adalah Dirjend Pembinaan Pelatihan dan Produktivitas dan Dirjend Dikti. Berkaitan dengan hal tersebut, maka diharapkan kehadiran mahasiswa dan dosen untuk berpartisipasi. [hsd]

Double Degree FE-UB dengan Murray State University, USA
5 Mei 2009
Fakultas Ekonomi Universitas Brawijaya (FEUB) membuka Double Degree Program S-1 dan S-2 dengan Murray State University, Amerika Serikat. "Kerjasama yang menggembirakan dengan difinalisasinya Double Degree Program S-1 dan S-2 untuk semua jurusan di Fakultas Ekonomi UB", ujar Eko Ganis PhD kepada PRASETYA online. Kerjasama ini, menurutnya melalui perjalanan cukup panjang. Lebih lanjut ia menceritakan, Gugus Irianto, Ph.D dan Eko Ganis, Ph.D mengawalinya dengan membuat konsep double degree program S-1 dan S-2 dengan Universitas yang terakreditasi AACSB International. Murray State University, USA adalah pilihan yang cocok dan mau sama-sama sharing pengalaman dan berbagi kerja. Eko Ganis di tahun 2007, bulan Oktober dan Gugus Irianto, bulan yang sama tahun 2008. Pada tanggal 30 April 2009, Prof Bambang Subroto langsung memimpin pembahasan secara marathon dengan mendiskusikan secara detail hal-hal yang khusus untuk Double Degree Program S-1 dan S-2. Gelar yang diperoleh nantinya untuk S-1 adalah BSB (Bachelor of Science in Business) dan BEc (Bachelor of Economics) untuk masing-masing jurusan. Gelar untuk S-2 akan ditambah MBA untuk jurusan Manajemen dan Akuntansi, sementara untuk jurusan Ilmu Ekonomi adalah MSc (Master of Science). Double degree ini sesuai dengan kesepakatan bersama dapat dimulai semester depan. Diterangkan Eko Ganis, konfigurasi Double Degree Program S-1 adalah 1+2+1, artinya 1 tahun pertama di home university, 2 tahun kedua di targeted university, dan 1 tahun ke 3 di home university. Double Degree Program S-2 dengan formula 1+1, artinya 1 tahun di home university dan 1 tahun ke dua di Murray State University. Hadir dalam pembahasan detail hingga finalisasi adalah Prof Dr. Bambang Subroto (Dekan Fakultas Ekonomi), Eko Ganis, PhD (Direktur, Program Akuntansi Internasional), Prof Timothy Todd (Dean of College of Business and Public Affairs), Prof Gerry Muuka (Associate Dean, Representing Department of Management, Marketing and Business Administration and Director of Graduate Program), Prof Don Chamberlain (Chair, School of Accounting), Prof David Brafield (Chair, Department of Economics),  Prof Robert Lochte (Chair, Department of Journalism and Mass Communications), Prof Michael Basile (Director, Institute for International Studies), dan Prof Victor Raj (Chair, Computer Science and Information System). Dalam finalisasi tersebut, semua duduk bersama dan membahas secara bergantian per kurikulum yang ditawarkan. "Prinsip nya tidak ada yang memberatkan. Hanya karena MBA MSU terakreditasi AACSB, kita harus mematuhi persyaratan tersebut", ujar Eko Ganis. "Sesi lebih detail pembahasan adalah dengan Prof Dr. Don Chamberlain dan Prof Dr. Gerry Muuka, yang inipun berakhir dengan sangat memuaskan untuk double degree di kedua program tersebut", tambahnya. Malamnya, pertemuan ditutup dengan makan malam bersama dengan Provost dan Vice President MSU, Prof Gary R. Brockway diluar kampus, Restaurant Blumweed, Murray. "Ini sebuah kehormatan untuk Fakultas Ekonomi UB dalam melakukan pembahasan secara marathon dan menghasilkan sesuai yang diinginkan ke dua universitas", ungkap Eko Ganis kepada PRASETYA Online. [egn/nok]
-----
Prof. Subroto dan Prof Chamberlain selesai membahas Double Degree

Diklat Applied Approach oleh LP3
4 Mei 2009
