Last updated 31/12/2005
By: Farid Atmadiwirya
Desember 2005

Bebas SPP bagi Mahasiswa Asal Aceh
31 Desember 2005
Dengan pertimbangan untuk menjaga kelangsungan studi mahasiswa Universitas Brawijaya yang orangtuanya terkena bencana alam tsunami, Rektor memandang perlu memberikan beasiswa berupa pembebasan SPP (sumbangan pembinaan pendidikan) kepada mereka. Pemberian beasiswa ini berlaku untuk semester genap 2005/2006 dengan ketentuan pemberian beasiswa tersebut dibatalkan apabila si penerima telah lulus pada semester ganjil 2005/2006, dan tidak dapat diambil dalam bentuk uang tunai.
Ketetapan ini tertuang dalam Keputusan nomor 195/SK/2005 tentang pemberian pembebasan pembayaran SPP bagi mahasiswa Unibraw asal Nangroe Aceh Darussalam (NAD) yang diterbitkan tanggal 31 Desember 2005. Beasiswa tersebut diberikan kepada 50 orang mahasiswa dari 9 fakultas/program.
Selengkapnya, daftar penerima beasiswa ini adalah sebagai berikut. Citra Pratiwi (PBS); Dadang Chairul Rizal, Fifi Novianti (FE); Dasina Wulandari (D-III Kesekretariatan); Muklis, Tri Afiyanti, Zahra Febiani (FIA); Cut Razianti ZB, Juwita, Nining Indah Sari, Novita Wahyuni, Sari Dewi Apriyanti (FK); Fitri Gustina (FMIPA); Anwar, Fadlon Ridha, Fajar Maysarah, Fauziah, Surya Darma, Zuraida, Husni Yulham (FPi), Desi Zuryani S, Eko Hendrawan, Muhammad Iqbal, Nonik Septiani, Reny Amalia Anastasia, Zulkifli Sulistiawati (FP); Kusnadi Yulham (FPt); Syukur Hidayat, Ammar Hadi, Arief Akbar, Ario Ardani Ardan, Bahdursyah, Benido Putra, Darma Setiawan S, Evi Musvitasari, Fahreza Permana, Fitriyadi, Haiqal Hakim Raden, Hery Juansyah, Hijrah Saputra, Isra Afrizal, Issana Meria Burhan, Khairina, Khairul, Khairul Iqbal, M Yanuar Kartiko, Muhammad Iqbal, Shafur Bachtiar, Syafriadi Adnan, dan Yudi Faisal (FT). [Far]  

Hasil Pemungutan Suara Senat: Yogi 39, Djanggan 38, Umar 30
31 Desember 2005
Para bakal calon rektor seusai pemungutan suara. Dari kiri: Prof. Budiono Mismail, Prof. Soekartawi, Prof. Yogi Sugito, Prof. Djanggan Sargowo, dan Prof. Umar Nimran
Senat Universitas Brawijaya, dalam sidang khusus dipimpin Ketua Senat Prof. Bambang Guritno, Sabtu 31/12, akhirnya memutuskan untuk mengadakan pemungutan suara dalam memberikan pertimbangan atas hasil penjaringan nama-nama bakal calon rektor. Pada tahap pertimbangan senat ini, Prof. Yogi Sugito meraih dukungan terbanyak (39 suara), disusul di tempat kedua Prof Djanggan Sargowo dengan dukungan 38 suara, dan Prof Umar Nimran di urutan ketiga dengan 30 suara. Sedangkan dua bakal calon lainnya, Prof. Soekartawi menempati posisi keempat dengan 4 suara, dan Prof. Budiono Mismail di tempat kelima dengan 1 suara. Dalam pemungutan suara ini tercatat 1 suara tidak sah.
Dari 117 anggota senat terdaftar, hadir memberikan suara 113 orang. Empat anggota yang tidak hadir adalah Prof. Thohir Luth (FH), Prof. Saleh Safradji (FE), Prof. Kurniatun Hairiah (FP), dan Prof. Hari Purnomo (FPt).
Pemungutan suara yang dilakukan oleh para anggota senat, menghasilkan peringkat yang berbeda dengan peringkat sebelumnya yang dihasilkan dalam tahap penjaringan. Hasil penjaringan suara dari para dosen, perwakilan karyawan dan perwakilan mahasiswa dua minggu yang lalu (17/12), Prof. Umar Nimran menempati posisi pertama dengan 420 suara, Prof. Yogi Sugito 369 suara, Prof. Djanggan Sargowo 324 suara, Prof. Budiono Mismail 106 suara, dan Prof. Sukartawi 60 suara.
Tahap selanjutnya, tiga nama calon rektor hasil pertimbangan senat, yaitu Prof Yogi Sugito, Prof Djanggan Sargowo, dan Prof Umar Nimran, dikirimkan kepada Menteri Pendidikan Nasional untuk ditetapkan salah seorang di antaranya sebagai Rektor Universitas Brawijaya periode 2006-2010.
Delegitimasi nilai demokrasi
Sementara itu, hasil pemungutan suara Senat yang jauh berbeda dengan saat penjaringan, menurut Pilrek Watch yang diwakili Ngesti D. Prasetyo, dirasa mencederai demokrasi. Ngesti mengatakan bahwa senat tidak berhak melakukan perubahan hasil penjaringan. Karena menurutnya Senat Unibraw bukanlah representasi atau perwakilan dari sivitas. Kalaupun masih saja dilakukan pemilihan ulang, sama artinya dengan mendelegitimasi nilai demokrasi yang berkembang.
Pilrek Watch memandang keputusan ini akan berdampak banyak dengan kepemimpinan di Unibraw. Bukan tidak mungkin jika akan terjadi krisis legitimasi rektor, krisis kepercayaan, dan krisis demokrasi di Unibraw. “Pemikiran tentang semua ini nantinya akan kami ajukan ke Senat Unibraw dan Menteri”, tegasnya. [Far/vty]

Ir. Chanif Mahdi MS Temukan Metode Cepat Uji Formalin
31 Desember 2005
Ir. H. Chanif Mahdi MS, dosen Kimia Fakultas MIPA Universitas Brawijaya, baru-baru ini menemukan perangkat penguji formalin dalam makanan yang dinamakan “Kit Tester Formalin”. Percobaan yang dilakukan selama seminggu ini ternyata membuahkan hasil yang memuaskan. Uji yang dilakukan ini bisa langsung dilihat setelah 10 menit. Kit Tester Formalin ini terdiri dari campuran bahan kimia yaitu foksin dan senyawa HCl. “Unsur yang paling penting di sini adalah foksin”, tegasnya.
Ia juga menjelaskan cara untuk menguji makanan yang mengandung formalin ialah dengan memotong kecil-kecil dan menghancurkan bahan makanan atau makanan yang akan diuji, kemudian hancurannya ditambah dengan air. Cairan bening yang dihasilkan dicampur dengan Kit Tester Formalin. Jika terjadi perubahan warna menjadi biru maka makanan tersebut mengandung formalin.
Selain menggunakan Kit Tester Formalin ini, menurut Chanif ada 2 cara lagi yang bisa digunakan untuk menguji Formalin, yaitu dengan reaksi asam amino triptophan dan butanol. Akan tetapi kedua cara tersebut masih ada kekurangan. Dengan reaksi asam amino triptophan, hasilnya kurang bagus, karena warna yang dihasilkan masih kurang nyata. Sehingga tidak jelas antara makanan yang mengandung formalin dengan yang tidak. Sedangkan penggunaan butanol memerlukan waktu yang lama. Berbeda dengan Kit Tester Formalin ini yang hanya membutuhkan waktu sekitar 10 menit saja.
Alat yang baru saja ia temukan ini rencananya akan dipatenkan. Chanif juga membuka diri lebar bagi mereka yang menginginkan pelatihan bagi pengawas di lapangan sehingga mereka tidak hanya melakukan uji fisik saja.
Pengujian itu telah dilakukan pada tahu yang dijual oleh pedagang di seputar kampus Unibraw. Menurutnya hampir semua tahu yang dijual mengandung formalin.
Menurut Chanif, makanan untuk dikonsumsi pada prinsipnya tidak boleh dicampuri bahan pengawet apapun. Sebaiknya bahan makanan tersebut diolah. “Pada ikan asin sebenarnya bisa menggunakan garam sebagai bahan pengawet, untuk tahu bisa dengan garam juga menjadi tahu asin. Itu lebih aman daripada mencampur dengan bahan pengawet seperti formalin atau benzoat”, tuturnya. [vty]

Seminar dan Lokakarya Korupsi dan Budaya Kekuasaan
31 Desember 2005
Eksekutif Mahasiswa (EM) Universitas Brawijaya, Sabtu (31/12), menyelenggarakan seminar dan lokakarya bertajuk “Membangun Gerakan Bersama Menumpas Praktek Korupsi”. Seminar yang berlangsung di Widyaloka Unibraw ini mengundang pemateri Mohammad Luthfi (Malang Corruption Watch), Arief Wahyudi (Komisi Anggaran) dan Ibnu Tricahyo (praktisi hukum).
Dalam paparannya, Ibnu Tricahyo mensitir penelitian PERC tahun 2000 yang memposisikan Indonesia sebagai negara tertinggi membawahi Korea Selatan dan Thailand dengan nilai 9.91 untuk korupsi dan 9.09 untuk kronisme dari range 0-10. Mensitir pula hasil polling oleh harian Kompas bahwa dari berbagai institusi (termasuk di dalamnya lembaga pendidikan, LSM, lembaga keagamaan, dsb) partai politik menduduki posisi teratas dalam hal korupsi. Senada dengan beberapa negara yang lain, dari 69 negara, 44 di antaranya parpolnya adalah terkorup. Termasuk di dalamnya Philipina, Thailand, Indonesia dan India. Lebih lanjut disampaikan bahwa kondisi ini diduga akibat dari ketidakmampuan dalam kemandirian logistik dan finansial yang telah membuat politisi menyalahgunakan kekuasaan untuk bermain uang, baik untuk partai maupun pribadi. “Partai politik dalam hal ini mengalami berbagai dilema diantaranya mereka belum bisa hidup dari iuran anggota, sehingga hal ini disiasati dengan perolehan financial dari jabatan strategis anggota”, ungkapnya. Dalam mengatasi hal ini, menurutnya dibutuhkan triangle yang seimbang dalam melaksanakan good governance dengan kontrol proaktif dari social society dalam hubungan antara struktur kekuasaan dan struktur ekonomi. “Tetapi yang terjadi saat ini bukanlah demikian, hubungan antara penguasa dan kapitalis dilanggengkan dan diselamatkan oleh organized crime/preman seperti banyak terjadi di beberapa daerah di Indonesia termasuk Malang”, ungkapnya.
Sementara itu, Luthfi dalam kesempatan tersebut menyampaikan bahwa jika pada orde baru yang terjadi adalah sentralisasi korupsi, sedang pada awal reformasi adalah desentralisasi korupsi maka pada saat ini yang terjadi adalah freelance korupsi. Disampaikan pula, saat ini telah terjadi degradasi moral dengan membudayakan korupsi yang dilegitimasi oleh bentuk-bentuk kekuasaan serta konspirasi berbagai hipokrit publik. “Permasalahan korupsi adalah permasalahan sederhana, jika ada kemauan politik tentu hal tersebut akan dapat dilaksanakan dengan mudah”, ungkapnya. Satu bukti sederhana dalam hal ini adalah ketidakhadiran para penguasa dalam berbagai dialog publik terutama dalam membahas korupsi termasuk pada hari ini yang dibuktikan dengan tidak hadirnya komisi anggaran DPRD Malang. Lebih lanjut disampaikan bahwa pada saat ini kerancuan terjadi dimana-mana secara sistemik, sehingga dibutuhkan energi ekstra untuk mengurainya yang dimulai dari individu sampai pada sistem itu sendiri. “Kebiasaan itu belum tentu benar tetapi kebenaran harus dibiasakan”, ungkap ketua MCW ini. [nok]

Prof. Hendrawan Koordinator Pembuatan Buku UNESCO
31 Desember 2005
Dalam rangka untuk memberikan informasi kepada masyarakat mengenai persiapan menghadapi bencana, Prof Dr Ir Hendrawan Soetanto MRurSc, Ketua Lembaga Pengkajian dan Pengembagan Pendidikan (LP3) Universitas Brawijaya, baru-baru ini mendapat kepercayaan UNESCO (United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization) sebagai koordinator pembuatan bahan-bahan pelajaran tentang kesiapan menghadapi bencana. Buku ini ditujukan bagi kalangan pelajar tingkat SMP dan SMA.
Hal ini dilatarbelakangi bahwa Indonesia memiliki banyak daerah yang rawan dengan bencana alam. Karena secara geografis Indonesia terletak di wilayah bencana. Selama ini masyarakat Indonesia tidak tahu banyak mengenai apa saja yang harus dilakukan ketika bencana terjadi. Kalaupun ada informasi mengenai tanda-tanda suatu bencana terjadi, itu hanya berupa mitos (cerita rakyat) yang diturunkan oleh nenek moyang.
Termasuk di dalam tim Prof. Hendrawan ilustrator Alia Lesmana ST dari Institut Teknologi Bandung, dan Christian copywriter dari salah satu perusahaan publikasi di Jakarta.
Menurut Prof. Hendrawan, buku tersebut harus selesai pada 17 Februari 2006. Buku itu berisi tentang apa dan bagaimana menghadapi suatu bencana serta kejadian darurat. Terpilihnya Prof Hendrawan ini didasari rekomendasi Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Departemen Pendidikan Nasional atas survei pendidikan pasca-tsunami Aceh yang dilakukan oleh LP3 Unibraw beberapa waktu lalu. [nik]

Ujian Terbuka Disertasi Ir. Eko Murniyanto MP
29 Desember 2005
Program Pascasarjana (PPS) Universitas Brawijaya, Kamis 29/12, menyelenggarakan ujian terbuka disertasi bagi Ir. Murniyanto MP dari Program Studi Ilmu Pertanian dengan kekhususan Ekologi Tanaman. Ujian terbuka ini dipromotori oleh Prof Dr Ir Yogi Sugito, kopromotor Prof Ir Eko Handayanto PhD dan Prof Dr Ir Bambang Guritno, serta para penguji Prof Ir Wani Hadi Utomo PhD, Prof Dr Ir Syamsulbahri MS, Dr Ir Husni Thamrin Sebayang MS, dan penguji luar Dr. Subandi APU.
Dalam ujian itu, kandidat Eko Murniyanto mempertahankan disertasi berjudul "Toleransi Tanaman Umbi-umbian Herba Tegak di Bawah Naungan Tegakan Jati".
Dikatakannya, secara indegenous umbi-umbian herba tegak merupakan sumber karbohidrat alternatif selain padi. Perkembangan industri bahan baku karbohidrat ini dapat meningkatkan nilai ekonomi beberapa tanaman pangan. Ada kemungkinan di masa yang akan datang tanaman ini dapat dimanfaatkan sebagai antibiotika, energi, dan pengganti pangan. Namun pengembangannya menghadapi pada berbagai keterbatasan, seperti ketersediaan lahan, terbatasnya informasi distribusi, karakteristik tanaman, terutama di bawah tegakan jati.
Penelitian Eko Murniyanto ditujukan pada 3 hal, yakni untuk mengetahui distribusi tanaman umbi-umbian herba tegak pada komunitas tegakan jati, mencari spesies yang paling toleran di bawah penaungan, dan pertumbuhan tegakan jati. Hasil penelitian Eko Murniyanto menunjukkan luasnya distribusi tanaman umbi-umbian, yakni tumbuh pada beberapa habitat hingga elevasi 1000 meter di atas permukaan laut, teridentifikasi 3 familia, 6 genus, 14 spesies, dan 17 variasi. Di antara 14 spesies yang teridentifikasi, 5 di antaranya banyak diusahakan untuk dikonsumsi, dan tersebar di dalam tegakan jati. Growth characters tanaman umbi pada keadaan ternaung ditunjukkan oleh nisbah luas daun (LAR), indeks luas daun (LAI), dan laju tumbuh tanaman (CGR). Ditemukan bahwa spesies Xanthosoma sagittifolium mempunyai karakter paling kuat dibandingkan dengan Colocasia esculenta, Amorphophallus campanulatus, Canna edulis dan Maranta arundinaceae.
Disarankan untuk penelitian lanjut atas toleransi di bawah penaungan. Orientasi kloroplas hubungannya dengan sudut datang cahaya. Untuk keperluan praktik, penanaman umbi-umbian di bawah tegakan jati kurang dari 5 tahun seyogyanya tidak melakukan "pewiwilan" tajuk, dan "perompesan" daun yang tumbuh dari mata tunas tidur perlu dilakukan secara berkala untuk menjamin stabilitas cahaya lolos tajuk.
Dalam yudisium pada akhir ujian terbuka, Eko Murniyanto dinyatakan lulus dengan predikat sangat memuaskan (IPK 3,53).
Dr Ir Eko Murniyanto MP, pria kelahiran Demak 48 tahun silam, adalah sarjana agronomi lulusan Unisri (1985), dan magister ilmu tanaman lulusan Unibraw (1995). Karirnya diawali sebagai penyuluh pertanian di Kabupaten Wonogiri (1975-1990), guru STM Pembangunan (Bagian Pertanian) Temanggung (1990-1991), dan terakhir menjadi tenaga pengajar Kopertis Wilayah VI Jawa Tengah di Semarang (1992-sekarang). [nik]

Pelatihan Pembuatan Modul Ajar Multimedia
29 Desember 2005
Perubahan paradigma pembelajaran dari teacher center (dosen aktif) menjadi student center (siswa aktif) menjadikan kegiatan belajar mengajar harus lebih menarik, inovatif, kreatif, dan menyenangkan. Dalam rangka memberdayakan dosen di lingkungan Universitas Brawijaya untuk membuat modul ajar yang interaktif dan menyenangkan, Lembaga Pengkajian dan Pengembangan Pendidikan (LP3) Universitas Brawijaya dengan dukungan Direktorat Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional, menyelenggarakan pelatihan pembuatan modul ajar multimedia, Kamis (29/30) di gedung LP3.
Kegiatan yang diikuti oleh puluhan dosen dari semua fakultas ini menghadirkan narasumber Jasmadi STP seorang praktisi bidang IT yang banyak menerbitkan buku, serta Winastwan Gora S ST dari Unissula Semarang. Ketua LP3 Prof. Hendrawan Soetanto menyatakan bahwa program ini nantinya akan menjadikan Universitas Brawijaya melalui Unit Jasa dan Industri LP3 sebagai pusat produksi bahan ajar multimedia. Bahan ajar yang dibuat adalah bahan ajar dengan judul-judul yang memiliki nilai jual, serta dapat dimanfaatkan oleh dosen dan mahasiswa.
Beberapa materi yang diajarkan meliputi "Pengantar: Konsep pembuatan buku, konsep pengembangan media interaktif", "Produksi CD Multimedia Interaktif, Pembuatan Skenario Sederhana, Proses Pengambilan Gambar, dan Capture Video",
"Penyusunan Bahan Ajar dengan Macromedia Captivate, Memasukan Video, PowerPoint, dan Narasi dalam CD Interaktif, Membuat Kuis, Tampilan Menu, Distribusi Bahan Ajar ke Format CD, serta materi "Teknik Editing dan Layout Pembuatan Buku, Membuat Template Buku dan Style, serta Membuat Daftar Isi".[nik]

Ujian Terbuka Disertasi Drs. Hendri Sukotjo MM
28 Desember 2005
Program Pascasarjana Universitas Brawijaya, Rabu 28/12, menggelar ujian terbuka disertasi bagi Drs. Hendri Sukotjo MM. Kandidat doktor dari Program Studi Ilmu Ekonomi dengan minat Manajemen ini membawakan disertasi berjudul "Pengaruh Orientasi Riset Pemasaran, Komitmen Manajemen, Pemasaran Internal dan Kepuasan Kerja terhadap Kualitas Pelayanan, Kepuasan Pelanggan, dan Loyalitas Pelanggan Perguruan Tinggi Swasta di Jawa Timur".
Bertindak sebagai promotor Prof Drs MS Idrus MEc PhD, didampingi Dr Agus Suman SE DEA dan Dr Ir Nuhfil Hanani AR MS selaku ko-promotor. Para penguji Unibraw terdiri dari Prof Dr Djumilah Zain SE, Prof Dr Bambang Swasto ME, Dr. Armanu Thoyib SE MEc, sedangkan dari luar Unibraw Prof Dr Soedjono Abipradja.
Peningkatan jumlah perguruan tinggi swasta (PTS) dalam dekade terkahir berdampak pada persaingan yang semakin ketat. Masing-masing PTS berusaha menarik, memelihara, bahkan berebut pelanggan (mahasiswa). Penelitian disertasi Hendri mengambil sampel 31 PTS di Jawa Timur, diwakili 3 kota yaitu Surabaya, Malang, dan Jember. Untuk menganalisis data, dipergunakan structural equation modelling (SEM) dibantu dengan progam AMOS (analysis of moment structures). Hasil analisis antara lain menunjukkan orientasi riset pemasaran, komitmen manajemen dan kepuasan kerja berpengaruh langsung, positif dan signifikan terhadp kualitas layanan yang dirasakan peelanggan, dan kepuasan pelanggan. Selain itu, pemasaran internal berpengaruh langsung, negatif, signifikan terhadap kualitas layanan dan kepuasan pelanggan.
Pada bagian akhir disertasi, Hendri memberikan sejumlah saran untuk penyedia jasa PTS agar melakukan riset pemasaran secara periodik yang berfokus pada kualitas layanan. Tujuannya untuk memperkecil kesenjangan antara persepsi penyedia jasa dengan harapan pelanggan atas kualitas layanan. Di samping itu disarankan adanya keteladanan dari pimpinan penyedia jasa PTS untuk selalu berkomitmen tinggi pada peningkatan kualitas layanan sesuai harapan pelanggan, sehingga dapat dicontoh oleh staf baik dosen maupun karyawan di lembaganya.
Hasil yudisium menyatakan, Hendri Sukotjo lulus dan berhak menyandang gelar doktor dalam ilmu ekonomi dengan predikat memuaskan (IPK 3,39, masa studi 4 tahun 4 bulan).
Dr. Hendri Sukotjo MM, pria kelahiran Probolinggo 42 tahun silam, adalah dosen Fakultas Ekonomi Universitas Tujuhbelas Agustus (Untag) Surabaya sejak 1987, lulusan S1 Fakultas Ekonomi Manajemen Untag Surabaya (1986), S2 Magister Manajemen Universitas Gadjah Mada (2001). [Far]

Semiloka Optimalisasi Peran DPD
28-29 Desember 2005
Dewan Perwakilan Daerah (DPD) merupakan lembaga negara baru yang dihasilkan amandemen ketiga UUD 1945. DPD merupakan jelmaan dari representasi regional. Secara esensial DPD sesungguhnya untuk memberikan kontrol daerah kepada kebijakan pemerintah pusat. Posisi DPD secara normatif tidak signifikan. Mekanisme pemilihan DPD pada Pemilu 2004 dirasa lebih sulit jika dibandingkan pencalonan legislatif. Keberadaan DPD merupakan kanalisasi untuk mewujudkan desentralisasi, yaitu dengan memberikan peran kepada daerah untuk maju dengan mengelola sumber daya dan sumber dana di daerah semata-mata demi mewujudkan kesejahteraan rakyat di daerah bersangkutan. Adanya DPD akan meningkatkan posisi tawar pemerintah daerah dalam memperjuangkan aspirasi daerah secara langsung di tingkat pusat.
Hal-hal tersebut nampak bertolak belakang dengan praktik sistem politik kita saat ini. DPD dianggap seperti macan ompong karena dianggap tidak mampu berbuat banyak dalam memperjuangkan kepentingan daerah. Salah satu problem eksistensial DPD adalah UUD 1945. Meski telah diamandemen 4 kali, masih dijumpai pasal-pasal yang mengkerdilkan DPD, khususnya pasal 22D ayat (2) yang menyatakan “DPD hanya sebatas ikut membahas rancangan UU yang berkaitan dengan otonomi daerah dan tidak memiliki hak “vote”.
Adakah sisi lain yang menjadi faktor penghambat DPD untuk mengoptimalkan fungsi dan perannya di lembaga legislatif?
Pertanyaan ini sangat penting untuk dieksplorasi agar dapat ditemukan sisi internal dan eksternal dalam tubuh DPD RI yang menjadi penghambat dalam proses demokratisasi tersebut. Hal inilah yang menjadi latar belakang bagi PP Otoda (Pusat Pengembangan Otonomi Daerah) Fakultas Hukum Universitas Brawijaya untuk menyelanggarakan Seminar dan Lokakarya bertajuk “Optimalisasi Peran DPD RI dalam Menyuarakan Aspirasi dan Keterwakilan Daerah. Kegiatan ini akan diselenggarakan pada Rabu dan Kamis (28-29/12) di Gedung PPI Universitas Brawijaya.
Diundang sebagai pembicara dalam semiloka tersebut Priyatmoko MSi dan Drs. H. Mardjito anggota DPD Dapil Jawa Timur dengan tajuk “Optimalisasi Peran DPD untuk Menyuarakan Aspirasi dan Kepentingan Daerah” serta Dr. Soekarwo dan Ibnu Tricahyo SH MH dengan tajuk “Memperkuat Peran DPD Rubahan Peraturan Perundang-Undangan yang Berkaitan dengan DPD”. Selanjutnya acara ini akan dibagi dalam 2 sidang komisi. Komisi I membahas “Optimalisasi Peran DPD Untuk Menyuarakan Aspirasi dan Kepentingan Daerah” yang difasilitasi oleh Emanuel Sudjatmoko SH MH, sedangkan Komisi II membahas “Gagasan Perubahan Peraturan Perundang-Undangan yang Berkaitan dengan DPD” yang difasilitasi oleh Didik Widitrismiharto SH MH.
***
Pemaparan Drs. H. Mardjito dari Dapil Jawa Timur, menungkap kondisi kekinian DPD, permasalahan eksistensi serta kewenangan DPD yang masih jauh dari yang diharapkan. Sementara itu, hakim Mahkamah Konstitusi Prof. A. Mukhtie Fadjar dalam makalah bertajuk “Dewan Perwakilan Daerah: Persoalan Eksistensi, Kompetensi dan Regulasi”, menyatakan desain konstitusional sistem perwakilan kita berada dalam keraguan, antara unikameral dan bikameral, sehingga sosok DPD memang sudah “banci” bawaan atau hanya “pelengkap penyerta”. “Sebagai akibat desain eksistensial yang mengambang ini, maka kompetensi DPD pun hanya periferal, sekedar lembaga pertimbangan bagi DPR dalam proses legislasi dan hanya fakultatif dalam pengawasan dan hak budget”, ungkapnya dalam makalah.
Sedangkan Ibnu Tricahyo mencetuskan gagasan untuk memperkuat peran DPD melalui pembaharuan perundang-undangan. Menurutnya, dalam hal penyempurnaan atau sinkronisasi UUD hasil amandemen untuk mengusulkannya dituntut untuk menggandeng partai agar tercapai 1/3 jumlah anggota MPR dan untuk mengubahnya dibutuhkan dukungan partai untuk mencapai 50% ditambah satu dari jumlah anggota MPR.
Sebagai satu bentuk kerjasama dalam MPR, Prof. Dr. Philipus M. Hadjon SH (staf pengajar Fakultas Hukum Universitas Airlangga, membawakan makalah berjudul “Eksistensi, Kedudukan, dan Fungsi MPR sebagai Lembaga Negara dalam Sistem Ketatanegaraan Republik Indonesia”. Merujuk pada sebuah buku karya Prof Bagir Manan bahwa kekuasaan tanpa batas sebagaimana pernah dimiliki oleh MPR di masa lalu dilarang oleh UUD, karena terbukti bahwa kekuasaan itu digunakan untuk melanggar UUD. Prof. Philipus mengatakan: “Keberadaan MPR sangat unik, karena lembaga semacam ini sulit dicari bandingannya di negara manapun”. Menganalisis masalah kedudukan MPR, Philipus menyodorkan model konstitusi Jerman yang membedakan state organ dengan constitusional organ. MPR dalam hal ini merupakan satu keterwakilan bentuk constitusional organ mengingat kewenangannya diberikan langsung oleh UUD. “Kewenangan yang paling utama tersebut adalah mengubah dan menetapkan UUD”, ungkapnya. Dengan kedudukan MPR seperti saat ini yang memiliki struktur yang terdiri dari anggota DPR dan Anggota DPD seperti dalam Pasal 2 ayat (1) UUD, menurutnya dibutuhkan pengkajian mendalam terhadap isu utama untuk menjadikan MPR sebagai perwakilan dalam sistem bikameral guna mendukung efisiensi dan efektivitas penyelenggaraan negara. Disampaikan pada akhir makalahnya bahwa guna meningkatkan peran MPR sebagai lembaga negara dalam kehidupan bernegara hanya dat dilakukan dengan merubah sistem perwakllan sekarang yang tidak jelas sistemnya menjadi bicameral system di mana kedudukannya membawahi DPR dan DPD. [nok]

Training dan Workshop KBK
27-28 Desember 2005
Puluhan peserta dari universitas di wilayah Jawa, Bali, Nusa Tenggara, dan Sumatra telah mengikuti training dan workshop Penyusunan Rencana Pembelajaran di Perguruan Tinggi Berbasis Kompetensi, 27-28 Desember 2005. Kegiatan yang berlangsung di Hotel Kusuma Agro Wisata, Batu, ini dibuka oleh Pembantu Rektor I Prof. Dr. Ir. Yogi Sugito dan dihadiri Direktur Pendidikan dan Kemahasiswaan Ditjen Pendidikan Tinggi Prof.Dr.Ir. Soepeno Djanali.
Hadir sebagai pemateri Dr. Ir. Illah Sailah MS dari IPB, Ir. Endro Tomo dari ITS, Dra. Marisa MPd dari PAU-UT, dr. Andi Ansharullah DAAK serta Prof. Dr. Ir. Hendrawan Soetanto MRur.Sc dari Universitas Brawijaya.
Menurut Ketua LP3 Hendrawan Soetanto, kegiatan yang terselenggara atas kerjasama LP3 Unibraw dengan Bagpro Peningkatan Kualitas Sumber Daya Manusia (PKSDM) Dikti Depdiknas, bertujuan menarik benang merah mengenai apa yang harus dilakukan dosen dalam melakukan pendidikan berbasis kompetensi.
Dalam sambutannya Prof Yogi Sugito menyatakan bahwa pelaksanaan KBK di perguruan tinggi di Indonesia sangat penting dan harus segera dilaksanakan agar lulusan mampu bersaing dengan lulusan luar negeri. Sementara itu Soepeno Djanali menyatakan bahwa bentuk perguruan tinggi di Indonesia tidak sama satu sama lain. Perbedaan dalam hal jumlah bidang ilmu dan hirarki dari tingkat perguruan tinggi sampai unit akademik dasar merupakan salah satu aspek identitas perguruan tinggi. Oleh karena itu maka, selain kompetensi bidang ilmu yang bersifat universal, terdapat juga kompetensi yang bersifat lokal perguruan tinggi, sesuai visi dan misi yang ditetapkan. Hal ini berarti bahwa pembuatan kompetensi bidang ilmu di suatu perguruan tinggi dengan proses mencontoh, akan tidak sesuai dengan identitas yang seharusnya dimiliki oleh perguruan tinggi.
Dalam rangka sosialisasi lebih lanjut mengenai konsep KBK dan implementasinya, peserta pelatihan mengeluarkan beberapa rekomendasi. Di antaranya adalah untuk dapat mengimplementasikan KBK seoptimal mungkin, seorang dosen seyogyanya harus memiliki kepribadian seperti open mind atau mampu mengelolakritik, inovatif, kreatif dan konstruktif. Dosen harus antisipatif terhadap perubahan dan mampu memposisikan diri pada fungsi multi peran sebagai tutor, motivator, fasilitator, dan resource person. Selain itu dosen juga harus memiliki kecerdasan emosional, mampu berinteraksi dengan lingkungan, bekerjasama dengan semua pihak, mampu mengelola pengalaman dalam proses pembelajaran, serta menguasai dan memahami disain kurikulum termasuk delivery kurikulum.[nik]