Lembaga Pengkajian dan Pengembangan Pendidikan (LP3) Universitas Brawijaya selama seminggu (4-11/5) menyelenggarakan pelatihan Applied Approach (AA). Kegiatan yang diselenggarakan di ruang LP3 ini diikuti oleh 45 dosen dari seluruh fakultas. Beberapa tujuan dari pelatihan AA ini diantaranya meningkatkan kualitas kemampuan mendesain kurikulum, meningkatkan penguasaan dan ketrampilan dosen senior dalam merancang dan sebagai manajer administrasi pendidikan tinggi, meningkatkan penguasaan dosen senior dalam mengembangkan motivasi pembelajaran dengan mengacu pada paradigma "teaching how to learn", serta mensosialisasikan berbagai konsep kurikulum desain termasuk kurikulum berbasis kompetensi. Diwawancarai PRASETYA Online, Ketua LP3, Prof. Dr. Ir. Hendrawan Soetanto, M.Rur.Sc, menyatakan bahwa dosen senior peserta pelatihan kali ini diprediksi akan turut serta dalam sertifikasi dosen, sehingga melalui kegiatan ini pihaknya berupaya memberikan bekal kompetensi. Beberapa hal baru yang disampaikan dalam pelatihan ini diantaranya peran teknologi informasi dan multimedia disamping perbaikan kurikulum. "Dengan peserta yang heterogen dari berbagai disipilin ilmu diharapkan mereka dapat saling berbagi pengalaman dan visi dengan menyampaikan ilmu yang bersifat generik", ujar Prof. Hendrawan. Secara khusus, ia menyampaikan bahwa dengan model pendidikan yang integrative, pihaknya beruPaya untuk mengurangi paradoks yang banyak muncul di dunia pendidikan. "Sepele saja, di kawasan kampus ini telah banyak dipasang rambu-rambu lalu lintas untuk ditatati, tapi masih banyak juga mahasiswa yang melanggar. Padahal disisi lain mereka sering mengaku sebagai insan terdidik dan terpelajar", kata dia. Berkaitan dengan hal ini, ia menggarisbawahi bahwa keberhasilan pendidikan adalah menihilkan berbagai paradoks dengan menumbuhkan nilai dan budaya. Berbagai materi yang disampaikan diantaranya "Tatakelola Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat UB" oleh Prof. Dr. Ir. Siti Chuzaemi, MS, "Sistem Penjaminan Mutu di UB" oleh Dr. Ir. M. Bisri, "Karakteristik Organisasi Pembelajaran" oleh prof. Dr. Ir. Hendrawan Soetanto, M.Rur.Sc, "Character Building" oleh Ir. Sunarto Ismunandar, MS, "Pembelajaran Berbasis Multimedia", oleh Prof. Dr. Ir. Abdul Latief Abadi, MS, "Integritas Soft Skill" oleh Prof. Dr. Ir. Suhardjono, M.Pd., Dipl.HE, "Tracer Study" oleh Prof. Dr. Moeljadi, SE, MS. [nok]

Peringatan Hardiknas di UB
2 Mei 2009
Memperingati Hari Pendidikan Nasional yang jatuh pada Sabtu (2/5), Universitas Brawijaya menggelar upacara. Kegiatan yang diikuti oleh pimpinan, guru besar, seluruh dosen/pegawai serta fungsionaris lembaga mahasiswa ini akan diselenggarakan di Lapangan Rektorat mulai pukul 07.00 WIB. Bertindak selaku pembina upacara adalah Rektor UB, Prof. Dr. Ir. Yogi Sugito. Dalam kesempatan tersebut Rektor juga akan menganugerahkan Satyalancana Karya Satya kepada dosen dan karyawan Berdasar SK Presiden RI tahun Nomor: 004/TK/TAHUN 2009 tanggal 20 April 2009. Selain itu, diberikan pula tali asih kepada para dosen yang telah menyelesaikan program doktor selama periode Mei 2008-Mei 2009. Dalam kesempatan tersebut, Rektor menyampaikan sambutan Menteri Pendidikan Nasional, Prof. Dr. Bambang Sudibyo, MBA dengan tema peringatan hardiknas untuk tahun ini, yaitu "Pendidikan Sains, Teknologi dan Seni Menjamin Pembangunan Berkelanjutan dan Meningkatkan Daya Saing Bangsa". Dalam sambutannya, Mendiknas menyatakan bahwa dalam rangka menjawab berbagai kekurangan dan tantangan pembangunan pendidikan nasional, telah ditetapkan tiga pilar kebijakan yaitu pemerataan dan perluasan akses pendidikan, peningkatan mutu, relevansi dan daya saing pendidikan serta penguatan tata kelola, akuntabilitas dan citra publik. Untuk tahun 2009 sendiri, diungkap Menteri, telah ditetapkan 11 terobosan kebijakan yang telah mendapatkan hasil positif. Beberapa diantaranya adalah pendanaan pendidikan secara massal, peningkatan kualifikasi dan sertifikasi pendidik, penerapan TIK dalam PBM dan administrasi pendidikan serta pembangunan dan rehabilitasi sarana dan prasarana pendidikan.
Daftar Penerima
Berikut adalah daftar penerima penghargaan dan tali asih tersebut: Satyalancana Karya Satya 30 tahun: Prof. Dr. Moeljadi, SE., SU (FE), Prof. Dr. Achmad Sodiki, SH (FH), Drs. Adami Chazawi, SH (FH), Koesno Adi, SH., MS (FH), Dr. Mochamad Bakri, SH., MS (FH), Moh. Gafur (FH), Prof. Drs. Achmad Fauzi DH, MA (FIA), Dr. Darminto, M.Si (FIA), Dr. Suharyono, MA (FIA), Prof. Dr. Dr. Harijono Achmad, SpPD., KGEH (FK), dr. Andi Ansharullah, DAAK (FK), dr. Ibnu Mas’ud, MS (FK), dr. Ngesti Lestari, SH., SpF (FK), Prof. Dr. Dr. Bambang pardjianto, SpB., SpBP (K) (FK), dr. P.C. Widyokarsono, Sp.B(K)L (FK), dr. R. Soeharnoto (FK), Wasono Wibowo (FK), Wahyudi Irawanto (FK), Dra. Lilik Sudarmiati (Fpi) dan Dr. Ir. Aniek Masrevaniah, Dipl.HE (FT). Satyalancana Karya Satya 20 tahun: Drs. Achmad Sudiro, ME (FE), Siti Aisjah, SE., MS (FE), Wahdijat Moko SE., MM (FE), Kastolani, SE., MM (FE), Drs. Agung Yuniarinto, MS (FE), Dra. Lily Hendrasti Novadjaja, MM (FE), Atim Djazuli, SE., MM (FE), Moch. Imamul, SE ( FE), Sri Utaminingsih (FE), Prof. Dr. Thohir Luth, MA (FH), Imam Kuswahyono, SH., MHum (FH), M. Tabrani, S.Ag (FH), Edy Roesanto, SH (FH), Prof. Dr. Sumartono, MS (FIA), Dra. Nunuk Mindarwati (FIA), Muji Riyanti, SE (FIA), Indrajani, S.Psi (FK), Ahsan, S.Kp., M.Kes (FK), Harry Polosakan (FK), Sarpan (FK), Sutrisno (FK), Dr. Ir. Nurul Aini, MS (FP), Artini (FP), Prof. Dr. Ir. Zaenal Fanani, MS (FPt), Ir. Ardaf, M.Si (FPt), Dr. Ir. Djalal Rosyidi, MS (FPt), Ir. Imam Thohari, MP (FPt), Ir. Hj. Muharlien, MP (FPt), Ir. M.B. Hariyono, MS (FPt), Ir. Manik Eirry Sawitri, MS (FPt), Ir. Kuswati, MS (FPt), Dr. Ir. Sri Minarti, MP (FPt), Ir. Tri Eko Susilorini, MP (FPt), Ir. Jusuf Thojib, MSA (FT), dan Ali Farid, SH (Kantor Pusat). Satyalancana Karya Satya 10 tahun: Agus Prohandoko (FH), Drs. Wilopo, MAB (FIA), dr. Yuyun Yueniwati Prabowowati Wajib, M.Kes., Sp.Rad (FK), dr. Nanik Setijowati, M.Kes (FK), dr. Isngadi, M.Kes., Sp.An (FK), Dr. Sony Agung Santoso, SpM (FK), dr. Hidayat Sujuti, Ph.D (FK), Teguh Budio (FK), Ir. Djarot B. Darmadi, MT (FT), Ir. A. Wahid Hasyim, MSP (FT”), Ir. Ari Wahjudi, MT (Dr. Ir. Arief Rachmansyah (FT). Penerima tali asih dosen yang telah menyelesaikan program doktor (S3) dalam/luar negeri Mei 2008-Mei 2009 adalah: Dr. Sumiyanto, SH., MH (FH), Dr. Prija Djatmiko, SH, MS (FH), Dr. Muchamad Ali Safa’at, SH, MS (FH), Dr. Drs. Achmad Helmy Djawahir (FE), Dr. Drs. Achmad Sudiro, ME (FE), Dr. Dra. Noermijati, MTM (FE), Devanto Shasta Pratomo, SE.,M.Si., PhD (FE), Dr. Drs. Mochamad al Musadieq, MBA (FIA), Dr. Kertahadi, M.Com (FIA), Dr. Moch. Saleh Soeaidy, MA (FIA), Dr. Ir. Sudarto, MS (FP), Dr. Ir. Eko Widaryanto, MS (FP), Dr. Ir. Eko Widaryanto, MS (FP), Dr. Ir. Titin Sumarni, MS (FP), Dr. Ir. Yayuk Yuliati, MS (FP), Agung Murti Nugroho, ST., MT., Ph.D (FT), Alwafi Pujiraharjo, ST., MT., PhD (FT), Dr. Med. Dr. Tommy Alfandy Nazwar (FK), Dr. Drh. Sri Murwani, MP (FK), Dr. Ir. Puguh Surjowardojo, MP (FPt), Dr. Ir. Moh. Nur Ihsan, MS ()FPt), Dr. Ir. Happy Nursyam, MS (FPIK), Dr. Ir. Sri Andayani, MS (FPIK), Dr. Ir. Pudji Purwanti, MP (FPIK), Dr. Ir. Endang Yuli Herawati, MS (FPIK), Dr. Ir. Hartati Kartikaningsih, M.Si (FPIK), Dr. Ir. Murachman, M.Si (FPIK), Dr. Drs. Sasangka Prasetyawan, MS (FMIPA), Luchman Hakim, S.Si., M.Agr.Sc., PhD (FMIPA), Dr. Ir. Chanif Mahdi, MS (FMIPA), Dr. Ir. Bambang Susilo, M.Sc.Agr (FTP). [nok]