Radio Penyuluhan FP Mengudara
Selasa, 27 Des 2005
Setelah empat tahun vakum, awal pekan lalu radio Kaswara (Karya Swadaya Agri Ressisonia) milik Program Studi Komunikasi dan Pemberdayaan Masyarakat Fakultas Pertanian (KPM-FP) Unibraw kembali mengudara. Sebelumnya, radio tersebut bernama Agri FM.
Kini, bukan hanya nama yang berubah, jangkauannya juga makin luas. Bahkan bisa didengarkan hingga Kota Batu. Radio dengan frekuensi 93,5 Mhz ini menyiarkan berbagai program. Di antaranya program education yang mengulas tentang informasi pendidikan. Baik internal maupun eksternal kampus.
Menariknya, meski radio ini tergolong radio kampus, namun menyiarkan lagu-lagu campur sari. "Karena radio ini merupakan salah satu sarana praktikum mata kuliah penyuluhan pertanian. Karena itu kami mencoba menyiarkan lagu yang relatif disenangi petani agar informasi yang kami sampaikan bisa diterima oleh petani," terang Koordinator Kaswara Rio Despantoro.
Menurut Rio dengan diudarakannya radio di studio penyuluhan ini akan dapat meningkatkan kualitas mahasiswa. "Karena saya rasa teori dari meja kuliah saja tidak cukup, harus dengan aplikasi langsung. Selain itu dengan belajar menjadi penyiar, mahasiswa dapat mengembangkan talentanya," ungkap Rio.
Siaran radio yang dilakukan langsung oleh mahasiswa FP ini dapat didengarkan masyarakat mulai jam Masyarakat dapat mendengarkan 07.00-17.00. Namun studio radio ini menurut Rio juga masih memiliki kekurangan karena belum dilengkapi dengan telephon. "Karena itu pendengar harus bersabar, mungkin tahun depan telepon baru terpasang dan pendengar bisa berinteraksi langsung," ujar mahasiswa PKM-FP angkatan 2002 ini. [skm] http://www.jawapos.co.id/index.php?act=detail_radar&id=111850&c=88

Dr Ir Lily Agustina MS: Pertanian Organik adalah Masalah Hati
27 Desember 2005
Pertanian organik memerlukan penanganan yang integratif dari berbagai stakeholder dalam satu kesatuan koordinasi yang rapi dan kuat, baik di tingkat desa maupun nasional. Pertanian organik adalah masalah hati. Manusia (petani) sebagai pelaku, juga harus memikirkan secara arif dan bijaksana, dalam mengolah dan memanfaatkan kekayaan hayati, yang telah diberikan oleh sang pencipta untuk kelangsungan hidup manusia. Demikian ungkap Dr. Ir. Lily Agustina MS, dosen senior program studi hortikultura Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya, penerima Maporina Award, ketika ditemui di ruang kerjanya Selasa (27/12).
Lily Agustina adalah satu dari delapan penerima penghargaan dari Masyarakat Pertanian Organik Indonesia (Maporina) dalam workshop dan kongres nasional II Maporina, di Jakarta (21/12). Kedelapan orang tersebut berasal dari kalangan wartawan, badan sertifikasi, birokrasi, peneliti, pemerintah, petani, pengusaha, dan praktisi. Penghargaan diserahkan oleh Sekjen Departemen Pertanian Dr Ir Hasanuddin Ibrahim.
Dalam karya tulis berjudul “Peran Perguruan Tinggi dalam Perkembangan Pertanian Organik di Indonesia”, yang memenangkan penghargaan, Lily Agustina mengungkapkan segala aktivitas yang dilakukan Kajian Sistem Pertanian Organik (Kasistanik) Pusat Studi Lingkungan Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya sejak 2002 hingga sekarang.
Seperti dikemukakan dewan juri yang terdiri dari Prof.Dr. Bunasor Sanim MSc, Prof. Dr. Prijono Tjiptoherijanto MA, dan Basofi Sudirman, salah satu alasan mengapa penghargaan ini layak diberikan adalah kontribusi yang sangat besar baik sebagai
pribadi maupun institusi terhadap pertanian organik.
Lily Agustina menambahkan bahwa agar “Go Organic 2010” yang dicanangkan pemerintah berhasil, pemerintah harus segera memetakan daerah di wilayah Indonesia yang masih virgin dari pupuk kimia sintesis dan memberdayakannya secara arif. Nunukan dan Ternate merupakan daerah yang masih bersih dari zat kimia (pupuk anorganik). Pertanian organik, memungkinkan usaha kecil Indonesia menjaga ketahanan pangan rumah tangga dan penghasilan yang cukup sambil meregerasi tanah, memperoleh kembali keanekaragaman hayati, dan menyediakan pangan bermutu bagi masyarakat lokal.
Untuk itu, strategi yang harus dilakukan dalam membangun pertanian organik di Indonesia menurut Lily di antaranya adalah (1) membentuk tim terpadu yang terdri dari petani/produsen, pedagang, pemerintah, eksportir dan LSM, (2) menetapkan out let dan penjamin pasar produk organik di tingkat nasional dan lokal, sertifikasi serta labelling, (3) pemetaan sentra produksi, (4)
pembentukan pokja yang salah satu tugasnya adalah menghimpun hasil penelitian dan rekomendasi, (5) penanganan jaringan komunikasi dan informasi mengenai pertanian organik, serta (6) memberikan kurikulum pertanian ramah lingkungan mulai tingkat SMP hingga perguruan tinggi. [nik]

Carek Saling Curi Suara
Senin, 26 Des 2005
Umar-Yogi-Djanggan Mengerucut Tiga Besar.
Meski pertimbangan final senat Unibraw baru dibentang Sabtu 31 Desember ini, namun para carek (calon rektor) sudah pasang kuda-kuda sejak awal. Kabar yang beredar, mereka mulai mengadakan lobi intern dan pendekatan langsung pada anggota senat agar mendukungnya. Bahkan, saking gencarnya lobi-lobi itu, tim sukses beberapa calon juga melakukan lobi lintas golongan.
Sumber koran ini mengungkapkan, tim sukses para carek tidak hanya menggunakan cara normal untuk mendapatkan kekuatan, aroma money politics pun telah tercium di tubuh senat universitas. Hanya saja, hingga kemarin belum ada satu pun anggota senat yang mau buka suara tentang kondisi itu. Bahkan, sebagian hanya menanggapi kabar itu sebagai isu untuk menyudutkan salah satu carek. "Benar atau tidak, itulah kondisi yang terjadi di kampus ini. Intinya, pilrek ini sudah tidak murni lagi," ungkap salah satu anggota senat yang enggan dikorankan namanya.
Bisa jadi, lobi terang-terangan itu mereka lakukan didasari oleh statemen Ketua Senat Unibraw Prof Dr Ir Bambang Guritno yang membolehkan lobying di tingkat senat. Apalagi, suara senat sangat menentukan nasib kelima carek tersebut. Sebab, dari sanalah akan ditentukan tiga besar yang akan diajukan ke Mendiknas. "Bukan hanya Pak Bambang saja yang sudah dilobi, saya pun sempat didatangi tim sukses kelima carek. Itu hal yang biasa," ucap PR II Unibraw Prof Dr H Moch Munir SH.
Sementara, sumber lain mengatakan, walau pun lobi-lobi yang dilakukan para carek sangat kuat, mereka tetap memiliki kans sama menuju kursi rektor. Hanya saja, jika diukur dari jumlah anggota senat dari masing-masing fakultas, tampaknya Prof Yogi Sugito bakal mengguli empat carek yang lain (Soekartawi, Budiono Mismail, Djanggan Sargowo, Umar Nimran). Dari total jumlah anggota senat yang mencapai 116, kemungkinan besar Yogi akan mampu mendulang 48 suara maksimal. Perhitungan itu, didasarkan dari massa Yogi yang ada di tiga tempat. Masing-masing Fapet (14 suara senat), FP (28 suara senat), dan Faperik (6 suara senat).
"Jika di tiga fakultas ini semua guru besar dan doktor yang menjadi anggota senat bulat mendukungnya, maka otomatis Yogi-lah yang akan berhasil menduduki peringkat teratas dalam pertimbangan senat," ungkap sumber itu.
Meski masih prediksi, namun besar kemungkinan Yogi berhasil mendulang suara tersebut. Terlebih, di level penjaringan Sabtu 17 Desember lalu, guru besar FP ini juga berhasil memperoleh suara maksimal di tiga fakultas tersebut. Hanya saja, yang harus diwaspadai, suara senat dari tiga fakultas itu masih bisa terpecah. "Ingat, dalam penjaringan 17 Desember lalu, Pak Yogi juga berbagi suara dengan Pak Umar. Bahkan, suara keduanya hanya berbeda tipis," kata dia.
Apalagi, jika didasarkan pada latar belakang masing-masing anggota senat yang ada di dalamnya, mereka umumnya loyalis Umar yang tentunya juga tidak mau kecewa jika jagonya dikalahkan calon lain. Karena itulah, walau pun berhasil menang di atas kertas, Yogi harus ekstra waspada menjaga kesolidan suara senat yang akan bermuara padanya. Termasuk, mengantisipasi kemungkinan masuknya oknum yang mengaku-ngaku sebagai pendukung, tapi akhirnya melakukan pembelotan.
Jika Yogi berhasil mendulang suara maksimal, lain dengan Umar, di atas kertas Umar diprediksi akan mendulang maksimal 35 suara. Jumlah itu berasal dari kantong-kantong Umar yang selama ini bulat mendukungnya. Masing-masing FIA (15 suara senat), FE (12 suara senat), dan FH (8 suara senat). Agar berada di posisi aman, selain menjaga suara di atas, Umar juga harus mampu mengumpulkan dukungan lebih banyak lagi. Terutama, loyalisnya yang berada di fakultas non sosial.
Sedang, Djanggan sendiri tampaknya hanya akan mendulang 20 suara. Masing-masing dari FT (7 suara senat) dan FK (12 suara senat). Walau pun hanya 20 suara, namun peluang baginya mengumpulkan dukungan masih cukup terbuka. Sebab, banyak juga loyalis Djanggan yang tersebar di beberapa fakultas selain FK dan FT.
Bagaimana dengan Budiono dan Soekartawi? Tampaknya, Budiono dan Soekartawi hanya akan mendapat suara sisa dari fakultas-fakultas di atas. Masing-masing dari FMIPA dan FTP yang total suara senat mencapai 14 suara. Hanya saja, tampaknya tetap berat bagi mereka untuk mengatrol perolehan suara senat. Alasannya, karena mereka tidak cukup kuat melakukan lobying tingkat senat. Bahkan, Soekartawi sendiri sempat mengaku tidak akan melakukan lobi kepada anggota senat.
"Walau pun di atas kertas kondisinya seperti itu, semuanya tetap memiliki peluang sama kuat. Tinggal cara masing-masing calon semakin memperkuat posisinya," tandas sumber itu.
Sementara, menanggapi kemungkinan itu, baik Umar maupun Yogi tidak banyak bereaksi. Umar sendiri mengatakan tidak akan ngoyo untuk merebut kursi rektor dan akan mengikuti semua mekanisme yang dijalankan. Termasuk, kemungkinan senat yang tidak akan melakukan musyawarah mufakat dalam mengawal suara terbanyak di level penjaringan arus bawah. "Lobi, biasalah persoalan itu. Tapi saya tidak akan ngoyo, semua saya serahkan pada Tuhan," tandas Umar.
Bagaimana dengan Yogi? Sependapat dengan Umar, Yogi pun pasrah dengan mekanisme yang akan dipilih senat nantinya. Hanya saja, dia cukup optimistis bisa melaju pada tiga besar 31 Desember mendatang. Syukur-syukur menduduki urutan teratas dalam tiga besar itu. "Optimis, ya harus. Bukan hanya saya, semua calon pasti juga memiliki harapan sama, yakni ingin menjadi orang nomor satu di Unibraw," kata dia.
Terlebih, lanjutnya, pertimbangan pada level senat tidak akan menerapkan musyawarah mufakat mengingat kepentingan yang dibawa masing-masing calon. Dengan begitu, kemungkinan voting yang akan diambil semakin menguntungan posisi Yogi.
Begitu juga Djanggan Sargowo, karena para carek gencar menggalang kekuatan, dia pun tidak mau ketinggalan. Sebatas usaha yang dilakukannya masih dalam taraf normal dan tidak memojokkan carek yang lain, lobying tetap dilakukannya. "Saya rasa tidak salah jika masing-masing carek melakukan lobi. Apalagi, suara senat sangat menentukan," tandasnya. (nen)
http://www.jawapos.co.id/index.php?act=detail_radar&id=111684&c=88

Lebih Akrab dengan Prof Djanggan, Direktur PPs dan Carek Unibraw
Minggu, 25 Des 2005
Kualitas Akademis Oke, Kesejahteraan Karyawan Yes.
Tidak berbeda dengan calon rektor-calon rektor lain, Prof Dr dr H Djanggan Sargowo SpPD SpJP (k) pun telah menyusun rencana kerja untuk memajukan Unibraw. Khususnya menjadikan Unibraw berdaya saing tinggi dan terkemuka dalam bidang pendidikan, penelitian, serta pemberdayaan masyarakat. Apa prioritas utama Direktur Pasca-sarjana ini membawa Unibraw ke arah sana? Apa pula pandangan dan langkah-langkah yang akan ditempuh dalam upaya membesarkan Unibraw? Berikut petikan wawancara dengan Prof Dr H Djanggan Sargowo dr SpPD SpJP (k).
---
Setelah memaparkan visi, misi, dan program kerja di hadapan senat Unibraw, apakah ada perubahan mendasar dari program kerja yang telah disusun?
Sama sekali tidak. Hanya saja, masukan, saran, dan kritik yang disampaikan anggota senat sangat berarti bagi saya. Bahkan, semua itu semakin menguatkan visi, misi, maupun program kerja yang telah saya susun. Intinya, ke depan, saya tetap menerapkan skala prioritas. Karena itu juga, saya mengaturnya dalam program kerja jangka pendek (satu tahun) dan program kerja jangka panjang (4 tahun).
Apa saja program kerja tersebut?
Seandainya terpilih sebagai rektor nanti, satu tahun ke depan saya akan merevitalisasi lembaga yang ada. Dalam hal ini, saya tekankan pada jurusan dan sistem di sana. Kenapa jurusan? Sebab, di sanalah tempat kegiatan ilmiah berlangsung, riset, proses belajar mengajar (PBM), sampai publikasi.
Langkah konkretnya?
Untuk mengoptimalkan kinerja jurusan, tentu saja sistem terlebih dulu dibenahi. Terutama memberikan kebebasan atau otonomi serta peluang sebesar-besarnya pada setiap jurusan. Saya juga akan melengkapi jurusan dengan sistem informasi yang benar-benar canggih. Yang penting lagi, jika memungkinkan, saya akan membalik sistem pendanaan yang berlaku di sana. Sebab, selama ini, kontribusi dana pada jurusan sangat minim sekali. Jika diprosentase, hanya sekitar 40 persen dari total dana yang diterima fakultas. Idealnya, jurusan harus mendapat lebih banyak karena yang dikembangkan juga banyak.
Lantas, jangka pendeknya?
Dalam jangka pendek, saya akan berusaha meningkatan kualitas dan kesejahteraan staf akademis, karyawan, dan mahasiswa. Khusus untuk mahasiswa kulitas biofisik, SPP, dan beasiswa menjadi target utama.
Bagaimana dengan program kerja jangka panjang?
Yang jelas, secara kelembagaan, saya akan terus berusaha meningkatkan kualitas dan mengejar status otonomi kampus. Sebab, hanya dengan otonomi inilah Unibraw bisa bergerak lebih leluasa. Termasuk dalam mencari sumber dana dari sektor non-pemerintah. Selain itu, yang juga menjadi fokus adalah penggarapan SDM. Yaitu, dengan memberikan peluang serta fasilitas anggaran terstruktur bagi seluruh dosen untuk menempuh pendidikan S2 dan S3.
Untuk karyawan dan dosen sendiri?
Bagi karyawan, langkah yang saya tempuh adalah dengan memberikan pendidikan profesional. Saya ingin, pengembangan kualifikasi saintis dosen terus menanjak. Jika 2005/2006 lulusan S1 sebanyak 24 %, S2 56%, S3 15%, dan spesialis 5%, diharapkan 2009/2010 mendatang grafik harus menunjukkan piramida terbalik. Dengan begitu, lulusan S3 dan S2-nya menempati porsi 40% dan 45 %. Dengan tenaga pendidik yang mumpuni dan sarat pengalaman, saya yakin pengembangan Unibraw ke depan tidak sulit.
Selain dua program kerja di atas, apakah ada target lain yang ingin Anda wujudkan jika terpilih nanti?
Sebenarnya, banyak sekali yang ingin saya wujudkan agar Unibraw ini semakin maju dan berkualitas. Tidak hanya dari segi akademis saja, tapi juga kesejahteraan karyawan dan semua civitas Unibraw. Namun, dalam hal ini ada satu persoalan yang membuat saya benar-benar miris.
Mirisnya di mana?
Unibraw memiliki banyak sekali pegawai dan karyawan serta dosen. Sedang, sebagian besar dari mereka adalah pegawai honorer dengan gaji sangat minim. Untuk hidup saja sangat pas-pasan, apalagi untuk menunjang kesehatan mereka. Karena itulah, saya akan memberdayakan askes di kampus juga akan dibangun puskesmas raksasa atau hospital akademik. Dengan begitu, biaya kesehatan bisa diperkecil sedang kesehatan terjamin.
Berbicara soal kualitas saja sepertinya tidak cukup. Apa parameter Anda untuk mengukur semua program kerja di atas hingga bisa dikategorikan sukses?
Parameter itu pasti ada. Untuk mahasiswa, yang jelas screening masuk nilai mata pelajarannya harus tinggi. Diharapkan juga, semua mahasiswa baru sudah memiliki TOEFL. Agar ini terwujud, kami akan sosialisasi pada seluruh siswa SMA kelas 3 tentang pentingnya TOEFL. Sehingga, begitu masuk PT (perguruan tinggi), salah satunya Unibraw, mereka memiliki bekal yang cukup. Di samping itu, kurikulum yang ada harus link and macth dengan keinginan pasar. Sehingga, ketika lulus nanti, mahasiswa tidak bingung dengan pekerjaan, karena pekerjaan otomatis membutuhkan.
Itu tadi parameter input, bagaimana dengan output-nya?
Soal parameter output, tentu saja mahasiswa harus bisa tepat waktu dan meraih IPK tinggi. Untuk fakultas, tentu saja tenaga edukatif sebagai parameternya. Dalam hal ini berapa penelitian yang telah dihasilkan, berapa HaKI (hak atas kekayaan intelektual) yang telah mereka kantongi. Parameter ini juga ditentukan oleh layanan karyawan dalam hal total quality manajemen. Dalam kurun 24 jam, semua layanan sudah harus terselesaikan.
Apa Anda cukup yakin semua itu akan terwujud dan berjalan sukses?
Optimisme pasti. Tanpa keyakinan, percuma saja kita memiliki angan-angan dan program kerja tinggi. Hanya saja, yang perlu digarisbawahi, rektor tidak bekerja sendiri. Karena itulah, untuk menerapkan semua itu saya akan menggunakan gaya kepemimpinan kolektif. Artinya, semua komponen ikut bertanggung jawab memajukan kampus ini. Keberhasilan bukan di tangan rektor saja. Dalam hal ini, rektor sebagai manajer yang harus bisa memegang prinsip the right man on the right place. Jika nanti ada salah satu sektor yang terancam gagal, maka harus dilakukan evaluasi pada komponen bersangkutan. Apakah orangnya yang salah atau sistemnya yang keliru. Selama itu bukan tekanan politis, saya yakin lokomotif kepemimpinan berjalan dengan baik. [nen]
--
Riwayat Hidup
Nama Lengkap: Prof Dr H Djanggan Sargowo dr SpPD SpJP (k)
Pangkat/golongan: Pembina utama/IV E
Jabatan akademik: Guru besar
Jabatan birokrasi: Direktur Program Pasca Sarjana Unibraw
Tempat/tanggal lahir: Sragen, 21 September 1947
Bidang/minat keahlian: Penyakit dalam dan jantung spesifikasi atherosclerosis dan lipid
Pendidikan: S1 Kedokteran UGM (1974), S2 Kedokteran UGM, S3 Kedokteran Unair (1996); Spesialis: Kedokteran UI (1983), Kedokteran Unair (1989)
Istri: Etty Retnotitisari SH
Anak: Dianing Wahyu Primasari ST, Habsari Retno Dewanti (FK Unibraw semester VII)
Jabatan lain: Ketua IDI (ikatan dokter Indonesia) Malang Raya, Ketua Perhimpunan Ahli Cardiovascular (Jantung) Indonesia, Ketua yayasan Jantung Indonesia, Ketua klub jantung sehat Malang Raya, Ketua colegium cardio vascular Indonesia, Tim dokter kepresidenan.

Poliklinik Unibraw Direncanakan Segera Pindah
24 Desember 2005
Poliklinik Universitas Brawijaya, dalam waktu dekat akan dipindahkan dari lokasi lama. Perpindahan tersebut direncanakan pada bulan Januari 2006, dan sekaligus mengadakan perubahan manajemennya.
Selama ini, Poliklinik Unibraw menempati sebuah bangunan di bekas lokal Fakultas Pertanian (lama) di antara bangunan gedung Fakultas Ilmu Administrasi dan Fakultas Teknik. Sedangkan lokasi baru bagi Poliklinik Unibraw adalah gedung di depan BRI Unit Unibraw yang telah selesai direnovasi.
"Sampai saat ini hal yang terpikir oleh kami adalah bagaimana meningkatkan pelayanan kami", ujar Dr. dr Endang Sri Wahyuni MS, salah satu dokter poliklinik. Beberapa gagasan untuk meningkatkan pelayanan poliklinik muncul dalam pertemuan yang diadakan pada Sabtu (24/12) yang dihadiri oleh para dokter dan staf Poliklinik serta pejabat dari Bagian Kemahasiswaan Unibraw. Dari pertemuan tersebut juga muncul gagasan untuk mengadakan asuransi bagi mahasiswa sebagai jaminan kesehatan. "Tapi ini kan baru rencana semua tergantung dari pihak Rktorat bagaimana nanti teknis penyerahannya ke kami," Dr. Endang Sri Wahyuni menegaskan. [vty]

Prof Dr Ir Yogi Sugito, Prioritas dan Program Kerjanya Memajukan Unibraw
Sabtu, 24 Des 2005
Buat Payung Penelitian, Sehatkan Organisasi dengan ICT.
Tekad dan komitmen Prof Dr Ir Yogi Sugito memajukan Unibraw menjadi alasan terpenting yang membuatnya maju dalam bursa pilrek. Bahkan, untuk tujuan yang satu itu, Yogi telah membuat program-program baru selain meneruskan program rintisan yang telah digagas Rektor Unibraw Prof Dr Ir Bambang Guritno. Jika terpilih nanti, guru besar FP Unibraw ini berjanji akan totalitas membawa Unibraw menjadi PTN bertaraf internasional. Apa saja programnya? Berikut petikan wawancara dengannya.
---
Besok (hari ini, Red) adalah sesi pemaparan program kerja seluruh carek di depan senat Unibraw. Program apa yang Anda tawarkan untuk memajukan kampus ini?
Banyak sekali program kerja yang saya tawarkan. Baik itu program baru rintisan, maupun program lanjutan rektor Unibraw yang sekarang. Jika dijabarkan, program tersebut terkait erat dengan upaya saya membenahi kelembagaan (organisasi dan manajemen), kepemimpinan, pendidikan, penelitian dan pengabdian pada masyarakat, keuangan, kepegawaian, kemahasiswaan dan alumni, kerjasama, serta melengkapi sarana prasarana.
Dari beberapa bidang di atas, inovasi apa yang menjadi prioritas Anda?
Penataan organisasi dan manajemen menjadi masalah yang tidak bisa ditawar-tawar lagi. Sebab, keduanya menjadi bahan peletakan dasar Unibraw. Tanpa manajemen dan organisasi yang rapi dan matang, mustahil kampus ini akan bergerak maju. Karena itulah, sebelum benar-benar berangkat mengantarkan Unibraw menembus batas nasional, pertama kali yang saya lakukan adalah menyehatkan organisasi dan manajemen dengan memanfaatkan ICT (information and communication technology). Baru, setelah itu akan ada gebrakan-gebrakan yang lebih riil. Di antaranya, segera mewujudkan resource sharing dengan instansi lain, yakni sebuah langkah untuk menutupi keterbatasan SDM, laboratorium, dan lahan praktik yang ada di kampus ini dengan menggandeng instansi lain. Sehingga, Unibraw tidak perlu membuat lahan baru untuk semua kekurangan tersebut. Sebab, Unibraw bisa memanfaatkan fasilitas di tempat lain. Langkah itu sekaligus untuk menekan pengeluaran.
Selain itu?
Selain dua hal di atas, sebenarnya ada satu hal yang mengganjal hati saya. Saya, sangat ingin mengintegrasikan pengelolaan PPs (program pasca-sarjana) Unibraw ke fakultas atau jurusan. Selama ini, PPs Unibraw kan masih terpisah. Ke depannya, dengan integrasi tersebut, direktur pasca hanya mengakomodir baku mutu atau standar kualitas pasca saja. Selanjutnya, pelaksanaan akademis langsung di-handle fakultas atau jurusan masing-masing. Jika integrasi ini terwujud, maka akan lebih mudah dan efisien. Apalagi, untuk membuka PPs baru di masing-masing fakultas dan jurusan bukan hal sulit. Jika sarana dan prasarana memadai, dalam hal ini laboratorium, dosen, dan mahasiswa memenuhi syarat, tinggal mengajukan ke pusat saja.
Bagaimana dengan nasib mahasiswa reguler S1?
Tentu saja akan saya optimalkan. Bahkan, untuk yang satu ini tidak hanya perbaikan sarana proses belajar mengajar seperti perpustakaan, laboratorium, kebun percobaan, bengkel, dan ruang kuliah yang menjadi sasaran. Peningkatan kualitas mahasiswa baru melalui promosi dan bantuan mencari pekerjaan bagi lulusan juga menjadi langkah utama yang harus saya wujudkan. Bahkan, untuk mengoptimalkan kinerja mahasiswa, saya akan membuka kelas internasional bagi program studi yang mampu. Langkah itu sekaligus sebagai stimulan bagi mahasiswa agar terpacu untuk bersaing secara sehat dengan mahasiswa luar negeri. Dengan begitu, kualitas mereka akan terpompa. Ingat, kualitas pembelajaran internasional yang sangat bagus menjadi percontohan yang bisa ditiru. Di sisi lain, pembukaan kelas internasional ini dapat meningkatkan income generating yang bisa dimanfaatkan sebagai subsidi silang bagi kelas reguler.
Langkah apalagi yang akan Anda lakukan untuk mengoptimalkan perkembangan kampus?
Karena salah satu aspek penting yang menjadi acuan dan pertimbangan dikti adalah produk penelitian yang dihasilkan PT, maka saya akan mengatrol mutu penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. Salah satunya dengan memperluas jaringan kerjasama Unibraw dengan instansi lain. Baik dalam negeri maupun luar negeri. Selain itu, saya juga akan membuat payung penelitian dan pengabdian kepada masyarakat di setiap jurusan atau fakultas serta seluruh program studi yang ada. Dengan begitu, mahasiswa dan dosen bisa menggunakannya dengan maksimal. Yang paling penting lagi, saya akan terus meningkatkan peran inkubator bisnis (INBIS) agar hasil-hasil penelitian dapat dimanfaatkan sebagai unit bisnis.
Dari berbagai langkah dan program yang Anda paparkan, untuk merealisasikan tentu saja butuh dana besar. Sumber dana dari mana yang Anda gunakan?
Dalam hal ini, saya tidak akan tinggal diam begitu saja dan hanya berharap pada dana pemerintah lewat program hibah kompetensi. Saya akan mencari sumber-sumber dana yang lebih besar. Terutama dana dari proyek kerjasama dengan berbagai instansi di dalam dan luar negeri. Dana dari unit-unit usaha (profit centre) dengan memanfaatkan secara optimal hasil penelitian yang dilakukan dosen maupun mahasiswa. Walaupun ini bukan hal baru, tapi pengembengan unit bisnis belum tergarap maksimal. Selama ini, yang menjadi aset jual Unibraw adalah HaKI oleh perusahaan-perusahaan di luar Unibraw. Idealnya, jika ingin lebih maju, maka kampus sudah harus muali mengembangkan sendiri hasil penelitian itu menjadi unit-unit bisnis. (nen)
---
Semua Terserah Tuhan
Bertarung dalam bursa Pilrek Unibraw bagi Prof Dr Ir Yogi Sugito tak ubahnya seperti bermain sepakbola. Semua pemain, dalam hal ini tentunya calon rektor harus tunduk dan patuh pada semua peraturan yang telah disepakati bersama jauh-jauh hari sebelum pilrek dibentang. Walaupun, saat permainan itu berlangsung, timbul kesalahan teknis atau hal-hal yang dirasa tidak sesuai dengan keinginan pribadi atau warga kampus, siapa pun tidak ada yang bisa memprotesnya.
"Inilah namanya pertandingan, apapun hasilnya semua pemain harus menerima dan mematuhi semua tahapan dan aturan yang telah disepakati. Termasuk, memaparkan program kerja carek (calon rektor) yang akan dibentang besok (hari ini, Red) di hadapan seluruh anggota senat," ucap guru besar FP Unibraw itu.
Hanya saja, meski mekanisme yang harus dilewati semua calon cukup panjang, Yogi berharap semuanya mengusung dan menjunjung tinggi fair play. Yakni, komitmen bersaing secara sehat. Boleh-boleh saja masing-masing calon menempuh berbagai cara agar lolos dalam pertimbangan senat, tapi tetap dengan cara-cara yang lazim dan terhormat. Dengan begitu, tidak akan memicu konflik antara calon satu dengan calon lainnya. Terlebih, bursa rektor ini bukanlah ajang politik yang biasanya penuh dengan permainan.
"Saya pun berusaha, tapi bukan berarti harus ngoyo. Semua saya serahkan kepada Tuhan, kalau Tuhan menilai saya pantas, pasti jalan ke sana akan semakin terbuka," ungkap bapak tiga putra ini. (nen)
Biodata
Nama: Prof Dr Ir Yogi Sugito
TTL: Tulungagung,10 Juni 1951
Pekerjaan: Dosen Unibraw
Istri: Enny Suhartini
Anak :
1. dr Panji Sananta
2. Himawat Aryadita ST MS
3. Zendy Sagita
Riwayat Pendidikan:
1. Sarjana Pertanian Unibraw, lulus 1977
2. Doktor Ilmu Pertanian, IPB, lulus 1983
Jabatan Terakhir: PR I Unibraw (2001-sekarang)
Jabatan lain:
- Ketua tim otonomi kampus Unibraw
- Ketua tim inkubator bisnis Unibraw
http://www.jawapos.co.id/index.php?act=detail_radar&id=111430&c=88

Luthfiah Sungkar di Unibraw
23 Desember 2005
Bidang Keputrian Unit Kerohanian Islam Politeknik Negeri Malang, Jum’at (23/12), menyelenggarakan kegiatan Seminar kemuslimahan 2005 di Widyaloka Universitas Brawijaya. Berbagai kegiatan terangkum di dalamnya. Di antaranya adalah Kreasi berbagai kerudung oleh salah satu butik muslim terkenal di kota Malang, serta kajian muslimah yang disampaikan oleh Ustadzah Luthfiah Sungkar dengan tajuk “Jilbabku, Karirku dan Kehormatanku”. Pada kajian tersebut sekaligus juga menampilkan sosok salah seorang muslimah alumni Politeknik Negeri Malang yang kini bekerja di PT Indosat, Endang ST.
Berbagai fenomena yang terjadi pada saat ini yang memberikan kesempatan semakin luas terhadap para perempuan untuk semakin leluasa berkiprah di sektor publik, membutuhkan pengetahuan sekaligus pemahaman bagi para perempuan itu sendiri agar dalam prakteknya tidak mengalami “overlapping” dan mampu kompromis terhadap tugas-tugas domestik dan hal-hal yang bersifat kodrati. Dalam kesempatan tersebut, Luthfiah Sungkar lebih banyak mengkaji pemahaman seorang perempuan sebagai seorang “wanita sholehah” yang mendampingi suami, mengurus rumah tangga dengan baik serta mendidik anak-anaknya seperti dalam QS. An Nisa:34. Menurutnya fenomena semakin banyaknya perempuan yang bekerja pada saat ini lebih banyak untuk
mengamankan diri. “Sebagian wanita lebih merasa aman terhadap sebuah kondisi ektsrim, misal jika ditinggal suaminya “nyeleweng” kalau dia sudah mapan”, ungkapnya. Lebih lanjut disampaikan, orang tua seharusnya lebih merasa bangga memiliki anak perempuan yang menamatkan pendidikan sarjana tanpa harus menyuruhnya untuk bekerja karena tidak ada kewajiban bagi para perempuan untuk bekerja. “Sebelum menikah, perempuan adalah tanggung jawab orang tuanya dan setelah menikah mereka menjadi tanggung jawab suaminya”, ungkapnya. “Tetapi jika memiliki kemampuan untuk bekerja serta mampu menjaga
kehormatan dirinya dari fitnah, silahkan”, tambah ibu tiga orang putera ini.
Dalam kesempatan tersebut, ia memberikan suri tauladan dari perempuan-perempuan tangguh pada zamannya seperti putri Nabi Muhammad, Fatimah yang selalu bersabar dan qana’ah terhadap kondisi kekurangan yang dialami rumah tangganya. Selain itu juga Siti Khadijah, yang memiliki kemampuan berdagang yang sangat luar biasa dan selalu mendampingi Rasululah SAW dalam masa-masa kritis kehidupannya, Siti Aisyah sebagai sosok istri yang cerdas, Siti Maryam sebagai wanita mulia yang menjaga kehormatannya dan dikaruniai anak tanpa suami, Siti Hajar yang berani berkorban untuk anaknya serta istri Fir’aun yang selalu sabar mendampingi pemimpin yang dzalim dimana kesemuanya (teladan tentang istri-istri yang baik dan tidak baik) dapat dirujuk pada QS. At Tahrim: 10-12.
Sementara itu, Endang ST, alumni Teknik Elektro Politeknik Negeri Malang  yang juga karyawan Indosat bercerita tentang pengalamannya bekerja sebagai karyawan sebuah perusahaan yang bekerja secara terjadwal sekaligus sebagai ibu rumah tangga. Ia mengaku sangat menikmati pekerjaannya pada saat ini dan lebih bahagia lagi karena nilai-nilai religius sangat kondusif dan terjaga di lingkungan kerjanya. Tidak dipungkiri pula oleh ibu satu anak ini, bahwa sesampai di rumah ia dan suaminya sangat capek. “Dengan kondisi seperti ini saya tidak mungkin mengabaikan keluarga, anak dan suami karena waktu kami
sangat terbatas, hanya sabtu dan minggu kami dapat berkumpul bersama keluarga”, ungkapnya. “Beruntung di Surabaya telah ada tempat penitipan anak sekaligus pondok pesantren balita yang buka 24 jam, sehingga sewaktu kerja anak bisa dititpkan dan pendidikannya pun bisa terjamin”, ungkapnya. [nok]

Voting Tetap Jadi Pilihan, Senat Masih Belum Putuskan Mekanisme
Jumat, 23 Des 2005
Mekanisme pemilihan rektor Unibraw di tingkat senat universitas sampai kemarin masih gelap. Meski begitu Ketua Senat Unibraw Prof Dr Ir Bambang Guritno mengungkapkan ada dua alternatif penentuan tiga calon rektor (carek). Yakni dengan musyawarah mufakat dan voting (one man one vote).
Meski begitu, Bambang mengungkapkan, kemungkinan terbesar yang akan terjadi di senat adalah voting. Sebab, kecil sekali kemungkinan untuk menggelar musyawarah mufakat. Terlebih, semua carek memiliki pendukung sendiri-sendiri yang semuanya pasti menginginkan jagonya duduk di kursi rektor Unibraw 2005-2010. Terlebih, jika mengaca pada periode sebelumnya, musyawarah mufakat juga tidak bisa diwujudkan dalam tubuh senat. Akhirnya, proses pertimbangan pun menggunakan suara terbanyak.
"Senat belum bisa memastikan apakah nanti akan disepakati musyawarah mufakat atau sebaliknya, mengadakan pemilihan ulang. Semua tergantung pada kondisi nanti, yakni 31 Desember ini," ucapnya.
Lebih lanjut, karena ada dua opsi yang akan diterapkan dalam pertimbangan senat, maka semua calon, yakni lima carek (Umar Nimran, Budiono Mismail, Djanggan Sargowo, Soekartawi, dan Yogi Sugito) memiliki peluang sama untuk menduduki tiga besar teratas. Sebab, masing-masing juga memiliki hak dan peluang sama. Dalam hal ini, masing-masing tetap memiliki prosentase 20% dari total suara senat yang jumlahnya mencapai 116 orang. Masing-masing FK 12 anggota, FH 8, FE 11, FIA 15, FP 28, FT 8, Fapet 14, Fpi 6, FMIPA 7, dan FTP 7. "Tergantung apakah nanti semua anggota senat ini sepakat mengawal suara penjaringan atau mengadakan pemilihan ulang.Tinggal bagaimana kondisi di senat nanti," tandas Bambang.
Sementara, jika langkah kelima carek ini akan finish di tangan senat 31 Desember ini, Sabtu besok kelimanya masih harus memaparkan program kerja rektor dalam kurun lima tahun ke depan. Pemaparan ini dilakukan terututup. Dalam pemaparan ini anggota senat akan memberikan poin pada masing-masing carek. Terutama, sebagai bekal pertimbangan final senat sebelum mengerucutkan tiga nama yang akan dikirim ke Mendiknas. (nen) http://www.jawapos.co.id/index.php?act=detail_radar&id=111331&c=88

Pilrek Terpotong-potong
Jumat, 23 Des 2005
Mekanisme pemilihan rektor Unibraw yang dinilai tidak berkesinambungan membuat pengamat pendidikan yang juga guru besar Fapet Unibraw Prof Hendrawan Soetanto angkat bicara. Secara pribadi, Hendrawan tidak hanya menyesalkan, tapi juga menyayangkan mekanisme yang terpotong-potong itu. Yakni adanya penjaringan di level bawah dan pertimbangan di tubuh senat.
Idealnya, jika memang ingin menerapkan demokrasi, harusnya suara penjaringan Sabtu pekan lalu terus dibawa ke atas. Dalam pertimbangan nanti, senat hanya menetapkan saja. Tapi, realitanya, kondisi itu belum bisa dilakukan oleh Unibraw karena panitia, termasuk senat terganjal PP Nomor 60/1999 pasal 30 tentang pengaturan kelembagaan perguruan tinggi. "Apapun mekanisme yang dilakukan panitia, termasuk penjaringan beberapa hari lalu, semua akan kembali pada PP 60. Inilah dilema yang membuat Unibraw tidak berkutik," ucap ketua LP3 Unibraw ini.
Dalam menyikapi persoalan itu pun, rupanya masih banyak kalangan, terutama mahasiswa yang mengatakan bahwa suara rakyat adalah suara Tuhan. Artinya, suara terbanyak dalam penjaringan adalah orang yang pantas duduk sebagai rektor. Padahal, di Indonesia sendiri, hal itu sering menjadi paradoks, bahkan tak jarang yang memang malah dikalahkan. Sedang mereka yang mendapat suara minoritas dimenangkan. Namun, tentunya semua itu dilakukan dengan penuh pertimbangan matang. Sehingga tidak akan terjadi kesalahan dalam mengambil keputusan. Dan, rupanya mekanisme itulah yang juga bakal diterapkan senat Unibraw. "Itu sah-sah saja, karena senat memiliki acuan tersendiri, yakni PP 60 tadi," tandasnya.
Bukan itu saja yang membuatnya kecewa. Menurutnya, penjaringan di level semua unit kerja pun belum bisa dikatakan benar-benar mewakili civitas Unibraw. Terlebih, suara pegawai dan mahasiswa hanya diwakilkan saja. Yang menjadi pertanyaan di sini, apakah suara yang dibawa mahasiswa dan wakil pegawai itu benar-benar mewakili aspirasi mahasiswa dan pegawai? "Saya tidak yakin suara yang dibawa mahasiswa dan pegawai benar-benar aspirasi dari masing-masing anggotanya. Harusnya, kalau ingin demokrasi berjalan, perwakilan yang ditunjuk membawa berita acara bahwa pihaknya telah melakukan musyawarah untuk mendukung salah satu calon," bebernya.
Namun, kata dia, semuanya telah terlanjur. Kini, yang bisa dilakukan adalah menjalankan semua peraturan yang ada. Terlebih, keputusan masih berada di tangan senat yang akan dimulai dengan pemaparan program kerja para carek Sabtu besok di ruang rapat senat lantai 8 rektorat Unibraw. "Saya hanya bisa berharap, mudah-mudahan senat bisa memberikan pemikiran yang lebih bijaksana. Jangan hanya duel atau adu argumen, karena tidak ada hasilnya," ujar Hendrawan. (nen)
http://www.jawapos.co.id/index.php?act=detail_radar&id=111330&c=88

Hari Ibu di Unibraw
22 Desember 2005
Janganlah mengikuti pepatah “surgo nunut neraka katut”, tapi ciptakan surgamu sendiri, bagi dirimu, dan keluargamu. Demikian Ny. Rien S. Guritno, Ketua Unit Dharma Wanita Universitas Brawijaya pada peringatan Hari Ibu, Dies Natalis Universitas Brawijaya ke-43 dan HUT Dharma Wanita ke-6, Kamis 22/12, di gedung PPI.
Ditambahkan bahwa peran ibu tidak akan lekang oleh jaman dan surga yang diciptakan oleh seorang ibu, akan memberikan pengaruh besar bagi suami serta anak-anak dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Acara ini dihadiri oleh Rektor Prof. Bambang Guritno, para pembantu rektor, para dekan serta ratusan anggota Dharma Wanita Unibraw. Peringatan pagi itu disemarakkan dengan beberapa acara: lomba menata meja makan tiga gaya, pameran masakan nusantara, bazar, serta talk show yang menghadirkan Dian Handayani SKM MKes.
Sebanyak 12 tim menyalurkan kreativitas dalam lomba menata meja tiga gaya (tradisional, western, dan oriental). Sementara 15 tim mengikuti pameran masakan nusantara. Bertindak sebagai juri, Arin Suprastiwi SH, dan Ninik Chairani SH dari Universitas Brawijaya, serta Hermin dan Kistintia masing-masing dari perusahaan jasa boga dan hotel berbintang di kota Malang.
Kriteria lomba meliputi ketepatan tema, keserasian penataan, dan kreativitas untuk kategori menata meja makan tiga gaya. Keindahan, keserasian, keunikan dan rasa merupakan kriteria dari pameran masakan nusantara. Keluar sebagai pemenang pertama Kantor Pusat dengan gaya oriental, juara kedua Fakultas Hukum dengan gaya western, juara ketiga Fakultas Ilmu Administrasi dengan gaya oriental, dan juara harapan 1 Fakultas Peternakan dengan gaya tradisional.
Sedangkan dalam pameran masakan nusantara, pemenang pertama adalah Fakultas Ilmu Administrasi dengan masakan  Sulawesi Selatan, juara kedua Fakultas Ekonomi dengan masakan Sulawesi Tengah, juara ketiga Fakultas Hukum dengan masakan Sumatra Barat, juara harapan pertama Fakultas MIPA dengan masakan Papua, dan juara harapan kedua Fakultas Pertanian dengan masakan Jawa Timur.
Pada acara talk show, Dian Handayani, dosen S1 Gizi Fakultas Kedokteran Unibraw menyampaikan topik “Gizi Baik Kunci Kesehatan Keluarga”. Dikatakan bahwa asupan gizi yang baik adalah yang seimbang antara pemasukan kalori dan keluaran energi. Asupan bagi tubuh diperoleh dari karbohidrat, protein, vitamin, mineral dan air. Seseorang yang tidak menyeimbang-kan pola makannya memiliki resiko penyakit hypercholesterol (kolesterol tinggi) dan gout (asam urat).
Menanggapi pertanyaan hadirin mengenai kasus busung lapar akhir-akhir ini, Dian menyatakan telah terjadi kekeliruan persepsi masyarakat kita, bahwa belum makan nasi berarti belum makan. “Singkong, ubi, dan daun kelor merupakan penyuplai zat karbohidrat dan protein yang dibutuhkan oleh tubuh,” tandasnya. Dian berharap partisipasi para anggota Dharma Wanita dalam memberikan informasi yang benar kepada ibu-ibu di lingkungannya, mengenai kecukupan gizi yang baik bagi keluarga. [nik]

Talk Show Kekerasan dalam Rumah Tangga
22 Desember 2005
Dalam memperingati Hari Ibu, Kamis (22/12), Departemen PSDM Eksekutif Mahasiswa Unibraw menggelar talk show bertema “Kekerasan terhadap Perempuan dalam Rumah Tangga dan Dunia Kerja”. Diundang beberapa pembicara: psikolog Lies Purnamasari, Lucky Endrawati SH MH (dosen pengajar FH Unibraw) dan Burhanudin (staf Polresta Malang).
Lies Purnamasari (dosen UM) mengutip penelitian Prof. Dr. Mohammad Hakim SpOG PhD, dari 765 responden perempuan yang mengalami kekerasan, 34% di antaranya mengalami kekerasan psikologis, 22% kekerasan seksual, dan  44% di antaranya kekerasan fisik. Dari 80% responden yang mengalami kekerasan fisik, 49% tidak cerita, 33% cerita ke orang tua dan 15% cerita ke tetangga, dan 3% kepada adik kakak. Karakteristik psikologis pada kekerasan adalah implikasi dari penolakan (denial), menyalahkan lingkungan, ketakutan akan ketergantungan, internalisasi peran tradisional laki-laki, hampir semua emosi diekspresikan dalam kemarahan, isolasi, pengendalian diri yang buruk serta kaku dan terlalu berlebihan, kekerasan masa kecil dan harga diri yang rendah.
Lucky Endrawati dalam topik “Kekerasan Dalam Rumah Tangga dalam Perspektif Hukum” menyampaikan, peluang terjadinya kekerasan terhadap perempuan dan anak ini karena nilai budaya dan ajaran atau tafsir agama yang kemudian dibakukan melalui hukum negara, dan mendoktrin perempuan dan anak menjadi subordinat di hadapan laki-laki. Mereka harus tunduk dan patuh “melayani” dan “mematuhi” suami, ayah, kakek, kakak laki-laki,. “Dengan adanya situasi seperti itu, khususnya yang terjadi di ranah domestik terus terjadi dan semakin meningkat dari hari ke hari”, ungkapnya. Lebih lanjut diungkapkan dalam UU no. 23 th 2004 tentang penghapusan KDRT, perlindungan diartikan sebagai uaya yang ditujukan untuk memerikan rasa aman kepada korban yang dilakukan oleh pihak keluarga, advokat, lembaga sosial yang kepolisiam, kejaksaan, atau pihak lainnya baik sementara maupun berdasarkan penetapan pengadilan. “Yang wajib memberikan perlindungan sementara dalam UU no. 23 th. 2004 adalah kepolisian, bahkan dalam pasal 16 diatur secara rinci waktunya yakni 1x24 jam sejak mengetahui atau menerima laporan tentang KDRT.
Sementara itu, Burhanudin dari Polresta Malang menyatakan klasifikasi tersangka KDRT menurut tingkat usia tertinggi pada usia 31-40 tahun (sebanyak 21 dari 39 tersangka), menurut pekerjaan, jenis pekerjaan swasta menduduki peringkat tertinggi (29 dari 39 tersangka), menurut hubungan tersangka dan korban, suami terhadap istri menduduki peringkat teratas (33 dari 39 tersangka) dan menurut tingkat pendidikan, SMA menduduki peringkat tertinggi  (23 dari 39 tersangka).
Pemenang Lomba Esai
Seusai acara talk show, diumumkan para pemenang lomba esai, berturut-turut: 1. Lisa Puspasari (SMAN 1 Malang), 2. Ade Suryani (SMAN 5 Malang), 3. Alissa (SMAN 1 Malang), 4. Duta Reksiputri (SMAN 1 Malang), 5. Vivi Iswadinta (SMAN 10 Malang), 6. Silvi M (SMAN 1 Malang), 7. Oktaviana (SMKTI Al Islahiyah), 8. Andi Aril S (SMAN 10 Malang), 9. Arif Agus (MAN 1 Malang). Para pemenang mendapatkan hadiah uang senilai tunai total Rp 1,5 juta, tropi dari Universitas Brawijaya dan sertifikat bagi juara I, II dan III. [nok]

Donor Darah KSR Unibraw
22 Desember 2005
Dalam rangka memperingati dies natalis ke-43 Universitas Brawijaya Korps Sukarela (KSR) menyelenggarakan kegiatan bakti sosial donor darah. Kegiatan ini digelar Kamis (22/12) di depan Gedung Perpustakaan Universitas Brawijaya, Jalan Veteran, mulai pukul 08.00 WIB. Sebetulnya, donor darah merupakan kegiatan rutin KSR Unibraw setiap 3 bulan, dan menjadi salah satu program kerja KSR Unibraw.
Bekerja sama dengan Unit Transfusi Darah PMI Cabang Malang, kegiatan donor darah dilakukan di atas bus khusus transfusi darah milik UTD PMI Malang, hibah Lions Club. Deni Kurniarahman, penanggung jawab acara ini mengatakan target setiap kegiatan donor darah adalah 40 orang pendonor.
Kegiatan yang sama ini pun pernah mereka lakukan pada bulan September 2005 kemarin, sengan jumlah pendonor 38 orang. Deni mengharapkan untuk bulan ini akan lebih banyak lagi yang menyumbangkan darahnya. Sebagaiman biasa, sebelum mendonorkan darahnya, pendonor mengisi blanko kesediaan, kemudian diperiksa kondisi tubuhnya, termasuk tekanan darah. [vty]

Dr. Lily Agustina Raih Maporina Award
21 Desember 2005
Dr. Ir. Lily Agustina MS, dosen senior program studi hortikultura Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya, Rabu (21/12), menerima penghargaan Maporina Award. Penghargaan dari Masyarakat Pertanian Organik Indonesia (Maporina) ini diberikan kepada peneliti paling aktif dalam bidang pertanian organik. Dr. Lily Agustina adalah satu-satunya peneliti pertanian organik dari perguruan tinggi negeri di Indonesia. Maporina Award diterima setelah Dr. Lily Agustina mengirimkan karya tulisnya pada Workshop dan Kongres Nasional II Maporina di Hotel Atlet Century Park, Senayan Jakarta. Workshop itu sendiri bertema "Menghantarkan Indonesia Menjadi Produsen Organik Terkemuka". [Far]

Ujian Disertasi Lexie A. Lumingkewas
21 Desember 2005
Kapitalisasi pendidikan dasar dengan menempatkan sekolah sebagai tempat untuk menanamkan human investment dan asset, dapat meningkatkan nilai tambah sekolah di mata masyarakat. Demikian ungkap Lexie A Lumingkewas dalam ujian disertasinya yang berjudul “Kebijakan Kapitalisasi Pendidikan Dasar (Studi Kasus pada Sekolah Dasar Favorit di SDN 11, SD Katolik 03, Frater Don Bosco, SD Kristen Eben Haezar 01, dan SD Al Khairaat Manado Sulawesi Utara)”, Rabu 21 Desember 2005.
Penelitian yang dilakukan Lexie terhadap lima sekolah dasar favorit di Manado ini menunjukkan bahwa alasan orangtua memilih sekolah favorit adalah mutu akademis, keamanan dan kenyamanan, pelayanan, serta pembinaan kedisiplinan, etika, moral dan nilai religius yang diberikan. Biaya pendidikan yang tinggi ternyata bukan masalah bagi para orangtua menyekolahkan anak mereka di sekolah favorit. Lebih lanjut diungkapkan bahwa kendala utama setiap sekolah dalam mengembangkan kualitas pendidikan meliputi tingginya biaya sekolah yang disebabkan karena mutu profesi guru, serta sarana belajar perlu ditingkatkan. Kendala berikutnya adalah sosial budaya meliputi berbagai persepsi, tanggapan dan pandangan orangtua siswa terhadap arti dan makna pendidikan bagi anak. Kendala terakhir yaitu geografi dimana sekolah kesulitan untuk memperluas bangunan sekolah.
Lexie A. Lumingkewas menyelesaikan pendidikan sarjana muda di IKIP Manado (1988), sarjana (2001) dan magister di Universitas Padjajaran Bandung (1998). Pernah menjabat sebagai pembantu dekan II Fakultas Psikologi Universitas Kristen Indonesia Tomohon (1992). Pria kelahiran Minahasa 52 tahun silam ini sekarang aktif mengajar di Universitas Negeri Manado. Bertindak sebagai promotor Prof. Dr. M. Irfan Islamy MPA dengan kopromotor Dr. Sumartono MS dan Prof. Dr. Willem Mantja MPd. Dengan dewan penguji meliputi Prof. Dr. Salladien, Prof. Dr. Haris Suprapno, Dr. Susilo Zauhar MS dan penguji dari Universitas Negeri Manado Prof. Dr. Marthen Rampengan MPd. Pada ujian disertasinya Lexie memperoleh predikat cum laude, IPK 3,75 dengan masa studi 3 tahun 4 bulan. [nik]

Demo Anti Kekerasan di DPRD Malang
21 Agustus 2005
Menyusul tindak kekerasan atas pengajar Fakultas Hukum Univeritas Brawijaya, Ibnu Tricahyo SH MS, bertempat di gedung DPRD Kota Malang, Rabu (21/12) sekitar 100 orang yang mengatasnamakan dirinya Gerakan Masyarakat Anti Kekerasan Malang (GMAKM) menyampaikan aspirasinya. Mereka terdiri dari beberapa elemen pergerakan mahasiswa seperti EM Universitas Brawijaya, BEM Fakultas Hukum Universitas Brawijaya, HMI Komisariat Hukum Universitas Brawijaya, LMND, HMI Korkom Unibraw, HMI Korkom Unmuh serta beberapa LSM seperti Walhi, Malang Corruption Watch (MCW) yang dikawal oleh beberapa staf pengajar dari Fakultas Hukum Universitas Brawijaya.
Tujuh tuntutan
Aksi ini merupakan salah satu bentuk reaksi terhadap berbagai aksi kekerasan yang terjadi di kota Malang yang salah satu di antaranya menimpa atas Ibnu Tricahyo. Ada 7 tuntutan mereka berkenaan dengan tindak kekerasan: (1) Hentikan kekerasan di kota Malang; (2) Usut tuntas semua kasus kekerasan yang terjadi di kota Malang; (3) Deadline waktu 1 minggu untuk ditetapkannya tersangka kasus Ibnu Tricahyo, SH, MH (dosen FH, Unibraw); (4) Deadline 1 bulan untuk diketahuinya modus, motif dan pelaku intelektual dibalik kasus tersebut; (5) Jaminan keamanan bagi masyarakat unuk menyampaikan aspirasi; (6) Meminta kepada pihak DPRD untuk memberikan pernyataan sikap atas kekerasan yang terjadi di dalam lembaga tersebut karena hal tersebut merupakam penghinaan institusi lembaga DPRD yang terhormat dan yang terakhir (7) Meminta kepada kepolisian untuk segera memeriksa saksi-saksi dari lembaga DPRD.
Membangun tanpa kerusuhan
Selain menyampaikan 7 tuntutan, para demonstran juga berharap agar pembangunan di Kota Malang dilakukan dengan arif tanpa menimbulkan kerusuhan, melainkan persaudaraan dan kedamaian. Selain itu, kehidupan demokrasi di Kota Malang juga diharap dapat berjalan tanpa ada segala bentuk ancaman dan kekerasan. Masing-masing perwakilan lembaga dalam kesempatan tersebut menyampaikan orasinya dan disambut oleh Ketua DPRD Kota Malang RB Priyatmoko Utomo yang menyempatkan turun menemui para demonstran.
Dalam aksinya para demonstran sempat diguyur hujan lebat sehingga memaksa mereka untuk masuk ke gedung DPRD Kota Malang. Setelah menunggu beberapa lama, akhirnya mereka menerima pernyataan sikap dari pimpinan DPRD bahwa DPRD Kota Malang secara kelembagaan mengecam segala bentuk premanisme, dan mendukung penyelesaian secara hukum terhadap tindakan kekerasan terhadap Ibnu Tricahyo. Pernyataan sikap ini dibacakan langsung oleh Wakil Ketua DPRD Arief Wayudi dan ditanggapi positif oleh para demonstran dengan menunggu realisasi penyidikan dari pihak Polresta Malang selama kurun waktu 1 minggu yang rencananya akan diwarnai aksi demo di Polresta Malang minggu depan. [nok]

Lomba Esai Hari Ibu
21 Desember 2005
Dalam rangka memperingati Hari Ibu,  Eksekutif Mahasiswa Universitas Brawijaya menyelenggarakan Lomba Esai Antar SMA.
Ada 50 judul esai yang masuk ke meja panitia. Dari jumlah itu terpilih  sepuluh esai terbaik, yaitu dari SMAN 1 Malang, SMAN 5 Malang, SMAN 10 Malang, MAN 1 Malang, SMA St. Yoseph Malang dan SMA Islam Al-Islahiyah Singosari.
Dari sepuluh peserta, hanya wakil dari SMA St. Yoseph Malang saja yang tidak hadir.
Bertindak sebagai dewan juri yaitu Prof. Dr. Ir. Keppi Sukesi MS, Agustina Shinta, dan Nurrahman Sasmita. Kriteria lomba esai meliputi ketepatan menjawab pertanyaan yang diajukan juri, presentasi dan isi materi. Para pemenang akan mendapatkan hadiah berupa uang tunai dengan jumlah 1,5 juta rupiah, tropi dari Universitas Brawijaya dan sertifikat bagi juara I, II dan III. Pemberian hadiah akan dilakukan pada 22 Desember 2005 di gedung Widyaloka.
Judul-judul esai yang dipresentasikan masing-masing adalah: “Peran Wanita serta Realisasi dengan Ideologi Gender” oleh Lisa Puspasari dari SMAN 1 Malang, “Wanita Sekarang Memiliki Kebebasan yang Terikat dan Tetap Tertindas oleh Vivi It Swardinta dari SMAN 10 Malang, “Tonggak Pergerakan Perempuan di Bidang Politik Indonesia” oleh Anisa dari SMAN 1 Malang, “Wajah Wanita Indonesia Abad 21” oleh Andiani S. Sp dari SMAN 10 Malang, “Wanita Ditengah Sensualitas Emansipasi dan Ikatan Multi Peran” oleh Silvi M dari SMAN 1 Malang, “Perempuan Indonesia Bukan Wonder Women” oleh Arief Agus dari MAN 1 Malang, “Perempuan Oh Perempuan” oleh Oktafiana A.H dari SMAI Al-Islahiyah Singosari, “Di Balik Sebuah Emansipasi” oleh Dwika dari SMAN 1 Malang, dan “Dinamika Peranan Wanita: Kisah Ny. Yayah R. sebagai Single Parent” oleh Ade Suryani dari SMAN 5 Malang.
Dalam peringatan ini, selain lomba esai EM Unibraw mengendakan kegiatan aksi simpatik memberikan bunga kepada perempuan yang melintas di sepanjang jalan Veteran telah berlangsung Selasa kemarin (20/12), dan talkshow dengan topik "Kekerasan dalam Rumah Tangga",  Kamis besok (22/12) di Widyaloka Unibraw. [nik]