Internship Fair Oleh AIESEC
1-2 Mei 2009
Association Internationale des Etudiants en Sciences Economiques et Commerciales (AIESEC) Local Committee Universitas Brawijaya, selama 2 hari (1-2/5) menyelenggarakan kegiatan Global Internship Fair. Kegiatan ini berisi workshop pengembangan diri dan magang kerja di luar negeri. Hadir sebagai pemateri dalam kesempatan tersebut adalah Willy Ariwiguna (Personal Effectiveness Coach Indonesia Respondent for Time to Shine, Australia) dan Christiana Sahertian (Representative of John Robert Power Surabaya). Disampaikan Ketua Pelaksana, Handayu, kegiatan ini bertujuan untuk memfasilitasi generasi muda baik pelajar maupun mahasiswa untuk menggali potensi diri melalui pertukaran (exchange). Sebanyak delapan negara turut serta menawarkan produk exchange masing-masing yaitu Malaysia, Turki, Ukraina, Philipina, China, Taiwan, dan Polandia. Lebih lanjut, mahasiswa program Akuntansi (Internasional) angkatan 2008 ini merinci bahwa untuk tahun ini dibuka internship sebagai sukarelawan dalam beberapa project issue diantaranya lingkungan, HIV/AIDS dan anak-anak. Lebih rinci disebutnya, kebutuhan masing-masing negara untuk tahun ini adalah Malaysia: 6 orang dengan isu HIV/AIDS, Turki: 9 orang dengan isu Shape The Future, Ukraina: 8 orang dengan isu Summer Camp/Cutural Understanding, India: 10 orang dengan isu HIV/AIDS, Philipina: 5 orang dengan isu anak-anak, China: 10 orang dengan isu anak-anak, Taiwan: 14 orang dengan isu anak-anak dan Polandia: 8 orang dengan isu kewirausahaan. Bagi peserta yang berminat, beberapa dokumen yang wajib disertakan diantaranya adalah surat ijin orang tua, TOEFL 550, curriculum vitae, dan mengisi application form. Kegiatan hari ini merupakan tahapan awal dimana peserta diajak untuk menggali potensi diri disamping memberikan pengetahuan tentang AIESEC. Tahapan selanjutnya dalam internship ini nantinya adalah interview oleh Excecutive board LC UB dan board of advisor yang meliputi Dr. Kun Aniroh dan Dr. Candra Fajri Ananda. [nok]

Agrivita Menuju Jurnal Internasional
1 Mei 2009
Sesuai dengan surat Direktur Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat nomor 394/D3/LL/2009, tanggal 24 April 2009, Agrivita diberi kesempatan untuk mengembangkan diri menjadi dan memasuki forum ilmiah internasional. Sebagai jurnal yang terakreditasi, redaksi Agrivita di undang Dirjen Dikti untuk mengajukan proposal kegiatan pengembangan jurnal internasional dengan memuat program-program kegiatan yang diperlukan dalam proses jurnal internasional. Dana yang disediakan adalah 150 juta rupiah. Menurut ketua redaksi Agrivita, Prof.Dr.Ir. Kuswanto, MS, saat ini redaksi sedang menyusun rencana kerja anggaran biaya yang diperlukan. Konsep pengembangan jurnal internasional telah lama direncanakan, dan pada tahun 2009 diharapkan bisa direalisasikan. Menurut rencana, semua kegiatan yang menyangkut pengembangan jurnal ini akan dilakukan selama tahun 2009. [FP]

IALS Conference 2009
1 Mei 2009
Sejak tahun 2007 Fakultas Hukum Universitas Brawijaya (UB) telah menjadi anggota International Association of Law Schools (IALS) yang bermarkas di New York, Amerika Serikat. Menurut rencana pada tanggal 25-28 Mei 2009 mendatang akan diselenggarakan IALS Conference 2009 di ANU College of Law Australian National University, Canberra, Australia. Terdapat dua agenda pokok dalam kesempatan tersebut yaitu IALS General Assembly dan Educational Programme dalam bentuk seminar internasional dengan tema "The Role of Law Schools and Law Schools Leadership in Changing World". Untuk ini, Dekan Fakultas Hukum UB, Herman Suryokumoro, SH, MS dan Prof. Dr. I Nyoman Nurjaya, SH, MH akan menghadiri IALS Conference tersebut dengan mempresentasikan paper berjudul "The Role of Law Schools and Law Schools Leadership in Changing World: A Special Reference in The Role of Law Schools in Indonesia". Selain menghadiri IALS Conference, menurut rencana selama di Australia delegasi Fakultas Hukum UB juga akan mengunjungi Fakultas Hukum di beberapa universitas yaitu Wollongong University, Sydney University, dan Canberra University. Kunjungan kali ini dalam rangka penjajagan jalinan kerjasama akademik untuk meningkatkan kualitas SDM dan kegiatan akademik Fakultas Hukum UB. [njy/nok]

Prof. Soekartawi: Manfaatkan Beasiswa BAPPENAS
1 Mei 2009
Peran perencana (planner), kini dan masa mendatang sangat penting bagi suksesnya pembangunan. Tanpa perencanaan pembangunan yang baik, maka jalannya pembangunan akan amburadul. Banyak contoh yang dapat kita lihat sekarang ini. Seperti hujan sedikit saja sudah terjadi banjir dan tanah longsor. Juga program keamanan pangan (food security) yang seakan mandeg adalah salah satu contoh buruknya perencanaan pangan kita. Karena itu beasiswa untuk pascasarjana dari Bappenas 2009/2010 ini perlu dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh teman-teman yang ingin jadi perencana (planner) yang handal. Demikian komentar Prof Soekartawi soal beasiswa Bappenas yang disampaikan ke PRASETYA Online. Soekartawi, guru besar FPUB yang juga penulis buku "Manajemen Perencanaan Pembangunan" yang diterbitkan oleh penerbit PT RajaGrafindo (Jakarta) ini pantas prihatin soal perencanaan pembangunan sekarang ini. Pasalnya, banyak contoh perencanaan pembangunan yang dibuat asal-asalan, banyak yang bersifat parsial dan kurang memperhatikan keterkaitan aspek yang satu dengan aspek yang lainnya, hanya berjangka pendek serta kurang memperhatikan kepentingan jangka panjang seperti konsep pembangunan yang