Reaksi Keras Warga Malang terhadap Kasus Pemukulan Ibnu Tricahyo
20 Desember 2005
Kasus penganiayaan yang dialami oleh Ibnu Tricahyo SH MH, Rabu (14/12), mendapat reaksi keras dari sivitas akademika Unibraw dan masyarakat kota Malang. Pengroyokan dan penganiayaan itu sendiri terjadi di gedung DPRD Kota Malang.
Dosen Fakultas Hukum yang juga Ketua PP Otoda ini mendatangi DPRD dengan maksud untuk memberikan penjelasan persoalan menyangkut masalah Rencana Tata Ruang Wilayah (RT-RW) kota Malang berkaitan dengan usulan perubahan Rencana Detail Tata Ruang Kota (RDTRK) Kecamatan Klojen, Kelurahan Bareng, dan Penanggungan. Daerah yang semula merupakan daerah resapan air dan lahan hijau tersebut dibangun menjadi perumahan dan pusat perdagangan.
Kritis
Ibnu Tricahyo selama ini dipandang sebagai tokoh yang kritis terhadap kebijakan-kebijakan Pemda Malang Raya, terutama dalam hal pembangunan Malang Town Square (Matos) dan Alun-alun Junction (AAJ). Akibat pemukulan tersebut Ibnu mengalami luka serius di mata kanannya. Sivitas akademika Unibraw tidak tinggal diam dengan kasus yang dialami oleh Ibnu. Kamis (15/12) demo dari kalangan dosen, karyawan dan mahasiswa FH Unibraw pun dilakukan dengan melakukan long march sejauh 4 km menuju gedung DPRD. Tuntutan mereka yaitu mensterilkan gedung DPRD dari cara-cara kekerasan atau premanisme, serta jaminan keamanan bagi siapa saja untuk informasi, data dan menyampaikan aspirasi.
Aksi itu tidak selesai di situ saja. Minggu (18/12), sejumlah elemen berkumpul di lantai VIII gedung Rektorat Unibraw guna menyikapi kasus yang dialami oleh Ibnu Tricahyo. Elemen yang hadir waktu itu Forum Rektor, Forum Komunikasi Umat Agama Beragama (FKUB), Majelis Ulama Indonesia Cabang Malang, PP Otoda FH Unibraw, perwakilan dari Solidaritas Persaudaraan Rakyat Malang, perwakilan dosen dan mahasiswa PTN/PTS se-Malang serta LBH.
Pertemuan yang dipimpin Ketua Paguyuban Rektor Malang Prof. Imam Syafii (Rektor UM) didampingi Rektor Unibraw Prof. Bambang Guritno selaku tuan rumah, dan dihadiri pula oleh Ibnu Tricahyo. Pertemuan ini bertujuan mencari solusi apa yang harus dilakukan. Karena sampai pada hari itu kasusnya masih belum ditangani dengan semestinya oleh pihak Polresta Malang. Kasus kekerasan yang dialami Ibnu merupakan salah satu contoh dari sekian banyak kasus yang terjadi di Malang. Dalam kesempatan itu elemen-elemen tersebut sepakat untuk membentuk sebuah wadah atau kelompok anti kekerasan yang mereka sebut dengan Gerakan Masyarakat Anti Kekerasan (GMAK). Tujuan utama pembentukan wadah ini adalah sebagai moral force akan kasus kekerasan yang terjadi di Malang.
Aksi ke DPRD
Pertemuan itu berlanjut pada Selasa (20/12) dengan kesepakatan untuk melancarkan aksi ke gedung DPRD Kota Malang dan Polresta Malang pada hari Rabu besok (21/12) pukul 10.00. Ada 7 tuntutan yang diajukan dalam aksi tersebut yaitu: (1) Hentikan kekerasan di kota Malang; (2) Usut tuntas semua kasus kekerasan yang terjadi di kota Malang; (3) Deadline waktu 1 minggu untuk ditetapkannya tersangka kasus Ibnu Tricahyo, SH, MH (dosen FH, Unibraw); (4) Deadline 1 bulan untuk diketahuinya modus, motif dan pelaku intelektual dibalik kasus tersebut; (5) Jaminan keamanan bagi masyarakat unuk menyampaikan aspirasi; (6) Meminta kepada pihak DPRD untuk memberikan pernyataan sikap atas kekerasan yang terjadi di dalam lembaga tersebut karena hal tersebut merupakam penghinaan institusi lembaga DPRD yang terhormat dan yang terakhir (7) Meminta kepada kepolisian untuk segera memeriksa saksi-saksi dari lembaga DPRD. Demo tersebut akan dihadiri oleh beberapa elemen yaitu sivitas akademika FH Unibraw, Intrans, LPKI, Malang Corruption Watch (MCW), EM Unibraw, MUI, Paguyuban Rektor se-Malang Raya, BEM FH Jatim, Forum Masyarakat Tanjung (Format) FKA Unibraw, PP Otoda Unibraw, LBH Malang, Malang Crisis Center (MCC), YPP, Walhi, KAMMI, HMI Hukum Unibraw, FPKM dan Fatayah kota Malang. Dapat diprediksi lebih dari 100 orang yang akan mengikuti aksi yang akan digelar besok pagi. [vty]

Menang, Belum Tentu Aman: Aklamasi atau Voting Jadi Pilihan Senat
Senin, 19 Des 2005
Kabar bahwa pertarungan calon rektor (carek) Unibraw sebenarnya berada di senat universitas dan mempengaruhi Mendiknas banyak benarnya. Sebab, meski Prof Umar Nimran berhasil memperoleh suara terbanyak dalam penjaringan level pertama di semua unit kerja Unibraw Sabtu lalu, namun posisinya tetap belum aman. Bahkan besar kemungkinan suaranya banyak digerogoti kandidat lain di tingkat senat.
Beberapa anggota senat universitas yang dihubungi mengungkapkan, ketiga carek yang berhasil mengumpulkan suara terbanyak (Umar, Yogi, dan Djanggan) tetap memiliki kans sama untuk menduduki jabatan rektor Unibraw periode 2005-2010. Sebab, masing-masing memiliki massa yang sama kuat di dalam senat. "Mereka tetap memiliki peluang yang sama. Termasuk, untuk menduduki peringkat teratas dalam pertimbangan senat nanti," ungkap salah satu anggota senat Unibraw ini.
Seperti diberitakan sebelumnya, dalam proses penjaringan Sabtu lalu, Umar berhasil mengungguli empat kandidat carek lainnya dengan mendulang suara 420. Disusul kemudian Yogi Sugito dengan 369 suara, Djanggan Sargowo 324 suara, Budiono Mismail 106 suara, dan Soekartawi 60 suara.
Bahkan, menurut sebuah sumber, tiga nama teratas tersebut masih akan bertarung alot dalam senat. Ketiganya juga akan saling menekan satu sama lain. Bisa jadi, karena pengaruh gesekan dan perdebatan di senat akan mempengaruhi posisi mereka. Bisa jadi juga urutan teratas akan lepas dari Umar. "Walau pun suara senat akan menyebar, namun tetap akan terjadi pergeseran. Bisa saja Pak Djanggan atau Pak Yogi menggeser posisi Pak Umar. Tapi, posisi Pak Umar juga bisa tetap sampai di tingkat Mendiknas. Jadi intinya, semua masih belum pasti," kata salah satu anggota senat yang tidak mau namanya dikorankan ini.
Lebih lanjut, kemungkinan itu semakin bulat setelah dilakukan kalkulasi perkiraan perolehan suara masing-masing untuk tiga carek teratas itu. Dia memprediksi, Umar hanya akan mampu mendulang suara senat maksimal 40 suara. Begitu juga Yogi yang tidak akan bergeser jauh dari angka itu. Sedang, Djanggan malah akan mendapat suara lebih baik, maksimal 42 suara dari total suara senat yang dijumlahnya sekitar 112 anggota. Kemungkinan itu tetap dipengaruhi loyalis masing-masing carek. "Ingat, di senat pun loyalis KAHMI, KAGAMA (non KAHMI dan KAHMI), IKA-Unibraw, serta tokoh-tokoh nasionalis tetap mendominasi. Itulah yang menyebabkan suara ketiganya masih belum aman," tandas dia.
Bagaimana dengan Budiono dan Soekartawi? Walau pun kesempatan masih terbuka bagi keduanya untuk bertarung di tingkat senat, namun peluang menuju tiga besar bagi mereka cukup sulit. Sebab, back ground keduanya tidak kuat. Diprediksi, Budiono dan Soekartawi hanya akan mampu mendulang 3 sampai 4 suara anggota senat.
Benarkah? Mantan panitia pertimbangan senat pada masa pemilihan sebelumnya Prof Dr Abdul Latief Abadi MS tidak menampik hal itu. Latief mengungkapkan, nama tiga besar di atas tetap akan menjadi tiga besar di level senat. Namun, posisi mereka yang akan berubah. "Prediksi saya, posisi itu akan terbolak-balik. Ketiganya akan saling menggeser, apalagi ketiganya memiliki kans sama untuk menjadi rektor Unibraw," kata dia.
Prediksi itu, menurut direktur UPPTI Unibraw tersebut, dimungkinkan karena mekanisme yang digunakan senat. Dalam hal ini akan terjadi dua pertimbangan, bisa jadi senat menggunakan aspirasi penjaringan arus bawah, bisa jadi juga senat memilih melakukan penjaringan ulang. "Jika mengaca dari pemilihan 2001 lalu, kemungkinan apa saja bisa terjadi. Termasuk, pergeseran posisi di level senat. Seperti perebutan antara Pak Bambang Guritno dan Pak Eka Afnan Troena yang akhirnya hanya selisih satu suara," ungkap dia.
Mekanisme apa yang akan digunakan senat Unibraw dalam pertimbangan 31 Desember mendatang? Hingga kemarin, Ketua Senat Unibraw Prof Dr Ir Bambang Guritno belum bisa memastikan mekanisme yang akan diterapkan untuk menentukan tiga besar carek Unibraw. Meski begitu, Rektor Unibraw ini memastikan akan ada dua kemungkinan yang bakal diambil senat. Yakni musyawarah mufakat dan voting.
"Dari kelima calon yang masuk, kemungkinan bisa siapa saja yang terjaring dalam tiga besar. Tergantung bagaimana hasil pertimbangan senat nantinya," ucap Bambang kemarin.
Terlebih, kata dia, dalam pemilihan rektor ini, senat tidak hanya akan berpegang pada perolehan suara terbanyak di level penjaringan semua unit kerja Unibraw Sabtu lalu. Namun, senat memiliki aturan tersendiri. Kemungkinan besar, senat bisa tetap mengacu pada perolehan suara arus bawah, namun tidak menampik jika sistem berubah sehingga membuat senat melakukan pemilihan sendiri di tingkatan senat.
"Bisa saja seperti itu. Sebab, pemilihan rektor ini bukan ajang politik seperti memilih bupati atau wali kota. Termasuk, senat bisa saja tidak akan mempertimbangkan perolehan suara di level penjaringan semua unit kerja yang ada," bebernya.
Bambang juga mengungkapkan, walau pun senat berhak menentukan tiga nama yang masuk tiga besar, dia menegaskan bahwa senat tidak berhak memilih siapa yang pantas jadi rektor. Senat hanya melakukan pertimbangan saja untuk diajukan kepada Mendiknas. Karena itulah, senat akan mengerucutkan lima calon menjadi tiga untuk dikirimkan pada Mendiknas. "Penjaringan di level mentri nanti juga lain lagi. Mendiknas akan membentuk tim lagi untuk mengerucutkan tiga calon menjadi satu. Selanjutnya, pertimbangan Mendiknas tersebut akan dikirimkan kepada presiden," ungkap dia.
Lebih lanjut, presiden akan masih akan melakukan pertimbangan terhadap calon yang diusulkan Mendiknas sebelum memberikan SK kepada calon terpilih. "Selambat-lambatnya, Maret 2006 SK rektor terpilih turun. Kenapa diharapkan seperti itu, karena masa jabatan saya akan berakhir 4 Maret 2006," tandasnya. [nen]
-----
Mekanisme Pemilihan Rektor Unibraw
1. Penjaringan di level semua unit kerja Unibraw Sabtu 17 Desember lalu
2. Panitia menyerahkan hasil penjaringan semua unit kerja ke senat Unibraw
3. Senat mengirimkan hasil penjaringan semua unit kerja kepada Mendiknas
4. Senat melakukan pertimbangan untuk menetapkan tiga besar calon 31 Desember dari lima calon yang ada
5. Senat mengirimkan tiga nama calon rektor ke Mendiknas untuk mendapatkan satu nama calon terpilih
6. Mendiknas mengirimkan hasil pertimbangan ke Presiden untuk mendapatkan SK
7. Selambat-lambatnya Maret 2006 SK Rektor terpilih turun
http://www.jawapos.co.id/index.php?act=detail_radar&id=110734&c=88

Ujian Terbuka Disertasi M. Pudjihardjo SE MS
19 Desember 2005
Program Pascasarjana Universitas Brawijaya, Senin 19/12, menggelar ujian terbuka disertasi bagi Drs. M. Pudjihardjo SE MS, dosen senior dari Jurusan Ilmu Ekonomi dan Studi Pembangunan Fakultas Ekonomi Unibraw. Dalam ujian tersebut M Pudjihardjo membawakan disertasi berjudul "Pola Alokasi Waktu Keluarga dalam Kegiatan Ekonomi di Pedesaan (Studi Kasus pada Petani Kecil di Desa Dataran Rendah Tanaman Pangan dan Desa Dataran Tinggi Tanaman Hortikultura di Kabupaten Malang)". Ujian ini dipromotori oleh Prof. Dr. Salladien, dan 3 orang ko-promotor masing-masing Prof. Dr. M. Harry Susanto SE SU, Prof. Dra. SM Kiptiyah MSc, dan Dr. Candra Fajri Ananda MSc. Sementara itu bertindak sebagai penguji masing-masing Prof. Drs. MS Idrus MEc PhD, Dr. Munawar Ismail DEA, dan Prof. Dr. Soedjono Abipraja SE dari Universitas Airlangga.
Dalam disertasinya, M Pudjihardjo mengatakan bahwa dalam keadaan sumberdaya yang terbatas, rumah tangga petani miskin berusaha untuk menutupi kebutuhan pokoknya, apakah dengan cara mengurangi konsumsinya, atau dengan cara meningkatkan kontribusi kerja para anggota keluarganya. Namun pada rumah tangga miskin untuk mengurangi pengeluaran konsumsinya hampir tidak mungkin. Dengan demikian, pilihan lain adalah dengan menambah curahan waktu kerja untuk anggota keluarganya. Pemahaman pola dan alokasi waktu anggota keluarga petani khususnya petani yang berlahan sempit yang umumnya miskin adalah sangat penting untuk digunakan sebagai bahan informasi penyusunan kebijakan pembangunan yang ditujukan untuk meningkatkan pendapatan masyarakat miskin.
Penelitian untuk disertasi ini dilaksanakan di Pujon untuk daerah dataran tinggi, dan Wajak untuk daerah dataran rendah. Hasil penelitian M. Pudjihardjo menunjukkan beberapa hal, di antaranya: terdapat kecenderungan semakin tinggi tingkat pendidikan anak-anak maka alokasi waktu untuk kegiatan on farm cenderung menurun, tetapi alokasi waktu untuk kegiatan off farm semakin meningkat. “Jika kemudian fakta ini berlanjut, maka masa depan sektor pertanian akan diisi mayoritas pekerja usia tua”, ungkapnya. Lebih lanjut dipaparkan bahwa jika kondisi ini tidak diikuti peningkatan produktivitas sumberdaya manusia di bidang pertanian atau transformasi struktural ekonomi secara cepat, maka masa depan sektor pertanian akan mengalami masa yang suram.
Dalam yudisium sebagai hasil ujian terbuka ini, M. Pudjihardjo dinyatakan lulus dengan predikat memuaskan, dan berhak menyandang gelar doktor dalam bidang ilmu ekonomi.
Dr. M. Pudjihardjo SE MS adalah pria kelahiran Blitar, 53 tahun lalu, adalah sarjana ekonomi lulusan FE Unibraw (1976), dan magister dari Unibraw (1986) melalui KPK-UGM. Karir sebagai sebagai tenaga pengajar dirintis sejak 1976 sebagai asisten ahli madya pada FE Unibraw, dan kini jabatannya adalah Lektor Kepala golongan IV/c. [Far]

Wafat: Prof. Dr. Ir. Soedarmanto MEd
19 Desember 2005
Guru besar Fakultas Pertanian, Prof. Dr. Ir. Sudarmanto MEd, wafat kemarin malam (Minggu, 18/12) dalam usia 72 tahun setelah sakit beberapa lama. Jenazah guru besar penyuluhan dan komunikasi pertanian ini sejenak disemayamkan di lobi gedung Rektorat, Senin pagi 19/12, sebelum diberangkatkan untuk dimakamkan di pemakaman Kasin, Malang. Ratusan pentakziah, terdiri dari para guru besar, dosen, karyawan dan mahasiswa dengan khidmat mengikuti upacara singkat pelepasan jenazah, yang diawali pembacaan riwayat hidup almarhum oleh Dekan Fakultas Pertanian Prof. Dr. Ir. Syekhfani MS dan dilanjutkan dengan pidato singkat Rektor Unibraw Prof. Dr. Ir. Bambang Guritno.
Almarhum Prof. Soedarmanto, pria kelahiran Klaten, 4 Mei 1933 meninggalkan seorang isteri dan 4 orang putri, sarjana pertanian dan kehutanan Universitas Gadjah Mada (1961), master of education Sam Houston State University, AS (1979), dan doktor ilmu pendidikan dari IKIP Malang (1988). Karir sebagai pendidik diawali sebagai guru di SPMA (Sekolah Pertanian Menengah Atas) Padang (1957), guru SPMA Mataram (1961-1963), Direktur SPMA Mataram (1963-1988), Dekan Fakultas Pertanian Universitas Mataram (1966-1967), Direktur SPMA Malang (1966-1979), Pjs Pembantu Dekan I Fakultas Pertanian Unibraw (1981-1983) Direktur Program Diploma Fakultas Pertanian Unibraw (1982-1984), Ketua Jurusan Sosial Ekonomi Pertanian Fakultas Pertanian Unibraw (1991-1993), Wakil Ketua Pusat Studi Lingkungan Hidup Unibraw (1982-1993), Ketua Pusat Studi Lingkungan Hidup Unibraw (1993-1996), Wakil Ketua Unit KORPRI Unibraw (1984). Dikukuhkan sebagai guru besar (1994), dan purna tugas sejak 1 Juni 2003.
Semasa hidupnya almarhum dikenal sebagai sosok yang ramah, dan mendarmabaktikan hampir seluruh hidupnya untuk pendidikan. Penghargaan yang pernah diperoleh, antara lain penghargaan atas Pengembangan/Pembinaan SPMA Mataram (1975), penghargaan atas Pelaksanaan Kegiatan Pembangunan Pertanian Khususnya Pendidikan Pertanian dan Sekolah Pertanian Pembangunan (1994), dan penghargaan Satya Lancana Karya Satya 30 tahun. [Far]

Seminar Nasional Pengarusutamaan Gender
19 Desember 2005
Gender adalah konstruksi sosial budaya yang membedakan perempuan dan laki-laki dalam kehidupan masyarakat termasuk dalam riset, ilmu pengetahuan, dan teknologi (riptek). Dengan latar belakang itu, bekerja sama dengan Kementerian Negara Riset dan Teknologi diadakan seminar nasional bertajuk “Pengarusutamaan Gender dalam Program Peningkatan Sarana dan Kelembagaan Riptek”. Kegiatan dalam rangka perayaan Dies Natalis ke-43 Universitas Brawijaya ini dilaksanakan di ruang pertemuan Perpustakaan Pusat Universitas Brawijaya, Senin (19/12).
Hadir sebagai narasumber Ir. Nanang Wijanarko MSc dari Kementerian Negara Riset dan Teknologi (KMNRT) dengan materi “Kebijakan Strategis Iptek dan Upaya Peningkatan Sarana dan Kelembagaan Riptek”, Ir. Erlangga Satriagung (Ketua Kadinda Jatim) dengan materi “Sinergi Pengembangan Inndustri dengan Penelitian Universitas Guna Pengembangan R&D)”, Prof. Dr. Ir. Hj. Keppi Sukesi MS (Ketua Pusat Penelitian Gender dan Kependudukan Universitas Brawijaya) dengan materi “Pengarusutamaan Gender dalam Kelembagaan Riset Ilmu Pengetahuan dan Teknologi”, dan Prof. Dr. Ir. Chandrawati Cahyani MS (guru besar Fakultas MIPA Univesitas Brawijaya) dengan materi “Gender dalam Teknologi Terapan”.
Dalam makalahnya, Nanang menyebut bahwa Iptek 2025 mempunyai visi sebagai kekuatan utama peningkatan kesejahteraan yang berkelanjutan dan peradaban bangsa dengan implementasinya lebih difokuskan pada enam hal meliputi ketahanan pangan, sumber energi baru dan terbarukan, teknologi dan manajemen transportasi, teknologi informasi dan komunikasi, teknologi pertahanan dan teknologi kesehatan dan obat-obatan. Disampaikan lebih lanjut, selain enam bidang fokus pembangunan Iptek tersebut, aspek lain yang juga akan mendapat perhatian adalah teknologi air bersih, teknologi kelautan, sistem informasi
spatial, mitigasi bencana, teknologi dirgantara dan antariksa, dinamika sosial-politik-budaya-hukum dan bidang tematis lainnya.
Sementara itu, Prof. Keppi Sukesi mengatakan pengarusutamaan gender merupakan suatu strategi untuk mencapai kesetaraan dan keadilan gender melalui kebijakan dan program yang memperhatikan pengalaman, aspirasi, kebutuhan dan permasalahan perempuan dan laki-laki dalam perencanaan, pemantauan dan evaluasi dari seluruh kebijakan dan program di berbagai bidang kehidupan dan pembangunan. Dalam pendidikan iptek, isu gender yang perlu mendapat perhatian adalah akses dan pemerataan pendidikan, mutu dan relevansi, serta manajemen berbasis gender. “Melalui strategi PUG diharapkan laki-laki dan perempuan dapat memperoleh akses yang sama atas sumber daya pembangunan, berpartisipasi sama dalam proses pembangunan, memiliki kontrol yang sama atas sumberdaya pembangunan dan memperoleh manfaat yang sama dari hasil pembangunan”, ungkap Prof. Keppi. [nok]

Rektor Melepas Keberangkatan Calon Haji Unibraw
19 Desember 2005
Rektor Prof. Bambang Guritno, dalam sebuah upacara sederhana di Masjid Raden Patah melepas keberangkatan 117 orang jamaah calon haji Universitas Brawijaya. Sebagian besar dari jamaah itu berangkat bersama KBIH (Kelompok Bimbingan Ibadah Haji) Unibraw, dan selebihnya berangkat bersama KBIH ataupun penyelenggara perjalanan haji lainnya.
Anggota KBIH Unibraw sendiri, tahun ini tercatat sebanyak 89 orang jamaah, terbagi dalam 2 rombongan yang tergabung dalam kelompok terbang (kloter) 88, akan berangkat dari dari embarkasi Juanda Surabaya, 3 Januari 2006. Rombongan ini dibimbing oleh Drs. HM Samun Makmur dan Drs. MSubky Hasby MAg.
Daftar nama dosen dan karyawan Unibraw yang berangkat haji tahun ini selengkapnya adalah: PPA (3): Prof. Dr. H.Thohir Luth MA, Drs. HM Samun Makmur, Drs. M Subky Hasby MAg; FH (5): Agus Susanto SH, Drs. M Tabrani, Suprapti Suhartono, Sucipto SH MH, Nur Rosyidah Rakhmawati SH MH; FE (4): Drs. Nurkholis MBuss Ak, Drs. Harlendro MM, Dr. Unti Ludigdo MM, Ririen Tjahyaningtyas AMd; FIA (5): Dra. Zahroh ZA MSi, Drs. Wasis A Latief MP, Endang Suswati, Drs. Siswidiyanto MS, Endah Setyowati SSos MSi; FP (2): Anton Muhibuddin SP MP, Sapti Harini AMd; FPt (2): Dr. Ir. Kusmartono, Dr. Ir. Sri Wahyuningsih; FT (1): Dra. Haryati Usbandiah; FK (3): dr. Bambang Pardjianto SpBU SpBP, dr. Mahono Widayat DAPE MKes; Drs. H Khusnul Fathony MAg; FPI (3): Ir. Kusriani, Sutjipto, Ir. Maftuh MS; FMIPA (2): Dr. Tri Ardyati MAgr, Ir. HM Djamil MT; FTP (1): Ir. Sudarminto Sety Yuwono MSc; POL (4): Aad Haryadi, Drs. Moh Suaeb Reza, Ir. Djoko Trijanto, Herman Hariyadi; KP (11): Dra. Isnaini, Mulyaningwati SSos, Tarmidi, Moch. Djuhari, H. Slamet Winarko ST, Arbyarningtyas Wisnupati, Drs. Djaelani, Buchori, Sri Rahayu, Sri Widjiastuti, Samsul Arifin; Percetakan Danar Wijaya (1): Sri Utami Trianawati. [Far]

Pembukaan Dies Natalis ke-43 Unibraw
19 Desember 2005
Secara resmi Rektor Prof. Dr. Ir. Bambang Guritno membuka perayaan Dies Natalis ke-43 Universitas Brawijaya di Lapangan Bola Voli Kantor Pusat Unibraw, Senin (19/12). Pembukaan dilakukan dengan penyerahkan bola voli secara simbolis dari ketua panitia Dies Natalis tahun lalu, Dekan Fakultas Teknologi Pertanian Prof. Dr. Ir. Simon Bambang Widjanarko MAppSc, kepada ketua panitia Dies Natalis ke-43, Dekan Fakultas Hukum Warkum Sumitro SH MH.
Ketua Panitia Dies Natalis ke-43 Warkum Sumitro SH MH dalam sambutannya menyampaikan bahwa pertandingan olahraga bertujuan untuk merekatkan tali silahturahmi antar fakultas dan menyiapkan mental untuk menang dan kalah.
Seusai pembukaan, acara dilanjutkan dengan pertandingan bola voli antar fakultas dengan mempertandingkan 16 pertandingan. Penentuan juara I, II, dan III akan dilakukan pada 26 Desember 2005. Pertandingan bola voli akan diselenggarakan pada tanggal-tanggal berikut: 19, 20, 21, 22, dan 26 Desember 2005. [nik/vty]
Selengkapnya, jadwal pertandingan/lomba olahraga adalah sebagai berikut:
Cabang Olahraga
Tanggal
Waktu
Tempat
Pembukaan oleh Rektor 
19 Des 2005
08.00
Lapangan Bola Voli Unibraw
Bola voli 
19-26 Des 2005 
08.00
Lapangan Bola Voli Unibraw
Bulu tangkis 
Januari 2006
08.00
Samanta Krida
Tenis meja 
Januari 2006 
08.00
Samanta Krida
Tenis lapangan 
16-18 Jan 2006 
08.00
Lap. Tenis Indoor Tlogomas
Sepak bola mini
16-20 Jan 2006 
08.00
Lap. Kantor Pusat
Tarik tambang 
23-26 Jan 2006 
08.00
Lap. Kantor Pusat
Senam 
25 Januari 2006 
08.00
Samanta Krida
Jalan Sehat
12 Feb 2006
05.30
Start: Lapangan Kantor Pusat

Training Public Relations 2005 oleh UAKI
18 Desember 2005
Di era keterbukaan informasi seperti saat ini, keberadaan public relations (PR) patut menjadi perhatian. Hal ini setidaknya telah disadari oleh Unit Aktivitas Kerohanian Islam (UAKI) Universitas Brawijaya, yang pada Minggu (18/12) menyelenggarakan pelatihan di gedung Widyaloka Universitas Brawijaya. Kegiatan ini diberi nama Training Public Relations 2005 dengan tema "Improving Our Public Relations Skill in Globalization Era".
Dalam kesempatan tersebut, turut hadir sebagai pemateri adalah Prof. Dr. Bambang Guritno (Rektor Universitas Brawijaya), Akhmad Muwaffiq Sholeh SSos (dosen Program Ilmu Sosial Unibraw), Choirul Anwar (Redaktur Pelaksana Radar Malang) serta dr. Arif Alamsyah MARS (trainer TRUSTCO Malang).
Dalam paparannya Prof. Dr. Bambang Guritno menyampaikan definisi PR yaitu setiap usaha dalam menciptakan kehidupan yang harmonis suatu organisasi baik ke dalam maupun keluar pada masyarakat dalam arti luas untuk terciptanya tujuan organisasi, dengan menciptakan pengertian umum, kepercayaan umum, kerjasama umum dan bantuan umum, antara lembaga dengan karyawan maupun masyarakat. Lebih lanjut disampaikan oleh guru besar Fakultas Pertanian ini bahwa tujuan PR ada 2 yaitu pertama menciptakan opini publik yang favourable tentang kegiatan yang dilakukan oleh organisasi dan kedua secara positif berusaha untuk mendapatkan dan menambah penilaian dan goodwill suatu organisasi atau badan serta secara definitif berusaha untuk membela diri terhadap masyarakat yang bernada negatif bilamana diserang dan serangan itu kurang wajar.
“Dalam memenuhi hal tersebut maka dibutuhkan kepribadian sebagai seorang PR sebagai berikut: mempunyai kepibadian dan watak yang dapat menimbulkan perasaan disegani, dihormati dan dipercaya, mempunyai ketrampilan dalam menulis dan lisan, menguasai proses pembentukan pendapat umum yang dilakukan di masyarakat, mempunyai pengetahuan tentang bidang dimana dia dipekerjakan walau hanya sedikit serta kaya dengan pikiran dan idea”, ungkap Prof. Bambang.
Sementara itu, Choirul Anwar dalam materi pembuatan/manajemen isu menyampaikan bahwa dalam pembuatan isu setidaknya ada beberapa hal yang diperhatikan yaitu menang, kalah dan korban. [nok]