berkelanjutan (sustainable development). Perlu diketahui bahwa Bappenas sudah mengumumkan adanya beasiswa thn 2009/2010 ini sedini mungkin, tentu maksudnya agar kandidat dapat mempersiapkan diri dengan baik. Khususnya kandidat yang merencanakan studi pascasarjana-nya di luar negeri, agar dapat mempersiapkan bahasa Inggrisnya dengan baik. Batas akhir waktu mendaftar adalah 1 Agustus 2009. Walaupun beasiswa ini memang diprioritaskan untuk para perencana yang bekerja di institusi perencanaan pemerintah Pusat dan pemerintah Provinsi, Kabupaten dan Kota, seperti staf Bappenas atau Bappeda sendiri, Unit Perencanaan di Departemen, unit perencanaan di Dinas Teknis pada Pemerintah Provinsi, Kabupaten dan Kota, namun tidak menutup kemungkinan dapat dimanfaatkan teman-teman dosen yang kini diperbantukan di lembaga perencanaan. Tidak ada salahnya kalau mencoba kan? Demikian Soekartawi menambahkan. Beasiswa Bappenas ini mencakup: Beasiswa (i) S2 Dalam Negeri; (ii) S2 Linkage, (iii) S2 Luar Negeri dan (iv) S3 Dalam Negeri. Informasi lebih lanjut dapat menghubungi  PUSBINDIKLATREN Bappenas, Jl. Taman Suropati 2, Jakarta 10310 Telp. (021)31931447, 31934147, 3905650 ext 372/301. Fax. (021)3103705 [skw]

Benang Kusut Ritel Modern
1 Mei 2009
Akhir-akhir ini bisnis ritel modern menjadi sorotan publik. Harapan peningkatan pergerakan ekonomi dengan berdirinya ritel modern, harus dibayar mahal dengan ekses negatif penyertanya.
Beberapa problema
Beberapa problema yang perlu dicermati berkait dengan ritel modern, antara lain: Pertama, bisnis ritel modern turut memarginalkan pasar tradisional. Bermula dari Keppres No 96/2000 tentang usaha tertutup dan terbuka bagi penanaman modal asing (PMA) yang memasukkan ritel terbuka bagi asing, riitel asing-pun menguasai berbagai kota. Akibatnya hipermarket tumbuh dari 83 pada 2005 menjadi 121 pada 2007, minimarket dari 6.465 tahun 2005 menjadi 8.889 pada 2007. Pada 2002-2008 pasar modern tumbuh 31,4 %. Bahkan, pada 2009  peritel asing, Wallmart, Casino, Tesco, dan Central Thailand, berebut masuk.
Adapun, pasar tradisional pada 2002-2008 turun 11,7 %. Sepuluh tahun terakhir, pedagang pasar tradisional turun 40%. Menurut pengurus Asosiasi Pedagang Pasar Seluruh Indonesia (APSI), penurunan ini akibat desakan hipermarket dan pedagang tak mampu mempertahankan kios terenovasi karena tidak terjangkau biaya tebusnya.
Kedua, indikasi praktek monopoli dan persaingan usaha tidak sehat. Hal ini mengemuka seiring diperiksanya Carrefour pasca akuisisi 75% saham PT. Alfa Retailindo TBK (ALFA) oleh Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU). Pangsa pasar ritel (upstream) Carrefour diduga meningkat dari 44,72% menjadi 66,73%, sedang pasar supplier (downstream)-nya naik dari 37,98% menjadi 48,38%. Sayang, tingginya posisi tawar ritel asing ini digunakan menekan pemasoknya dengan berbagai syarat perdagangan (trading term). Pemasok kosmetik mengaku dibebani biaya sebelum akuisisi 13% menjadi 33% setelah akuisisi.