Lebih Dekat dengan Prof Dr Umar Nimran
Minggu, 18 Des 2005
Peraih Suara Tertinggi Penjaringan Carek Unibraw
Tingkatkan SDM, Siap Antar Unibraw Lebih Berkualitas
Seperti yang sudah disangka sebelumnya, akhirnya penjaringan pilrek di semua unit kerja Unibraw kemarin berhasil dimenangkan Prof Dr Umar Nimran. Dengan begitu, secara tidak langsung cita-cita, visi, dan misinya membawa Unibraw menembus batas nasional semakin terbuka. Gebrakan apa yang akan dia lakukan untuk membawa Unibraw ke depan setelah dia menduduki kursi rektor Unibraw? Berikut petikan wawancaranya.
Selamat Pak Umar atas keberhasilan Anda mendulang suara terbanyak dari penjaringan pilrek di level semua unit kerja Unibraw kemarin. Bagaimana perasaan bapak?
Alhamdulillah, saya bersyukur sekali. Sebab, semua berjalan seperti yang saya harapkan. Saya juga sudah menduga akan berhasil memperoleh suara terbanyak dan berada di urutan teratas. Ini karena sebelumnya saya sudah memperhitungkan dengan matang peta-peta yang saya miliki. Termasuk, memprediksi kisi-kisi suara yang akan saya dapat.
Apakah perolehan ini akan mampu bertahan di level senat nanti. Sebab, senat masih harus melakukan penjaringan dan pertimbangan lagi. Apakah bapak cukup optimistis?
Tentu saja. Semua orang harus optimistis menatap masa depan. Begitu juga dengan saya. Walau pun saya tidak tahu bagaimana mekanisme penjaringan di level senat nantinya, tapi saya cukup yakin masih bisa berada di puncak. Karena itulah, saya sangat berharap perolehan suara dalam penjaringan kemarin benar-benar menjadi acuan senat. Sehingga, proses demokrasi yang telah berjalan tidak tercederai.
Gebrakan apa yang akan Anda lakukan untuk membangun Unibraw ke depan?
Yang jelas, saya akan segera merealisasikan program kerja yang telah saya susun sebelumnya. Yakni, sebagaimana tertuang dalam visi, misi, dan program kerja saat penjaringan berlangsung kemarin. Pertama kali, saya akan meningkatkan daya saing lulusan Unibraw. Lulusan Unibraw harus lebih dari yang lain. Tidak hanya menguasai ilmu pengetahuan saja, tapi juga memiliki skill tinggi. Bahasa Inggris harus mahir, teknologi harus dikuasai, dan memiliki kemampuan berwirausaha.
Langkah konkretnya?
Pertama kali tentu saja membenahi sistem yang ada. Dalam hal ini tentu saja SDM (sumber daya manusia) yang harus didahulukan. SDM Unibraw harus benar-benar berkualitas, jika perlu semua tenaga akademi yang ada segera dikatrol kualitasnya. Salah satunya, dengan memanfaatkan kemudahan akses kegiatan ilmiah di luar negeri. Jika SDM sudah tergarap, secara otomatis mahasiswa yang ada dan semua unit yang ada di kampus ini akan berkembang maksimal.
Tapi, bukankah pengembangan kampus tidak akan maksimal jika hanya diisi dari segi SDM-nya saja. Apa langkah lain yang akan Anda lakukan?
Benar sekali. Saya pun sudah mempersiapkan kelengkapan SDM tadi. Untuk menunjang peningkatan kualitas mahasiswa, dalam hal ini tentu saja semua unit yang ada harus mampu mengembangkan inovasi IPTEK dan meningkatkan parsipasi institusi dalam pembangunan. Semua elemen yang ada di Unibraw harus saling bergandeng tangan. Mulai satpam, karyawan, dosen, pejabat, sampai mahasiswanya sendiri. Dengan sistem yang saling berkaitan dan saling mendukung itulah peningkatan daya saing untuk membangun Unibraw menjadi perguruan tinggi yang unggul dan disegani akan terwujud.
Selain itu?
Untuk menunjang langkah di atas, semua program studi yang ada harus berbasis kompetensi dan kewirausahaan. Ingat, dalam era seperti ini teori saja tidak cukup. Jika hanya mengandalkan teori, mahasiswa akan tergilas globalisasi. Sejak dini, mereka harus memiliki jiwa wirausaha. Dalam hal ini, universitas tentunya juga akan menyediakan semua fasilitas yang diperlukan. Ke depannya, kampus ini juga harus memiliki sistem penjaminan mutu. Saya akan melakukan semua dengan bertahap. Namun, yang pasti, saya akan meningkatkan dan mengemabngakan kerja sama internasional dalam bidang pendidikan dan penelitian. Termasuk, mengembangkan pasca sarjana berstandar internasional.
Bagaimana dengan masa depan mahasiswa sendiri, apalagi selama ini mahasiswa merasa fasilitas yang dimiliki, termasuk budaya akademik yang ada sama sekali belum mengena.
Kondisi tersebut memang satu masalah yang tidak gampang bagi saya. Tapi, dengan kerja keras dan kebersamaan, saya yakin Unibraw akan mampu melangkah lebih baik. Untuk mendukung hal itu, saya akan terus melakukan perbaikan proses belajar mengajar secara terus menerus menuju standar internasional. Selain itu, mahasiswa juga harus dibiasakan berbudaya ilmiah melalui lomba-lomba ilmiah di tingkat nasional dan internasional. Peningkatan budaya ilmiah ini juga bisa dilakukan lewat seminar, menulis buku, menulis artikel, dan jurnal bertaraf nasional, serta internasional. Sebab, itulah aset yang dimiliki perguruan tinggi.
Terakhir, bagaimana pula dengan pengembangan manajemen?
Untuk menuju organisasi yang sehat, maka manajemen juga harus sehat. Untuk menuju ke sana, semua pengelolaan kegiatan institusi dan keuangan harus transparan. Termasuk, meningkatkan pelayanan administrasi akademik, keunagan, dan kemahasiswaan berbasis IT. Mudah-mudahan apa yang katakan segera bisa direalisasikan. Bagaimana pun, jabatan adalah sebuah amanah yang harus saya pertanggungjawabkan. [nen]
--
Dikenal Terbuka dan Familier
Jika belum mengenal baik sosok yang satu ini, pasti akan terlintas bahwa Prof Umar Nimran adalah sosok yang kaku. Padahal, dia cukup familier dan humoris. Bahkan, di kalangan dosen muda dan mahasiswa, pria kelahiran Dompu, 2 Agustus 1949 ini sering dipanggil "Kanda" karena kedekatannya dengan mereka dan hormatnya pada sesepuh. "Siapa bilang saya ini kaku. Tidak kok, mungkin karena kebiasaan saya selalu tertib dan memegang aturan saja yang membuat orang menilai saya ini sedikit kaku. Ditambah, selama ini saya memegang jabatan yang tidak bersentuhan langsung dengan mahasiswa," ucapnya.
Memang, banyak orang yang bilang Umar adalah sosok organisatoris sejati. Bahkan, saking lamanya bergelut dalam dunia organisasi, dia pernah melakukan penelitian dan membuat tulisan tentang behavior organization atau tingkah laku organisasi. Tak heran, mekanisme yang selalu ditemuinya dalam tubuh orgasisasi terbawa dalam kehidupan sehari-harinya. Sehingga, mengesankan bahwa Umar adalah sosok yang sangat birokratis. "Saya ini sangat terbuka. Silakan, siapa yang mau datang pada saya. Pasti saya layani dengan baik," kata pria yang saat ini masih menjabat PR IV Unibraw ini.
Bahkan, untuk mempererat hubungannya dengan mahasiswa, Umar berjanji akan mengembangkan sarana dan prasarana akademik serta mewadahi apa saja yang menjadi keluhan mahasiswa selama ini. Cita-cita itu juga yang membuatnya memegang penuh motto committed to excellence. [nen]
--
Biodata
Nama: Prof Dr H Umar Nimran MA
Tempat tanggal lahir: Dompu, 2 Agustus 1949
Pendidikan:
- S1 FKK/FIA Unibraw tamat 1975
- S2 Ohio University-USA tamat 1982
- S3 Melbourne University-Australia tamat 1990
Riwayat Jabatan:
- PR IV Unibraw (2001-sekarang)
- Mantan PR I Unibraw
- Mantan Direktur Politeknik Unibraw
- Mantan PD III FKK/FIA Unibraw
Istri : Dra Hj Susiati
Anak :
1. Moh Iqbal S Sos MIB
2. Maria Ulfah SE Ak MM
3. Rizal Alfisyahr (mahasiswa FE Unibraw)
http://www.jawapos.co.id/index.php?act=detail_radar&id=110596&c=88

Seminar Sex dr Boyke
18 Desember 2005
Himpunan Mahasiswa Elektro Fakultas Teknik Universitas Brawijaya, Minggu (18/12) di Graha Medika Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya menyelenggarakan Seminar Sex 2005. Kegiatan ini mengundang ginekolog dan konsultan seks terkenal Dr. H. Boyke Dian Nugraha SpOG MARS dan diikuti lebih dari 500 remaja, pelajar dan mahasiswa.
Dalam kesempatan tersebut, dr. Boyke menyampaikan beberapa hal yang menjadi pengetahuan yang berharga bagi para remaja yang sedang mengalami proses pencarian jati diri serta pemenuhan rasa ingin tahu terlebih mengenai permasalahan sensitif yaitu cinta dan seks. “Cinta dan seks merupakan salah satu problem terbesar dari remaja dimanapun di dunia ini. Kehamilan remaja, pengguguran kandungan, terputusnya sekolah, perkawinan usia muda, perceraian, penyakit kelamin, penyalahgunaan obat, merupakan akibat buruk petualangan cinta dan seks yang salah disaat remaja. Tidak jarang masa depan mereka yang penuh harapan hancur berantakan karena masalah cinta dan seks”, ungkapnya diawal seminar. Audiens yang memenuhi gedung graha medika tersebut dengan antusias mengikuti berbagai materi yang disampaikan meliputi upaya mengenal kehidupan remaja, berpacaran yang sehat dan bebas AIDS serta pengaruh perilaku seks bebas pada intelektualitas.
Disampaikan lebih lanjut dalam kesempatan tersebut, bahwa iman merupakan rem paling pakem dalam berpacaran. “Justru penilaian kepribadian pasangan dapat dinilai saat berpacaran. Mereka yang menuntut hal-hal yang melanggar norma-norma yang dianut, tentunya tidak dapat diharapkan menjadi pasangan yang baik. Seandainya ia pun menjadi suami atau istri kelak tentunya keinginan untuk melanggar norma-norma pun selalu ada. Untuk itu “say good-bye” sajalah. Masih banyak kok pria dan wanita yang mempunyai iman dan moral yang baik yang kelak dapat membantu keluarga bahagia”, ungkapnya. [nok]

Gebyar Festival Tari 2005
17 Desember 2005
Unit Aktivitas Karawitan dan Tari (Unitantri) dalam rangka Dies Natalis ke-43 Universitas Brawijaya, Sabtu 17/12 menggelar Gebyar Festival Tari 2005. Setiap tahun Unitantri menyelenggarakan Festival Tari untuk memperebutkan Piala Rektor. Fesitval tahun ini adalah festival yang ke-13. Kegiatan ini dinamakan Gebyar Festival Tari Piala Rektor XIII antar Fakultas se-Universitas Brawijaya dan Antar Perguruan Tinggi se-Jawa Timur Tahun 2005. Kegiatan ini diselenggarakan dalam upaya untuk menampung dan mengangkat potensi mahasiswa dibidang seni tari di fakultas-fakultas yang ada di Universitas Brawijaya dan perguruan Tinggi di Jawa Timur.
Festival tari antar perguruan tinggi se-Jawa Timur dan antar fakultas se-Unibraw ini diselenggarakan di gedung Sasana Samanta Krida, mulai pukul 19.00 WIB. Kegiatan ini diikuti oleh 4 perguruan tinggi UM, Unesa, Unibraw, dan 5 fakultas dari lingkungan Unibraw.
Pada periode kali ini, tema kegiatan yang diambil adalah “Gebyar Festival Tari Piala Rektor XIII antar Fakultas se-Universitas Brawijaya dan Antar Perguruan Tinggi se-Jawa Timur sebagai wadah penyalur inspirasi dan kreasi dengan tetap memperhatikan kaidah etika dan estetika serta sebagai media silaturrahmi antar mahasiswa dalam proses melestarikan dan mengembangkan seni budaya bangsa. Secara rinci, kegiatan yang diselenggarakan di gedung Samanta Krida Universitas Brawijaya pada Sabtu (17/12) ini bertujuan untuk memacu kreativitas dan mengembangkan minat dan bakat dalam bidang seni, mengembangkan dan melestarikan nilai seni dan budaya bangsa dalam masyarakat khususnya mahasiswa, menumbuhkan rasa cinta dan kebanggaan terhadap nilai seni budaya bangsa sebagai nilai yang luhur serta mengembangkan seni tari sebagai aset budaya penunjang pariwisata.
atan Gebyar Festival Tari ini terbagi menjadi 2 yaitu Festival Tari antar Fakultas se-Universitas Brawijaya dan Festival Tari antar Perguruan Tinggi se-Jawa Timur. Beberapa fakultas yang melibatkan diri dalam kegiatan ini adalah Fakultas Ekonomi dengan tema “Tanah Kenyah”, Fakultas Ilmu Administrasi dengan tema “si Gendhuk”, Fakultas Pertanian dengan tema “Kalamangsane”, Fakultas Perikanan dengan tema “Puhan” serta Program Ilmu Sosial dengan tema “Kembali”. Sementara itu, beberapa universitas yang terlibat adalah Universitas Negeri Malang dengan tema “Autis”, Universitas Airlangga Surabaya dengan tema “Lumbung Garing”, Universitas Negeri Surabaya dengan tema “Lintang Kemukus dan Universitas Bhayangkara Surabaya dengan tema “Kukusan”.
Dewan Pengamat (istilah untuk dewan juri) dalam festival kali ini terdiri dari Sylvester Pamadi (staf pengajar koreografi Sekolah Tinggi Seni Indonesia - STSI, Surakarta), Drs. Hendro Martono MSn (dosen penciptaan seni pada Program Magister Institut Seni Indonesia - ISI Yogyakarta serta dosen koreografi dan tata cahaya  pada program sarjana ISI) dan yang ketiga adalah Tri Broto Wibisono SPd (pegawai Dinas Pendidikan Kota Surabaya sekaligus pendiri Bina Tari Jawa Timur di Surabaya).
Dengan kriteria meliputi: penyaji terbaik, koreografer terbaik, naskah terbaik, serta musik terbaik, Fakultas Pertanian terpilih sebagai juara umum untuk Festival Tari antar Fakultas se-Universitas Brawijaya, dan berhak mendapatkan piala bergilir Rektor Unibraw, yang tahun lalu dipegang oleh Fakultas Perikanan. Sementara untuk Festival Tari antar perguruan Tinggi se-Jawa Timur, Piala Rektor telah menjai hak Universitas Airlangga yang telah 3 kali berturut-turut menjuarai kegiatan ini. [nok]

Hasil Total Penghitungan Suara: Umar 420, Yogi 369, Djanggan 324
17 Desember 2005
Hasil penghitungan suara di 10 fakultas dan Kantor Pusat menunjukkan Prof. Umar Nimran unggul di 5 tempat pemungutan suara (KP, FH, FE, FIA, dan FTP) dengan total suara 420 (32,01%). Di urutan kedua Prof. Yogi Sugito dengan total suara 369 (28,13%), unggul di FP, FPt, FPi dan FMIPA. Di urutan ketiga, Prof. Djanggan Sargowo dengan total suara 324 (24,69%), unggul di 2 fakultas: FT dan FK. Pada urutan selanjutnya, Prof. Budiono Mismal dengan perolehan 106 suara (8,07%), dan terakhir Prof. Soekartawi dengan 60 suara (4,57%).
Jumlah suara masuk (pemilih yang hadir mengikuti proses penjaringan) seluruhnya 1312 suara, dari 1626 pemilih terdaftar yang berhak pilih. Ini berarti angka partisipasi untuk tingkat universitas cukup tinggi (80,19%). Sementara di tingkat fakultas, yang tertinggi adalah Fakultas Perikanan (87,70%) dan Fakultas Teknologi Pertanian (87,35%), dan yang terendah Fakultas MIPA (67,56%). Hal ini, menurut Dekan FMIPA Ir. Adam Wiryawan MS, disebabkan staf FMIPA banyak yang tugas belajar di luar Malang sehingga tidak dapat berpartisipasi dalam penjaringan ini.
Selengkapnya, hasil penghitungan suara adalah sebagai berikut:
TPS
Prof Budiono Mismail
Prof Soekartawi
Prof. Yogi Sugito
Prof Djanggan Sargowo
Prof. Umar Nimran
Tidak sah
Total
KP
2
1
21
18
25
1
68
FH
6
3
20
20
44
1
94
FE
5
2
20
32
61
5
125
FIA
2
1
29
18
79
5
134
FP
2
13
69
16
35
2
137
FPt
1
3
52
11
31
1
99
FT
61
14
38
62
12
7
194
FK
2
0
11
103
31
6
153
FPi
1
6
46
8
41
5
107
FMIPA
23
10
36
24
32
0
125
FTP
1
7
27
12
29
0
76
Jumlah
 106
60 
369
324
420
 33
1312
Rekapitulasi hasil penjaringan ini, oleh Ketua Panitia Penjaringan dan Pertimbangan Calon Rektor (PPPCR) Dr. Sihabudin SH diserahkan kepada Ketua Senat Prof. Dr. Bambang Guritno sore hari itu juga, guna diproses lebih lanjut oleh Senat Universitas Brawijaya.
Rektor Prof. Bambang Guritno menyambut baik hasil penjaringan ini, dan mengatakan: "Keterbukaan mulai muncul di kampus ini". Sebab, pada periode-periode sebelumnya pengumuman hasil penjaringan secara terbuka seperti itu tidak pernah terjadi. Diingatkannya bahwa masih ada proses lebih lanjut, yakni pemaparan program para calon rektor di depan Senat (24/12), dan pemberian pertimbangan Senat terhadap calon yang terjaring (31/12).
Dengan demikian, pada awal tahun baru nanti sudah ada 3 nama yang akan dikirmkan kepada Menteri Pendidikan Nasional untuk ditetapkan satu di antaranya sebagai Rektor Unibraw periode 2006-2010. [Far]

Pilrek Watch: Ada Dua Pelanggaran Berat
17 Desember 2005
Konon ada 2 pelanggaran berat yang ditemukan oleh Pilrek Watch. Meskipun demikian, Ngesti D Prasetyo, koordinator institusi ini mengatakan secara keseluruhan penyelenggaraan oleh panitia pemilihan rektor (pilrek) di Universitas Brawijaya ini berjalan cukup baik. Hal ini ditinjau dari waktu dimulainya pemungutan suara, perlakuan terhadap petugas Pilrek Watch, tidak ditemukannya surat suara palsu, dan terjaminnya kerahasiaan. Pilrek Watch juga menemukan keunikan yang terjadi di Fakultas Teknik. Setiap pemilih di sana mendapatkan uang transpor Rp 50 ribu, dan di beberapa tempat lain pemilih mendapatkan makanan kecil (snack) sehabis melakukan pemilihan.
Pelanggaran berat menurut penilaian Pilrek Watch, terjadi di Fakultas Kedokteran dan Fakultas Peternakan. Di Fakutas Kedokteran, panitia yang masih mengijinkan salah seorang dosen melakukan pencoblosan pada pukul 13.15 WIB padahal menurut tata tertib pencoblosan ditutup pukul 13.00 WIB. Sedangkan di Fakultas Peternakan, pelanggaran dilakukan juga oleh panitia karena pada pukul 12.30 WIB mereka telah menutup tempat pemungutan suara (TPS) dan telah melakukan perhitungan. Padahal pada pukul 12.30 WIB masih ada seorang pemilih yang ingin melakukan pencoblosan tetapi ditolak.
Ngesti D Prasetyo menyampaikan beberapa rekomendasi terhadap proses pemilihan ini, antara lain: perlu perbaikan sistem manajemen pemilihan rektor dan pembantu rektor yang lebih baik, hasil penjaringan hendaknya dijadikan pedoman bagi Senat Universitas untuk merekomendasikan kepada Presiden dan harus diadakan pemilihan ulang di Fakultas Kedokteran dan Fakultas Peternakan. [vty]

Hasil Perhitungan di Kantor Pusat Unibraw: Umar 25, Yogi 21, Djanggan 18
17 Desember 2005
Hasil perhitungan suara penjaringan calon rektor Unibraw yang dilakukan di Kantor Pusat, menunjukkan: Prof. Umar Nimran unggul di atas keempat calon rektor lainnya. Prof. Umar Nimran berhasil meraih dukungan 25 suara. Disusul kemudian Prof. Yogi Sugito di tempat kedua dengan dukungan 21 suara, Prof. Djanggan Sargowo di tempat ketiga dengan dukungan 18 suara, Prof. Budiono Mismail di tempat keempat dengan dukungan 2 suara, dan terakhir Prof. Soekartawi di tempat kelima dengan dukungan 1 suara.
Jumlah pemilih yang berhak memberikan suara di Kantor Pusat tercatat 82 orang. Dari jumlah itu hadir 68 orang dengan rincian 45 orang dari 46 orang dari pejabat struktural, dan 23 orang dari 36 orang perwakilan mahasiswa. [Far]

Program Pascasarjana: Bakti Sosial Donor Darah
17 Desember 2005
Program Pascasarjana dalam rangka memperingati dies natalis ke-43 Universitas Brawijaya menyelenggarakan kegiatan bakti sosial donor darah. Kegiatan ini digelar Sabtu (17/12) di lapangan parkir Gedung A Program Pascarjana, Jalan Mayjen Haryono 169, mulai pukul 08.00 WIB.
Diharapkan kegiatan ini diikuti oleh segenap sivitas akademika, karena panitia menyediakan kaos dan door prize yang menarik yang akan diundi pada akhir acara. Demikian informasi yang disampaikan Asisten Direktur I PPS-UB Prof. Dr. Ir. Soemarno MS. [Far]

Hari Ini, Penjaringan Calon Rektor Unibraw
17 Desember 2005
Dua buah baliho besar terpampang di gerbang selatan dan utara kampus Universitas Brawijaya sejak beberapa minggu yang lalu. Baliho itu berisi pesan "Tumbuhkan Demokrasi di Kampus Ini". Hari ini, Sabtu 17/12, ajakan itu akan dibuktikan.
Seribu lebih dosen dari 10 fakultas, 96 pejabat struktural eselon 2 hingga 4 (Kepala Biro, Kepala Bagian dan Kepala Subbagian), serta sekitar 100 orang perwakilan organisasi mahasiswa baik tingkat universitas maupun tingkat fakultas akan memberikan suaranya secara bebas dan rahasia di 11 tempat pemungutan suara, yakni di fakultas-fakultas dan kantor pusat.
Lima nama bakal calon rektor sudah siap untuk dipilih, semuanya gurubesar, semuanya doktor, semuanya haji, dan berusia antara 54 hingga 58 tahun. Mereka itu adalah: Prof. Budiono Mismail (58), Prof. Soekartawi (58), Prof. Yogi Sugito (54), Prof. Djanggan Sargowo (58), dan Prof. Umar Nimran (56). Kelima bakal calon itu sudah pula memaparkan visi, misi, serta program yang ditawarkan dan mengadakan dialog dengan sivitas akademika, baik di tingkat fakultas maupun di tingkat universitas.
Kini giliran sivitas akademika untuk menyalurkan aspirasinya dalam bentuk dukungan suara kepada calon yang dipandang mampu untuk memimpin Universitas Brawijaya selama 4 tahun ke depan.
Proses penjaringan ini berlangsung mulai pukul 08.00 hingga 13.00 WIB. Sebelum memberikan suaranya dengan prinsip "one man one vote", para pemilih diharuskan mengisi daftar hadir. Pemberian suara dilakukan dengan melingkari atau memberikan tanda silang nomor urut calon pada kartu suara.
Penghitungan suara dilakukan Panitia Penjaringan dan Pertimbangan Calon Rektor (PPPCR) mulai pukul 13.05 dengan disaksikan 3 orang saksi, dan berakhir paling lambat pukul 16.30 WIB. Hasil perhitungan dari masing-masing unit (fakultas dan kantor pusat), paling lambat harus diterima PPPCR di gedung Rektorat pukul 16.35, untuk selanjutnya dibuat rekapitulasi hasil perhitungan yang kemudian diserahkan PPPCR kepada Ketua Senat (Rektor) guna dibawa ke forum Rapat Senat untuk mendapatkan pertimbangan.
Proses pertimbangan oleh Senat Universitas Brawijaya, diharapkan dapat diselesaikan hingga 31 Desember 2005. Kemudian Senat akan mengusulkan 3 nama calon yang mendapatkan suara terbanyak dalam tahap pertimbangan kepada Menteri Pendidikan Nasional, dan Menteri akan menetapkan seorang di antaranya sebagai Rektor Unibraw periode 2006-2010. [Far]

Pensiun: Prof. A Mukthie Fadjar
16 Desember 2005
Guru besar hukum tatanegara, Prof. Abdul Mukthie Fadjar SH MS, 63 tahun, sesuai dengan Keputusan Presiden nomor 112/K Tahun 2005 tanggal 25 Agustus, telah diberhentikan dari pegawai negeri sipil pada Fakultas Hukum Universitas Brawijaya dengan hak pensiun. Sehubungan dengan itu, Rektor Unibraw melalui Keputusan nomor 189/SK/2005 pun memberhentikan yang bersangkutan dari keanggotaan Senat Fakultas Hukum maupun Senat Universitas Brawijaya. Keputusan ini berlaku sejak 16 Desember 2005.
Prof. A. Mukthie Fadjar SH MS, adalah sarjana hukum lulusan FH UGM (1970), magister dari Unair (1985), menjadi dosen FH Unibraw sejak 1971, dan sebelum ini pernah menjabat sebagai Dekan Fakultas Hukum, Rektor Universitas Widya Gama, dan terakhir berdasarkan Keppres nomor 147/M/2003 menjabat sebagai hakim pada Mahkamah Konstitusi hingga sekarang. [Far]

Kuliah Umum Deputi Gubernur Bank Indonesia
15 Desember 2005
Meski masih dipengaruhi oleh inflasi yang relatif tinggi, perekonomian Indonesia pada 2006 masih akan tumbuh pada kisaran 5 hingga 5,7%. Demikian pernyataan Deputi Gubernur Bank Indonesia Dr. Aslim Tadjuddin, dalam kuliah umum yang diselanggarakan, Kamis 15/12, dalam rangka perayaan Dies Natalis ke-43, Universitas Brawijaya di gedung Student Center.
Lebih lanjut, dalam kuliah berjudul “Perekonomian Indonesia Terkini dan Outlook Perekonomian Tahun 2006”, itu Aslim Tadjuddin mengungkapkan berbagai upaya yang telah ditempuh pemerintah dan Bank Indonesia sejak krisis 1997 telah membawa perbaikan terhadap kondisi perekonomian Indonesia. Perkembangan perekonomian Indonesia secara umum dapat dilihat dari menurunnya laju inflasi, meningkatnya nilai ekspor dan investasi, tingkat konsumsi yang relatif stabil, serta menguatnya nilai tukar rupiah pada 2004.
Sektor eksternal dan internal perekonomian Indonesia terjadi dalam tahun 2005, seperti meningkatnya harga minyak dunia, kebijakan moneter ketat, meningkatnya konsumsi BBM dalam negeri, serta menurunnya produksi minyak Indonesia merupakan tantangan berat yang menyebabkan melemahnya nilai tukar rupiah. Untuk memperkuat nilai tukar rupiah serta menekan angka inflasi, Bank Indonesia menawarkan paket kebijakan, seperti menaikkan tingkat suku bungan, menyerap likuiditas secara maksimal melalui instrumen fine tune kontraksi, serta meningkatkan kinerja loan to deposite ratio (LDR) bank.
Aslim berpendapat bahwa pada 2006, pertumbuhan Indonesia masih dipengaruhi oleh inflasi yang relatif tinggi. Penyebabnya antara lain mahalnya harga minyak dunia, kemungkinan melemahnya mata uang dunia terhadap dolar AS, serta tingginya harga jual BBM dalam negeri sebagai dampak pengurangan subsidi. Dengan dilakukannya koordinasi kebijakan antara Bank Indonesia dan pemerintah, diharapkan dapat mengendalikan perkembangan moneter di Indonesia.
Aslim Tadjuddin, pria kelahiran Payakumbuh (Sumatera Barat), 30 Desember 1949, menyelesaikan pendidikan Sarjana Ekonomi di Universitas Andalas, Padang, serta memperoleh gelar MA dalam bidang Ekonomi Internasional dan gelar PhD dalam bidang Ekonomi Moneter dan Internasional di University of Colorado, Boulder, Amerika Serikat. Karirnya di Bank Indonesia dimulai tahun 1977 sebagai staf di Bagian Neraca Pembayaran, Urusan Ekonomi Statistik. Pada tahun 1998, dipercaya sebagai Kepala Perwakilan Bank Indonesia di New York, Amerika Serikat, kemudian pada tahun 2001-2002 menjabat sebagai Direktur Direktorat Pengelolaan Moneter. Sejak 11 November 2002 menjabat sebagai Deputi Gubernur Bank Indonesia berdasarkan Keputusan Presiden RI Nomor 204/M tahun 2002. [Far/nik]