Carrefour tampaknya tidak belajar dari larangan minus margin dari KPPU di masa lalu. Minus margin adalah syarat perdagangan yang mengharuskan pemasok membayar ganti rugi sebanyak barang yang tidak terjual jika pemasok terbukti menjual barang serupa kepada pesaing Carrefour dengan harga yang lebih murah.
Ketiga, ritel modern sering menimbulkan konflik sosial ekonomi, lingkungan hidup, serta tata ruang wilayah. Gejolak sosial karena dekat kawasan pendidikan atau pasar tradisional, banjir karena Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (Amdal) yang buruk, dan kemacetan karena arus lalu lintas yang tidak sebanding ruas jalan, begitu "dimaklumi" semua pihak.
Pelajaran bagi semua
Ritel modern memang merupakan aset. Bila dikelola dengan baik, bisnis ini akan mendatangkan kesejahteraan. Banyaknya problem saat ini membutuhkan solusi yang tepat. Ada beberapa hal yang perlu dilakukan ke depan. Pertama, perlu keberpihakan. Meskipun masih ada kelemahan, perlu ada penegakan Perpres 112/2007 dan Permendag 53/2008. Ekspansi ritel modern yang "kebablasan" dan melanggar aturan perlu ditindak tegas. Di sisi lain, potensi pasar tradisional yang berakar dari aspek sejarah, budaya, dan ekonomi rakyat layak dipertahankan. Apalagi, pasar tradisional juga menjadi tumpuan distribusi produk lokal hasil pertanian rakyat kecil. Menurut Departemen Perdagangan, ada 13.450 pasar tradisional di Indonesia yang menghidupi sekitar 12,6 juta pedagang (Kontan, 17/03/09). Jika setiap pedagang menanggung 3 orang, sekitar 50,4 juta penduduk bergantung pasar tradisional. Belum lagi konsumen di pasar ini.Pemberdayaan pasar tradisional diharapkan membuka kesempatan kerja sebagian korban PHK. Stimulus dana Rp 490 miliar untuk revitalisasi pasar tradisional dan Rp 100 milyar untuk pengembangan pasar tradisional dan lokasi pedagang kaki lima (PKL) tahun 2009 dinilai tepat. Kedua, indikasi praktek monopoli harus diusut tuntas KPPU. Jangan sampai kasus Carrefour menjalar ke peritel modern lain. Kalau akuisisi Carrefour atas ALFA terbukti melanggar pasal 28 Undang-Undang No. 4/ 2009 tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat, akuisisi harus dibatalkan. Kita sadar bahwa saat ini pendekatan bisnis bukan menang kalah (win lose solution), tetapi perlu saling menguntungkan (win win solution). Keuntungan yang layak bagi pemasok dan ritel modern mesti diusahakan bersama dan lebih tranparan. Etika ekonomi perlu dikembangkan untuk menciptakan kepercayaan antara pemasok dan ritel. Karena itu.bentuk trading term yang berpotensi merugikan perlu diselesaikan secepatnya. Disinilah peran KPPU menuai maknanya. Ketiga, kecerobohan atau "perselingkuhan" pejabat dalam membuka ritel baru harus dihentikan. Dampak pengembangan ritel yang kurang memperhatikan aspek sosial ekonomi, lingkungan hidup, dan tata ruang wilayah sudah kita rasakan. Seharusnya ini menjadi pelajaran bagi semua pemangku kepentingan. Kalau perlu, izin pembukaan ritel baru, terutama ritel asing, perlu berlapis. Aturan zonasi pada ritel modern dan proporsi ritel modern dengan jumlah penduduk perlu dipertegas. Kepentingan rakyat banyak mestinya yang diutamakan. Berdirinya ritel modern yang mengancam sosial ekomomi rakyat layak ditolak. Mungkin harapan di atas terlalu besar. Cengekraman ritel multinasional  dengan capital power, trend setter, concumer traffic maker, cheapest price turut mempengaruhi kebijakan pemerintah dan pejabatnya. Tapi, jika punya kemauan, peraturan yang pro-kesejahteraan rakyat banyak masih mungkin ditegakkan. Semua berpulang pada masing-masing pelaku bisnis. Semoga.[cip/kontan]