Visi, Misi, dan Program Bakal Calon Rektor Unibraw 2006-2010
14 Desember 2005
Lima bakal calon rektor Universitas Brawijaya hadir dalam acara pemaparan visi misi dan dialog yang digelar di gedung Widyaloka, Rabu (14/12). Mereka itu ialah: Prof. Budiono Mismail (guru besar Fakultas Teknik), Prof. Soekartawi (guru besar Fakultas Pertanian), Prof. Yogi Sugito (guru besar Fakultas Pertanian), Prof. Djanggan Sargowo (guru besar Fakultas Kedokteran), dan Prof. Umar Nimran (guru besar Fakultas Ilmu Administrasi).
Dr. Candra Fajri Ananda DEA, dosen Fakultas Ekonomi, bertindak selaku moderator memimpin dialog antara bakal calon rektor dengan segenap sivitas akademika yang memenuhi ruang pertemuan utama gedung Widyaloka Univesitas Brawijaya.
Kegiatan diawali dengan pemaparan visi misi oleh para bakal calon rektor. Berikut adalah ringkasan visi, misi dan program masing-masing bakal calon rektor yang disampaikan dalam acara tersebut.
Prof. Ir. Budiono Mismail MSEE PhD
Dalam paparan dengan tajuk “Pengelolaan Universitas Brawi-jaya Menuju Universitas Otonomi”, Prof. Budiono Mismail mengawali dengan motto “Bersama-sama Kita Berikan yang Terbaik untuk Universitas Brawijaya”.
Visi yang diangkat Prof. Budiono Mismail adalah “Mengantarkan Universitas Brawijaya Menjadi Universitas Unggulan dan Dapat Berperan sebagai Agen Perubahan Masyarakat Melalui Proses Pendidikan, Penelitian dan Pengabdian yang Memenuhi Standar Nasional dan Internasional”.
Guna mencapai visi tersebut, ia berpijak pada 3 misi utama. Pertama, penyelenggaraan pendidikan untuk membangkitkan kesadaran tentang keberadaan Tuhan YME serta sadar bahwa kehidupan memiliki hak untuk dihargai. Kedua, memimpin penyelenggaraan proses pendidikan agar peserta didik memiliki kemampuan akademik dan/atau professional, dan ketiga bersama-sama melakukan inovasi, pengembangan dan penye-barluasan iptek, humaniora dan seni serta mengupayakan penggunaannya untuk meningkatkan taraf kehidupan masya-rakat dan memperkaya kebudayaan nasional.
Dalam presentasinya itu, ia terutama berkonsentrasi pada beberapa hal meliputi organisasi dan manajemen, dosen, kemahasiswaan dan alumni, kurikulum dan proses belajar mengajar, sarana pendukung PBM serta penelitian dan pengabdian kepada masyarakat.
Budiono yang pernah menjabat sebagai Kepala Pusat Komputer Unibraw mempunyai komitmen terhadap pemanfaatan teknologi informasi dalam pengelolaan organisasi dan manajemen serta memanfaatkannya sebagai satu prasarana menuju e-campus.
Sementara dalam hal sarana penunjang, ia berkonsentrasi pada tiga hal, yaitu perpustakaan pusat yang terkoordinasi dan terinterkoneksi, evaluasi penataan kembali laboratorium, serta pemberdayaan kembali Brawijaya University Press sebagai penerbit buku ajar.
Prof. Dr. Ir. Soekartawi MS
Prof. Soekartawi, dalam paparannya mengangkat lima isu strategis yang untuk periode 2006-2010 serta penyikapannya meliputi kualitas, otonomi, akuntabilitas, akreditasi dan evaluasi. Kelima isu tersebut akan dikaitkan dengan kemampuan berkompetisi, pola manajemen yang berasaskan otonomi serta kualitas dan efisiensi organisasi.
Jika terpilih menjadi rektor, demikian Soekartawi, ia tidak akan melakukan perubahan yang mendasar tetapi meneruskan apa yang telah dicapai sebelumnya dengan melakukan evaluasi terlebih dahulu dan melanjutkan visi dan misi sesuai Statuta Unibraw.
Mengenai visi Unibraw saat ini: “menjadi universitas terkemuka yang menembus batas nasional”, dia per-tegas rumusannya: “menjadi universitas terkemuka, baik di Indonesia maupun di kawasan Asia Tenggara khususnya yang mampu merespon iptek melalui pendidikan, penelitian dan pengabdian masyarakat yang memenuhi standar naional maupun internasional”.
Diungkapkan pula bahwa penelitian, pendidikan dan pengabdian masyarakat serta administrasi akan berjalan dengan motor penggerak menjadikan Universitas Brawijaya sebagai “research university” dan pemanfaatan IT/ICT sehingga diharapkan akan memberikan tampilan yang beda bagi Universitas Brawijaya.
Prof. Dr. Ir. Yogi Sugito
Prof. Yogi Sugito mendasarkan penyusunan program pengembangan pada beberapa hal, yakni global trends, standar internasional, standar nasional, kebutuhan masyarakat serta analisis SWOT Universitas Brawijaya.
Visi yang ditawarkannya adalah “menjadikan Universitas Brawijaya sebagai universitas bertaraf internasional yang berguna bagi pembangunan bangsa”, dengan misi untuk menghasilkan lulusan dan iptek yang berkualitas dan berdaya saing global, membina masyarakat dalam pembangunan serta mewujudkan kehidupan kampus yang nyaman dan sejahtera.
Dalam program kerjanya, ia mencoba memprioritaskan semua aspek meliputi kelembagaan, kepemimpinan, pendidikan, penelitian dan pengabdian masyarakat, keuangan, kepegawaian, kemahasiswaan dan alumni, kerjasama serta prasarana. Dalam hal prasarana, ia akan berusaha untuk melengkapi faslitas yang ada yaitu student center, asrama mahasiswa, kebun percobaan, gedung parkir, technology park, relokasi kampus politeknik secara bertahap serta membangun rumah sakit pendidikan.
Prof. Dr. dr. Djanggan Sargowo SpPD SpJP (K)
Guru besar kedokteran ini mempunyai visi: “Menjadikan Universitas Brawijaya sebagai universitas terkemuka dalam bidang pendidikan, penelitian dan pemberdayaan masyarakat”.
Berangkat dari beberapa isu stra-tegis yang dihadapi dunia pendi-dikan saat ini, meliputi peningkatan produktivitas dan efisiensi pendi-dikan, perbaikan atmosfer akade-mik, penerapan paradigma baru penataan sistem pendidikan yang relevan dengan kebutuhan masya-rakat, perluasan dan pemerataan kesempatan belajar dan peningkatan kualitas SDM maka ia memprioritaskan program utamanya pada 16 poin.
Program utama itu adalah: (1) peningkatan kualitas dan pengem-bangan staf akademik, (2) pembinaan suasana akademik, (3) akreditasi program studi, (4) peningkatan kemampuan evaluasi diri dan sistem penjaminan mutu, (5) peningkatan kualitas pembelajaran untuk menghasilkan lulusan berkualitas dan tepat waktu, (6) peningkatan penguasaan leadership dan entrepre-neurship oleh lulusan, (7) pengembangan program studi unggulan pasar, (8) pemantapan pengelolaan program pasca-sarjana, (9) peningkatan kualitas penelitian, (10) penguatan publikasi ilmiah, (11) peningkatan relvansi dan kualitas layanan pemberdayaan masyarakat, (12) kerjasama kemitraan pendidik-an untuk memenuhi kebutuhan sumberdaya manusia berkualitas di daerah, (13) penguatan organisasi kemahasiswaan, (14) penguatan basis data dan sistem informasi, (15) kesehatan keluarga besar Universitas Brawijaya, serta (16) pemanfaatan sistem promosi karir prefessional bagi karyawan Unibraw dan sistem insentif yang lebih adil.
Prof. Dr. Umar Nimran MA
Guru besar Fakultas Ilmu Administrasi ini memiliki motto “commited to excellent” dengan memperjuangkan visi “menjadi universitas yang terkemuka di bidang pendidikan, penelitian dan pengabdian masyarakat, berperan aktif dalam peningkatan peradaban, iptek serta mampu memecahkan berbagai masalah kemasyarakatan”.
Ditawarkannya 9 pokok program kerja yang meliputi: (1) peningkat-an mutu pendidikan, (2) manajemen organisasi, (3) sumber daya manusia: dosen dan karyawan, (4) membangun reputasi, (5) kerjasama internasional dan nasional, (6) kemahasiswaan dan alumni, (7) pemantapan otonomi, (8) sarana, prasarana dan lingkungan kampus, serta (9) kegiatan usaha.
Dinamis
Seusai pemaparan, acara dilanjutkan dengan dialog yang ber-langsung dinamis. Bahkan beberapa audiens mahasiswa sempat mengajukan pertanyaan dalam bahasa Inggris, guna mengetahui kemampuan berbahasa Inggris kelima bakal calon rektor. Sempat mengemuka dalam pertanyaan yang diajukan oleh audiens, permasalahan alumni dan mahasiswa, permasalahan kesejahteraan dosen dan karyawan, permasalahan infrastruktur, permasalahan BHPMN serta kreativitas para calon rektor dalam menggalang dana guna menyongsong BHPMN.
Setelah dialog selesai, dalam kesempatan terakhir kegiatan tersebut, Presiden Eksekutif Mahasiswa Universitas Brawijaya Agung Pamujiyanto mengajukan 12 poin kontrak komitmen yang diajukan kepada bakal calon rektor, tetapi para bakal calon meminta waktu untuk mempelajarinya terlebih dulu.
Dialog di fakultas
Sebelum dialog yang digelar di Widyaloka, beberapa fakultas sudah mengadakan acara serupa di tempat masing-masing. Diawali oleh Fakultas Ekonomi (9/12), kemudian Fakultas Ilmu Administrasi (10/12), Fakultas Teknologi Pertanian (12/12) dan terakhir Fakultas MIPA (13/12).
Uneg-uneg yang sempat muncul ke permukaan dalam dialog-dialog tersebut, antara lain masalah kepindahan Politeknik ke kampusnya yang baru. Dimaklumi bahwa, FTP yang gedungnya terpencar-pencar, selalu dijanjikan akan menempati gedung-gedung yang hingga sekarang masih digunakan Politeknik. Bahkan janji tersebut telah dilontarkan calon rektor pada masa “kampanye” rektor 4 tahun silam. Selain itu, berbagai masalah yang mengemuka adalah masalah BHPMN, kesejahteraan dosen dan karyawan, kepangkatan, publikasi karya ilmiah yang terhambat oleh kinerja Percetakaan Unibraw serta pesan untuk memperjuangkan para pegawai honorer. [nok]

Workshop Lakip PTN se Indonesia
14 Desember 2005
Universitas Brawijaya, Rabu 14/12, menyelenggarakan Workshop Penyegaran Penyusunan Lakip (Laporan Kinerja Instansi Pemerintah) 2005. Selain diikuti oleh 47 peserta dari Unibraw, menurut ketua panitia Dra Siti Romlah, workshop juga diikuti 31 peserta dari 12 perguruan tinggi negeri di Indonesia (Universitas Syiah Kuala Banda Aceh, Universitas Negeri Padang, Universitas Sriwijaya Palembang, Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto, Universitas Negeri Semarang, Universitas Airlangga Surabaya, Universitas Negeri Surabaya, Universitas Jember, Universitas Lambungmangkurat Banjarmasin, Universitas Sam Ratulangi Manado, Universitas Tadulako Palu, dan Universitas Nusa Cendana Kupang). "Semula workshop ini dimaksudkan untuk kalangan interen Unibraw, tapi karena banyaknya permintaan dari perguruan tinggi lain untuk ikut serta maka pesertanya diperluas", tuturnya dalam laporan.
Mudah diucapkan
Rektor Unibraw Prof. Bambang Guritno dalam sambutan pembukaan mengatakan strategi pembangunan pendidikan tinggi jangka panjang (Higher Education Long Term Strategy-HELTS) antara lain bertujuan menghasilkan lulusan berkualitas, yang bisa bersaing dalam dunia kerja. Dikatakan, tolok ukur program-program hibah kompetisi Ditjen Dikti selalu berpedoman pada RAISE (relevancy, academic atmosphere, internal management, sustainability, efficiency & productivity) plus leadership. Untuk itu pula diperlukan 4 pilar pendukung, yaitu otonomi, akreditasi, efisiensi-efektivitas, dan akuntabilitas. Menurut Rektor, "efesiensi dan efektivitas mudah diucapkan, tapi sulit untuk dilaksanakan".
Di samping narasumber dari Unibraw sendiri, workshop menghadirkan narasumber dari luar. Dr. Ir. Dadang Sudiyarto dari Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Depdiknas membawakan materi "Rencana Strategis Pendidikan Tinggi 2005-2009". Sementara dari Unibraw, Ir. As'at Munawir MT dan Goerid Hardjito SE MM (Penyelenggara Kegiatan dan Usaha Pendididkan Tinggi - PKUPT Unibraw) menyampaikan makalah "Anggaran Berbasis Kinerja", serta dr. Andi Ansharullah akan berbagi pengalaman dengan menyampaikan topik "Pola Unibraw dalam Menyusun Lakip" dan makalah berjudul "Pengisian Format Lakip dan Pengukuran Kinerja".
Daya saing bangsa
Menjelaskan tujuan program pembangunan pendidikan tinggi, narasumber Dadang Sudiyarto menegaskan 3 hal yang hendak dicapai, yaitu meningkatkan pemerataan dan perluasan akses terhadap pendidikan tinggi; meningkatkan mutu dan relevansi sesuai kebutuhan pasar kerja serta pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) dalam rangka memberikan sumbangan bagi peningkatan kesejahteraan dan daya saing bangsa; dan meningkatkan kinerja perguruan tinggi melalui peningkatan produktivitas, efisiensi, dan akuntabilitas  pengelolaan layanan pendidikan tinggi secara otonom melalui badan hukum pendidikan (BHP). Dikatakannya bahwa, rendahnya kualitas pendidikan tinggi akan berdampak pada rendahnya daya saing bangsa, dan pada akhirnya kemakmuran, keamanan, dan kesejahteraan bangsa juga rendah.
Setelah membeberkan kondisi pendidikan tinggi Indonesia saat ini, baik dari segi prestasi di bidang R&D (research and development), daya saing bangsa dari indikator ekonomi makro, kebijakan pemerintah untuk meningkatkan daya saing, perilaku inovatif, tanggung jawab dan profitabilitas perusahaan, kontribusi sains teknologi dan SDM terhadap dunia usaha, angka partisipasi kasar pendidikan tinggi, maupun pendanaan pendidikan oleh sektor publik dan masyarakat serta pengalokasian dana pemerintah, Dadang Sudiyarto menyimpulkan ada 3 penyebab utama rendahnya kualitas pendidikan. Yakni, sistem pendidikan tinggi yang sentralistik dan seragam, jumlah dan manajemen pendanaan yang sangat memprihatinkan, dan manajemen SDM dan fasilitas yang buruk.
Visi baru
Pada kesempatan itu pula diinformasikan visi terbaru Depdiknas yakni "Insan Indonesia Cerdas dan Kompetitif", sementara visi 2010 Ditjen Dikti adalah "Suatu sistem pendidikan tinggi yang berkualitas tinggi, mrnjamin akses bagi semua calon peserta didik yang memenuhi persyaratan mutu akademik, serta memiliki otonomi yang dapat menjamin terselenggaranya kegiatan akademik yang efesien dan berkualitas".
Ada 3 isu strategis pendidikan tinggi untuk mencapai visi itu, yaitu: peningkatan daya saing bangsa, otonomi dan desentralisasi, serta organisasi yang sehat. Mengenai otonomi, Dadang Sudiyarto mengatakan otonomi memberikan keleluasaan pada perguruan tinggi untuk menghasilkan lulusan yang berkualitas. "Tidak harus diartikan dengan pendidikan mahal, SPP naik, atau komersialisasi perguruan tinggi", tukasnya. Dengan otonomi dan desentralisasi, menurut Dadang, terjadi pergeseran peran Ditjen Dikti, dari regulator menjadi fasilitator dan penyedia infrastruktur perundangan. Selain itu terjadi restrukturisasi pendanaan pemerintah dalam bentuk kompetisi dan block grant, yang memungkinkan terjadinya peningkatan kualitas, inovasi, dan efisiensi. Dengan otonomi, perguruan tinggi mempunyai keleluasaan dalam pengaturan sumberdaya manusia (PNS). Sementara itu, dengan adanya otonomi dan desentralisasi pula, masyarakat luas (industri) mempunyai tanggung jawab sosial terhadap masyarakat yang kurang mampu dari segi ekonomi melalui penyediaan berbagai fasilitas seperti beasiswa, pinjaman, dan voucer dengan pendekatan pada peningkatan kualitas bantuan daripada tercapainya jumlah secara kuantitatif.
Workshop berlangsung hingga sore hari dan ditutup secara resmi oleh Pembantu Rektor IV bidang perencanaan dan kerjasama Prof. Dr. Umar NImran MA. [Far]

Dharma Wanita: Kursus Menata Meja Makan
14 Desember 2005
Dharma Wanita Universitas Brawijaya, Rabu 14/12, menyelenggarakan kursus singkat menata meja makan. Kegiatan yang diselenggarakan dalam rangka peringatan hari ibu dan Dies Natalis ke-43 Universitas Brawijaya ini diikuti oleh puluhan anggota Dharma Wanita tingkat universitas. Hadir sebagai pemateri Ny. Rien Guritno dan Ny. Riska Hidayat.
Tiga gaya menata meja makan yang diberikan dalam kursus singkat meliputi gaya tradisional yang menampilkan peralatan makan bercirikan Indonesia, daya western atau barat yang menampilkan pakem Eropa, serta gaya oriental yang menampilkan budaya Cina maupun Jepang.
Menata meja makan, ulas Rien Guritno, harus disesuaikan dengan kondisi lingkungan dan adat istiadat tanpa meninggalkan pakem yang sudah ada serta etika kesopanan. Sebagai contoh, Indonesia yang cenderung berdebu lebih baik menutup gelas minum ataupun menengkurapkan piring makan. Bahwa kreativitas dalam menata meja makan sangat diperlukan. Hal ini semata-mata agar tamu atau anggota keluarga lebih nikmat menyantap hidangan yang disajikan.
Setelah mengikuti kursus ini diharapkan dapat meningkatkan kreativitas ibu-ibu anggota Dharma Wanita Universitas Brawijaya. Pengetahuan yang diberikan dalam kursus ini akan diperlombakan dalam Lomba Menata Meja Makan pada perayaan Hari Ibu mendatang. [nik]

Workshop Peranan Wanita dalam Fisika
13 Desember 2005
Sedikitnya jumlah mahasiswi di Jurusan Fisika Unibraw mendorong jurusan itu mengadakan workshop bertema "Peranan Wanita dalam Fisika". Workshop yang dihadiri oleh 48 orang dari siswa-siswi SMU Negeri Malang dan Pusat Studi Wanita (PSW) universitas negeri dan swasta ini mencoba mempromosikan fisika dan peranan wanita jika terjun di bidang tersebut.
“Adanya kesenjangan peran antara wanita dan laki-laki mempengaruhi kenapa fisika kurang diminati oleh wanita", jelas Lailatin Nuriah, steering committee acara tersebut. Setelah wanita terjun ke dunia kerja mereka akan mengalami perbedaan dalam penempatan kerja baik di swasta ataupun di pemerintahan.
Workshop yang digelar selama 2 hari, 13-14 Desember 2005, ini menghadirkan pembicara, di antaranya: Prof. Dr. Ir. Hj. Keppi Suksesi MS (PSW Unibraw), Dr. Priahantinah Tri Lisiani (PSW Unsoed), Ir. Rahayu S MSIE, (konsultan dari Jakarta) dan Nenen Rusnaini MSc (LIPI Bandung). Dalam acara tersebut dibedah kemungkinan dan manfaat yang sebenarnya bisa diambil jika wanita memilih jurusan fisika. Dr. Priahantinah Tri Lisiani memberikan gambaran tentang peranan perempuan, kebijakan iptek dan HAM di Indonesia. Ia juga menjelaskan bahwa wanita memang kurang tertarik terhadap ilmu pengetahuan dibandingkan laki-laki sehingga harus diakui bahwa wanita memang telah tertinggal dalam penguasaan iptek. [vty]

Ujian Terbuka Disertasi Ir. Rudy Soenoko MEngSc
12 Desember 2005
Program Pascasarjana Universitas Brawijaya (PPS-UB), Senin 12/12, mengadakan ujian terbuka disertasi bagi Ir. Rudy Soenoko MEngSc, 56 tahun. Dosen senior Teknik Mesin Fakultas Teknik Unibraw ini membawakan disertasi berjudul "Respon Peningkatan Akurasi Oximeter dengan Mikrokontroler terhadap Hasil Pengukuran Saturasi Oksigen dalam Darah In Vivo (Upaya Linierisasi Unjuk Kerja Photomultiplier untuk Meningkatkan Akurasi Oximeter)" dalam ujian pada Program Doktor Ilmu Kedokteran PPS-UB. Bertindak sebagai promotor Prof. Dr. dr. Djanggan Sargowo SpPD SpJP(K), dan ko-promotor Dr. dr. Edi Widjajanto MS SpPK, serta Prof. Ir. I NG Wardana MEng PhD. Sedangkan para penguji terdiri dari Prof. dr. M Aris Widodo MS SpFK PhD, Prof. Ir. Sudjito PhD, Ir. Antariksa MEng PhD, dan Ir. Moses L Singgih MRegSc PhD.
Pengukuran saturasi oksigen dalam darah sangat diperlukan untuk mengetahui penyebab tidak berfungsinya organ tubuh akibat penurunan saturasi oksigen dalam darah. Rudy Soenoko dalam disertasinya mencoba membandingkan tingkat akurasi oximeter, salah satu dari sekian banyak alat pengukur saturasi oksigen darah (PO2) yang digunakan, dengan mikrokontroler.
Dikemukakan, salah satu kelemahan peralatan oximeter yang ada saat ini, pengukurannya kurang akurat. Ini disebabkan sensor yang dipakai adalah sebuah photomultiplier yang memberikan keluaran berupa tahanan listrik yang tidak berbanding lurus dengan masukan yang berupa panjang gelombang tertentu. Pemanfaatan mikrokontroler, menurut Rudy Soenoko, merupakan solusi untuk menghasilkan pengukuran yang lebih akurat.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan terhadap hewan uji tikus wistar dengan tiga perlakuan (normal, gangguan paru-paru dan anemia) didapatkan hasil bahwa alat ukur dengan memanfaatkan mikrokontroler memberikan hasil unjuk kerja yang lebih baik daripada alat ukur saturasi oksigen dengan konsep lama (PO3220). Sensitivitas oximeter dengan mikrokontroler menunjukkan tingkat sensitivitas sebesar 0.87, sedangkan PO3220 sebesar 0.62. Selain itu nilai ketidakpastian alat dengan konsep baru adalah 0.04 sampai 0.02 pada pengulangan pengukuran sebanyak 400 kali atau sekitar 100 detik, dengan tingkat akurasi sebesar 0.98% serta dapat membaca presisi sampai 0.1%.
Hasil ujian terbuka disertasi, Rudy Soenoko dinyatakan lulus dengan predikat memuaskan, indeks prestasi 3,46 dan masa studi empat tahun empat bulan. Untuk itu ia berhak menyandang gelar doktor ilmu kedokteran dengan minat teknologi kedokteran.
Berisiterikan Ir. Rispiningtati MEng (dosen Teknik Sipil FT Unibraw), Dr. Ir. Rudy Soenoko MEngSc dikaruniai seorang putra. Mendapatkan gelar sarjana teknik mesin dari Fakultas Teknik Universitas Brawijaya (1983), dan master di bidang yang sama dari Melbourne University Australia (1991), Rudy Soenoko mengabdikan diri sebagai dosen Fakultas Teknik Unibraw sejak 1983. [nik]

Seminar Nasional Ketahanan Pangan Masyarakat
12 Desember 2005
Keresahan terhadap gizi buruk masyarakat dirasakan oleh mahasiswa yang tergabung dalam Himpunan Mahasiswa Teknologi Hasil Pertanian (Himalogista) Universitas Brawijaya. Senin 12/12, Himalogista menggelar Seminar Nasional tentang Ketahanan Pangan dan Gizi Masyarakat. Seminar membahas keadaan kualitas gizi masyarakat Indonesia dan peran akademisi dalam menjaga ketahanan pangan masyarakat.
Acara yang digelar di Widyaloka Unibraw ini ternyata diminati banyak orang. Sekitar  300 peserta memenuhi ruang pertemuan. “Dari seminar ini kami harap akan ada kebijakan untuk membahas masalah ketahanan pangan ini,” ujar Sugiono, Ketua Himalogista Unibraw.
Rawan gizi
Kekurangan gizi pada masa anak-anak akan sangat mempengaruhi perkembangan fisik dan mental di saat dewasa. Demikian pendapat Hendarmoko Budi Prasetyo AMd, staf Rumah Sakit Surabaya Internasional (RSSI). Dalam seminar itu Hendarmoko mengatakan, kasus rawan gizi yang perlu dijaga adalah pada masa bayi. Proses pertumbuhan otak pada tahap perkembangan pada umur 0-2 tahun. Ia juga menjelaskan jika bayi seumuran itu mengalami kekurangan gizi maka akan sangat berpengaruh pada IQ, EQ dan pertumbuhan fisiknya.
Sangat ironis, jika melihat kondisi Indonesia yang sangat berlawanan dengan sumberdaya alam yang tersedia. Indonesia yang terkenal dengan gemah ripah loh jinawinya, sumber-sumber bahan makanan ternyata masih terjadi berbagai kendala kekurangan asupan gizi.
Desa mandiri pangan
“Keberhasilan pemberdayaan masyarakat akan sangat tergantung dari komitmen dan partisipasi seluruh pemangku kepentingan,” jelas Dr. Ir. Kaman Nainggolan MS, Ketua Badan Ketahanan Pangan. Ia juga menyampaikan bahwa dalam upaya pemantapan ketahanan pangan masyarakat sejak tahun 2002 telah dikembangkan 7 model pemberdayaan ketahanan nasional. Pada pelaksanaannya model pemberdayaan tersebut harus memperhatikan dinamika permasalahan antarwilayah dan masyarakat. Untuk mengintegrasikan model-model pemberdayaan ketahanan pangan, mulai tahun 2006 dikembangkan program aksi Desa Mandiri Pangan.
Pada sesi kedua membahas mengenai peran akademisi dalam mempertahankan ketahanan pangan masyarakat yang disampaikan oleh Prof. Dr. Ir. Sri Rahardjo MSc dan Prof. Dr. Ir. Harijono MAppSc.
“Untuk meminimalisasi kehilangan hasil, maksimalisasi rentang waktu ketersediaan, diversifikasi jenis produk pangan olahan, dan peningkatan kualitas dan keamanan pangan yang berbasis pada komoditas yang dihasilkan masyarakat perlu dilakukan penelitian dan pengembangan teknologi panen dan pasca panen,” jelas Prof. Dr. Ir. Sri Rahardjo MSc, Ketua Perhimpunan Ahli Teknologi Pangan Indonesia. Selain itu juga diperlukan sarana pendukung sistem transportasi untuk distribusi pangan ke seluruh wilayah nusantara.
Pameran Hasil Praktikum
Dalam rangkaian kegiatan seminar nasional, Himalogista juga menggelar produk makanan. Sekitar 24 produk pangan yang dipamerkan merupakan hasil praktikum komoditas hasil pertanian mahasiswa Teknologi Hasil Pertanian Unibraw.  Produk-produk tersebut di antaranya konjang, french fries ubi jalar, yoghurt, benalu teh, melorin ubi jalar, siomay labu kuning, susu jagung dan masih banyak lagi produk yang dipamerkan. [vty]

Seminar Nasional Revitalisasi Pertanian, Perikanan, dan Kehutanan
12 Desember 2005
Dalam rangka dies natalis ke-43 Universitas Brawijaya sekaligus juga perayaan dies natalis ke-44 Fakultas Ekonomi, Lembaga Penelitian Ekonomi dan Pengabdian Masyarakat FE Unibraw menggelar seminar nasional dengan tema "Pengembangan Investasi dan Pembiayaan Revitalisasi Pertanian, Perikanan dan Kehutanan (RPPK)".
Seminar yang berlangsung di gedung PPI Unibraw, Senin 12/12, ini terselenggara atas kerjasama Fakultas Ekonomi dengan Kantor Menteri Koordinator Perekonomian. ini diikuti oleh lebih dari 200 peserta dari kalangan akademisi, profesional, aparat pemerintah, serta mahasiswa. Hadir sebagai pemateri dalam kesempatan tersebut adalah Dr. Bayu Krisnamurthi MS (Deputi II Menko Perekonomian), Basofi Soedirman (mantan Gubernur Jawa Timur), Kepala Badan Penanaman Modal Jawa Timur, Prof. Dr. M. Harry Susanto SE SU, Kepala Bank Rakyat Indonesia Malang, Kepala Dinas Kehutanan Jawa Timur, Prof. Dr. Ir. Sahri Muhammad MS, PTPN XI, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Jawa Timur serta Kepala Dinas Pertanian Jawa Timur.
Kerjasama
Sebelum seminar berlangsung, diadakan penandatanganan naskah kerjasama antara Universitas Brawijaya, Universitas Trunojoyo, dan Universitas Jember dengan Kementerian Koordinator Perekonomian yang diwakili oleh Deputi II Menko Perekonomian Koordinator Bidang Pertanian dan Kelautan, Dr. Bayu Krisnamurthi MS. Sementara itu pihak Universitas Brawijaya diwakili oleh Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Brawijaya, Prof. Dr. Bambang Subroto SE MM Ak.
Dalam naskah antara lain disebutkan tujuan kerja sama adalah untuk mengimplementasikan berbagai kegiatan yang berhubung-an dengan program-program konkret RPPK dalam meningkat-kan kualitas SDM, perencanaan, pelaksanaan, dan pengendalian RPPK serta mensosialisasi-kannya untuk meningkatkan kualitas kebijakan di bidang pertanian, perikanan dan kehutanan.
Mesin produksi SDM
Ada empat subtema yang dibahas dalam seminar ini, yaitu: "Fasilitasi Pembiayaan Investasi dan Pembiayaan Modal Kerja dengan Mendorong Business Plan Perbankan, untuk Modal Investasi dan Modal Kerja (Termasuk Perpajakan Syariah bagi PPK)"; "Mengembangkan dan Memfasilitasi Sistem Sistem Penjaminan Kredit bagi Petani, Nelayan dan Petani-Hutan"; "Mengembangkan Sistem Pembiayaan Jangka Panjang dan Pembiayaan yang Sesuai dengan Karakter dan Siklus Usaha"; dan "Mengembangkan Pembiayaan Non-Bank: Koperasi Simpan Pinjam dan Pegadaian, serta Non-Bank Non-Koperasi, Khususnya Keuangan Mikro, serta Keterkaitannya dengan Perbankan bagi Petani, Nelayan, dan Petani-Hutan".
Basofi Sudirman dalam makalah bertajuk “Intensifikasi Pemberdayaan Potensi Pertanian, Perikanan, dan Kehutanan (PPK)”, memulai dengan analisis kelemahan dari potensi PPK di antaranya pada aspek pemberdayaan, subyeknya cenderung masyarakat yang marjinal yang memiliki kemampuan teknis, administrasi, manajemen dan modal yang rendah, tidak ada kontinuitas dari hulu sampai hilir, produksi yang sulit bersaing serta rencana program dan kebijakannya tidak integratif dan holistik. Disebutkan, dalam hal ini sektor pendidikan memiliki peran sebagai mesin produksi SDM serta softwarenya dalam bentuk kurikulum yang berbasis kompetensi. [nok]

Temu Alumni Unibraw di Shangrila
10 Desember 2005
Sebagai satu upaya untuk mempererat silaturrahim antar alumni dan alumni dengan almamaternya, Ikatan Alumni Pusat Universitas Brawijaya bekerja sama dengan Ikatan Alumni Komisariat Fakultas dan Cabang mengelar Silaturahmi Nasional di Hotel Shangrila, Surabaya, Sabtu (10/12).
Sekitar 300 alumni dari berbagai angkatan dan daerah se-Indonesia berkumpul sambil bernostalgia bersama teman-teman serta dosennya ketika masih kuliah dulu. Tampak hadir dalam kesempatan tersebut adalah Komisaris Utama Bank Bukopin, Saean Achmady (alumni FE), Direktur Treacery BNI, Fero (alumni FE), Direktur PT KAI, Ronny Wahyudi (alumni FT), Direktur Pemasaran Bank Jatim, dan Ahmad Nur Hasan (alumni FE).
Beberapa acara dikemas pada pertemuan itu, meliputi penandatanganan naskah kerjasama antara Universitas Brawijaya dengan Kementerian Negara Pembangunan Daerah Tertinggal, pameran produk masing-masing fakultas dan unit kerja di Universitas Brawijaya, diskusi panel serta ramah tamah/gathering.
MoU
Penandatangan MoU dengan Kementerian Negara Percepatan Pembangunan Daerah Tertinggal (PPDT) mengawali rangkaian kegiatan alumni tersebut adalah penandatanganan naskah kerjasama antara Universitas Brawijaya dengan Kementerian Negara Pembangunan Daerah Tertinggal yang sedianya diselenggarakan pada malam harinya tetapi dimajukan karena aktivitas menteri.
Hadir dalam kesempatan tersebut adalah Menteri Negara PPDT, Drs. Saifullah Yusuf, beserta staf  yang beberapa di antaranya adalah alumni Universitas Brawiajya. Sementara itu, pihak Unibraw diwakili oleh Rektor, Prof. Dr. Bambang Guritno yang juga disertai oleh Ketua Lembaga Penelitian, Prof. Dr. Ir. Syamsulbahri MS serta beberapa pejabat Unibraw. Turut menyaksikan penandatanganan mantan Ketua Dewan Mahasiswa, Agil H. Ali, serta mantan Ketua MPM Ahmad Nur Hasan.
Tertulis dalam naskah kerjasama bahwa kegiatan kerjasama ini bertujuan untuk meningkatkan pelaksanaan tugas dan fungsi masing-masing sesuai dengan kewenangan yang ada dengan ruang lingkup kerjasama meliputi: (1) Pengembangan kualitas sumber daya manusia dan pemberdayaan masyarakat, (2) penelitian dan pengembangan ilmu dan teknologi terapan, (3) pengkajian, investigasi, perencanaan, pemantauan potensi wilayah, (4) pengembangan sistem pengerahan pendanaan dan investasi serta pelayanan perbankan, (5) pengembangan sistem prasarana dan kawasan produksi terpadu, (6) pengembangan sistem jaringan ekonomi antardaerah. Kerjasama ini dijadwalkan akan berlangsung selama 5 tahun.
Dalam sambutannya, Rektor Universitas Brawijaya menyampaikan bahwa Universitas Brawijaya dengan keunggulannya dalam pendidikan, penelitian dan pengabdian masyarakat serta aset yang dimiliki di antaranya berupa SDM meliputi 1500 dosen, 28 ribu mahasiswa serta 60 ribu alumni memiliki wilayah strategis dalam mendarmabaktikan potensi yang dimiliki guna mengatasi masalah kemiskinan yang kini tengah menjadi skala prioritas yang harus ditanggulangi.
Belum ada data valid
Sementara itu, Menteri Negara PPDT Saifullah Yusuf dalam sambutannya mengawali dengan uraian tentang berbagai kekurangan yang saat ini dimiliki Indonesia. Namun ia berujar, “Indonesia masih bisa optimis karena berbagai potensi yang dimilikinya tinggal bagaimana kita menentukan skala prioritas”. Ditambahkan dalam kesempatan tersebut, penanggulangan kemiskinan dan pengurangan disparitas/kesenjangan masyarakat/wilayah saat ini tengah menjadi prioritas setidaknya sampai tahun 2009.
“Dalam hal ini negara memiliki kewajiban untuk memenuhi hak dasar masyarakat yang meliputi: pendidikan, perumahan, pangan, kesehatan serta kesejahteraan lainnya”, ungkapnya. Terkait dengan hal tersebut, ia mengangkat kasus kemiskinan dan kelaparan yang saat ini tengah melanda Irian Jaya. Menurutnya faktor utama yang menjadi kendala dalam hal tersebut adalah komunikasi. “Dalam waktu 60 tahun Indonesia merdeka masih ada kesenjangan dalam satu kawasan”, ungkapnya dengan nada prihatin. Disampaikan lebih lanjut, saat ini pemerintah belum memiliki data yang valid mengenai orang miskin. “Kita belum memiliki data-data valid mengenai nama, alamat dan berbagai keterangan mengenai orang miskin, dengan tidak adanya definisi, kriteria serta batasan-batasan tentang orang miskin dan kemiskinan tersebut, maka tidak heran jika pada waktu pembagian dana kompensasi BBM banyak dijumpai orang miskin mendadak dan orang yang mengaku miskin”, ungkapnya.
Saefullah Yusuf, yang konon pernah mengikuti Sipenmaru di Unibraw pada tahun 1985 tetapi gagal, menyampaikan bahwa MoU ini lebih diarahkan untuk mendorong tumbuhnya ekonomi lokal yang akan melahirkan lapangan pekerjaan, serta pusat-pusat ekonomi baru yang menyeluruh, konsisten dan kontinyu. Terutama bekerja sama untuk menanggulangi bebarapa daerah tertinggal berjumlah 199 kabupaten, yang 123 di antaranya berada di Kawasan Timur Indonesia, 58 di Sumatera dan 17 di Jawa. Dari 17 tersebut, 8 di antaranya berada di Jawa Timur, 3 di Jawa Barat dan 2 di Jawa Tengah.
Diskusi Panel
Kegiatan diskusi panel selanjutnya dilangsungkan di Ballroom yang melibatkan seluruh alumni yang hadir dalam kesempatan tersebut. Tema yang diusung dalam diskusi panel kali ini adalah “Terobosan Penanggulangan Kemiskinan dan Pemberdayaan Daerah Tertinggal” yang dimoderatori oleh H. Saean Achmady SE dengan pembahas H. Agus Syamsudin, H. Sugiyono, HM Hirsan Ma’ruf serta pembicara Prof. Dr. Ir. Syamsulbahri MS.
Membuka diskusi panel tersebut, Ketua IKA Unibraw, Drs. Syukur Nuralam MBA mengharapkan para alumni memberikan perhatian pada 3 hal, yaitu: pemberian sumbangan pikiran bagi Universitas, berbuat sesuatu pada masyarakat sekitar, dan membuat jaringan antar alumni. Kesemuanya itu dengan pokok pikiran utama, menghimpun dana abadi bagi Unibraw dan pengorganisasian cabang ikatan alumni Unibraw yang ada di seluruh Indonesia.
Gathering dan Pameran
Pada malam harinya, di tempat yang sama, dilanjutkan kegiatan gathering yang dimeriahkan oleh artis Titi Dwi Jayanti. Dalam kesempatan tersebut Titi DJ membawakan 6 lagu, termasuk di antaranya lagu “Bahasa Kalbu” yang populer. Selama kegiatan berlangsung, di lobby ballroom Hotel Shangrila dilangsungkan kegiatan pameran produk dari unit kerja dan fakultas-fakultas di Unibraw. Di antaranya Fakultas MIPA yang memamerkan produk sabun aroma therapy dan Kantor Pusat Unibraw yang memamerkan buku Profil Doktor dan Guru Besar, dan produk-produk lain dari BAPSI dan Humas Unibraw. [nok]

Silaturahmi Nasional Ikatan Alumni Unibraw
10 Desember 2005
Dalam rangka Dies Natalis Universitas Brawijaya ke-43, Ikatan Alumni Universitas Brawijaya menyelenggarakan Silaturahmi Nasional pada 10 Desember 2005 di salah satu hotel berbintang di Surabaya. Kegiatan ini dihadiri oleh Rektor Prof. Dr. Ir. Bambang Guritno, para pejabat teras di lingkungan universitas dan para alumni yang berasal dari seluruh wilayah di Indonesia.
Selain malam keakraban yang dihibur oleh artis ibu kota Titi Dwi Jayati, para peserta juga berdiskusi dan mengeluarkan rekomendasi tentang “Terobosan Penanggulangan Kemiskinan dan Pemberdayaan Daerah Tertinggal”. Bertindak sebagai pemrasaran Prof. Dr. Ir. Syamsulbahri MS, dan para panelis Kepala Bapemas Propinsi Jawa Timur, Bupati Magetan, Walikota Kediri, dan Walikota Blitar.
Silaturahmi nasional rencananya juga dihadiri oleh Gubernur Jawa Timur Imam Utomo, dan Menteri Negara Percepatan Pembangunan Daerah Tertinggal Saifullah Yusuf. Rektor dijadwalkan juga menandatangani MOU tentang peningkatan kualitas sumberdaya manusia dan pengembangan penelitian serta pembangunan dengan Kementerian Percepatan Pembangunan Daerah Tertinggal. [nik]

Dua Gurubesar Jepang Kuliah Tamu di Unibraw
10 Desember 2005
Dua guru besar Jepang memberikan kuliah tamu di Universitas Brawijaya, yaitu di Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) dan Fakultas Teknik.
Prof. Masato Iguchi dari Sakurajima Volcano Research Centre, Kyoto University, Jepang, menyampaikan kuliah selama 2 hari berturut-turut (6-7 Desember 2005), dengan tema: “Geophysical Monitoring System For Volcanic Hazard Mitigation”. Kuliah hari pertama dengan subtema: “Monitoring System Of Volcanic Activity For Erruption At Sakurajima Volcano, Japan”. Sedangkan kuliah hari kedua dengan subtema: “Monitoring System Of Volcanic Activity For Erruption At Semeru Volcano, Indonesia”. Kegiatan dua hari  tersebut diikuti oleh mahasiswa dan dosen FMIPA.
Sementara itu seorang guru besar lainnya, Prof. Tatsuhiko Aizawa Osaka University, memberikan kuliah tamu di dua tempat. Tanggal 8-9 Desember 2005, di Jurusan Teknik Mesin, Fakultas Teknik dengan tema: “The Cell-Structural Materials: Advanced Design and Fabrication”, dan 10 Desember 2005, berseminar di Jurusan Fisika, Fakultas MIPA dengan tema: “Revisit to Amorphous Materials”. Kunjungan Prof. Aizawa ini adalah yang ketiga kalinya ke Fakultas MIPA untuk memberikan kuliah tamu. [AW]

Lagi, Tulisan Prof Soekartawi Dimuat Jurnal Internasional
10 Desember 2005
Karya iImiah terbaru Prof. Dr. Ir. Soekartawi MS, guru besar Fakultas Pertanian, dimuat di jurnal internasional. Karya berjudul “Understanding Open and Distance Learning in Indonesia” itu dimuat di International Journal for Vocational and Technical Education and Training, Volume 20, No. 12, pp: 20-23 (lSSN 1810-5416). Jurnal ini terbit Januari 2004, tapi baru saja beredar dan diterima Prof Soekartawi awal bulan ini.
Di dalam tulisan tersebut, Prof. Soekartawi menjelaskan adanya perubahan yang mendasar dalam pendidikan di Indonesia, yaitu dengan dilaksanakannya Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ), baik di tingkat sekolah menengah maupun di tingkat perguruan tinggi. Dengan teknik baru ini, masalah pendidikan, khususnya persoalan pemerataan kesempatan belajar akan terbantu terselesaikan.
Prof. Soekartawi yakin kalau PJJ dilaksanakan dengan teknik e-Leaming atau On-line Learning dengan bantuan Web based Learning, maka baik masalah kualitas maupun pemerataan pendidikan akan terselesaikan. Begitu pula masalah pembiayaan juga dapat ditekan.
Oleh karena itu, Prof. Soekartawi menyarankan pentingnya segera mengintensifkan penggunaan teknik e-Learning ini untuk pendi-dikan di Indonesia. Diingatkannya pula bahwa kalau mau menyelenggarakan e-Learning, maka perlu persiapan yang matang, bukan saja hardware tetapi juga software, termasuk tersedianya SDM yang menguasai e-Leaming.
Prof. Soekartawi, selama 6 tahun bertugas sebagai OIC Director dan Deputy Director Southeast Asia Ministers of Education Organization (SEAMEO) di Filipina, dan 3 tahun sebagai Director SEAMEO Open Learning Center (SEAMOLEC) di Jakarta, merupakan warga Unibraw pertama yang dipercaya memimpin lembaga internasional tersebut. SEAMEO adalah lembaga yang melayani pendidikan terutama di negara-negara ASEAN. [SKW]

Semnas Mesin Elektrik dan Elektronika Daya
9 Desember 2005
Kondisi harga minyak dunia yang cenderung mengalami kenaikan, memacu kita untuk mencari upaya memanfaatkan energi secara efisien, aman dan berkesinambungan. Dengan menggunakan teknologi di bidang mesin elektrik dan elektronika daya yang mengalami pembangunan pesat diharapkan penggunaan energi yang efisien, aman dan berkesinambungan dapat tercapai.
Demikian ungkap Direktur Politeknik Universitas Brawijaya diwakili oleh Pembantu Direktur I Luchis Rubiyanto ketika membuka seminar nasional mesin elektrik dan elektronika daya, Jumat (9/12) di gedung Widyaloka.
Tujuan diselenggaranya kegiatan ini adalah sebagai sarana pertukaran ide di antara para peneliti, akademisi, praktisi industri, dan institusi yang berkaitan di bidang energi, kontrol otomasi, serta elektronika daya.
Puluhan peserta dari perguruan tinggi negeri/swasta seperti ITB, UGM, STT Telkom, ITS, UNY, Universitas Riau, California Polytechnic State University, San Luis Obispo Amerika Serikat, Universitas Widyamandala, dan Universitas Katolik Soegijapranata Semarang, turut ambil bagian dalam seminar yang berlangsung selama dua hari ini.
Bertindak sebagai pembicara kunci, Dr. Ir. Didik Noto dari BPPT Jakarta dengan presentasi berjudul “Implementasi Pengaturan Burner dengan Temperatur Otomatis dengan Controller UT 550 KS”. [nik]

Fieldtrip ke Oil Field Cepu
8 Desember 2005
Bekerjasama dengan American Association Petroleum Geologists (AAPG), Program Studi Geologi Jurusan Fisika Universitas Brawijaya membuka kesempatan untuk ikut serta dalam kegiatan Three Day Fieldtrip “Petroleum geological Fieldtrip At Giant Oil Field Cepu”. Kegiatan akan diselenggarakan pada 26-28 Desember 2005 dengan melibatkan instruktur dari Pusdiklat Migas dan PT Pertamina JBT. Kesempatan ini terbuka bagi mahasiswa, dosen, konsultan ataupun praktisi yang berkecimpung ataupun tertarik dalam bidang petroleum geology (geologists, geophysicists, engineers dan technician).
Pendaftaran kegiatan ini diselenggarakan sejak bulan silam hingga 19 Desember 2005 dengan konstribusi untuk mahasiswa sebesar Rp 250 ribu dan umum sebesar Rp 300 ribu. Dalam kesempatan tersebut, peserta akan mendapatkan T-shirt, Sertifikat, confortable travel, lodging, blocknote dan konsumsi untuk 7 kali. Pendaftaran dapat dilakukan melalui Tomo (081334108899), Erva (085648680908) dan Ratna (08175074650) atau email di scaapg_ub@yahoo.com dan geo_fisika_ub@yahoo.com atau datang langsung ke laboratorium geofisika di jurusan fisika Universitas Brawijaya. [nok]

Lomba Kreativitas Elektro HME Politeknik
8 Desember 2005
Enam karya elektronika para siswa SMK se-eks Karesidenan Malang turut ambil bagian dalam Lomba Kreativitas Elektro Politeknik Negeri Malang. Kegiatan yang diselenggarakan 8-9 Desember 2005 di gedung Widyaloka oleh Himpunan Mahasiswa Elektro Politeknik Malang ini, juga memamerkan karya mahasiswa elektro seperti green house, dan tempat parkir elektronik.
Menurut ketua pelaksana Eri Febriantoro, dari jumlah karya yang masuk ke panitia terpilih enam judul, yakni "Alat Pengontrol Lampu Rumah dengan Menggunakan Jam Digital", dan "Mesin Penetas Telur Sistem Digital" yang diciptakan oleh siswa SMKN 2 Pasuruan, serta "Water Level Digital", "Digital Distance Measurement", "Dadu Digital", dan "Lampu Otomatis Pompa Air Otomatis dan Alarm Kebanjiran" buah karya siswa SMKN 2 Bangil.
Dewan juri terdiri dari Ir. Yulianto, Hariyadi Singgih ST, dan Drs. Eka Mandayatma. Kriteria penilaian meliputi kegunaan alat, analisa lingkungan, analisa rangkaian, mekanisme kerja, kreativitas, inovasi, dan cara penyampaian presentasi.
Hadiah bagi juara pertama lomba berupa trofi dari Gubernur Jawa Timur dan beasiswa sebesar Rp 750 ribu, juara kedua berhak atas tropi dari Direktur Politeknik serta beasiswa Rp 500 ribu, sementara juara ketiga memperoleh piala dari Pembantu Direktur III Politeknik serta beasiswa sebesar 250 ribu rupiah. [nik]

KPRI Serba Usaha Adakan Diklatsar Perkoperasian
8 Desember 2005
Dalam rangka untuk memberikan pengetahuan dasar koperasi kepada para anggotanya,  Koperasi Pegawai Republik Indonesia  (KPRI) "Serba Usaha" Universitas Brawijaya menyelenggarakan Pendidikan dan Pelatihan Dasar Perkoperasian 2005. Kegiatan yang berlangsung selama sehari di gedung Biomedik Fakultas Kedokteran ini dibuka oleh ketua koperasi Dr. Ir. Salyo Sutrisno MS. Peserta diklatsar berasal dari anggota KPRI Unibraw dan para dosen magang dari lima perguruan tinggi negeri baru.
Hadir sebagai pembicara dari Dekopinda kota Malang Herman Suryokumoro SH MS, Ketua Perhimpunan Koperasi Pegawai Republik Indonesia kota Malang Drs. Sugeng Hadi Utomo MEc, serta pengawas KPRI Unibraw Nurdin SH MHum, dan Dra. Nurdjizah. Materi yang diberikan meliputi ideologi koperasi, organisasi dan manajemen, modal dan usaha, kepengawasan serta diskusi peserta.
Sugeng Hadi Utomo yang menyampaikan materi “Manajemen Profesional berdasarkan Nilai-nilai dalam Koperasi” menyatakan bahwa nilai etika yang harus dimiliki oleh koperasi terdiri dari etika terhadap anggota, pelanggan, karyawan, pemerintah dan komunitas. Sementara itu Nurdin dengan materi Kepengawasan Koperasi menyatakan bahwa sebagian besar koperasi yang ada masih ditemukan rendahnya partisipasi anggota dan kurang berfungsinya pengawas koperasi. Bahwa untuk dapat melaksanakan fungsinya dengan baik, seorang pengawas yang mendapatkan kepercayaan anggota untuk mengawasi koperasi, hendaknya juga memiliki pemahaman dan keterampilan pengawasan. [nik]

Sosialisasi Strategi Penanggulangan Kemiskinan Daerah Kota Malang
8 Desember 2005
Komite Penganggulangan Kemiskinan Daerah (KPKD) Kota Malang bekerjasama dengan BPMKB Pemkot Malang dan RCCP FIA Unibraw, Kamis (8/12), menyelenggarakan Lokakarya Sosialisasi Strategi Penganggulangan Kemiskinan Daerah (SPKD) Kota Malang 2005-2008.
Acara diselenggarakan di gedung PPI Universitas Brawijaya dengan pemateri Fadillah Putra dosen FIA Unibraw yang juga aktivis Averroes,  dan Saraswati dari PMU Jakarta.
Diikuti oleh berbagai elemen masyarakat, termasuk akademisi, aparatur pemerintah, LSM dan organisasi massa, lokakarya ini memberikan pengetahuan praktis seperti "Pedoman Khusus Pelaksanaan Paket dalam Konteks P2KP", "Acuan Pelaksanaan Komunitas Belajar Perkotaan (KBP)" dan "Pedoman Teknis Komunitas Belajar Kelurahan (KBK)". [nok]

Ditetapkan, Nomor Urut dan Tata Cara Dialog Bakal Calon Rektor
7 Desember 2005
1
2
3
4
5
Prof. Budiono Mismail
Prof. Soekartawi
Prof. Yogi Sugito
Prof. Djanggan Sargowo
Prof. Umar Nimran
Kelima bakal calon rektor yang telah menyerahkan kesediaan dicalonkan, Rabu 7/12 siang, diundang oleh Panitia Penjaringan dan Pertimbangan Calon Rektor (PPPCR) Universitas Brawijaya untuk mendapatkan penjelasan tentang tata cara dialog dan penjaringan, serta melakukan pengundian nomor urut calon. Acara dipimpin oleh Ketua PPPCR Dr. Sihabudin SH, diikuti oleh segenap panitia, dan 3 orang bakal calon rektor yakni Prof. Budiono Mismail, Prof. Soekartawi, dan Prof. Yogi Sugito. Sementara, dua bakal calon lainnya, Prof. Djanggan Sargowo dan Prof. Umar Nimran berhalangan hadir karena ada acara di luar kota. Nomor urut calon yang ditetapkan dengan undian, calon nomor urut 1 Prof. Budiono Mismail, urutan 2 Prof. Soekartawi, urutan 3 Prof. Yogi Sugito, urutan keempat Prof. Djanggan Sargowo, dan urutan kelima Prof. Umar Nimran.
Dalam pertemuan itu, disepakati pula acara dialog bakal calon rektor akan diselenggarakan di Widyaloka, Rabu 14/12, mulai 8.30 hingga 12.30 wib. Para bakal calon rektor diminta menyerahkan materi paparan visi, misi dan program baik dalam bentuk hard copy maupun soft copy dua hari sebelumnya, Senin 12/12 pukul 13.00. Para bakal calon rektor diminta datang 10 menit sebelum acara dimulai. Dialog dipimpin seorang moderator dengan lima bakal calok rektor sebagai panelis. Panelis secara berturut-turut menyampaikan paparan visi, misi, dan program dengan alokasi waktu 15-20 menit untuk masing-masing calon sesuai dengan nomor urut. Dalam menyampaikan paparan dan berdialog, bakal calon diharuskan menjunjung tinggi nilai-nilai etika, tanpa menyinggung hal-hal yang bersifat pribadi dan unsur-unsur SARA. Sesi tanya-jawab dapat dimanfaatkan untuk dialog antara panelis dengan audiens.
Ketua Panitia, Dr. Suhabudin SH, menegaskan bahwa acara dialog yang digelar PPPCR tanggal 14/12 di Widyaloka sifatnya terbuka. Audiens terdiri dari para dosen, karyawan, dan mahasiswa. Meskipun demikian ia menambahkan, acara itu bukan merupakan keharusan bagi bakal calon. Mengutip pesan Rektor Prof. Bambang Guritno, Sihabudin mengatakan "Tidak diharuskan, dan tidak dilarang". Demikian juga dialog-dialog yang mungkin di gelar di luar acara resmi PPPCR, menurut Sihabudin dapat dilaksanakan.
Diinformasikan bahwa beberapa fakultas juga sudah menjadwalkan acara dialog antara warga fakultas dengan para calon. Tiga fakultas yang sudah pasti mengirimkan undangan kepada para calon untuk berdialog adalah Fakultas Ekonomi (dialog di gedung PPA Baru, Jumat 9/12, 08.00-11.00), Fakultas Teknologi Pertanian (dialog di gedung C1 FTP lantai II, Senin 12/12, 09.00-13.00), dan Fakultas MIPA (dialog gedung pertemuan FMIPA lantai II, Selasa 13/12, 09.0-12.00).
Penjaringan
Sementara itu acara penjaringan (pemungutan suara), akan diselenggarakan secara serentak di fakultas-fakultas dan kantor pusat, pada hari Sabtu 17/12 mulai pukul 08.00 hingga 13.00 WIB. Pemilih yang terdiri dari para dosen, perwakilan organisasi kemahasiswaan dan perwakilan pegawai administrasi diharuskan mengisi daftar hadir, sebelum memberikan suaranya dengan prinsip "one man one vote". Pemberian suara dilakukan dengan melingkari atau memberikan tanda silang pada nomor urut calon.
Penghitungan suara dilakukan PPPCR mulai pukul 13.05 dengan disaksikan 3 orang saksi, dan berakhir paling lambat pukul 16.30. Hasil perhitungan dari masing-masing unit (fakultas dan kantor pusat), paling lambat harus diterima PPPCR di gedung Rektorat pukul 16.35, untuk selanjutnya rekapitulasi hasil perhitungan diserahkan PPPCR kepada Ketua Senat (Rektor) guna dibawa ke forum Rapat Senat untuk mendapatkan pertimbangan. [Far]

Beasiswa PT Medco untuk Mahasiswa Unibraw
7 Desember 2005
Perusahaan minyak terkemuka, PT Medco E&P Indonesia, Rabu (7/12) menyerahkan beasiswa untuk 6 mahasiswa Universitas Brawijaya. Upacara penyerahan berlangsung di gedung Rektorat lantai VIII.
Dari pihak Medco hadir Kusnio Malibari (Senior Manager of Relations), Taufik Rahardjo (Government and Media Relations Section Head) serta Sugiarsih (Community Development Officer) yang diterima langsung oleh Rektor Universitas Brawijaya, Prof. Dr. Bambang Guritno beserta Pembantu Rektor III Bidang Kemahasis-waan, Drs. Tjahjanulin Domai MS beserta staf dari biro admi-nistrasi akademik dan kemahasiswaan.
Dalam kesempatan tersebut dibagikan beasiswa senilai Rp 21,4 juta kepada 6 orang mahasiswa. Penerima beasiswa baru, 4 orang, yaitu Heru Suratmono, Wahyudi Wirjanto, Choirul Azhar dan Fajar Ardiansyah masing-masing menerima Rp 3,6 juta. Sementara penerima beasiswa perpanjangan, Umar F. Andy Santoso dan Silvianti Dewi, masing-masing menerima beasiswa sebesar Rp 3,5 juta. Pemberian beasiswa tersebut untuk masa 1 tahun dan bila perlu dapat diperpanjang.
Menyampaikan sambutannya dalam kesempatan tersebut, Prof. Dr. Bambang Guritno berharap agar pihak industri seperti PT Medco pada saat ini turut mendukung pendidikan dari mulai proses awalnya dan bukan hanya sebagai penampung tenaga kerja. “Bantuan tersebut dapat berupa beasiswa seperti pada saat ini, ataupun bantuan-bantuan lain seperti kegiatan PKL”, urainya.
Sementara itu, pihak PT Medco E&P Indonesia yang diwakili oleh Kusnio Malibari, menyampaikan bahwa beasiswa serupa juga dibagikan kepada 12 universitas lain yang tersebar di Sumatera, Jawa, Kalimantan dan Sulawesi. Disampaikan oleh Kusnio bahwa PT Medco yang pada saat ini telah memiliki 6 field yang tersebar di Indonesia telah terbiasa menjalin kerjasama dengan perguruan tinggi di antaranya melalui beasiswa, program magang, ataupun program Graduate Engineering Training (GET).
Menjawab pertanyaan mengenai rekrutmen yang dilontarkan salah seorang mahasiswa penerima beasiswa, pihak PT Medco menganjurkan para mahasiswa aktif membuka website untuk mendapatkan informasi tentang hal itu. [nok]

Dies Natalis ke-43: Dari Temu Alumni hingga Kegiatan Ilmiah
6 Desember 2005
Dengan tema “Peningkatan budaya akademis dan kerjasama menuju otonomi perguruan tinggi yang dinamis berdaya saing tinggi dan mampu melewati batas nasional”, Panitia Dies Natalis ke-43 Universitas Brawijaya merangkum semua kegiatannya dalam 9 kemasan acara. Yaitu mulai dari temu alumni, pengabdian masyarakat, penguatan kelembagaan, kajian pengembangan institusi, olahraga, seni, keperempuanan, hingga kegiatan ilmiah.
Sebagai pembuka kegiatan diawali dengan temu alumni yang direncanakan akan dilaksanakan Sabtu 10 Desember 2005 di Hotel Shangrila Surabaya. Pemilihan tempat di Surabaya karena ada salah satu alumni yang telah berhasil, di Bank Jatim dan bersedia untuk membiayai kegiatan tersebut. Alumni yang akan hadir diramalkan sebanyak 500 orang. “Mereka yang diundang bukan sembarangan alumni melainkan mereka alumni yang berpotensi,” jelas Dra. Ida Atmawati, sekretaris Pengurus Pusat (PP) Ikatan Alumni (IKA) Unibraw. Menjelaskan alasan mengapa acara ini digelar di hotel mewah di Surabaya, menurut Ida, adalah untuk menyesuaikan dengan eksistensi Unibraw sebagai salah satu perguruan tinggi terkemuka di Indonesia. Bahwa Unibraw pun bisa melakukan hal yang sama dengan yang dilakukan UGM. Unibraw juga mempunyai alumni yang sukses di berbagai bidang.
Kegiatan dalam rangka memperingati Dies Natalis ini juga akan diadakan di masing-masing fakultas. “Di masing-masing fakultas nantinya akan dilaksanakan agenda sendiri. Fakultas Ekonomi misalnya nanti akan mengadakan seminar yang bekerja sama dengan Menko Ekuin dalam pengembangan UKM,” terang Prof Bambang Subroto, wakil ketua panitia. [van]

Unibraw akan terapkan ISO 2000
6 Desember 2005
Sistem pendidikan selalu berubah sesuai dengan tuntutan jaman. Unibraw sebagai salah satu perguruan tinggi yang terkemuka di Jawa Timur berusaha mengimbanginya dengan perubahan sistem penilaian mutu atau kualitas pendidikannya. Beberapa elemen yang terkait dari dosen dan mahasiswa pun nantinya akan dipertanyakan bagaimana kualitasnya. “Unibraw akan membuat standart kelulusan dan kami sudah memulai untuk merancangnya,” ucap Abdul Madjid, dosen Fakultas Hukum.
ISO 2000 menjadi metode pilihan untuk mengukur kualitas lulusan. Namun ada beberapa syarat yang harus dipenuhi untuk mewujudkannya pertama ada stake holder yang nantinya peran ini akan diberikan kepada alumni Unibraw yang telah sukses di dunia kerja. Selain itu Unibraw harus membuat jaringan kerjasama dengan luar negeri.
Unibraw mulai mempersiapkan semuanya sampai pada tahap pembuatan team. “Kalau di UGM ada Kantor Jaminan Mutu (KJM), maka kami menyebutnya PJM atau pusat jaminan mutu,” jelas Abdul Madjid SH MHum yang juga salah seorang panitia Dies Natalis 43 Unibraw. Prof Dr Soebarinoto, gurubesar Fakultas Peternakan, kemudian ditunjuk sebagai ketua tim penjaminan mutu Universitas Brawijaya. [van]

Menyikapi Isu Terorisme
6 Desember 2005
Terorisme berupa aksi pengeboman yang pada saat ini marak, terasa semakin meresahkan warga masyarakat. Bukan hanya umat Islam yang pada saat ini paling banyak terkena imbasnya dari berbagai kejadian tersebut tetapi juga seluruh warga masyarakat yang merasa telah kehilangan rasa aman yang juga merupakan bagian dari hak asasinya.
Berangkat dari hal tersebut, Eksekutif Mahasiswa Universitas Brawijaya berinisiatif mengadakan dialog publik yang bertemakan “Optimalisasi Peran Mahasiswa dan Masyarakat dalam Menyikapi Isu Terorisme”. Acara ini diselenggarakan di Gedung Widyaloka Universitas Brawijaya pada Selasa (6/12). Diungkapkan oleh Agung Pamudjianto, Presiden  Eksekutif Mahasiswa Universitas Brawijaya, bahwa kegiatan ini bertujuan untuk menetralisir opini dengan menyampaikan persepsi berbagai pihak yang berhubungan langsung maupun tidak langsung terutama persepsi dalam pendefinisian terorisme serta jihad dalam Islam. Hadir sebagai pemateri dalam kesempatan tersebut adalah Muhammad Achwan (Ketua Lajnah Perwakilan Wilayah Majelis Mujahidin Jawa Timur), AKBP Drs. H. Dunan Ismail Isja MM (Kapolresta Malang) serta Abdul Hamid SH (Kepala Bidang HAM Bakesbang Propinsi Jawa Timur).
Dalam kesempatan tersebut, Kapolresta Malang, AKBP Drs. H. Dunan Ismail Isja MM menyampaikan makalah berjudul “Peran Serta Masyarakat dalam Upaya Penanggulangan Teroris di Indonesia”. Dalam kesempatan tersebut, ia menyebut definisi dari tindak pidana teroris yaitu setiap orang yang dengan sengaja menggunakan kekerasan atau ancaman kekerasan yang menimbulkan suasana teror atau rasa takut terhadap orang secara meluas atau menimbulkan korban bersifat missal atau dengan cara merampas kemerdekaan atau hilangnya nyawa dan harta benda orang lain, atau mengakibatkan kerusakan atau kehancuran terhadap obyek-obyek vital yang strategis atau lingkungan hidup atau fasilitas publik atau fasilitas interna-sional.
Dalam kesempatan yang sama, Kapolresta Malang juga mengurai berbagai modus oprandi yang digunakan oleh para teroris dalam rangka melancarkan aksinya.
Sementara itu, Muhammad Achwan yang dalam kesempatan tersebut sebagai representasi kaum Muslim menjelaskan makna jihad dalam Islam sebagai satu upaya yang sungguh-sungguh dalam melaksanakan perintah Allah, yang didalamnya ada perintah qital melawan orang yang memerangi Islam dan kaum Muslim. Dalam hal tersebut, Islam telah memiliki aturan, tahapan-tahapan dan etika atau akhlaq yang harus dipegang teguh oleh umat Islam. Hal tersebut menurutnya bertujuan untuk menegakkan keadilan, menciptakan kedamaian serta meninggikan Kalimatullah dan bukan sebagai ekspansi, ataupun mamaksakan agama Islam. Guna menyikapi terorisme, Muchammad Achwan memberikan masukan kepada mahasiswa dalam melaksanakan perannya dalam lima poin meliputi: belajar dan memahami fiqih jihad sehingga tidak mudah terpengaruh atau terprovokasi apalagi dimanfaatkan oleh pihak-pihak tertentu yang ingin merusak citra jihad dan citra Islam, menciptakan persatuan dan kesatuan sehingga tidak mudah diadu domba, berani mengkritisi kinerja aparat, yang secara tidak langsung telah melakukan teror terhadap masyarakat, berani melakukan perlawanan terhadap upaya-upaya merusak citra jihad dan Islam serta berani membela kaum Muslimin yang tertindas dan didzolimi. Sementara itu, Abdul hamid, SH dalam kesempatan tersebut menyampaikan materi bertajuk “Hak Masyarakat dalam Memperoleh Perlindungan dan Rasa Aman”. [nok]

Tim Mahasiswa Unibraw Rebut Juara PPRI
5 Desember 2005
Wyka Aricahyanti dan Ika Arlina Prabowo 
Heri Kristianto 
Tim mahasiswa Universitas Brawijaya berhasil menjuarai Pemilihan Peneliti Remaja Indonesia yang diselenggarakan LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia). Tim dari Fakultas Hukum keluar sebagai juara pertama bidang Ilmu Sosial, sedangkan dua mahasiswa Fakultas Kedokteran berhasil menjadi juara kedua dan juara ketiga bidang Ilmu Pengetahuan Alam.
Setelah presentasi di hadapan para juri, dua mahasiswa Fakultas Hukum, Ika Arlina Prabowo dan Wyka Aricahyanti berhasil merebut juara pertama pada ajang Pemilihan Peneliti Remaja Indonesia (PPRI) di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Jumat 2/12. Kedua mahasiswa angkatan 2002 ini berhasil masuk babak final lima besar untuk bidang Ilmu Pengetahuan Sosial. Mereka membawakan makalah hasil penelitian berjudul "Efektivitas Penggunaan Merek Dagang Terdaftar sebagai Implementasi Undang-undang Nomor 15 Tahun 2001 tentang Merek dalam Upaya meningkatkan Taraf Hidup Masyarakat di Sentra Usaha Kecil Menengah Tas dan Koper di Kecamatan Tanggulangin Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur (Studi Kasus di CV Citra Mulia Perkasa)”.
Sementara itu dua orang mahasiswa Ilmu Keperawatan Fakultas Kedokteran Heri Kristianto dan Riki Ristanto, berhasil meraih juara untuk bidang Ilmu Pengetahuan Alam. Heri Kristianto yang merebut juara kedua mempresentasikan penelitiannya yang berjudul “Perbedaan Efektivitas Perawatan Luka Bakar Derajat II dengan Lendir Lidah Buaya (Aloevera) Dibandingkan dengan Cairan Fisiologis (Normal Saline 0,9%) dalam Mempercepat Proses Penyembuhan". Riki Ristanto yang meraih juara ketiga, mempresentasikan judul penelitian “ Keefektifan Penggunaan Povidone Iodine 10% (Betadine) dan Madu Nektar Flora dalam Mempercepat Proses Penyembuhan Luka Bersih pada Marmut (Cavia porcellus)”.
Tema PPRI 2005 yang diangkat kali ini adalah "Menumbuhkan Kreativitas dan Daya Inovasi Remaja dalam Pengembangan Iptek untuk Pembangunan Berkelanjutan". Tujuan yang hendak dicapai antara lain untuk meningkatkan kesadaran para remaja di Indonesia akan pentingnya iptek, menumbuhkembangkan rasa ingin tahu, kemampuan, kreativitas dan inovasi remaja melalui kegiatan penelitian sekaligus wadah asah, asih dan asuh bagi remaja.
Dewan juri yang diketuai oleh Dr. Agus Hartanto menyatakan bahwa dari 414 judul penelitian yang masuk ke panitia, hanya lima belas judul saja yang masuk ke babak final. Kelima belas judul ini terbagi dalam tiga kategori meliputi ilmu pengetahuan alam, ilmu pengetahuan sosial dan teknologi. Para finalis berasal dari perguruan tinggi se-Indonesia seperti Universitas Haluoleo Kendari, Universitas Airlangga, Universitas Diponegoro, Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya, Universitas Lampung, Universitas Negeri Semarang Politeknik Negeri Bandung dan Universitas Airlangga.
Juara pertama PPRI 2005 berhak atas sertifikat, trofi dan bea-siswa sebesar 5 juta rupiah. Juara kedua mendapatkan beasiswa 4 juta rupiah, dan juara ketiga mendapatkan beasiswa sebesar 3 juta rupiah. [nik]

Masuk, Lima Nama Bakal Calon Rektor
3 Desember 2005
Prof. Djanggan Sargowo
Prof. Yogi Sugito
Prof. Umar Nimran
Prof. Soekartawi 
Prof. Budiono Mismail 
Sampai batas akhir 3 Desember 2005 pukul 14.00 WIB, lima nama akhirnya menyatakan diri bersedia untuk dicalonkan sebagai Rektor Universitas Brawijaya periode 2006-2010.
Kelima orang itu adalah: Prof. Dr. Djanggan Sargowo (58, Direktur Pascasarjana/guru besar FK), Prof. Dr. Yogi Sugito (54, PR-I/guru besar FP), Prof. Dr. Umar Nimran (56, PR-IV/guru besar FIA), Prof. Dr. Soekartawi (58, mantan Direktur SEAMOLEC/guru besar FP), dan Prof. Dr. Budiono Mismail (58, mantan Atase Pendidikan dan Kebudayaan Kedutaan Besar Indonesia di Bangkok/guru besar FT).
Selain mereka, ada 4 nama yang mengembalikan formulir isian, namun menyatakan tidak bersedia dicalonkan, Dr. Ir. Hartutik MP (dosen Fapet), Prof. Dr. Simon Bambang Widjanarko (Dekan FTP), Dr. Ir. Susinggih Wijana (PD-III FTP), dan Prof. Dr. Siti Chuzaemi (guru besar Fapet).
Sekretaris Panitia Penjaringan dan Pertimbangan Calon Rektor Unibraw Ir. Sudarminto Setyo Yuwono MSc menjelaskan, dari 144 nama yang berhak dicalonkan dan telah menerima formulir isian, hanya 9 orang yang mengembalikan formulir, 4 di antaranya menyatakan tidak bersedia, dan 5 orang menyatakan bersedia.
Tahapan selanjutnya, Panitia akan mengumumkan daftar nama bakal calon rektor yang masuk pada hari Sabtu (10/12). Setelah itu sivitas akademika diberi kesempatan untuk berdialog dengan kelima bakal calon itu pada tanggal 13-15 Desember 2005, di Widyaloka, pukul 09.00-12.00 WIB.
Tahap penjaringan dalam bentuk pemungutan suara, diselenggarakan hari Sabtu 17/12 di unit-unit kerja (fakultas dan kantor pusat). Mereka yang berhak memilih adalah para dosen, perwakilan mahasiswa, dan perwakilan karyawan.
Panitia akan mengumumkan nama yang terjaring dan memenuhi syarat sebagai calon rektor pada hari Senin 19/12. Selanjutnya, para calon rektor mempresentasikan visi dan misi masing-masing di depan Senat Universitas Brawijaya pada hari Sabtu 24/12.
Dan pekan berikutnya Sabtu 31/12, Senat akan memberikan pertimbangan terhadap calon rektor. Senat akan mengusulkan 3 nama calon yang mendapatkan suara terbanyak kepada Menteri Pendidikan Nasional, dan Menteri akan menetapkan seorang di antaranya sebagai Rektor Unibraw periode 2006-2010. [Far]

Prof. Sanarto Santoso: Adhesin Vaksin Tipes Masa Depan
3 Desember 2005
Demam tifoid (tipes) merupakan masalah besar di Indonesia. Penyakit yang disebabkan oleh Salmonella typhi ini di Indonesia bersifat sporadik endemik dan timbul sepanjang tahun. Tingginya urbanisasi, kontaminasi suplai air, bermunculannya galur yang resisten antibiotika, lambatnya diagnosis dan belum adanya vaksin yang benar-benar efektif menyebabkan kasus demam tifoid di Indonesia cukup tinggi. Bekisar antara 354/810/100.000 penduduk per tahun dengan angka kematian antara 2 hingga 3,5%. Salah satu vaksin yang diberikan untuk mencegah demam tifoid, adalah pemberian vaksin protein Adh036 Salmonella typhi. Keadaan ini dikemukakan Prof. Dr. dr. Sanarto Santoso DTM&H SpMK dalam pidato ilmiah pengukuhannya sebagai guru besar bidang mikrobiologi pada Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya, Sabtu (3/12) di Gedung PPI.
Protein Adh036 Salmonella typhi yang dapat diisolasi Sanarto Santoso beserta timnya pada 1999 ini dapat digunakan sebagai kandidat vaksin oral untuk mencegah demam tifoid. Banyak keuntungan yang didapat dari vaksin mukosal berbasis protein adhesin ini, yaitu pemberiannya mudah (oral), dan imunogenik tetapi tidak toksik karena imunogennya bukan toksin atau materi toksik dari bakteri. Selain itu vaksin Adh036 Salmonella typhi lebih protektif karena mampu menginduksi S-IgA yang akan mencegah perlekatan serta kolonisasi bakteri pada permukaan sel mukosa dn mampu menginduksi respon imun seluler untuk membunuh bakteri yang lolos masuk ke dalam jaringan.
Prof. Dr. dr. Sanarto Santoso DTM&H SpMK adalah guru besar ke-14 dari Fakultas Kedokteran dan ke-117 dari Universitas Brawijaya. Ayah dua orang putra ini lahir di Probolinggo 57 tahun silam. Menyelesaikan pendidikan dokter di Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya (1979), spesialis mikrobiologi klinik di PAMKI-IDI (1992) dan doktor di Universitas Airlangga (2002). Selain itu pernah mengikuti pendidikan di antaranya diploma di Tropical Medicine and Hygiene Mahidol University Bangkok Thailand (1980), dan Teaching Assignment on Microscopy and Photomicrography di Australian Universities International Development Program (1982). [nik]

Civil Viesta 2005: Entrepreneurship Seminar
3 Desember 2005
Bertempat di gedung widyaloka Universitas Brawijaya, pada Sabtu (3/12) Himpunan Mahasiswa Sipil Universitas Brawijaya menyelenggarakan kegiatan Civil Viesta 2005 dengan mengambil tajuk Entrepreneurship Seminar: Attendant Today, Entrepreneur Tomorrow. Hari ini hadir, esok menjadi entrepreneur. Hadir sebagai pemateri dalam kesempatan tersebut adalah Azrul Ananda, Sony Sugema MBA dan Ir. Sri Wagiati Santoso. Dalam kesempatan tersebut, Sony Sugema menyampaikan materi bertajuk “Menggapai Impian”. Dalam penyampaiannya dipaparkan 3 kunci sukses, yakni impian, ilmu, dan kerja keras. Lebih lanjut diberikan tips dan trik menjadi seorang entrepreneur handal yang dikolaborasi dengan motivasi internal.
Sementara itu Sri Wagiati Santoso, yang juga alumni Teknik Sipil Universitas Brawijaya, lebih banyak menyoroti latar belakang, definisi, serta bagaimana menjadi entrepreneur. Menurutnya, entrepreneur adalah seorang yang berani mengambil risiko dan memiliki kemampuan leadership. Lebih lanjut disampaikan bahwa untuk berani mengambil risiko dibutuhkan modal keberanian, dasar pertimbangan, strategi serta the power of mind. Disampaikan di akhir paparannya, bahwa seorang pemimpin adalah orang yang memiliki kemampuan, dapat dipercaya serta dapat diterima. Terakhir kali yang dibutuhkan dari seorang entrepreneur adalah JUST DO IT!! Yang tentu saja dibutuhkan keuletan, ketangguhan serta fighting spirit. [nok]

Hidayat Nur Wahid di Unibraw
2 Desember 2005
Ketua MPR-RI Dr. Hidayat Nur Wahid MA, Jumat siang 2/12, berkunjung ke Universitas Brawijaya. Di kampus ini, Hidayat Nur Wahid memberikan ceramah umum berjudul "Ilmuwan Profesional dalam Perspektif Islam", di depan sivitas akademika Fakultas Ekonomi Unibraw yang memenuhi ruang pertemuan Widyaloka hingga ke atas balkon. Acara ini diselenggarakan dalam rangka dies natalis ke-44 FE Unibraw.
Sebelumnya, mantan Presiden Partai Keadilan Sejahtera ini berkhutbah selaku khatib Jumat di Masjid Raden Patah Universitas Brawijaya, dan sekaligus bertindak sebagai imam shalat Jumat di tempat itu.
Khutbah Jumat
Mengawali khutbahnya, Hidayat Nur Wahid mengajak seluruh jamaah untuk selalu konsisten terhadap tiga hal yaitu, selalu meningkatkan ketaqwaan kepada Allah SWT, memakmurkan kehidupan, serta mendorong lahirnya generasi yang memiliki kontribusi terhadap kepemimpinan. Dalam menghadapi hal tersebut, keimanan yang ada dalam diri manusia dituntut mampu melahirkan kepribadian, jati diri serta perilaku cerminan nilai-nilai keislaman.
“Kebenaran bukan hanya dalam sanubari tapi juga harus diimplementasikan dalam realita”, tuturnya. Dalam melaksana-kan perikehidupan di dunia, ia menghimbau untuk selalu menjadikan Rasulullah Muhammad SAW sebagai suri tauladan. Dalam perjuangannya Rasulullah selalu menghadapi rintangan dan hambatan, mulai dari fitnah, isolasi, maupun embargo. Dalam kondisi saat ini, ketika Islam sebagai keyakinan dan refleksi kebenaran tengah menghadapi berbagai fitnah, Hidayat menghimbau kepada seluruh umat islam untuk selalu istiqamah dalam keimanan. Fenomena terorisme yang menyesatkan umat serta mengaburkan kepribadian dan jati diri umat Islam semakin memojokkan posisi Islam dalam eksistensinya.
Dalam kesempatan tersebut, Hidayat menyatakan keheranannya dengan hal-hal yang tidak menguntungkan yang menimpa komunitas Islam, seperti Indonesia sebagai negara dengan jumlah umat Islam terbesar di dunia, tetapi menduduki peringkat tertinggi sebagai negara terkorup. Indonesia memiliki 14 perguruan tinggi Islam, “Di mana mereka selama ini?” tanyanya.
Dengan kondisi yang memprihatinkan seperti saat ini, ia mengharap dari kampus bisa terlahir "brigade syuhada", yaitu para generasi umat yang berani tampil memberikan solusi serta menyampaikan bahwa yang benar adalah benar dan yang salah adalah salah. “Di era reformasi yang serba ruwet seperti sekarang ini, tentu hal tersebut dibutuhkan keberanian lebih”, ungkapnya. Di akhir khotbahnya, Hidayat menyampaikan bahwa realisasi keimanan umat Islam pada kondisi sekarang ini diharapkan bisa memberikan kontribusi keimanan yang benar, alternatif solusi terhadap permasalahan serta hadirnya generasi-generai umat yang visioner.
Ceramah
Seusai menyampaikan khutbah Jumat dan beristirahat sejenak di ruang Dekan Fakultas Ekonomi, Dr. Hidayat Nur Wahid langsung menuju Widyaloka untuk memberikan ceramah.
Dekan Fakultas Ekonomi Prof. Dr. Bambang Subroto SE MM Ak, memberikan informasi tentang sejarah fakultas yang dipimpinnya. Fakultas Ekonomi didirikan 27 Juni 1957 dengan nama Perguruan Tinggi Ekonomi Malang, dan menjadi bagian dari Universitas Brawijaya pada 3 Oktober 1961, sehingga tanggal tersebut ditetapkan sebagai dies natalis fakultas ini.
Mengawali acara, moderator Munawar DEA yang juga Pembantu Dekan I FE Unibraw, menyampaikan pengantar dengan mengungkap berbagai anomali yang dihadapi masya-rakat dewasa ini. Seperti misalnya, saat ini banyak fakultas ekonomi, tetapi mengapa ekonomi negara kita terpuruk? Begitu juga dengan banyaknya fakultas hukum, tetapi mengapa hukum di Indonesia sulit ditegakkan.
Ceramah Hidayat Nur Wahid siang hari itu diawali dengan pertanyaan tentang korelasi antara keberagamaan dengan perilaku beragama. “Indonesia sebagai negara dengan umat Islam terbesar didunia yang sekaligus menduduki peringkat sebagai negara terkorup, serta Lombok yang dikenal sebagai pulau seribu masjid yang juga penderita busung lapar tertinggi di Indonesia, dimana korelasi antara keberagamaan dengan perilaku?”, ungkapnya.
Dengan 14 perguruan tinggi Islam yang dimiliki serta masih banyak lagi kampus yang ada di Indonesia, ia mengungkapkan bahwa kondisi kekinian yang serba memprihatinkan merupakan indikasi dari anomali keilmuan dan kondisi kekinian.
Menurutnya, ilmuwan profesional dalam perspektif Islam adalah ilmuwan yang mengkolaborasikan antara ilmu sebagai tata nilai, alim sebagai perilaku serta ‘alim sebagai sumber ilmu. Definisi tersebut menurutnya memerlukan proses yang diawali dengan internalisasi nilai dan diri seorang ilmuwan yang dilanjutkan dengan implementasi pada tataran aksi yang dalam perjalanannya tentu saja membutuhkan kesabaran. Dalam hal ini, ia mensitir dalil naqli yaitu “wahai orang yang beriman, dosa apabila kalian hanya berkata tetapi tidak mengatakan apa yang kalian katakan”.
Keterkaitan antara ilmu, alim dan ‘alim menurutnya merupakan sebuah bingkai yang menolak adanya sekularisasi. Dengan menyingkirkan agama dari ilmu dan profesionalisme menurut-nya adalah penyebab dari anomali. “Ilmu merupakan kebaikan yang hilang dari umat Islam, di manapun berada ambillah”, hadits ini mendasari apresiasi Islam terhadap ilmu yang tidak memandang perbedaan serta universal, yang dibuktikan Rasulullah dengan menerima usulan Salman Al Farizi yang yang mengusulkan untuk membuat parit dalam sebuah peperangan, tanpa memandang bahwa Salman adalah keturunan Persia.
“Dengan berbagai kekisruhan yang menjadi fenomena pada saat ini, wajar jika apresiasi masyarakat terhadap kampus sangat rendah ditambah lagi adanya plagiator-plagiator dalam kampus”, ungkapnya.
Disambut Demo
Beberapa saat sebelum memasuki ruangan untuk berceramah, Hidayat Nur Wahid menyempatkan diri untuk menemui sekelompok mahasiswa Unibraw di tangga gedung Widyaloka yang berunjuk rasa, yaitu dari Eksekutif Mahasiswa Universitas Brawijaya dan KAMMI. Dalam orasinya para mahasiswa menuntut agar Soeharto sebagai penguasa rezim orde baru diadili serta penegakan reformasi dengan benar melalui pemberantasan KKN dan mengadili Golkar. Mereka menuntut: "Tuntaskan 6 Visi Reformasi", meliputi: (1) Tegakkan supremasi hukum, (2) Adili Soeharto, minta pertanggungjawaban Golkar, (3) Amandemen UUD 1945, (4) Cabut Dwifungsi TNI, (5) Otonomi daerah seluas-luasnya, dan (6) ciptakan demokrasi egaliter. Menjawab tuntutan tersebut, Hidayat Nur wakhid selaku ketua MPR RI menyatakan bahwa TAP MPR yang memuat tentang pemberantasan KKN masih tetap berlaku. [nok]

Ujian Terbuka Disertasi Ir. Aswin MM
Desentralisasi Fiskal Tidak Berpengaruh Terhadap Kinerja
1 Desember 2005
Implementasi desentralisasi fiskal dan otonomi daerah yang didasarkan pada undang-undang No. 32 tahun 2004 dan UU No. 33 tahun 2004 memberikan kewenangan yang luas dan nyata kepada pemerintah daerah untuk mengelola dan mengatur sumberdaya sesuai dengan kepentingan masyarakat daerahnya. Desentralisasi fiskal ternyata tidak berpengaruh terhadap kinerja secara langsung terhadap tiga propinsi di wilayah Kalimantan, tetapi mampu meningkatkan kinerja pelayanan secara tidak langsung melalui kinerja proses bisnis internal dan kinerja pembelajaran dan pertumbuhan. Demikian terungkap pada ujian terbuka disertasi Ir. Aswin MM yang digelar Program Pascasarjana (PPS) Universitas Brawijaya, Kamis (1/12). Bertindak selaku promotor bagi kandidat doktor dalam ilmu ekonomi minat manajemen ini, Prof. Dr. Djumilah Zain SE, dan ko-promotor masing-masing Prof M.Syafi’ie Idrus SE MEc PhD dan Armanu Thoyib SE MSc PhD. Sedangkan para penguji terdiri dari Prof. Dr. Eka Afnan Troena SE, Agus Suman DEA PhD, Prof. Dr. Moeljadi Poedjosoemarto SE SU, Prof. Dr. Prijono Tjiptoheriyanto (dari UI), dan Dr. H Syaukani HR SE MM (Bupati Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur).
Dalam ujian terbuka itu, Ir. M Aswin MM membawakan disertasi berjudul “Dampak Kebijakan Desentralisasi Fiskal terhadap Kinerja Pemerintah Kabupaten Kota dengan Pendekatan Balanced Scorecard (Studi di Propinsi Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah)”.
Lebih lanjut diungkapkan bahwa penelitian terhadap 40 kota/kabupaten di tiga propinsi yaitu Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah menunjukkan fakta bahwa desentralisasi fiskal ternyata masih rendah dilihat dari kewenangan penetapan basis pajak dan jenis pajak. Hal ini membawa konsekuensi pada kinerja pemerintah daerah yang juga relatif masih rendah terutama dari perspektif pertumbuhan dan pembelajaran, perspektif proses bisnis internal dan perspektif finansial.
Selain itu juga ditemukan bahwa desentralisasi fiskal yang dilakukan ternyata belum menyentuh substansi pokok yaitu kewenangan penetapan basis serta tarif pajak. Desentralisasi fiskal ungkap Aswin, lebih dimaknai sebagai derajat kewenangan daerah dalam mengelola sumber-sumber penerimaan yang sebagian besar masih berupa dana perimbangan seperti DAU dan dana bagi hasil.
Saran yang disampaikan Aswin menyikapi temuannya menyatakan perlunya meningkatkan kapasitas kelembagaan, aparatur dan administrasi dalam implementasi desentralisasi fiskal sehingga pengelolaan sumber keuangan daerah lebih efisien dan efektif, alokasi dan distribusi sumber daya dan dana lebih proporsional antara anggaran rutin dan pembangunan, serta harus dimulainya penerapan sistem anggaran berbasis kinerja dan mulai meninggalkan pendekatan line-item budget yang selama ini dilakukan.
Pada akhir ujian, pria kelahiran Samarinda 42 tahun silam ini, dinyatakan lulus dan berhak menyandang gelar doktor dalam ilmu ekonomi dengan predikat sangat memuaskan (IPK 3,72). Dr. Ir. Aswin MM menyelesaikan pendidikan sarjana pertanian di Universitas Mulawarman tahun 1986, dan program magister manajemen dari Universitas Jenderal Sudirman tahun 2001. Saat ini Dr. Ir. Aswin MM menjabat sebagai Sekretaris DPRD Kabupaten Kutai Kartanegara sejak 2004. Sebelumnya ia pernah menjabat sebagai penyuluh pertanian spesialis (PPS) dan 2 kali anggota DPRD Kabupaten Kutai Kertanegara hasil pemilu 1997 dan 1999, serta Asisten II bidang Ekonomi dan Pembangunan Sekretariat Daerah Kabupaten Kutai Kartanegara (1999-2004). [Far/nik]

Siswa SMPN 1 Malang Kunjungi Unibraw
1 Desember 2005
Sebagai sarana untuk memasyarakatkan gerakan mencintai karya tulis ilmiah, siang ini, Kamis (1/12), siswa-siswi SMP Negeri 1 Malang melakukan kunjungan ke Universitas Brawijaya. Dalam kunjungan tersebut, aktivis PIRKIR (Penelitian Ilmiah Remaja dan Karya Ilmiah Remaja) SMP Negeri 1 Malang kelas 7, 8 dan 9 diterima di lantai 8 gedung Rektorat oleh staf ahli PR III, Ir. Arief Prayitno MS.
Rombongan siswa-siswi SMP Negeri 1 Malang sekitar 40 orang ini didampingi oleh 2 guru pembimbing, Dewi Rukiati dan Endang Harikasih. Dewi Rukiati menyampaikan kegiatan ini bertujuan untuk mengembangkan minat pada siswa dalam bidang penelitian dan penulisan karya ilmiah. “Dari kegiatan ini diharapkan dapat memberikan ilmu dan memacu para siswa yang pada saat sebelumnya telah berprestasi sebagai Juara 1 Lomba Fisika se-Kota Malang dan Juara 3 Lomba Biologi se-Kota Malang”, ungkap guru IPA di sekolah yang beralamat di Jalan Lawu 12 Malang tersebut.
Sementara itu, Ir. Arief Prayitno MS berharap agar kegiatan seperti ini digalakkan sebagai upaya untuk memasyarakatkan
gerakan cinta penulisan karya ilmiah sejak dini. Ditambahkan pula oleh dosen Fakultas Perikanan ini bahwa Universitas Brawijaya dengan senang hati berbagi pengalaman dan membina karya ilmiah pada level sekolah, seperti SMP 1 Malang saat ini.
Cindy, salah seorang siswi kelas 7/D, menyatakan kegembiraannya dapat bertandang ke Universitas Brawijaya. “Saya sangat tertarik dengan cara kerja di karya ilmiah, makanya saya ikut PIRKIR”, ungkap Cindy mengenai alasannya mengikuti PIRKIR. “Nanti, saya pengin kuliah di Fakultas Kedokteran Unbra sini”, tuturnya tentang harapan dan cita-citanya di masa yang akan datang. [nok]

Mahasiswa Jebol “Jalan Tikus”
Kamis, 1 Desember 2005
Penutupan “jaIan tikus" Unibraw ke Jalan Raya Sumbersari dan Jalan Kertoleksono, Ketawanggede, menuai banyak protes dari mahasiswa. Padahal, jalan tembus itu biasa dipakai mahasiswa yang kos di Kelurahan Sumbersari dan Ketawanggede. Tak pelak, tembok pembatas yang baru dibangun 20 November tersebut dihancurkan mahasiswa.
Jalan tembus itu biasa dilewati mahasiswa Fakultas Pertanian, Fakultas Perikanan, dan Fakultas Peternakan. Sebab, gadung kuliah ketiga fakultas ini lebih dekat dijangkau dari jalan tembus itu dibanding melalui JaIan Veteran atau Jalan Soekarno-Hatta. Selisihnya bisa sampai 5 km. Karena itu, dengan penutupan itu mobilitas mahasiswa menjadi terhambat.
Menanggapi dijebolnya jalan tembus itu, Kabag Umum Unibraw Ir. Suhardiyono mengungkapkan, bahwa penutupan jalan tersebut demi keamanan kampus. Selain itu penutupan dilakukan setelah pihak rektorat mendapat laporan dari Dekan Fakultas Pertanian, Fakultas Perikanan, dan Fakultas Peternakan.
"Kami tidak secara tiba-iiba menutup jalan tersebut, namun setalah kami mendapat laporan bahwa terjadi beberapa kasus pencurian di tiga fakultas tersebut dan hila dirupiahkan kerugiannya lumayan besar," jelas Suhardiyono.
Ditambahkan, kedua jalan itu merupakan jalan ilegal yang dibuka masyarakat. Setelah dilacak dengan menggunakan anjing pelacak, memang jalan itu yang dilalui pencuri. "Jadi penutupan itu telah dipertimbangkan matang-matang." [skm]
RADAR MALANG Kamis, 1 Desember 2005